Wednesday, 28 December 2016

Sebelum Desember Berakhir.

Detik-detik merapat, kau tahu. Tidak pernah aku menemukan waktu yang terasa lama saat kau ada. Maka jam-jam pun tahu kerjanya; membuat kita takut jika ia berlari cepat-cepat. Untuk itu, kita harus segera menentukan hendak pergi ke mana, sebelum langit sempat bekerja sama dengan jam untuk membuat kita bertambah khawatir.
Ada yang mengusap wajahku. Katanya, ia hanya ingin membuat kita jadi dingin. Ingin berada di antara kita. Ia ingin mengusik saja. Ia datang atas nama angin malam.
Aku pun menemukan kau di bawah langit gelap. Namun binar matamu tetap terang, dan aku selalu suka. Kau tidak pernah berkata rindu, tapi sebelum Desember berakhir, aku tahu kau begitu.
Aku tahu, sekalipun jika angin malam tadi menjelma menjadi jarak yang menjauhkan aku dengan kau, maka kau akan mencari cara untuk menjamak jarak dan membuat aku dekat.
Aku juga tahu, apabila detik yang ada tinggal sepuluh saja, maka kau akan memintaku menghabiskan detik itu denganmu saja.
Dan kau takkan berkata begitu, tapi aku tahu.
Dan kau akan bilang jika kau egois, tapi aku suka.
Kini, sebelum Desember berakhir, aku ingin bertanya,
mengapa kau tidak pernah berkata begitu?
Tapi tak apa, biar itu jadi tanya yang membangun bintang di langit, hidup untuk ribuan tahun, tanpa jumpa dengan jawab jika kau tidak ingin membuatnya jumpa.

Tuesday, 13 December 2016

Ialah Aku.

Ada yang setiap hari kuharapkan darinya,
yaitu semoga, sebenci apapun ia padaku hari ini, semarah apapun ia padaku hari ini, sejengkel apapun ia padaku hari ini, sesebal apapun ia padaku hari ini, semoga ia tetap sudi untuk merapikan rambutnya di depanku, kemudian meletakkan kacamatanya untuk sejenak mencari apa yang perlu ia cari pada kedua mataku, dan meletakkan telapak tangannya pada tanganku.
Pun ialah aku yang sebenci apapun kepadanya, semarah apapun kepadanya, sejengkel apapun aku kepadanya, sesebal apapun aku kepadanya, ialah yang paling berharap untuk menjadi manusia yang paling dicari olehnya, dimengerti olehnya, diajak bicara olehnya, dibantu olehnya untuk melepas segala yang membuat aku merasa kacau.
Ya, itu memang aku yang berharap.
Ialah aku yang setiap harinya berharap bahwa seburuk apapun hari yang kita lalui, kau tetap di sini, di dekatku.

Friday, 2 December 2016

Saturated.

Memangnya ada yang mampu merubah sejarah?
Aku menarik baju hangatku yang berwarna merah jambu. Ruangan itu seketika mendingin. Jemariku kutenggelamkan pada lengan baju hangatku yang terlalu besar. Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku. Ruangan ini sungguh membuatku bosan.
Atau pikiranku saja yang sedang kacau?
Aku menoleh ke jendela yang menyuguhkan bulir-bulir hujan pada kacanya. Langit menggelap, ini artinya sudah hampir 4 jam aku membumbungkan kecemasan dalam otakku. Mataku sungguh terpaku melihat percakapan itu. Entahlah, segalanya terekam begitu apik dalam memoriku. Gerak mulutnya. Matanya yang membesar. Mulutnya yang terbuka, menyunggingkan sisa-sisa tawa dari percakapannya. Sinar mata yang begitu antusias menanggapi satu sama lain.
Pipiku menghangat. Atau seluruh tubuhku? Aku tidak ingat. Yang aku tahu, aku bisa merasakan aliran darahku sendiri. Pun jantungku yang ikut menderu cepat.
Tidak, tidak ada yang salah dengan isi percakapannya. Karena kenyataannya dunia saat itu terasa melambat, hingga aku tak mendengar apa-apa. Tapi yang ajaib ialah, ketika percakapan itu mampu membuatku merasa ditarik pada masa yang aku tak pernah suka.
Masa di mana aku hanya menjadi bagian dari yang terlewat. Atau seumpama kau membaca buku, maka masa itu ialah ketika kau belum menemukan namaku sebagai kata pada halaman di bukumu. Dan di kala itu, gadis itulah yang memegang tahtaku.
Oh, baiklah, mungkin aku berlebihan. Tapi aku pun tidak bisa dustai. Memangnya ada yang mampu merubah sejarah?
Begini, bagaimana jika dirimu pun sama, mengingat halaman yang sudah kau baca, dan lebih mengingat lagi bahwa nama gadis itu pernah menjadi nama yang kau libatkan dalam masalah perasaan? Lalu, apa yang kau rasakan setelah itu? Kemudian, segala pikiranku membiru.
Ini memenuhi ruang pada dadaku. Kemudian, pikiran itu bak awan jenuh yang siap menjadi hujan.
Semoga kau lekas tahu, hujanku jadi memilu beku.

Tuesday, 15 November 2016

Devin, Tell Me About Losing.

Dia tertawa sedikit. "Nanti juga, kamu hanya akan jadi bahan nostalgianya saja." Kemudian ia berdeham, memperbaiki dirinya sendiri.
Aku memandangi langit kosong. Pukul 2 siang, pada parkiran mobil di lantai teratas pada sebuah gedung di Jakarta. Terlalu cerah. Mataku menyipit. Sementara daguku bertopang pada kedua tanganku yang aku letakan di atas tembok.
Devin belum juga menoleh kepadaku sejak aku ceritakan semuanya. Semuanya, yang berlarian pada otakku belakangan ini. Seolah dia juga sibuk bersama isi otaknya. Kupandangi alisnya yang bertaut juga dahinya yang kerap kali berkerut. Aku tahu dirinya sedang merutuki sesuatu.
Terkaanku mengatakan dia sedang merutuki aku. Ya, sepertinya dia juga jadi kesal melihat segala kebodohanku. Yang seperti kaset rusak, memutarkan cerita yang itu-itu saja.
Menyadari aku yang ikut diam, ia baru menoleh kepadaku.
"Begini, Laras. Semua hal punya kapasitas idealnya masing-masing. Maka logikanya, selalu butuh melepaskan untuk bisa menerima. Jika kamu ingin mempertahankan yang lama namun ingin juga menerima yang baru, artinya kamu serakah."
Kini giliran alisku yang merapat. Aku tak paham makna 'serakah' yang ia lontarkan.
Devin merapikan beberapa helai rambutku yang tertiup angin.
"Ingat pelajaran tentang seleksi alam?" Tanyanya sambil menatap kedua bola mataku.
Aku mengangguk pelan. Kadang, tatapan Devin yang seserius itu membuat aku malah jadi takut. Jadi tegang dan tak keruan sendiri.
"Kita semua belajar seleksi alam, Laras. Dan perpisahan adalah bukti empirisnya. Kehilangan adalah makna dari teori itu." Ucapnya tersekat sedikit. Seolah ia pun tak tahu dari mana kata-kata itu berasal.
"Tapi, mengapa mereka seolah benar-benar hilang, hingga dasar bumi? Maksudku, lagipula sebagian dari temanku tetap ada untukku dan mampu bertahan ketika kami menghadapi permasalahan yang sama. Mengapa yang pergi itu, harus benar-benar pergi? Mengapa yang hilang itu harus benar-benar hilang?"
Devin berpikir sejenak. Tidak lama, hanya dua hingga tiga detik. "Ya itulah fungsinya seleksi alam, Laras. Kita jadi tahu mana yang mampu bertahan dan tidak. Lagipula, hasil dari seleksi alam pasti hasil yang terbaik. Begini saja, bagaimana jika dinosaurus berhasil lolos dari seleksi alam? Pasti manusia tidak akan sebanyak sekarang. Paling hanya satu persen yang mampu bertahan untuk sampai ke abad ini."
Aku mendengus pelan. Analogi Devin tentang seleksi alam sama sekali tak dapat aku sanggah. Ia sepenuhnya benar. Tapi menurutku, teori dinosaurus itu... Entahlah. Itu bukan perbandingan yang setara. Aku sedikit jengkel mendengarnya.
"Sekarang, mengapa kamu tidak memikirkan orang-orang yang tetap ada untukmu? Yang tetap ada walaupun telah menghadapi seleksi alam? Bukankah itu lebih bermakna? Menghargai yang tetap ada dibandingkan meratapi yang telah hilang?" Celoteh Devin sembari, lagi-lagi, menatapku tepat pada bola mataku.
Aku tertunduk. "Entahlah."
Tidak, aku berdusta. Karena faktanya aku sangat tahu.
Yang sangat membuatku tak bisa melepaskan mereka yang tidak lolos dalam analogi "seleksi alam" versi Devin ialah, mereka adalah orang yang aku harapkan bisa bertahan. Mereka adalah orang yang aku pikir akan selalu ada. Sehingga jauh sekali, aku telah menyiapkan tempat khusus untuk mereka. Tapi tempat itu kosong, begitu saja. Bahkan, bagiku, analogi "seleksi alam" pun tak pantas menjadi jawabannya. Padahal tak ada alasan lain selain itu.
Pun aku memang selalu begitu, terjebak pada khayal yang kubangun sendiri. Tersesat karena tindakanku sendiri. Membuat tembok baru pada satu ruang. Dan tembok itu menjamur, berkembang biak hingga menyulitkan ruang gerak.
"Sudah, jangan terus berkutat pada batin yang kusut seperti itu." Pria itu menghela nafas. "Asal kau tahu saja, aku pun tak bisa pastikan apa yang akan terjadi pada esok hari. Aku pun tak tahu apakah aku akan menjadi orang yang lolos seleksi alam dan terus ada untukmu. Percayalah, ketakutan terbesarku adalah ketika aku membuat kesalahan karena terlalu banyak menjelaskan."
Kini giliran aku yang memandanginya. Ia memandangi langit kosong. Sebegitunya, kah?
Maksudku, sebegitu tidak pastinya hari esok itu?
Jika memang benar, maka aku harus bersiap.

Thursday, 27 October 2016

Detik yang Telah Lalu.



Pada setiap detik yang telah lalu,
aku ingin menuliskan bahwa,
aku ingin berlari padamu.
Pada setiap detik yang telah lalu, yang kini menyesakkan dada, mengacaukan segala pertahanan yang aku bangun tanpa pernah kuhitung berapa detik yang kuhabiskan untuk menciptakannya, aku ingin merengkuhmu. Jauh. Dalam sekali, hingga aku tak peduli betapa penuhnya aku akan detik yang telah lalu.
Untuk kemudian membisik pada setiap detik yang telah lalu, hapuskan air matamu. Lupakan rasa bencimu. Lepaskan segala sayang yang membunuhmu. Hapuskan segala rindu yang membuat kau runtuh. Rengkuh aku, tak perlu memeluk takut yang melemahkan kau. Janganlah kau cemaskan yang akan hilang itu. Genggam orang-orang yang menyayangimu, dan lakukan yang terbaik untuknya.
 Karena jika kau tahu, detik yang telah lalu itu tak pernah terputus. Sedetik pun, tidak. Segalanya terpilin menjadi untaian memori yang tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya. Akan terus menjadi seperti itu. Pada detik yang kau gunakan untuk menangis, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menangis. Pada detik yang kau gunakan untuk menyayangi, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menyayangi. Pun pada setiap detik yang kau gunakan untuk membenci, menyakiti, menyesal, bersedih. Tak akan berubah meski satu detik.
Ingin aku lakukan perjalanan bagi setiap detik yang telah lalu, tak peduli seberapa jauh detik itu. Ingin aku menghapuskan apa yang membuat kelopak mataku tak mau terpejam malam ini. Ingin aku menenggelamkannya dalam peluk erat agar luka itu hilang. Agar rindu itu tak perlu lagi berputar ribuan kali dalam sanubari.  Agar dadaku tak lagi terasa penuh. Supaya segalanya terasa baik-baik saja, tak perlu lagi sayu pada pilu yang berjatuhan kala aku memutar film tentang detik yang telah lalu.
Tapi tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya.
Nafasku terbuang. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri, seolah tengah merengkuh detik yang telah lalu.
Atau aku hanya perlu melepaskannya.
Aku terduduk pada detik ini. Memandangi kaca yang terpaku pada dinding kamarku. Menarik nafas pada detik selanjutnya. Memandangi bola mata yang kugunakan sebagai kaleidoskop ketika merekam detik yang telah lalu. Menterjemahkan segala memori yang ada. Dan mataku, masih mata yang sama.
Aku sedang melewatkan detik yang sedang berlangsung. Dan sedetik lagi akan menjadi detik yang telah lalu.
Sedetik berlalu. Detik yang kugunakan untuk berpikir, memikirkan detik yang telah lalu. Ribuan detik yang telah lalu, yang tidak pernah hilang. Detik yang kugunakan dengan perasaan gundah. Dan bertambah terus, detik yang kugunakan dengan perasaan kacau bertambah banyak.
Kurasa cukup. Mungkin aku memang harus melepaskannya. Pada detik yang telah lalu itu, aku hanya perlu memaafkannya. Mungkin segalanya takkan termaafkan dalam waktu sedetik saja. Namun setidaknya, pada detik selanjutnya setelah detik ini, segalanya akan tertulis sebagai detik yang kugunakan untuk memaafkan apa yang telah tertulis pada detik yang telah lalu.
Dan pada detik yang akan datang, aku tak tahu. Benar-benar tak tahu. Kuharap segalanya baik-baik saja.

Friday, 30 September 2016

Ruang Nestapa.

Lalu, adakah aku harus bertanya tentang kapan kau akan benar-benar menghilang?
Atau, adakah aku harus bertanya bahwa sannya kau memang benar takkan pergi?
Aku menghela nafas, jauh sekali. Ingin aku mengecilkan pupilku, tapi tak mampu. Cahayanya terlalu redup. Pupilku membesar.
Bahkan hati pun punya caranya sendiri. Kau itu redup yang hatiku maksud. Membuatnya terus membesarkan pertanyaan yang hanya dapat menyesakkan ruangnya sendiri. Bertanya, apakah kau sama dengan yang lain? Datang,  kemudian membangun sebuah perasaan di dalam, namun kemudian menghilang?
Aku mengusap wajahku. Segala pertanyaanku itu membuatku teringat sesuatu. Sebuah daya pikir yang membuat aku tahu bahwa kau pun berpikir tentang aku yang bisa hilang. Tentang kau yang bisa hilang. Tentang kita yang bisa hilang.
Kau tahu, tidak? Bahwa segala daya pikirmu membuat aku tahu bahwa sesungguhnya kita hanya sedang membangun kenangan. Delusimu membuat aku mengerti bahwa aku akan hanya menjadi bagian dari sejarahmu saja. Menebalkan hati untuk kemudian pada waktu yang tidak ditentukan mendadak hilang. Membuat aku berinisiatif untuk mengukir segalanya pada dinding dalam tempat yang kusebut sebagai ruang nestapa.
Kau tahu apa itu nestapa? Ialah kesedihan. Ialah yang aku terjemahkan sebagai hati yang kelabu.
Lalu, mengapa segala hal yang indah itu kutaruh dalam ruang nestapa? Karena aku semakin tahu bahwa segalanya akan berujung pada kehilangan. Bukankah semakin indah suatu hal akan semakin terasa menyakitkan ketika hilang?
Ruang nestapa itu, berisi detik-detik, beserta momen-momen yang melibatkan kau. Yang suatu hari mungkin membuatku menangis. Atau merindu, kemudian memutar lagu tentang rindu. Atau tersenyum, mengingat hal indah itu.  Hal indah yang telah terjadi pada detik yang takkan terulang, hanya membeku pada ruang nestapa.
Ruang nestapa itu, hanya akan menjadi bagian dari diri kau yang tersisa nantinya. Entah akan jadi apa. Mungkin akan menjadi bagian dari sejarahku saja. Atau memanggilmu kembali. Atau menghilangkan kau jauh-jauh.
Tapi, kau harus tahu bahwa pada suatu hari nanti, ruang nestapa yang penuh dengan ukiran itu akan menjebakku. Akan menyesakkan segala pertahanan dalam dada. Akan mengepungku dari berbagai sisi. Karena ruang nestapa itu mutlak berisi segala hal tentang kau, yang saat ini jadi pelangiku.

Tidak, aku tidak hendak memaksamu untuk memberiku kepastian bahwa kau takkan menghilang. Aku sudah sangat paham bahwa tak pernah ada kepastian dalam hidup. Ini hanya takutku saja. Ini hanya khawatirku saja. Pun bila nanti benar kita akan hilang nantinya, ruang nestapa itu tetap milik kau. Ruang nestapa itu akan tetap menjadi  bagian dari masa yang telah dilewati. Dan ruang nestapa itu akan tetap ada, sekalipun kau menghilang atau tidak.

Sunday, 11 September 2016

Lagu Hujan.

Sebuah meja kayu dengan teh panas di atasnya. Ragaku terjebak pada sebuah kafe kecil dekat perpustakaan kota. Sedangkan pikirku dibawa kabur oleh ritme hujan deras. Mataku terpaku pada jendela kaca yang menyuguhkan bulir-bulir hujan. Sesaat kemudian, aku kembali utuh bersama pikirku di dalam kafe yang tiba-tiba memutarkan lagu akustik yang membuat suasana bertambah hangat. Lampu-lampu gantung mulai dinyalakan, aku memasuki waktu dimana hari akan segera digantikan dengan malam—senja.
Semua orang tampak menyukai lagu akustik itu. Beberapa dari mereka menikmati ketukannya terlihat menggerak-gerakan kakinya sesuai dengan ketukan lagu itu atau hanya mengangguk-angguk pelan. Sedangkan yang lainnya tampak hafal dengan lirik yang ada pada lagu itu sehingga menggerakkan bibirnya kecil. Aku tersenyum melihat semua itu.
Lagu memang mampu melengkapi hingga memperkuat sebuah perasaan. Kau pastilah pernah menemukan lagu yang seolah-olah memang diciptakan untuk kau. Seolah perasaan senang yang kau punya tiba-tiba dituangkan dalam sebuah lagu dan kau makin merasa bahwa perasaan senang kau itu memang nyata. Atau ketika kau sedih dan menemukan lagu yang menggambarkan kesedihan kau, maka mutlaklah kesedihan kau makin terasa.
Aku menyesap secangkir tehku. Kemudian memandangi kursi di seberang. Kursi yang berhadapan denganku. Kursi yang lain pada mejaku. Lengang.
Aku merasa heran sendiri.  Ada ribuan lagu yang telah aku dengar. Tapi kursi itu tetap kosong. Tidak ada lagu yang aku rasa dapat mengisi kursi itu, yang mampu menghadirkan bayang dari orang yang aku harapkan dapat duduk di sana. Belum kutemukan lagu yang benar-benar dapat mewakili dirinya.
Sesaat hujan menderas. Aku menoleh ke luar, pasukan air jatuh begitu saja. Aku memisahkan diri dan keluar dari lagu akustik di kafe itu. Ini bukan pertama kalinya aku menghadapi hari hujan. Aku juga punya milyaran cerita bersama hujan. Namun, entah apa yang membuat aku merasa begini, pada detik hujan saat ini, otakku hanya mengingat cerita hujan yang melibatkan dirinya.
Hujan, saat aku tiba-tiba bertemu dengan dirinya. Hujan, ketika dirinya mengajakku bercerita pada sebuah sore. Hujan, ketika dirinya mengantarku pulang dan membelah jalanan kota. Hujan, yang membuat aku dan dirinya memberikan kabar satu sama lain. Hujan, dan dirinya.
Bibirku tertarik ke atas mengulum senyum kecil. Lagu akustik yang memenuhi kafe itu telah habis, digantikan oleh lagu lainnya. Pengunjung yang ada dalam kafe itu segera menyesuaikan dirinya dengan lagu yang baru.

Aku kembali memalingkan wajah ke jendela dan menyadari sesuatu. Mungkin aku tidak perlu payah-payah mencari lagu yang menggambarkan dirinya. Tak usah jauh-jauh mencari nada dan lirik yang sesuai dengan dirinya. Karena hari ini aku telah menemukan lagu hujan, yang tidak bernada pun tak berlirik namun mampu sepenuhnya mengingatkan aku tentang dirinya.

Sunday, 21 August 2016

Terima Kasih, 4K!

Makin semangat buat selalu nulis! Terima kasih buat siapapun yang sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi blog ini dan membacanya. Semoga bermanfaat, bisa membuka pikiran, atau setidaknya mengisi kekosongan waktu.
Seperti kehabisan kata-kata, jadi bingung mau bicara apalagi. Mungkin karena terlalu senang, jadi begini. But, the most important thing is, my life kinda getting harder by time. Semakin banyak hal yang ingin aku tulis di sini. Tapi aku gak bisa, karena aku menulis bukan buat curhat, hehehe. Jadi, minta doanya aja biar aku kuat menghadapi semua rintangan yang ada. Mungkin aku sedang belajar untuk lebih paham, atau apalah, ini semua masih menjadi misteri.
Semoga kalian gak pernah bosan untuk baca tulisanku yang sebetulnya masih sangat sederhana. Doain aja semoga kemampuanku menulis bisa meningkat sehinga bisa menulis hal yang lebih baik dan bermakna. Dan yang terpenting, aku selalu minta doanya, semoga di kemudian hari aku bisa beneran jadi penulis yang profesional dan menerbitkan buku! Aamiiin. Sekali lagi, terima kasih banyaaak sekali dan selamat membaca!

Tuesday, 16 August 2016

Pada yang Akan Hilang.

Pada yang akan hilang,
Kemudian aku berharap; jangan hilang.
Maksudku, kau tahu bahwa sannya, aku dan kau adalah patahan yang hilang pada cerita lain. Dia-ku kehilangan aku dan dia-mu kehilangan kau. Untuk selanjutnya, aku menjadi definisi dari yang ditemukan oleh kau, kau menjadi arti dari menemukan aku.
Jalani saja, begitu kata orang-orang. Ya, aku tahu. Sangat tahu. Tapi, tidakkah kau mengkhawatirkan apa yang akan kita temukan pada persimpangan jalan itu? Maksudku, memangnya pernah terpikir olehmu tentang kehilangan yang telah lalu itu? Tidak. Aku tidak pernah punya ide perihal kehilangan apapun. Kehilangan siapapun. Namun hidup ini kesalahan yang berulang, kau tahu. Pola hidup itu, ya, hanya yang itu-itu saja. Dipertemukan untuk kemudian dipisahkan. Menemukan untuk kemudian kehilangan. Kemudian menamai segalanya sebagai pelajaran. Lalu, bagaimana jika kita ditakdirkan untuk itu?
Aku hanya tak bisa bayangkan, memangnya hal semenyakitkan apa sehingga dapat membuat aku harus kehilangan kau? Sedangkan kau tahu, yang hilang itu tak pernah benar-benar hilang; kenangan.
Jika benar kita akan sama-sama kehilangan--aku kehilangan kau, kau kehilangan aku--maka pada masa yang selanjutnya, akan ada orang lain yang memegang peranku. Akan ada orang baru yang memegang tahtamu.
Kehilangan dan menemukan orang baru.
Kehilangan dan digantikan.
Aku tak tahu mengapa aku sangat risau begini. Aku hanya, ah, membayangkannya saja telah menghabiskan kata-kataku.
Untuk itu,  pada yang akan hilang,
Kemudian aku berharap; jangan hilang.

Wednesday, 3 August 2016

Infinite.

Saya sangat tahu, jelas. Bahwa sannya, beberapa hal tak bisa disamakan. Beberapa perkara punya batas yang tak kasat mata. Beberapa pasal punya maknanya tersendiri.
Sedikit pupilku terbuka, melebar. Menyadari lebih tajam tentang pada malam ini, bukan lagi menjadi tugas saya untuk sakit-sakit memikirkan apa yang tersembunyi pada hatinya. Atau hati siapapun. Menyadari bahwa diri ini terbatas, tidak bisa menembus apa yang hanya terjebak pada pikir, pun batin. Tidak bisa mengejar apa yang tidak nyata, yang sebatas khayal. Yang tidak terlihat atau terdengar.
Juga, bukan tugasnya, atau tugas siapapun untuk bisa memahami apa yang saya genggam pada pikir dan batin saya. Apa yang berlarian, menusuk, atau membahagiakan. Mereka tak dapat menembus saya, sisi yang tidak saya perlihatkan atau saya bicarakan.
Walau pada kenyataannya, ada seribu peluru yang mereka siapkan, yang mereka siap lontarkan kepada saya untuk mengira-ngira apa dan siapa saya sebenarnya. Baik dan buruk. Bermainlah, bermain terus dengan khayal itu. Menebak-nebak apa yang ada pada batin dan pikir saya. Bisa jadi benar, mungkin juga salah.
Tapi saya, saya berjanji tak akan melakukan hal yang sama. Payah-payah mengira apa yang ada dipikiranmu. Tidak, aku tak ingin peduli. Bukan tak peduli, hanya tak ingin peduli saya disalahgunakan. Lagipula, bukan tugas saya membaca pikiranmu.
Biarkan, lisanmu bergerak jika sudah siap. Jika kau cukup percaya untuk saya mendengarkannya.

Sunday, 10 July 2016

Analogi Rindu.

Ternyata, rindu itu punya makna yang mutlak. Artinya, tidak seperti cinta dan sayang yang sebagian orang membedakan maknanya, sementara yang lainnya menyamai maknanya.
Pun rindu, hanya bisa disamai dengan kangen. Tidak ada yang lebih besar atau lebih rendah artinya dari kedua kata itu. Maknanya hanya bisa diperbesar dengan kata sangat dan bisa diperkecil dengan kata sedikit.
Rindu itu hal yang kodrati. Sifat manusiawi yang pasti dimiliki setiap orang. Tak ada hak manusia lain untuk menghalangi rasa itu dan sudah merupakan kewajiban manusia untuk menghargainya.
Juga rindu, tak punya skala pasti. Relatif dan mudah berubah-ubah.
Kadang rindu bisa membawa petaka. Menyebabkan otak lebih banyak berimajinasi, merasa cemas, juga lebih sukar untuk tidur.
Gejala rindu itu ketika diri mulai merasa ada yang hilang. Rasa mencari, terus dan terus. Namun untuk beberapa orang, mereka bisa langsung tahu tujuan rasa itu kepada siapa. Kemudian setelah itu, dalam sela-sela waktu kosong, otaknya otomatis mendireksikan khayal kepada orang yang dirindukan.
Obatnya pun beragam. Tergantung seberapa parah rindu itu. Ada yang cukup dengan menyapa, berbicara melalui telepon, atau harus bertemu. Hanya saja, banyak manusia di luar sana yang mempersulit proses penyembuhannya. Dan 80% penghalangnya ialah mereka kesulitan untuk mengungkapkannya karena gengsi yang melangit.
Penyebab rindu itu terlalu banyak, hingga sulit untuk dijamak. Namun, yang pasti ialah orang yang dirindukan pasti telah memiliki tahta tersendiri. Suatu kehormatan tersendiri. Sudut istimewa yang tak dijumpai pada manusia lain.
Jadi, itu rindu untukku
Dan ini, rindu untukmu.
Kau sudah boleh tidur sekarang.

Saturday, 18 June 2016

Empty Handed.

Mungkin ini saatnya aku kembali menyalakan lampu, setelah cukup lama berbaring pada kasur namun mata enggan tertutup. Mungkin juga ini saatnya aku berhenti mendengarkan semua lagu itu dan mulai berpikir, menemukan sendiri harmoni dari segala pertanyaan ini. Ya, otakku terperangkap pada pertanyaan-pertanyaan gila yang aku ciptakan sendiri. Terlalu banyak kata "mengapa" dengan nada kecewa. Tidak, rasa sesak itu tidak lagi menggebu. Hanya saja, aku masih tak punya akal sehat untuk menjawab segala pertanyaan yang bermunculan ketika mendapati diri tengah memikirkan apa yang telah ia lakukan pada tempo lalu.
Mengapa bisa? Mengapa dalam waktu yang terbilang singkat, ia mampu menjatuhkan aku sebegini dalam?
Terlalu lengah. Aku jadi tahu bahwa berekspektasi baik tak selalu berbuah baik. Aku terlalu menghargai apa yang telah ia berikan. Terlalu berlebihan dalam menilai kebaikannya, sehingga aku telah merasa terbawa jauh. Juga menganggap aku akan selalu terbangun pada pagi yang berbeda, namun mengisi hari itu dengan orang yang sama. Memasukannya pada kepastian hari esok, esok, dan esoknya lagi. Menjadikannya pengisi hari terbaik. Hingga akhirnya aku harus bangun pada sebuah pagi, dan membenci kenyataan bahwa pria yang harusnya aku genggam paling erat, kini berganti menjadi sebuah ruang hampa.
Menggenggamnya berlebihan.
Aku terjebak pada tindakanku sendiri. Menggenggamnya berlebihan. Sehingga ketika hilang, terasa sangat hilang. Sehingga saat pergi, terasa sangat pergi. Sehingga saat tulus, terasa sangat dibodohi. Sehingga saat gusar, terasa sangat mengacaukan.
Kemudian, aku berjalan jauh. Mencari segala bentuk penyembuhan untuk menyeimbangkan diri kembali. Hingga aku menemukan sebuah pintu yang membuka satu jejak masa lalunya.
Aku tak ada ide untuk menceritakannya. Tapi, ini sukar untuk diterima pada awalnya. Membuat aku bergumam bahwa ternyata pada masa yang pernah ia lalui bersama gadis itu, ia pernah sebahagia itu. Pernah menyayangi setulus itu. Pernah menggenggam sedalam itu. Pernah memberikan semua hal manis yang telah ia berikan kepadaku, kepada gadis itu.
Juga, membuat aku terkejut bahwa gadis itu juga pernah sekacau itu. Pria itu juga pernah sepatah itu. Mereka berdua juga pernah sehancur itu.
Pola yang sama. Hanya jalannya yang berbeda.
Aku jadi tak habis pikir. Pertanyaan "mengapa" dalam otakku menjadi berganti makna. Mungkin karena aku telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya, entahlah. Ternyata memang pola itu yang menjadi bayangan di balik punggungnya.
Kini otakku malah berganti cara pandang. Memberi komando untuk melihat ke depan. Mempersiapkan diri untuk melihat kenyataan bahwa entah berapa pagi setelah pagi ini, tak tahu pada malam yang mana setelah malam yang ini, mataku harus bersiap. Dadaku harus melapang. Bahuku tak boleh gontai. Bahwa sannya, aku akan melihat dia melakukan semua hal yang sama, berbagi kebahagiaan yang sama pada gadis lain. Berbagi tawa dengan gadis lain. Membuat gadis itu menggenggamnya erat, seerat yang aku lakukan.
Tapi aku juga tak ingin munafik, tentang melihat apa yang akan terjadi setelahnya. Dan aku, dari sudut jujur yang paling jujur dalam diriku, selalu berharap bahwa ia tak lagi mematahkan hati gadis barunya nanti.
Hey, aku sangat serius. Kini aku tangan kosong, yang tak ingin menggenggam apapun. Yang siap menerima namun siap juga melepaskan. Menggenggam memang sebuah keharusan, namun aku hanya akan menggenggam apa yang akan menggenggam kembali.

Saturday, 4 June 2016

Promise Me Autumn.

Mungkin saja, ini yang dikatakan musim gugur. Bukan hanya perkara daun yang menguning lalu berjatuhan. Memisahkan diri dari apa yang telah membuatnya menjadi tua, kemudian beristirahat tertarik gravitasi. Bukan hanya tentang fajar yang berganti menjadi terang. Menyusup melalui daun-daun. Melukiskan bayangan ranting tak berkawan dengan semut berbaris di atasnya.
Tapi kau selalu tahu, bukan? Bahwa segalanya, apa yang musim gugur lakukan, tak pernah dalam waktu singkat. Daun yang jatuh itu, boleh saja jatuh bersamaan. Tapi yang aku ketahui ialah, daun yang jatuh tak pernah pergi serentak dengan waktu yang cepat. Perlahan, memberikan waktu senggang kepada jati dirinya untuk merenung. Menyiapkan diri untuk menerima daun yang baru.
Jadi, panggil saja aku musim gugur, yang mengistirahatkan segala apa yang sudah tak ingin kugantung. Melepaskan apa yang sudah mati. Menyiratkan sinar mata sendu yang aku sendiri tak bisa dustai.
Tapi, perlakukan aku juga seperti musim gugur. Percayakan bahwa segalanya akan berganti, meski terjadi secara perlahan. Membangun kekuatan untuk apa yang telah dihancurkan. Memberi ruang senggang untuk mengeringkan luka. Hingga aku benar sempurna, terlepas dari segala bayang yang menjadikan aku berguguran.
Juga pahami aku sebagai musim gugur, yang membutuhkan waktu, yang aku pahami sebagai hal yang tak pernah singkat.

Wednesday, 18 May 2016

I Will.

“Bukannya sudah kukatakan sebelumnya? Bukannya semua orang sudah mengatakannya, kepadamu?” Pupilnya yang  tajam terlihat membesar  di bawah sinar lampu yang menggantung di atas kami.
Lidahku masih kelu, belum ingin menjawab. Atau lebih tepatnya, belum sanggup menjawab. Aku masih tertunduk, membisu. Menenggelamkan wajahku yang memerah. Aliran darah pada mukaku mendadak terasa panas. Pun mataku, lebih suka memandangi meja yang memisahkan aku dengannya dibandingkan menatap wajahnya yang begitu menunggu aku menjawab pertanyaannya yang  mendesak.
Lima atau enam detik berlalu. Ia memutarkan bola matanya.
“Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi, masalahnya ialah, kau yang terlalu bodoh. Umpama membeli barang yang rusak, yang kau sudah ketahui barang itu sudah tak berfungsi, tapi kau tetap membelinya.
“Seperti terjun ke tengah laut, yang sudah tahu laut itu dalam, dan kau tak bisa berenang.
“Seperti menyayat pisau pada tanganmu, yang sudah kau tahu itu akan melukaimu, tapi tetap kau lakukan.”
Aku masih belum bisa berkata. Rahangku mengeras.
“Semua orang juga tahu, semuanya akan seperti ini. Semua orang juga sudah mengatakan, bahwa ia memang seperti itu. Kau saja yang terlalu bermimpi untuk bisa merubahnya.” Ia menyeringai, memicingkan satu sudut bibirnya. “Percuma.”
Kesibukan di dalam kafetaria itu mengisi kekosongan perbincangan kami sejenak.  Piring yang beradu dengan garpu. Cangkir yang diletakan di atas pisin. Juga perbincangan pengunjung lain yang menyesaki atmosfer di sekitar kami. Samar-samar, namun terdengar lebih berwarna dibandingkan aku dengannya.
“Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?” Lagi-lagi, ia bertanya kepadaku, begitu mendesak.
Bibirku hendak menjawab, tapi urung. Dadaku terlalu sesak hingga membutuhkan oksigen tambahan. Aku pun malah menarik nafas yang dalam, dan menggeleng—tanda tak tahu.
“Itu buruk.” Ujarnya lagi. “Ayolah, kau pasti bisa melakukan sesuatu. Aku hanya tak ingin melihat kau jadi nelangsa begini. Begitu biru, sayu.
“Aku hanya ingin kau bisa tegas menjawab segala pertanyaan yang berlarian pada benak dan pikiranmu tentang dia. Menjadikannya satu jawaban yang sejalan. Bukan yang masih ragu, setengah melihat ke belakang dan bagian yang lain memaksa melangkah ke depan.
“Aku hanya ingin kau  bisa menjawab dengan tegas semua pertanyaan orang-orang tentang dirimu dengan dia yang sebenarnya. Tidak lagi perlu bingung untuk menjawab apa. Katakan saja yang sesungguhnya, bahwa segalanya memang telah tiada.” Ringan sekali ia mengakatakan semua itu.
Tenggorokanku kini terasa kering. Aku menelan ludah.
Ia menyesap sedikit  minuman yang telah ia pesan sembari memandangi wajahku yang penuh tanda tanya. Bibirku sudah seputih kertas, yang belum menjawab apapun dari segala pertanyaan dan pernyataan yang telah ia lontarkan kepadaku.
Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas meja.
Kemudian mendongak sedikit, perlahan beradu dengan bola mata hitam yang sedari tadi memandangiku.
“Aku tahu. Kau sepenuhnya benar. Sepenuhnya, tidak ada yang dapat aku sanggah. Tapi cobalah lihat pada sisi lain, maksudku, setidaknya pastilah ada itikad baik pada awalnya yang ia niatkan kepadaku, hingga akhirnya aku sempurna memilih dia. Walau pada jalannya, segalanya tak seperti apa yang telah diniatkan.
“Pun aku, yang mungkin gagal untuk memperbaiki dirinya. Berangan ia akan berubah, dari apa yang telah orang-orang ceritakan kepadaku. Pun aku yang pada awalnya memiliki itikad baik, bukan?”
Aku bisa lihat mulutnya menganga sedikit, juga alisnya yang bertaut.
“Mungkin semua yang kau ucapkan benar. Mungkin juga akan aku lakukan. Ini masaku dengannya yang memang telah habis. Juga begitu aku memperbaiki segalanya, aku mebutuhkan masa; waktu. Aku tidak bisa dan tidak mau memaksakan segalanya. Natural saja.
“Walau aku tak lagi tahu apa yang ia bicarakan dan ia lakukan, tapi itu cukup menjadi urusan dia. Akan kucoba untuk tidak peduli—seperti ia yang mungkin tak lagi peduli. Akan kucoba untuk mengurusi segala urusanku saja, agar tidak semakin rumit nantinya. Tapi kukatakan sekali lagi, aku butuh waktu.”
Ia mengulum senyum tipis. “Baiklah jika begitu. Tapi kuharap kau cukup kuat untuk menghadapi segala bentuk kesulitan yang—pasti—akan kau jumpai selama dalam masa itu.”
“Akan kupastikan.”

Friday, 6 May 2016

Tentang Kau.

Mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.
Akan aku ceritakan segalanya, dari awal. Sejak aku dan kau menemukan sebuah puisi dan menjadi awal perbincangan kita. Kala itu tengah malam, aku ingat sekali. Aku sudah mengantuk sebetulnya, tapi kau tampak masih sangat antusias dengan perbincangan itu.  Hingga akhirnya aku tertidur, dan tak membalas pesanmu.
Tapi esok, matahari masih terbit. Kemudian hingga esok, esoknya lagi, setelah malam itu. Perbincangan kita terus berlanjut dan semakin hangat, semakin seru, dan semakin dekat. Aku tak mengerti bagaimana bisa menjadi seperti itu. Hanya yang paling aneh ialah, kerap kali kutemui bibirku tertarik ke atas setelah membaca pesanmu. Beberapa kali pipiku merona setelah melihat balasan pesanmu. Merasa sedikit terkejut ketika mengartikan pesanmu.  Seperti mengaktifkan hormon dopamin dan adrenalin dalam waktu bersamaan.
Lalu, ini bagian terbaiknya. Ketika kau tiba-tiba meninggalkan makanan di depan rumahku dan memberikan pesan pada secarik kertas yang masih ku simpan hingga saat ini. Hal itu, terlalu indah untuk dijamak oleh kata. Perasaan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Kau bisa bayangkan, bukan? Dan itu, bukan yang terakhir. Dia juga pernah meninggalkan sekotak kue pada loker mejaku, juga dengan pesan di dalamnya. Menaruh setangkai bunga pada loker mejaku dan sebuah pesan di dalamnya.  Datang ke depan rumahku, tepat jam 12 malam, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Ku tak lagi punya akal sehat. Segala pikiranku seolah telah didistorsikan oleh bayangannya. Dia menang. Dia mampu menarik segala perhatianku. Dia bisa merebut segala kepercayaanku. Dia, aku tak punya ide lagi, terlalu indah. Terlalu manis. Terlalu menyilaukan, hingga membutakan.
Hingga mungkin membodohi, melukai, kemudian memuakkan. Berawal dari keinginanku, mungkin juga egoku, yang telah berekspektasi berlebih kepadanya. Namun ia menentang, menolak. Aku, dengan segala kesabaranku, ujungnya mengalah. Kemudian dia, yang juga memuntahkan egonya, berekspektasi berlebih kepadaku, namun tampak tak ingin kalah. Jadi, kala itu, aku pula yang mengalah. Entahlah, segalanya membuat dia berinisiatif untuk mengistirahatkan segalanya. Membuka waktu untuk diri masing-masing, yang kukira hal itu keliru.
Maksudku, aku selalu butuh tempat mengadu, kau tahu. Tempat untuk pulang. Tempat untuk berteduh, mencari ketenangan. Tapi dia berfikir lain. Dalam sudut pandangku yang mungkin buruk, ia menghindar. Berlari dari segalanya. Aku tak suka. Tak pernah suka.
Lagipula, ruang yang ia ciptakan itu membuat sakitnya makin terasa. Menelan rindu bulat-bulat, sendirian. Menciptakan ruang senggang yang semakin meluas, melebar, menjadi semakin jauh. Terlarut pada tebak-tebakan sendiri,  tanpa tahu kebenarannya.
Aku lama-lama lelah. Semuanya membuat otak dan dadaku terasa penuh. Ditambah lagi, terlalu banyak hal negatif—yang menurut perspektifku dan orang-orang yang berada disekitarku—tanpa ada pembenaran dari hal itu. Aku capek, benar-benar capek.
Dan dia datang lagi, meletup-letup. Kembali dengan membawa api pada kedua lengannya. Aku lengah, kemudian terbakar. Tidak lagi menggunakan kesabaranku. Hilang, pergi semua. Kini macan tidur dalam diriku, berhasil ia bangunkan. Dan aku bisa dengan kuatnya, atau lebih tepatnya, dipaksa untuk menjadi-mendadak-kuat, memutuskan untuk menghentikan segalanya.
Aku tak tahu apalagi yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu, aku bertambah kacau. Kalut. Kalap, hingga lepas kendali. Kembali pada tengah malam yang berbeda, pada malam yang berbeda, dengan perasaan yang berbeda. Berantakan.
Aku terbangun esok paginya, dengan mata yang berat. Kepala yang pening, dan segumpal perasaan aneh dalam dada.
Ku berkaca pada cermin yang terpaku pada dinding kamarku. Mataku masih sedikit membesar. Ini perjalanan yang paling melelahkan yang pernah ada. Kemudian aku terduduk, memikirkan apa yang terjadi pada sisi yang di sana.
Tapi satu hembusan nafas yang dalam melelehkan sebagian dari hatiku yang mendadak beku. Tak ada luka yang tidak mendewasakan. Tak ada kecewa yang tidak menguatkan. Dan memang kau, yang diutus untuk mengenalkan segala rasa itu, rasa begitu dicintai, juga begitu disia-siakan.
Daripada terus beradu dalam ego? Daripada terus terlarut dalam kelabu? Aku yakin segalanya ditempuh untuk mengokohkan siapapun yang menempuhnya.
Tidak, aku tidak menyesal. Aku siap, menerima segala konsekuensinya. Apalah, segalanya memang harus terjadi. Walaupun setelah ini, setelah pernah merasa dicintai sebegitunya namun ujungnya dikecewakan juga, aku jadi tak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk itu, mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.

Sunday, 1 May 2016

3K viewers, mercy!!

Terlalu hening, lengang. Terlalu banyak yang harus gue pikirkan dan kerjakan. Terlalu memikirkan kesibukan esok hari. Terlalu sesak dengan masalah hati. Gue ingin berlari. Gak peduli besok ulangan 2 pelajaran dan tes membaca hiragana juga pr agama yang menggila banyaknya. Kali ini, semua yang ingin gue lakukan hanyalah diam, dan beradu dengan pikiran.
Juga perasaan.
Ah, sudahlah. Gue sudah tidak ada ide lagi untuk mendeskripsikan segala kekacauan ini. Mungkin kalian pun jenuh membaca cerita tentang sesak, sedih, patah, dan sebagainya. Gue pun bosan, capek. Jadi, kepinggirkan saja dulu perihal itu.
Lebih baik gue merasa senang karena tidak terasa viewers blog ini telah mencapai 3000!! Terima kasih, terima kasih baaaaanyaaaaaak sekali untuk pembaca! Tanpa kalian blog ini sama sekali tidak berarti. Dan kalian juga membuat gue semakin mengerti bahwa segalanya, semuanya, membawa pelajaran. Ya, kalian tahu pasti bahwa cerita gue ini, berasal dari pengamatan hasil berjumpa dengan manusia dan lingkungannya. Jadi, segala apapun yang terjadi, gue yakin hal tersebut merupakan pelajaran berharga. Dan blog ini, semoga cukup untuk membuka sedikit pikiran atau menenangkan sedikit perasaan atau setidaknya, menyalurkan pesan sesungguhnya daripada tulisan itu. Simpelnya, kamu setidaknya mendapatkan "sesuatu" setelah membaca tulisan yang ada di blog ini.
Semoga kalian, para pembaca, tidak pernah bosan untuk membaca blog ini, ya. Karena kalian motivasi terbesar saya untuk menulis. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya dan nantikan tulisan selanjutnya!!

Monday, 18 April 2016

Give Me Summer.

Kamarku yang bersebelahan dengan jendela. Sekarang hampir tengah malam, gemercik hujan terdengar sangat jelas. Ini akan menjadi cerita yang klasik, aku tahu. Tapi ini kali pertama aku menghadapi fase seperti ini. Maka biarkan aku bercerita tentang sakit yang telah dialami sejuta umat manusia.
Tidak, aku tidak dapat menceritakannya utuh. Semua yang kutahu hanyalah sakit. Ini seperti cerita lamaku pada malam kemarin. Yang kukatakan bahwa aku terlalu takut untuk merasa telah benar dipilih padahal tidak. Telah menemukan yang benar berniat menjaga padahal tidak demikian. Ini terdengar seperti cerita lama. Luka kecil jika dibandingkan dengan lumpuh. Tapi ini sakit terbesarku; aku tahu akan menghadapi yang lebih besar nanti. Tapi untuk sekarang, ini luka terbesarku.
Dengar, perasaanku, bukan yang sebercanda itu. Memutuskan untuk menjalani waktu yang diberikan Tuhan bersama siapa, bukan yang semudah itu. Aku, terlalu takut untuk menjadi patah. Aku, terlalu mudah untuk menjadi kacau. Maka jika ingin bermain, bukan aku tempatnya.
Lalu, mungkin ini mereda. Hujan itu mereda. Tapi kau tahu ini musim hujan, bukan? Entah esok, atau pagi nanti, hujan itu akan datang lagi. Mungkin sekarang, bagiku dan kau adalah musim hujan. Aku harus selalu siap untuk badai yang baru. Lembab; sembab.
Ini terdengar seperti elegi. Seperti tersesat pada hutan lebat juga hujan hebat. Aku harus pandai berlari, siap terjatuh dan berdarah. Terjebak pada gelap yang bukan malam. Menyembunyikan isak bersama pasukan air lain. Berteriak, namun terkalahkan oleh suara yang lain.

Maka berikan aku musim kemarau saja. Aku tak mau hujan lagi.

Thursday, 7 April 2016

Left and Lost.

Aku pernah hampir terlelap. Aku pernah merasa seketika hilang dari satuan masa. Entah terselip di dimensi yang mana, pun detik yang ke-berapa. Aku pernah hampir terlepas dari raga, dengan jiwa yang sadar setengah saja.
‌Kemudian refleks terbangun. Mataku terbuka dengan pupil yang membesar. Nafas tersentak, menarik oksigen lebih banyak. Denyut nadiku, terasa sampai ke permukaan. Pun telingaku, mendengarkan iramanya yang mendadak lebih cepat.
Aku membenarkan posisi tidurku. Langit-langit kamarku sedikit buram. Kunang-kunang. Mataku berkunang-kunang sesaat, kemudian normal dalam hitungan jari. Aku pun mengubah posisi tidurku menjadi terduduk bungkam. Diam. Rasanya aku masih terhanyut dalam pikiran gila itu.
Pikiran yang membuatku merasa takut. Pikiran yang menggambarkan sesuatu yang buruk. Pikiran yang membawaku ke sebuah pertaruhan; meninggalkan atau ditinggalkan.
Tidak ada pilihan yang baik. Ya, tidak ada pilihan yang tak berujung perpisahan. Aku pernah berbicara dengan seorang anak berusia 7, dan ia bertanya kepada orangtuanya tentang makna prioritas. Aku membantu untuk menjawabnya. Sesuatu yang kau kedepankan; kau utamakan. Kemudian anak itu mengangguk, tanda ia mengerti.
Kemudian ia bertanya lagi tentang makna suatu kata yang baru saja ia baca dalam sebuah majalah.
"Apa arti dari perpisahan?"
Aku melirik sejenak kepada orangtuanya. Mulutnya terbuka sedikit, hendak menjawabnya, namun tak jadi. Hanya menggantung di udara. Kemudian ia memintaku untuk menjawab. Aku juga terdiam.
Aku, tak tahu. Bukan, aku sudah pernah mengalami sebuah "perpisahan". Tapi... Aku tidak bisa menjelaskannya, karena bagiku, kata itu sudah lengkap. Sudah jelas, huruf per hurufnya. Tak perlu lagi ada penjelasan, atau makna lainnya. Satu yang pasti, kau akan mengerti ketika sudah mengalaminya sendiri. Maknanya, hanya kau dan rasa yang bisa menterjemahkannya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Ini pahit. Aku menyesal telah mengenal makna "perpisahan" sebelumnya. Setidaknya, jika aku seperti sepupuku yang belum mengenal makna kata itu, aku tak perlu merasa takut. Tak perlu membuat kesimpulan akan kehilangan. Lagipula, apakah ada maksud lain dari perpisahan selain kehilangan?

Monday, 14 March 2016

Cliché.

Semoga esok akan baik-baik saja. Aku berdoa malam ini dan akan menyusup lewat mimpi yang mungkin saja kau akan lupa setelah bangun. Tapi jika nanti kau masih ingat, maka dengarkan aku baik-baik.
Sejatinya, aku ini terlalu mudah pecah. Sebenarnya aku ini wanita, yang tak bisa berkata banyak. Bukan pula manusia yang pandai menampakkan apa yang ia rasa. Bukan. Aku bodoh total untuk hal seperti itu. Tapi yang aku yakini ialah, kau bisa melihatnya. Kau pastilah bisa merasakannya. Dengarkan, aku bukan pintu yang terbuka lebar, tapi bukan pula pintu yang tertutup rapat. Mengerti? Jika tidak, maka akan kujelaskan lebih rinci.
Klisenya, aku bukan, bukan yang mudah dilalui banyak orang. Tapi bukan pula yang sukar untuk menerima. Tapi pintu itu terbuka, sedikit. Hanya orang yang berusaha untuk membuka pintu itu lebih lebar yang akan berhasil masuk. Tapi ingat, selama pintu itu belum terkunci maka orang lain juga berhak untuk masuk, bukan?
Aku hanya ingin tahu, sejauh apa kau akan berusaha untuk mengunci pintu itu, agar tiada yang lain yang dapat masuk. Walau nyatanya, ruang yang ada hanya dapat dimasuki oleh seorang saja. Tapi, siapa pula yang tahu jikalau ternyata kau tidaklah sanggup bertahan pada ruang itu, kemudian memilih pergi. Aku, tidak ingin menguncinya sendiri. Takut-takut suatu hari kau benar-benar muak, kemudian memilih mendobrak pintunya, melukai ruang itu. Percayalah, aku terlalu takut untuk menjadi kacau hanya karena aku merasa telah dipilih padahal tidak. Merasa telah benar menemukan yang baik untuk menjaga padahal ia sama sekali tak berniat demikian. Aku takut, besar rasa sendiri. Aku takut, terbawa perasaan dan tebak-tebakan sendiri. Dan lebih takut lagi, jika kau sudah tahu bahwa nyatanya aku telah merasa diperlakukan dengan baik, maka kau akan merasa aman dan tak lagi berusaha untuk mengunci ruang itu, seenaknya tinggal tanpa memberi kepastian bahwa kau memang benar takkan pergi.
Aku tidak, tidak akan menetapkan apapun. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal hanya karena kau sudah berhasil masuk pada ruang itu. Walau nyatanya, aku pun takut jika kau tiba-tiba pergi. Tapi aku tak ingin egois. Jika memang kau tidak berusaha mengunci ruang itu, maka artinya kau selalu punya hak untuk meninggalkan. Itu akan selalu menjadi hakmu, dan kewajiban bagiku untuk melepaskan. Maka aku mohon, temukanlah kunci itu dan kuncilah sendiri olehmu. Agar aku percaya, kau memanglah benar berniat untuk tinggal dan menjaga ruang itu. Percayalah, aku di sini, hanya ruang yang lengang, jika tak ada yang menempati.

Tuesday, 1 March 2016

An Entire Galaxy.

When I was hoping a single planet,
You, yes you, came like an entire galaxy to me.
Dan semua ini, membuat gue percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah. Semuanya terbayar, setelah gue mengalami patah jutaan kali karena orang yang sama, setelah segalanya menyerupai badai yang tak kunjung habis, setelah segalanya serumit benang kusut, someone else comes and makes me forget about all the pain. Ini terlalu seperti fairytale buat gue, sungguh. Gue pun gak pernah nyangka kalau gue akan merasakan semua ini. Dia, terlalu seperti tokoh dalam novel teen-romance yang sering gue baca. Yang penuh kejutan dan gak pernah terbaca. Serius. Tapi, sebanyak apapun novel yang sudah gue baca, gak ada surprise yang sama seperti apa yang sudah dia berikan ke gue. Okay, mungkin bentuk fisik dari surprise itu sama seperti apa yang ada dalam novel. Tapi cara dia menyampaikannya, itu gak pernah sama. Tidak pernah ada. Atau mungkin pernah ada, tapi ini yang pertama kalinya bagi gue.
Dan semua itu, semua perasaan elated and euphoria at the same time itu, dia yang mengenalkannya kepada gue. Rasa terkejut dan panik yang baru gue rasakan seperti itu, dia yang mengajarkan. Perasaan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, dia yang berikan.
Gue gak pernah tahu ke depannya akan seperti apa, tapi setidaknya dia akan menjadi tokoh penting dalam sejarah hidup gue. Kan, kemarin-kemarin, gue sudah belajar banyak tentang hal-hal yang tak disangka-sangka. Jadi, gue gak mau terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. We’ll see.
Sementara orang yang telah mengajarkan gue untuk lebih bersabar, alias yang mengenalkan gue bagaimana rasanya patah hati, sekarang menjadi teman gue. Entahlah, semuanya berlalu begitu saja.
Sekali lagi, gue ngerasa sangat beruntung menjalani semua ini. Karena gue yakin, gak semua orang seberuntung gue. Gak semua orang pernah ngerasa nelangsa sedalam gue, juga bahagia sesuper gue. Kalau saja gue punya waktu, maka izinkan gue untuk menceritakan lebih dalam dan lebih jauh. Doakan saja, semoga ceritanya bertambah baik!

Tuesday, 16 February 2016

I Saw You.

When i looked up to the mirror,
I saw you.
I saw a million of questions.
With a deer,
It was deeper than i thought.

It was not only about your eyes
But deeper than that,
I didn't see who you really were.

Who you really are for the next second, next minute, hour, and forever.

I needed to know
Because you were a part of my puzzle
But i said it once more,
You were my unsolved riddle.
And it gonna hunts me every night
Under my closed eyes.

Friday, 12 February 2016

Behind The Window.

And it still the same.
You were standing there
Right between the cold of drizzled
And wiped eyes.
You were a silhouette and a shadow
Behind the window
At the same time.
With a frozen mouth
I knew there were words that left
Unsaid.
But we have always been used to be alike.
You, stand under the ground
While I stand to face the sky
And we didn't wanna give up for each other.
We've been stuck on our own eyes
That blind because of the dark and the light.
We wouldn't be moved
To get closer
Or furthermore.

Saturday, 23 January 2016

It's (Almost) Over.

00.48 dan kantuk belum juga menyerang gue. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya gue benar-benar tak bisa tidur. Otak gue terus berpikir dalam temaram dengan kantung mata yang menghitam. Sementara di luar sana, jangkrik menjadi suara malam yang tertangkap indera pendengar. Tubuh gue sudah melemah, sungguh. Tapi daya pikir gue masih memaksa gue untuk bekerja. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
Sekarang, beberapa perkara dalam hidup gue seolah menemukan titik terangnya secara perlahan. Semuanya kembali berubah, berkembang. Tapi tetap meyisakan tanya bagi gue. Matahari yang akan muncul dan berpulang itu, tiap kalinya melahirkan perkembangan baru. Gue gak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena gue rasa ini masih terlalu mengira-ngira. Namun gue rasa, semuanya akan segera berganti tema.
Gue rasa semuanya akan segera berakhir.
Gue rasa gue telah mengerti kenapa semuanya dibuat serumit ini. Sekiranya memang bisa gue umpamakan, maka jawabannya adalah ketika sore itu. Ketika tawa itu berguguran. Dan gue gak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana, karena gue gak bisa menjelaskannya lebih baik lagi. Kalimat gue masih saja miskin sampai rasa yang ada gak bisa terjamak oleh kata. Dimana kita hanya bertemu dalam perjalanan. Dimana gue hendak pergi dan kamu hendak pulang. Hanya itu. Tidak tertulis sebagai manusia yang harus memberi penjelasan, berbagi kata.
Hanya saja gue dan kamu mungkin sama-sama tak pernah terpikir bahwa kita pernah melintas pada jalan yang sama. Pada pikiran yang sama. Dan—mungkin—pada rasa yang sama. Kita terlalu banyak mengabaikan. Atau hanya menebak-nebak, menganalisa.
Ini kesalahan siapa? Gue pun gak tahu. Gak bisa menyalahkan siapa pun. Hingga akhirnya segalanya perlahan bertambah rumit. Gue mendengar kabar ini, itu. Kemudian membuat kesimpulan sendiri. Kemudian membenci sendiri. Kemudian semuanya bertambah kabur, blur. Kemudian gue berbelok, dengan kompas yang ternyata salah.
Dan kita bertemu lagi. Tapi gue udah terlanjur tersesat. Gue sudah terlanjur melewati hutan berduri dan terkena cakaran hewan buas hingga hampir mati. Mungkin kamu gak tahu itu, gue pun tak tahu apa yang menjadi perjalanan kamu selama gue tersesat itu. Tapi percayalah, segala atmosfer dan cahaya mentari yang kita terima bahkan berbeda. Gue bahkan telah bisu, untuk kamu. Karena diperjalanan itu, gue katakan lagi, gue sudah termakan berita buruk itu. Hingga akhirnya gue sendiri bingung, sebetulnya gue ini masihkah yang dulu atau sudah bukan?
Tapi menyadari bahwa kita bahkan melewati perjalanan yang berbeda, maka ada baiknya gue bersiap-siap untuk berkemas dan pulang ke rumah. Bersiap-siap belajar untuk mengosongkan hati, sebelum terkena duri yang baru lagi. Pintarlah sedikit, wahai anak muda. Bahkan pada pertemuan pertama kita dalam perjalanan, kamu hendak pulang ke rumah. Untuk kemudian memulai perjalanan baru, yang bukan untuk gue, seperti apa yang diberitakan. Ini mungkin kesimpulan yang salah, tapi setidaknya hanya petunjuk ini yang gue punya. Gue harus mengakhiri perjalanan ini, pulang dan bersiap untuk segala kemungkinan yang baru.

Friday, 8 January 2016

Stay.

Jerawat gue semakin menjadi. Itu bikin gue keki setengah mati.
“Lagi banyak pikiran, ya?” pertanyaan seperti itu tiba-tiba bermunculan. Gue hanya bisa mengangkat bahu sebelum akhirnya gue menyadari bahwa memang iya, terlalu banyak pikiran yang menyesaki otak gue hingga mata gue terasa berat.
Tatapan gue sering kosong belakangan ini. Malah, yang nyebelin adalah ketika teman-teman gue mendadak menyanyikan lagu Geisha yang liriknya, “Lumpuhkanlah ingatanku….” Apalah, gue tidak tahu judulnya. Mereka gak akan berhenti bernyanyi sebelum akhirnya gue sadar bahwa gue telah melamun, lagi. Atau yang lebih gila adalah ketika teman sekelas gue tiba-tiba melambai-lambaikan tangan depan muka gue, atau melakukan atraksi lainnya seperti menari atau mengagetkan gue.
Gue juga gak tahu kenapa gue bisa sebegininya. 2016 belum genap sebulan, tapi masalah baru bermunculan terlalu cepat. Seperti perkembangbiakkan amoeba yang tidak dapat terkontrol. Semuanya. Gue gak bisa menceritakan satu per satu karena bisa-bisa kalau gue tulis semuanya, maka rangkaiannya bisa menjadi novel trilogi. Hm, gue nampaknya harus memutar otak untuk memberi tiga judul novel yang hikmahnya masih amat-sangat absurd ini.
Tapi yang jelas adalah, semua terjadi bersamaan. Tanpa jeda. Menyerang gue bertubi-tubi hingga rasanya gue penat sendiri. Gue butuh tameng, sungguh. Atau setidaknya, gue perlu tempat beristirahat. Berteduh, mengambil sedikit napas untuk bisa melanjutkan semuanya.
Malah terkadang, gue jadi ingin pindah negara saja. Tapi, kalau gue pindah negara, nanti gue ketemu manusia baru lagi. New people, new fights, new problems, new stories, tanpa belum tentu menutup hubungan gue dengan old people, old fights yang mungkin masih to be continued, old problems yang juga mungkin masih butuh penjelasan, dan old stories yang mungkin belum menemukan ending-nya.
Kalau begitu, gue pindah planet saja. Serius, gak-papa. Kalau memang itu better and worth it, why not? Asalkan nanti di planet baru gue, gue tetap bisa shalat dan beribadah, makan yang banyak, minum yang enak, tidur nyenyak, dan merasa all fine all good. Terus minimal, gue bisa balik ke bumi seminggu sekali, pake pesawat ruang angkasa rongsokan yang ada di Jakku juga gak-papa. Selanjutnya gue bersekolah di sana. Mungkin di sana juga KKM-nya lebih rendah daripada sekolah gue. Atau setidaknya, gravitasi di sana bisa jadi lebih kecil, bahkan gak ada. Lumayan, nanti pelajaran fisika jadi lebih mudah karena jika gravitasi benar-benar nol, maka sesulit apapun soalnya, jika dikalikan dengan gravitasi yang bernilai nol maka hasilnya akan nol juga. Kemudian di sana nanti gue bisa melihat bintang dengan jelas jika planet yang gue tinggali tidak berkabut. Uh, senangnya. Dan kalau planet itu punya banyak satelit, maka gue akan melihat lebih dari satu satelit dalam waktu bersamaan. Tidak seperti bulan yang hanya satu dan tak selalu hadir.
Sekarang gue malah garuk-garuk kepala. Sepertinya gue sudah mulai error. Karena faktanya, gue akan tetap mencintai bulan. Gue selalu suka bintang. Gue selalu kagum pada langit. Maka ini pertanda bahwa gue harus tetap di sini karena gue harus bertanggungjawab atas apa yang gue sayangi beserta segala resikonya. Ya, sudahlah. Gue menetap di bumi. Lemme' fight.