Mungkin saja, ini yang dikatakan musim gugur. Bukan hanya perkara daun yang menguning lalu berjatuhan. Memisahkan diri dari apa yang telah membuatnya menjadi tua, kemudian beristirahat tertarik gravitasi. Bukan hanya tentang fajar yang berganti menjadi terang. Menyusup melalui daun-daun. Melukiskan bayangan ranting tak berkawan dengan semut berbaris di atasnya.
Tapi kau selalu tahu, bukan? Bahwa segalanya, apa yang musim gugur lakukan, tak pernah dalam waktu singkat. Daun yang jatuh itu, boleh saja jatuh bersamaan. Tapi yang aku ketahui ialah, daun yang jatuh tak pernah pergi serentak dengan waktu yang cepat. Perlahan, memberikan waktu senggang kepada jati dirinya untuk merenung. Menyiapkan diri untuk menerima daun yang baru.
Jadi, panggil saja aku musim gugur, yang mengistirahatkan segala apa yang sudah tak ingin kugantung. Melepaskan apa yang sudah mati. Menyiratkan sinar mata sendu yang aku sendiri tak bisa dustai.
Tapi, perlakukan aku juga seperti musim gugur. Percayakan bahwa segalanya akan berganti, meski terjadi secara perlahan. Membangun kekuatan untuk apa yang telah dihancurkan. Memberi ruang senggang untuk mengeringkan luka. Hingga aku benar sempurna, terlepas dari segala bayang yang menjadikan aku berguguran.
Juga pahami aku sebagai musim gugur, yang membutuhkan waktu, yang aku pahami sebagai hal yang tak pernah singkat.
No comments:
Post a Comment