Aku menarik baju hangatku yang berwarna merah jambu. Ruangan itu seketika mendingin. Jemariku kutenggelamkan pada lengan baju hangatku yang terlalu besar. Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku. Ruangan ini sungguh membuatku bosan.
Atau pikiranku saja yang sedang kacau?
Aku menoleh ke jendela yang menyuguhkan bulir-bulir hujan pada kacanya. Langit menggelap, ini artinya sudah hampir 4 jam aku membumbungkan kecemasan dalam otakku. Mataku sungguh terpaku melihat percakapan itu. Entahlah, segalanya terekam begitu apik dalam memoriku. Gerak mulutnya. Matanya yang membesar. Mulutnya yang terbuka, menyunggingkan sisa-sisa tawa dari percakapannya. Sinar mata yang begitu antusias menanggapi satu sama lain.
Pipiku menghangat. Atau seluruh tubuhku? Aku tidak ingat. Yang aku tahu, aku bisa merasakan aliran darahku sendiri. Pun jantungku yang ikut menderu cepat.
Tidak, tidak ada yang salah dengan isi percakapannya. Karena kenyataannya dunia saat itu terasa melambat, hingga aku tak mendengar apa-apa. Tapi yang ajaib ialah, ketika percakapan itu mampu membuatku merasa ditarik pada masa yang aku tak pernah suka.
Masa di mana aku hanya menjadi bagian dari yang terlewat. Atau seumpama kau membaca buku, maka masa itu ialah ketika kau belum menemukan namaku sebagai kata pada halaman di bukumu. Dan di kala itu, gadis itulah yang memegang tahtaku.
Oh, baiklah, mungkin aku berlebihan. Tapi aku pun tidak bisa dustai. Memangnya ada yang mampu merubah sejarah?
Begini, bagaimana jika dirimu pun sama, mengingat halaman yang sudah kau baca, dan lebih mengingat lagi bahwa nama gadis itu pernah menjadi nama yang kau libatkan dalam masalah perasaan? Lalu, apa yang kau rasakan setelah itu? Kemudian, segala pikiranku membiru.
Ini memenuhi ruang pada dadaku. Kemudian, pikiran itu bak awan jenuh yang siap menjadi hujan.
Semoga kau lekas tahu, hujanku jadi memilu beku.
No comments:
Post a Comment