Friday, 6 May 2016

Tentang Kau.

Mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.
Akan aku ceritakan segalanya, dari awal. Sejak aku dan kau menemukan sebuah puisi dan menjadi awal perbincangan kita. Kala itu tengah malam, aku ingat sekali. Aku sudah mengantuk sebetulnya, tapi kau tampak masih sangat antusias dengan perbincangan itu.  Hingga akhirnya aku tertidur, dan tak membalas pesanmu.
Tapi esok, matahari masih terbit. Kemudian hingga esok, esoknya lagi, setelah malam itu. Perbincangan kita terus berlanjut dan semakin hangat, semakin seru, dan semakin dekat. Aku tak mengerti bagaimana bisa menjadi seperti itu. Hanya yang paling aneh ialah, kerap kali kutemui bibirku tertarik ke atas setelah membaca pesanmu. Beberapa kali pipiku merona setelah melihat balasan pesanmu. Merasa sedikit terkejut ketika mengartikan pesanmu.  Seperti mengaktifkan hormon dopamin dan adrenalin dalam waktu bersamaan.
Lalu, ini bagian terbaiknya. Ketika kau tiba-tiba meninggalkan makanan di depan rumahku dan memberikan pesan pada secarik kertas yang masih ku simpan hingga saat ini. Hal itu, terlalu indah untuk dijamak oleh kata. Perasaan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Kau bisa bayangkan, bukan? Dan itu, bukan yang terakhir. Dia juga pernah meninggalkan sekotak kue pada loker mejaku, juga dengan pesan di dalamnya. Menaruh setangkai bunga pada loker mejaku dan sebuah pesan di dalamnya.  Datang ke depan rumahku, tepat jam 12 malam, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Ku tak lagi punya akal sehat. Segala pikiranku seolah telah didistorsikan oleh bayangannya. Dia menang. Dia mampu menarik segala perhatianku. Dia bisa merebut segala kepercayaanku. Dia, aku tak punya ide lagi, terlalu indah. Terlalu manis. Terlalu menyilaukan, hingga membutakan.
Hingga mungkin membodohi, melukai, kemudian memuakkan. Berawal dari keinginanku, mungkin juga egoku, yang telah berekspektasi berlebih kepadanya. Namun ia menentang, menolak. Aku, dengan segala kesabaranku, ujungnya mengalah. Kemudian dia, yang juga memuntahkan egonya, berekspektasi berlebih kepadaku, namun tampak tak ingin kalah. Jadi, kala itu, aku pula yang mengalah. Entahlah, segalanya membuat dia berinisiatif untuk mengistirahatkan segalanya. Membuka waktu untuk diri masing-masing, yang kukira hal itu keliru.
Maksudku, aku selalu butuh tempat mengadu, kau tahu. Tempat untuk pulang. Tempat untuk berteduh, mencari ketenangan. Tapi dia berfikir lain. Dalam sudut pandangku yang mungkin buruk, ia menghindar. Berlari dari segalanya. Aku tak suka. Tak pernah suka.
Lagipula, ruang yang ia ciptakan itu membuat sakitnya makin terasa. Menelan rindu bulat-bulat, sendirian. Menciptakan ruang senggang yang semakin meluas, melebar, menjadi semakin jauh. Terlarut pada tebak-tebakan sendiri,  tanpa tahu kebenarannya.
Aku lama-lama lelah. Semuanya membuat otak dan dadaku terasa penuh. Ditambah lagi, terlalu banyak hal negatif—yang menurut perspektifku dan orang-orang yang berada disekitarku—tanpa ada pembenaran dari hal itu. Aku capek, benar-benar capek.
Dan dia datang lagi, meletup-letup. Kembali dengan membawa api pada kedua lengannya. Aku lengah, kemudian terbakar. Tidak lagi menggunakan kesabaranku. Hilang, pergi semua. Kini macan tidur dalam diriku, berhasil ia bangunkan. Dan aku bisa dengan kuatnya, atau lebih tepatnya, dipaksa untuk menjadi-mendadak-kuat, memutuskan untuk menghentikan segalanya.
Aku tak tahu apalagi yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu, aku bertambah kacau. Kalut. Kalap, hingga lepas kendali. Kembali pada tengah malam yang berbeda, pada malam yang berbeda, dengan perasaan yang berbeda. Berantakan.
Aku terbangun esok paginya, dengan mata yang berat. Kepala yang pening, dan segumpal perasaan aneh dalam dada.
Ku berkaca pada cermin yang terpaku pada dinding kamarku. Mataku masih sedikit membesar. Ini perjalanan yang paling melelahkan yang pernah ada. Kemudian aku terduduk, memikirkan apa yang terjadi pada sisi yang di sana.
Tapi satu hembusan nafas yang dalam melelehkan sebagian dari hatiku yang mendadak beku. Tak ada luka yang tidak mendewasakan. Tak ada kecewa yang tidak menguatkan. Dan memang kau, yang diutus untuk mengenalkan segala rasa itu, rasa begitu dicintai, juga begitu disia-siakan.
Daripada terus beradu dalam ego? Daripada terus terlarut dalam kelabu? Aku yakin segalanya ditempuh untuk mengokohkan siapapun yang menempuhnya.
Tidak, aku tidak menyesal. Aku siap, menerima segala konsekuensinya. Apalah, segalanya memang harus terjadi. Walaupun setelah ini, setelah pernah merasa dicintai sebegitunya namun ujungnya dikecewakan juga, aku jadi tak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk itu, mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.

2 comments: