Monday, 18 April 2016

Give Me Summer.

Kamarku yang bersebelahan dengan jendela. Sekarang hampir tengah malam, gemercik hujan terdengar sangat jelas. Ini akan menjadi cerita yang klasik, aku tahu. Tapi ini kali pertama aku menghadapi fase seperti ini. Maka biarkan aku bercerita tentang sakit yang telah dialami sejuta umat manusia.
Tidak, aku tidak dapat menceritakannya utuh. Semua yang kutahu hanyalah sakit. Ini seperti cerita lamaku pada malam kemarin. Yang kukatakan bahwa aku terlalu takut untuk merasa telah benar dipilih padahal tidak. Telah menemukan yang benar berniat menjaga padahal tidak demikian. Ini terdengar seperti cerita lama. Luka kecil jika dibandingkan dengan lumpuh. Tapi ini sakit terbesarku; aku tahu akan menghadapi yang lebih besar nanti. Tapi untuk sekarang, ini luka terbesarku.
Dengar, perasaanku, bukan yang sebercanda itu. Memutuskan untuk menjalani waktu yang diberikan Tuhan bersama siapa, bukan yang semudah itu. Aku, terlalu takut untuk menjadi patah. Aku, terlalu mudah untuk menjadi kacau. Maka jika ingin bermain, bukan aku tempatnya.
Lalu, mungkin ini mereda. Hujan itu mereda. Tapi kau tahu ini musim hujan, bukan? Entah esok, atau pagi nanti, hujan itu akan datang lagi. Mungkin sekarang, bagiku dan kau adalah musim hujan. Aku harus selalu siap untuk badai yang baru. Lembab; sembab.
Ini terdengar seperti elegi. Seperti tersesat pada hutan lebat juga hujan hebat. Aku harus pandai berlari, siap terjatuh dan berdarah. Terjebak pada gelap yang bukan malam. Menyembunyikan isak bersama pasukan air lain. Berteriak, namun terkalahkan oleh suara yang lain.

Maka berikan aku musim kemarau saja. Aku tak mau hujan lagi.

1 comment: