Kamarku yang bersebelahan dengan jendela. Sekarang hampir
tengah malam, gemercik hujan terdengar sangat jelas. Ini akan menjadi cerita
yang klasik, aku tahu. Tapi ini kali pertama aku menghadapi fase seperti ini. Maka
biarkan aku bercerita tentang sakit yang telah dialami sejuta umat manusia.
Tidak, aku tidak dapat menceritakannya utuh. Semua yang
kutahu hanyalah sakit. Ini seperti cerita lamaku pada malam kemarin. Yang kukatakan
bahwa aku terlalu takut untuk merasa telah benar dipilih padahal tidak. Telah menemukan
yang benar berniat menjaga padahal tidak demikian. Ini terdengar seperti cerita
lama. Luka kecil jika dibandingkan dengan lumpuh. Tapi ini sakit terbesarku;
aku tahu akan menghadapi yang lebih besar nanti. Tapi untuk sekarang, ini luka
terbesarku.
Dengar, perasaanku, bukan yang sebercanda itu. Memutuskan untuk
menjalani waktu yang diberikan Tuhan bersama siapa, bukan yang semudah itu. Aku,
terlalu takut untuk menjadi patah. Aku, terlalu mudah untuk menjadi kacau. Maka
jika ingin bermain, bukan aku tempatnya.
Lalu, mungkin ini mereda. Hujan itu mereda. Tapi kau tahu
ini musim hujan, bukan? Entah esok, atau pagi nanti, hujan itu akan datang
lagi. Mungkin sekarang, bagiku dan kau adalah musim hujan. Aku harus selalu
siap untuk badai yang baru. Lembab; sembab.
Ini terdengar seperti elegi. Seperti tersesat pada hutan
lebat juga hujan hebat. Aku harus pandai berlari, siap terjatuh dan berdarah. Terjebak
pada gelap yang bukan malam. Menyembunyikan isak bersama pasukan air lain. Berteriak,
namun terkalahkan oleh suara yang lain.
Maka berikan aku musim kemarau saja. Aku tak mau hujan lagi.
Pancaroba biar mix//hm
ReplyDelete