Pada setiap detik yang telah lalu,
aku ingin menuliskan bahwa,
aku ingin berlari padamu.
Pada setiap detik yang telah lalu, yang kini menyesakkan
dada, mengacaukan segala pertahanan yang aku bangun tanpa pernah kuhitung
berapa detik yang kuhabiskan untuk menciptakannya, aku ingin merengkuhmu. Jauh.
Dalam sekali, hingga aku tak peduli betapa penuhnya aku akan detik yang telah
lalu.
Untuk kemudian membisik pada setiap detik yang telah lalu,
hapuskan air matamu. Lupakan rasa bencimu. Lepaskan segala sayang yang
membunuhmu. Hapuskan segala rindu yang membuat kau runtuh. Rengkuh aku, tak
perlu memeluk takut yang melemahkan kau. Janganlah kau cemaskan yang akan
hilang itu. Genggam orang-orang yang menyayangimu, dan lakukan yang terbaik
untuknya.
Karena jika kau tahu,
detik yang telah lalu itu tak pernah terputus. Sedetik pun, tidak. Segalanya
terpilin menjadi untaian memori yang tak ada kuasa apapun yang dapat
merubahnya. Akan terus menjadi seperti itu. Pada detik yang kau gunakan untuk
menangis, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menangis. Pada
detik yang kau gunakan untuk menyayangi, maka akan tertulis sebagai detik yang
kau gunakan untuk menyayangi. Pun pada setiap detik yang kau gunakan untuk
membenci, menyakiti, menyesal, bersedih. Tak akan berubah meski satu detik.
Ingin aku lakukan perjalanan bagi setiap detik yang telah
lalu, tak peduli seberapa jauh detik itu. Ingin aku menghapuskan apa yang
membuat kelopak mataku tak mau terpejam malam ini. Ingin aku menenggelamkannya
dalam peluk erat agar luka itu hilang. Agar rindu itu tak perlu lagi berputar
ribuan kali dalam sanubari. Agar dadaku
tak lagi terasa penuh. Supaya segalanya terasa baik-baik saja, tak perlu lagi
sayu pada pilu yang berjatuhan kala aku memutar film tentang detik yang telah
lalu.
Tapi tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya.
Nafasku terbuang. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri,
seolah tengah merengkuh detik yang telah lalu.
Atau aku hanya perlu melepaskannya.
Aku terduduk pada detik ini. Memandangi kaca yang terpaku
pada dinding kamarku. Menarik nafas pada detik selanjutnya. Memandangi bola
mata yang kugunakan sebagai kaleidoskop ketika merekam detik yang telah lalu. Menterjemahkan
segala memori yang ada. Dan mataku, masih mata yang sama.
Aku sedang melewatkan detik yang sedang berlangsung. Dan sedetik
lagi akan menjadi detik yang telah lalu.
Sedetik berlalu. Detik yang kugunakan untuk berpikir,
memikirkan detik yang telah lalu. Ribuan detik yang telah lalu, yang tidak
pernah hilang. Detik yang kugunakan dengan perasaan gundah. Dan bertambah
terus, detik yang kugunakan dengan perasaan kacau bertambah banyak.
Kurasa cukup. Mungkin aku memang harus melepaskannya. Pada detik
yang telah lalu itu, aku hanya perlu memaafkannya. Mungkin segalanya takkan
termaafkan dalam waktu sedetik saja. Namun setidaknya, pada detik selanjutnya
setelah detik ini, segalanya akan tertulis sebagai detik yang kugunakan untuk
memaafkan apa yang telah tertulis pada detik yang telah lalu.
Dan pada detik yang akan datang, aku tak tahu. Benar-benar
tak tahu. Kuharap segalanya baik-baik saja.
No comments:
Post a Comment