Kemudian refleks terbangun. Mataku terbuka dengan pupil yang membesar. Nafas tersentak, menarik oksigen lebih banyak. Denyut nadiku, terasa sampai ke permukaan. Pun telingaku, mendengarkan iramanya yang mendadak lebih cepat.
Aku membenarkan posisi tidurku. Langit-langit kamarku sedikit buram. Kunang-kunang. Mataku berkunang-kunang sesaat, kemudian normal dalam hitungan jari. Aku pun mengubah posisi tidurku menjadi terduduk bungkam. Diam. Rasanya aku masih terhanyut dalam pikiran gila itu.
Pikiran yang membuatku merasa takut. Pikiran yang menggambarkan sesuatu yang buruk. Pikiran yang membawaku ke sebuah pertaruhan; meninggalkan atau ditinggalkan.
Tidak ada pilihan yang baik. Ya, tidak ada pilihan yang tak berujung perpisahan. Aku pernah berbicara dengan seorang anak berusia 7, dan ia bertanya kepada orangtuanya tentang makna prioritas. Aku membantu untuk menjawabnya. Sesuatu yang kau kedepankan; kau utamakan. Kemudian anak itu mengangguk, tanda ia mengerti.
Kemudian ia bertanya lagi tentang makna suatu kata yang baru saja ia baca dalam sebuah majalah.
"Apa arti dari perpisahan?"
Aku melirik sejenak kepada orangtuanya. Mulutnya terbuka sedikit, hendak menjawabnya, namun tak jadi. Hanya menggantung di udara. Kemudian ia memintaku untuk menjawab. Aku juga terdiam.
Aku, tak tahu. Bukan, aku sudah pernah mengalami sebuah "perpisahan". Tapi... Aku tidak bisa menjelaskannya, karena bagiku, kata itu sudah lengkap. Sudah jelas, huruf per hurufnya. Tak perlu lagi ada penjelasan, atau makna lainnya. Satu yang pasti, kau akan mengerti ketika sudah mengalaminya sendiri. Maknanya, hanya kau dan rasa yang bisa menterjemahkannya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Ini pahit. Aku menyesal telah mengenal makna "perpisahan" sebelumnya. Setidaknya, jika aku seperti sepupuku yang belum mengenal makna kata itu, aku tak perlu merasa takut. Tak perlu membuat kesimpulan akan kehilangan. Lagipula, apakah ada maksud lain dari perpisahan selain kehilangan?
No comments:
Post a Comment