Aku kangen. Aku hanya kangen saat
tengah malam ada yang mengetuk pintu dan membawa makanan. Aku kangen saat ia
bercerita tentang ‘kue dugdug’ sampai
hari ini aku tak pernah tahu wujud dari kue itu. Aku kangen saat ia mengajakku
jalan-jalan dan menggendongku tepat di pundaknya. Aku kangen saat ia
membelikanku mainan yang ujungnya selalu kurusak dan ia tak pernah marah. Aku kangen
saat ia mendandaniku seperti boneka dengan titik merah dijidatku, seperti orang
india. Aku kangen saat ia membelikanku baju yang sama dengan kakakku dan
membuat kami terlihat seperti anak kembar.
Aku teringat saat masa sulit
keluargaku ia sempat terpuruk. Ia menjauh, seperti kehilangan cahayanya. Tertidur,
seolah berlari dari kerasnya dunia. Marah, menutupi kelemahannya. Diam, berpikir
tentang beban yang sedang dipikulnya. Saat itu, semuanya terasa kelabu. Jauh,
sulit untuk menggapai angan.
Namun ia perlahan berubah. Dengan susah,
ia mencoba seperti biasa. Dengan payah, ia mencoba membuat tanggungannya
bahagia. Dengan rupiah yang segitu adanya, ia tetap mengajakku jalan-jalan. Memberikan
sebaik yang ia bisa,semampu yang ia dapat.
Tapi aku, yang egois itu, aku yang
bodoh itu, aku yang keras kepala itu, tetap tak mau mengerti. Perubahan itu
tetap saja aku rasakan. Ini bukan seperti masa kecilku yang serba ada. Ini bukan
duniaku yang serba mudah. Ini dunia yang baru, masa kelam dalam hidupku.
Ia sempat naik pitam. Namun ia
bukan orang bodoh sepertiku. Perlahan, ia mencoba memberiku pengertian. Ia yang
memaksaku untuk bersabar. Ia yang membentuk diriku untuk menjadi kuat. Ia yang
mendidik diriku untuk menjadi mandiri. Ia yang merubah aku menjadi orang yang mempunyai
tekad yang tinggi untuk sukses. Ia yang mengubah cara pandang aku untuk melihat
dunia ini.
Hingga akhirnya kita harus
terpisah, aku tak pernah menyangka waktu kita sesingkat ini. Namanya,
kecerdasannya, ilmunya, jasanya, wibawanya dan perjuangannya selalu didamba
oleh orang yang sempat mengenal ia. Dia, ayahku, itu orang hebat, yang punya seribu
sakit dan menahannya dalam satu jiwa. Yang punya satu raga dan mampu memikul
dunia di pundaknya.
Memori kita, bukan aku yang minta.
Tapi aku yang masih disini, bagaimana bisa lupa?
Walaupun aku tak tahu kau ada di
langit bagian mana, di lapisan bumi yang ke berapa, di dimensi yang mana, tapi
adakah kita sama merindu? Adakah kita sama ingin bertemu?
Jika ada kesempatan bagiku bertemu
lagi denganmu, aku ingin memelukmu erat, untuk menunjukkan betapa aku
merindukanmu. Akan kuletakkan mulutku dekat dengan telingamu, untuk berkata aku
sangat menyayangimu.
Sungguh, aku kangen. Kangen dengan
cara bodoh. Kangen yang tak tahu diri. Kangen yang meminta jumpa, yang sudah
tahu bahwa itu tak bisa.
No comments:
Post a Comment