Jerawat gue semakin menjadi. Itu bikin gue keki setengah mati.
“Lagi banyak pikiran, ya?” pertanyaan seperti itu tiba-tiba bermunculan. Gue hanya bisa mengangkat bahu sebelum akhirnya gue menyadari bahwa memang iya, terlalu banyak pikiran yang menyesaki otak gue hingga mata gue terasa berat.
Tatapan gue sering kosong belakangan ini. Malah, yang nyebelin adalah ketika teman-teman gue mendadak menyanyikan lagu Geisha yang liriknya, “Lumpuhkanlah ingatanku….” Apalah, gue tidak tahu judulnya. Mereka gak akan berhenti bernyanyi sebelum akhirnya gue sadar bahwa gue telah melamun, lagi. Atau yang lebih gila adalah ketika teman sekelas gue tiba-tiba melambai-lambaikan tangan depan muka gue, atau melakukan atraksi lainnya seperti menari atau mengagetkan gue.
Gue juga gak tahu kenapa gue bisa sebegininya. 2016 belum genap sebulan, tapi masalah baru bermunculan terlalu cepat. Seperti perkembangbiakkan amoeba yang tidak dapat terkontrol. Semuanya. Gue gak bisa menceritakan satu per satu karena bisa-bisa kalau gue tulis semuanya, maka rangkaiannya bisa menjadi novel trilogi. Hm, gue nampaknya harus memutar otak untuk memberi tiga judul novel yang hikmahnya masih amat-sangat absurd ini.
Tapi yang jelas adalah, semua terjadi bersamaan. Tanpa jeda. Menyerang gue bertubi-tubi hingga rasanya gue penat sendiri. Gue butuh tameng, sungguh. Atau setidaknya, gue perlu tempat beristirahat. Berteduh, mengambil sedikit napas untuk bisa melanjutkan semuanya.
Malah terkadang, gue jadi ingin pindah negara saja. Tapi, kalau gue pindah negara, nanti gue ketemu manusia baru lagi. New people, new fights, new problems, new stories, tanpa belum tentu menutup hubungan gue dengan old people, old fights yang mungkin masih to be continued, old problems yang juga mungkin masih butuh penjelasan, dan old stories yang mungkin belum menemukan ending-nya.
Kalau begitu, gue pindah planet saja. Serius, gak-papa. Kalau memang itu better and worth it, why not? Asalkan nanti di planet baru gue, gue tetap bisa shalat dan beribadah, makan yang banyak, minum yang enak, tidur nyenyak, dan merasa all fine all good. Terus minimal, gue bisa balik ke bumi seminggu sekali, pake pesawat ruang angkasa rongsokan yang ada di Jakku juga gak-papa. Selanjutnya gue bersekolah di sana. Mungkin di sana juga KKM-nya lebih rendah daripada sekolah gue. Atau setidaknya, gravitasi di sana bisa jadi lebih kecil, bahkan gak ada. Lumayan, nanti pelajaran fisika jadi lebih mudah karena jika gravitasi benar-benar nol, maka sesulit apapun soalnya, jika dikalikan dengan gravitasi yang bernilai nol maka hasilnya akan nol juga. Kemudian di sana nanti gue bisa melihat bintang dengan jelas jika planet yang gue tinggali tidak berkabut. Uh, senangnya. Dan kalau planet itu punya banyak satelit, maka gue akan melihat lebih dari satu satelit dalam waktu bersamaan. Tidak seperti bulan yang hanya satu dan tak selalu hadir.
Sekarang gue malah garuk-garuk kepala. Sepertinya gue sudah mulai error. Karena faktanya, gue akan tetap mencintai bulan. Gue selalu suka bintang. Gue selalu kagum pada langit. Maka ini pertanda bahwa gue harus tetap di sini karena gue harus bertanggungjawab atas apa yang gue sayangi beserta segala resikonya. Ya, sudahlah. Gue menetap di bumi. Lemme' fight.
Friday, 8 January 2016
Stay.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment