Semoga esok akan baik-baik saja. Aku berdoa malam ini dan akan menyusup lewat mimpi yang mungkin saja kau akan lupa setelah bangun. Tapi jika nanti kau masih ingat, maka dengarkan aku baik-baik.
Sejatinya, aku ini terlalu mudah pecah. Sebenarnya aku ini wanita, yang tak bisa berkata banyak. Bukan pula manusia yang pandai menampakkan apa yang ia rasa. Bukan. Aku bodoh total untuk hal seperti itu. Tapi yang aku yakini ialah, kau bisa melihatnya. Kau pastilah bisa merasakannya. Dengarkan, aku bukan pintu yang terbuka lebar, tapi bukan pula pintu yang tertutup rapat. Mengerti? Jika tidak, maka akan kujelaskan lebih rinci.
Klisenya, aku bukan, bukan yang mudah dilalui banyak orang. Tapi bukan pula yang sukar untuk menerima. Tapi pintu itu terbuka, sedikit. Hanya orang yang berusaha untuk membuka pintu itu lebih lebar yang akan berhasil masuk. Tapi ingat, selama pintu itu belum terkunci maka orang lain juga berhak untuk masuk, bukan?
Aku hanya ingin tahu, sejauh apa kau akan berusaha untuk mengunci pintu itu, agar tiada yang lain yang dapat masuk. Walau nyatanya, ruang yang ada hanya dapat dimasuki oleh seorang saja. Tapi, siapa pula yang tahu jikalau ternyata kau tidaklah sanggup bertahan pada ruang itu, kemudian memilih pergi. Aku, tidak ingin menguncinya sendiri. Takut-takut suatu hari kau benar-benar muak, kemudian memilih mendobrak pintunya, melukai ruang itu. Percayalah, aku terlalu takut untuk menjadi kacau hanya karena aku merasa telah dipilih padahal tidak. Merasa telah benar menemukan yang baik untuk menjaga padahal ia sama sekali tak berniat demikian. Aku takut, besar rasa sendiri. Aku takut, terbawa perasaan dan tebak-tebakan sendiri. Dan lebih takut lagi, jika kau sudah tahu bahwa nyatanya aku telah merasa diperlakukan dengan baik, maka kau akan merasa aman dan tak lagi berusaha untuk mengunci ruang itu, seenaknya tinggal tanpa memberi kepastian bahwa kau memang benar takkan pergi.
Aku tidak, tidak akan menetapkan apapun. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal hanya karena kau sudah berhasil masuk pada ruang itu. Walau nyatanya, aku pun takut jika kau tiba-tiba pergi. Tapi aku tak ingin egois. Jika memang kau tidak berusaha mengunci ruang itu, maka artinya kau selalu punya hak untuk meninggalkan. Itu akan selalu menjadi hakmu, dan kewajiban bagiku untuk melepaskan. Maka aku mohon, temukanlah kunci itu dan kuncilah sendiri olehmu. Agar aku percaya, kau memanglah benar berniat untuk tinggal dan menjaga ruang itu. Percayalah, aku di sini, hanya ruang yang lengang, jika tak ada yang menempati.
roman-roman nya aku tahu
ReplyDeleteKalau tahu jangan cepu ya
Deletesiap 86
ReplyDelete