Sebuah meja kayu dengan teh panas di atasnya. Ragaku
terjebak pada sebuah kafe kecil dekat perpustakaan kota. Sedangkan pikirku
dibawa kabur oleh ritme hujan deras. Mataku terpaku pada jendela kaca yang
menyuguhkan bulir-bulir hujan. Sesaat kemudian, aku kembali utuh bersama
pikirku di dalam kafe yang tiba-tiba memutarkan lagu akustik yang membuat
suasana bertambah hangat. Lampu-lampu gantung mulai dinyalakan, aku memasuki
waktu dimana hari akan segera digantikan dengan malam—senja.
Semua orang tampak menyukai lagu akustik itu. Beberapa dari
mereka menikmati ketukannya terlihat menggerak-gerakan kakinya sesuai dengan
ketukan lagu itu atau hanya mengangguk-angguk pelan. Sedangkan yang lainnya tampak
hafal dengan lirik yang ada pada lagu itu sehingga menggerakkan bibirnya kecil.
Aku tersenyum melihat semua itu.
Lagu memang mampu melengkapi hingga memperkuat sebuah
perasaan. Kau pastilah pernah menemukan lagu yang seolah-olah memang diciptakan
untuk kau. Seolah perasaan senang yang kau punya tiba-tiba dituangkan dalam
sebuah lagu dan kau makin merasa bahwa perasaan senang kau itu memang nyata. Atau
ketika kau sedih dan menemukan lagu yang menggambarkan kesedihan kau, maka
mutlaklah kesedihan kau makin terasa.
Aku menyesap secangkir tehku. Kemudian memandangi kursi di
seberang. Kursi yang berhadapan denganku. Kursi yang lain pada mejaku. Lengang.
Aku merasa heran sendiri. Ada ribuan lagu yang telah aku dengar. Tapi kursi
itu tetap kosong. Tidak ada lagu yang aku rasa dapat mengisi kursi itu, yang
mampu menghadirkan bayang dari orang yang aku harapkan dapat duduk di sana. Belum
kutemukan lagu yang benar-benar dapat mewakili dirinya.
Sesaat hujan menderas. Aku menoleh ke luar, pasukan air jatuh begitu saja. Aku memisahkan diri dan keluar dari lagu akustik di kafe
itu. Ini bukan pertama kalinya aku menghadapi hari hujan. Aku juga punya
milyaran cerita bersama hujan. Namun, entah apa yang membuat aku merasa begini,
pada detik hujan saat ini, otakku hanya mengingat cerita hujan yang
melibatkan dirinya.
Hujan, saat aku tiba-tiba bertemu dengan dirinya. Hujan,
ketika dirinya mengajakku bercerita pada sebuah sore. Hujan, ketika dirinya
mengantarku pulang dan membelah jalanan kota. Hujan, yang membuat aku dan
dirinya memberikan kabar satu sama lain. Hujan, dan dirinya.
Bibirku tertarik ke atas mengulum senyum kecil. Lagu akustik
yang memenuhi kafe itu telah habis, digantikan oleh lagu lainnya. Pengunjung yang
ada dalam kafe itu segera menyesuaikan dirinya dengan lagu yang baru.
Aku kembali memalingkan wajah ke jendela dan menyadari
sesuatu. Mungkin aku tidak perlu payah-payah mencari lagu yang menggambarkan
dirinya. Tak usah jauh-jauh mencari nada dan lirik yang sesuai dengan dirinya. Karena
hari ini aku telah menemukan lagu hujan, yang tidak bernada pun tak berlirik namun
mampu sepenuhnya mengingatkan aku tentang dirinya.
No comments:
Post a Comment