00.48 dan kantuk belum juga menyerang gue. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya gue benar-benar tak bisa tidur. Otak gue terus berpikir dalam temaram dengan kantung mata yang menghitam. Sementara di luar sana, jangkrik menjadi suara malam yang tertangkap indera pendengar. Tubuh gue sudah melemah, sungguh. Tapi daya pikir gue masih memaksa gue untuk bekerja. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
Sekarang, beberapa perkara dalam hidup gue seolah menemukan titik terangnya secara perlahan. Semuanya kembali berubah, berkembang. Tapi tetap meyisakan tanya bagi gue. Matahari yang akan muncul dan berpulang itu, tiap kalinya melahirkan perkembangan baru. Gue gak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena gue rasa ini masih terlalu mengira-ngira. Namun gue rasa, semuanya akan segera berganti tema.
Gue rasa semuanya akan segera berakhir.
Gue rasa gue telah mengerti kenapa semuanya dibuat serumit ini. Sekiranya memang bisa gue umpamakan, maka jawabannya adalah ketika sore itu. Ketika tawa itu berguguran. Dan gue gak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana, karena gue gak bisa menjelaskannya lebih baik lagi. Kalimat gue masih saja miskin sampai rasa yang ada gak bisa terjamak oleh kata. Dimana kita hanya bertemu dalam perjalanan. Dimana gue hendak pergi dan kamu hendak pulang. Hanya itu. Tidak tertulis sebagai manusia yang harus memberi penjelasan, berbagi kata.
Hanya saja gue dan kamu mungkin sama-sama tak pernah terpikir bahwa kita pernah melintas pada jalan yang sama. Pada pikiran yang sama. Dan—mungkin—pada rasa yang sama. Kita terlalu banyak mengabaikan. Atau hanya menebak-nebak, menganalisa.
Ini kesalahan siapa? Gue pun gak tahu. Gak bisa menyalahkan siapa pun. Hingga akhirnya segalanya perlahan bertambah rumit. Gue mendengar kabar ini, itu. Kemudian membuat kesimpulan sendiri. Kemudian membenci sendiri. Kemudian semuanya bertambah kabur, blur. Kemudian gue berbelok, dengan kompas yang ternyata salah.
Dan kita bertemu lagi. Tapi gue udah terlanjur tersesat. Gue sudah terlanjur melewati hutan berduri dan terkena cakaran hewan buas hingga hampir mati. Mungkin kamu gak tahu itu, gue pun tak tahu apa yang menjadi perjalanan kamu selama gue tersesat itu. Tapi percayalah, segala atmosfer dan cahaya mentari yang kita terima bahkan berbeda. Gue bahkan telah bisu, untuk kamu. Karena diperjalanan itu, gue katakan lagi, gue sudah termakan berita buruk itu. Hingga akhirnya gue sendiri bingung, sebetulnya gue ini masihkah yang dulu atau sudah bukan?
Tapi menyadari bahwa kita bahkan melewati perjalanan yang berbeda, maka ada baiknya gue bersiap-siap untuk berkemas dan pulang ke rumah. Bersiap-siap belajar untuk mengosongkan hati, sebelum terkena duri yang baru lagi. Pintarlah sedikit, wahai anak muda. Bahkan pada pertemuan pertama kita dalam perjalanan, kamu hendak pulang ke rumah. Untuk kemudian memulai perjalanan baru, yang bukan untuk gue, seperti apa yang diberitakan. Ini mungkin kesimpulan yang salah, tapi setidaknya hanya petunjuk ini yang gue punya. Gue harus mengakhiri perjalanan ini, pulang dan bersiap untuk segala kemungkinan yang baru.
Saturday, 23 January 2016
It's (Almost) Over.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment