Friday, 4 October 2019

Setelah Membaca Buku


Sudah lama sekali tidak membaca dan tidak menulis. Tapi malam ini aku tamat membaca buku kumpulan puisi, judulnya Selfie(sh). Dan malam ini juga aku membuka aplikasi di laptopku untuk mempertemukan jari-jariku bersama huruf-huruf pada keyboard. Ada suatu ilham yang membisik kepadaku untuk menuang sepatah-dua patah kata.
Hari ini hari Jumat. Tiba-tiba ada kelas Ekonomi Kesehatan Lingkungan. Aku bangun kesiangan, tapi tidak terlambat masuk kelas. Teman-temanku banyak yang tidak masuk. Adapun beberapa yang masuk, tapi tidak begitu memperhatikan. Begitu juga aku, saat kelas tadi aku tidak membawa laptopku jadi agak malas mencatat. Aku menyimak sesekali. Yang aku ingat ada beberapa model perhitungan ekonomi yang tadi diajarkan; CMA, CEA, CUA, dan CBA. Lalu, ibu dosen juga menjelaskan sedikit tentang GDP.
Setelah selesai kelas, aku langsung pergi ke kantin karena kelaparan. Aku memesan makanan dan membayarnya menggunakan Gopay agar mendapat cashback. Menunya cukup enak, yaitu katsu dan beef. Aku menghabiskan makanan itu sampai habis tak bersisa walau sebutir nasi—asli, kelaparan banget.
Kemudian aku pergi ke Rumah Singgah. Saat aku sampai, adik-adik asuh sedang belajar dengan riang. Ajaibnya, tidak ada keributan yang berarti di sekolah non-formal itu hari ini. Tiar, anak laki-laki usia empat tahun langsung menghampiri aku begitu melihat kedatanganku. Ia minta digendong tapi tidak aku indahkan karena dia harus belajar. Selain itu, Sirah juga iseng sekali padaku sampai-sampai menutup mataku dengan kedua tangannya. Tapi aku senang, senang sekali. Entah apa yang membuat kegiatan belajar mengajar hari ini membuat stressku berkurang.
Setelah dari Rumah Singgah, aku pulang ke kosan pakai kereta dan melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda. Begitu sampai kosan, aku langsung menyalakan laptop, memutar lagu, dan membuat mie instan pakai telor dan kuah susu. Keluargaku tidak ada yang doyan mie kuah susu kecuali aku. Selain itu aku juga membuat tehh hangat pakai susu. Ya, dua menu pakai susu. Saat asik makan, tiba-tiba laptopku minta diupdate. Jadilah lagunya berhenti diputar. Kemudian kamarku hening. Aku memandangi langit-langit kamar. Aku ingat punya buku puisi yang belum dibaca. Kemudian aku baca. Aku jadi sadar, kini otakku tak lagi pandai memahami puisi. Ah, mungkin aku harus membaca buku jenis lain esok hari.

Wednesday, 12 September 2018

A Letter to Mustika

A letter to Mustika
From: your beloved self, yourself.
Halo, Mustika. Lama rasanya tak berbincang dengan segelas teh yang biasanya selalu tertuang dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Maka malam ini, berterima kasihlah kepada diriku yang telah membuatkannya untukmu. Oh, ya, maaf terlalu banyak bicara hingga lupa untuk menanyakan kabar. Bagaimana kabarmu? Kulihat kantung matamu menghitam akibat sukar tidur. Juga bibirmu tak menyunggingkan senyum sebanyak biasanya. Ada apa, wahai nona? Adakah yang bisa kubantu?
Oh, perihal masalah itu. Ya, aku paham. Masalah hati dan perasaan memang memusingkan. Aku juga telah sering meminta untuk dirimu jangan terlalu merisaukan masalah itu. Biarlah, biar segalanya menguap di udara. Percayakan sang waktu akan membantu kau untuk tidak banyak merasa sesak seperti hari-hari kemarin. Percayakan waktu akan segera mempertemukan manusia-manusia unik, yang mengisi hari-hari dan membuat dirimu merasa jauh lebih baik, lebih dihargai. Hei, kau layak untuk mendapatkan hal itu: being loved and appreciated.
Kemudian kudengar, kau juga merasa lelah dengan tuntutan pekerjaan organisasimu belakangan ini, ya? Maaf jika aku terlalu sok tahu. Tapi aku sangat merasakannya, Nona. Saban hari dan tengah malam kau banyak menghabiskan waktu untuk berpikir dan bekerja untuk itu. Aku tahu, sadar atau tidak, diucapkan atau tidak, diakui nuranimu atau tidak, kau sangat perlu untuk beristirahat. Kau butuh pergi ke toko buku sendirian, atau sekadar mencari kedai kopi baru yang belum pernah kau kunjungi. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan, ya, kurasa aku tak perlu menyebutkannya, memang menguras banyak sekali tekanan mental dan kesabaran. Dan, ya, Tuhan percaya kau akan sabar menerimanya. Tuhan Maha Tahu, Maha Mengerti. Menangislah jika kau butuh, tersedulah jika kau ingin. Ada Dia yang Maha Mendengarkan.
Pun, ya, aku paham. Rasa sendiri dan tak punya tempat mengadu memang perasaan terburuk yang dimiliki oleh manusia. Aku juga paham, ingin rasanya ada sosok manusia yang benar-benar bisa mengerti, benar-benar bisa mendengar dengan hati tanpa harus merasa takut untuk dicaci. Juga aku paham rasa takutmu berbuat salah, juga aku tahu kekhawatiranmu tentang pandangan orang lain terhadap dirimu, juga aku tahu kau yang selalu merasa kurang. Aku tahu. Aku tahu.
Tapi, hei, bisakah kau sejenak menyayangi dirimu sendiri? Lelah yang hadir mungkin sejatinya datang dari dirimu sendiri, Nona. Coba hirup udara lebih dalam, hingga mengingat aroma teh yang selalu kau seduh bahkan juga mencintaimu. Bahkan diriku bisa menjadi tempat mengadu paling mengerti, paling memahami. Paham bahwa manusia pertama yang seharusnya memaafkan sebuah ketidaksempurnaan adalah dirimu sendiri.



Thursday, 28 June 2018

Surat untuk Bumi

Halo, Bumi.
Kali ini aku menyapamu ramah, tak pakai ego. Sama sekali.
Kali ini aku telah reda, tak lagi hujan badai seperti hari-hari sebelumnya. Aku yakin kau paham apa yang kumaksud. Ini memang belum memasuki musim kemarau. Aku juga tak bilang tak ada hujan sama sekali. Ya, namanya juga kehidupan. Rintik dari gerimis bahkan hujan sedang juga kadang masih menjadi tamu di bawah kelopak mataku.
Ya... mungkin efek cuaca. Suasana di sekitarku masih dipenuhi potongan kenangan dari dirinya. Ada foto kami berdua yang masih menggantung di pojok sana serta kado ulang tahun dari dirinya beberapa tahun ke belakang. Belum lagi petualanganku dengan dirinya dapat dikatakan lumayan banyak, sehingga tak ada sudut kota yang tidak ada kenangan bersama dirinya.
Aku tidak ingin menjadi pembohong, ya. Jujur saja, kadang aku masih suka iseng bertanya, sedang apa dirinya? Apakah dia sehat? Apakah segalanya baik-baik saja? Tapi tentu, pertanyaan itu selalu kugantungkan di antara ribuan pertanyaan lainnya yang tak perlu kutagih jawabannya.
Tapi kemudian aku suka meneguk segelas air putih agar tenggorokanku tak mengering akibat terlalu meradang. Agar otakku juga tak terlalu kering, berpikir hal-hal yang melelahkan tentang dirinya. Mengingat-ingat hal-hal yang membahagiakan hingga memuakkan kadang membutuhkan banyak energi.
Begitulah. Aku hanya bisa berpikir dan menuangkannya di surat ini padamu, Bumi. Dia tak lagi menghubungiku. Tak juga menunjukkan gelagat untuk peduli kepadaku. Tapi, kan, kau lebih tahu. Jadi, mungkin kalau kau mau berbaik hati, barangkali kau tak keberatan untuk memberikan sedikit kabar tentang dirinya.

Tapi, kalau tidak bisa... ya, tak apa. Aku tetap berdoa agar dirinya tetap baik-baik saja. Kami berdua akan baik-baik saja. Melanjutkan kisah, kisah yang baik dan buruk di hari-hari berikutnya, petualangan-petualangan tak terduga lainnya, langkah-langkah kelana bersama manusia ciptaan Tuhan lainnya yang telah digariskan oleh-Nya. 

Saturday, 14 April 2018

tentang aku dan kau; di balik jendela.

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.....
Sebuah lagu memenuhi ruang telingaku. Hatiku tertohok sedikit, seolah tokoh yang dibicarakan dalam lagu itu adalah aku. Berbicara tentang matahari yang berganti setiap harinya dari langit sebuah kota. Aku tak tahu apakah ini benar atau salah, namun perlukah kita berdebat atas nama sandiwara yang tak lagi sama?
Burung di balik jendela bersautan, berbahasa dengan temannya. Kemudian yang satu pergi ke ruang bebas. Apakah mereka usai bertengkar? Atau selesai mengucap selamat tinggal? Atau sekadar berjanji pergi sebentar dan meneguhkan hati bahwa ia akan kembali lagi.
Kurasa itu memang bukan urusanku. Namun mengapa dua ekor burung memiliki hati yang lebih lapang untuk meninggalkan dan ditinggalkan? Pesan apa yang mampu membuat mereka begitu mudah untuk melepaskan? Aku hanya tak punya alasan maupun jawaban untuk pertanyaan atas aku dan kau yang tak bisa tabah ditampar kenyataan bahwa sandiwara yang kita punya tak lagi sama.
Atau hanya aku? Jungkir-balik memikirkan mengapa kau bisa sebegitu kejamnya berkata bahwa bahasa kita tak lagi sama dan tak mencari jalan keluar—ketika aku tahu memang tak ada jalan keluar. Kemudian, apa yang ada dipikiranmu saat ini, wahai tuan? Aku tak suka dan tak sudi harus dihantui rasa yang tidak pasti. Kotak memori yang aku punya tentang aku dan kau mungkin akan menjadi masalah baru nantinya, namun sebelum menuju langkah itu, aku hanya ingin kau segera membuat warna pada langit kelabu di antara kita. Mau biru haru atau merah merekah, aku tak mempermasalahkannya lagi.
Aku ingin kau dan aku baik-baik saja—terlepas jika memang keadaan itu menghancurkan aku kemudian.


Saturday, 9 September 2017

Di Antara Daun Gugur.

Adalah matahari,
Yang memancar sinarnya kepada kaca bis yang kutumpangi. Daun-daun jatuh di luar sana. Para penyapu jalan tampak sibuk dengan sapunya, menggiring daun ke samping jalan. Sedangkan aku di sini, terduduk diam pada hari sabtu di sebuah bis tua. Aku tak lagi ingin bicara dengan orang lain. Memangnya aku duduk dengan siapa?
Senyum pahitku mengembang. Lagu di telepon genggamku terus mengalun. Ada seorang penyanyi dengan gitarnya memenuhi ruang di telingaku.
Aku sendirian.
Aku tak paham mengapa bisa rindu menjadikan aku sebagai konsumen lagu-lagu sendu seperti ini. Pikirku jadi terbawa jauh.  Aku memejam mata sesaat. Ada kau di ujung mataku, tapi hanya sedetik.
Aku membuka mata dan masih duduk di bis tua. Sinar matahari masih menyusup di antara daun-daun yang gugur. Aku juga bisu dengan segala perasaan dengan nama rindu berkecamuk dalam dada. Aku ingin pulang.
Atau bergantian, kau yang datang kemari.

Namun aku tahu bahwa sannya kita manusia dan tak memiliki sayap. Kita manusia yang terkurung dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Lalu dengan alasan itu, kau maupun aku menjelma menjadi sekadar suara di ujung telepon pada sisa waktu sebelum tidur.

Saturday, 1 July 2017

Jarak.

Mata ini enggan terpejam lagi. Padahal, ia baru mau beristirahat tiga jam yang lalu. Namun rasanya memang mataku terlalu berat untuk kembali tertutup. Pun matahari yang semakin meninggi membangunkan hasratku untuk membuka jendela kamar.
Sinar matahari menerangi kamarku. Debu-debu tampak berterbangan. Aku semakin sadar mataku menyipit. Sesak itu kembali menyerang.
Malam tadi, suaranya yang parau itu lebih terdengar seperti belati yang menyayat perasaan. Tanpa perintah, takutku yang menggunung sejak beberapa pekan yang lalu tumpah semua. Dadaku terhimpit penuh oleh rasa yang senada dengan apa yang menggontaikannya.
Ia memanggil namaku pelan.
"Apa?" Sahutku dengan usaha penuh agar suaraku terdengar biasa saja.
"Maafkan aku," katanya, lagi, dengan suara parau. Sebuah maaf yang tak perlu kutanya lagi konotasinya.
Aku bisu. Tak kusadari ternyata pipiku telah basah juga.
Aku mendengar ia menelan ludahnya. Aku paham, rasanya pasti pahit. Sangat pahit. Aku terlalu mengenalnya. Meski lewat ujung telepon, aku tetap bisa lihat wajahnya saat ini yang getir tak terjabarkan.
Aku berusaha tertawa. Tapi hasilnya, tawa itu malah bercampur dengan isak yang tak bisa lagi kusembunyikan. Tangisku semakin menjadi-jadi.
Hening. Kami  berdua sama-sama sibuk membenahi air mata.
"Iya, gak papa, kok," akhirnya aku yang angkat bicara. "Asalkan kamu baik-baik saja, aku gak papa," dan semua orang tahu ini terlalu klise. Tapi aku rasa, jika kau yang ada di posisiku, kau juga akan mengucapkan kalimat yang sama.
Seketika tanganku mengeratkan pelukannya kepada bantal yang terlanjur kubasahi. Tenggorokanku tercekat.
Semesta memang terlampau ajaib. Sungguh, baru aku tahu bahwa perasaan bisa semengacaukan ini. Atau aku juga pernah kacau, tapi kukira kali ini aku tak akan lagi berjumpa dengan perasaan macam ini. Dia, terlalu baik, terlalu menyayangi untuk mengacaukanku. Hingga sempat aku bertanya, memangnya hal apa yang dapat memisahkan aku dengannya? Ternyata ini; jarak.
Pun aku tanyakan   seperti apa sakitnya? Ternyata seperti ini; sakit sekali.

Monday, 19 June 2017

Pulang.

Tak kutarik lagi selimutku. Sebab kini aku paham, dingin ini bukan perihal angin malam yang menyusup ke kamarku, namun rindu yang menggunung hingga tumpah ruah menjadi laut pada pipiku. Suara serangga bersahutan pada pukul 02.21 pagi ini. Aku urung menyalakan lagu. Aku rasa aku butuh keheningan untuk menulis kerinduan atas kepulangannya yang hampir dua tahun berlalu.
Rindu ini memang tak pernah habis, tak pula padam. Bak air hujan yang punya siklusnya sendiri—jatuh, menguap, menjadi jenuh, lalu jatuh lagi. Atau bak api yang membakar rumah yang terus menyalak, tak peduli berapa yang habis akibat egonya itu.
Namun aku tak bilang bahwa rindu ini buruk. Karena kenyataannya, rindu ini memaksaku untuk mengalah. Ia tunjukkan betapa untuk mengusirnya ialah sebuah kemustahilan. Jadi tak ada daya bagiku untuk menghilangkannya. Ia hidup kekal, sekekal-kekalnya dalam darahku.
Juga betapa rindu kala ia berkonspirasi bersama waktu, menegarkanku. Menguatkan sayap-sayap yang patah. Membisik bahwa rindu tak meminta untuk diratapi, tapi hanya untuk dimengerti—yang telah pulang itu tak ingin pulang untuk melukai. Rindu bilang, memori yang berputar itu hanya ingin menyadarkanku bahwa yang telah pulang itu benar mencintaiku, tulus menyayangiku. Maka tugasku ialah untuk menjadikan ke-pernah-adaan-nya untuk membangun aku yang kuat menghadapi matahari besok.
Dan betapa kerinduan ini membuat aku tahu, bahwa kepulangannya tak pernah sia-sia. Betapa kepulangannya telah membuka mataku lebar-lebar, membuat aku paham bahwa sayang yang sesungguhnya ialah yang saling menyebut dalam doa. Ialah yang mau bertindak lebih. Ialah yang selalu merindu. Ialah yang berharap terbaik untuknya dan selalu mengikhlaskannya.
Sungguh, kepulanganmu telah menghadirkan rindu yang luar biasa—bukan sekadar rindu yang menuntut pertemuan. Namun rindu yang mengajarkan aku sebuah ketabahan.
Aku yakin, masih ada seribu pelajaran yang Allah siapkan untukku atas kepulanganmu dan aku siap untuk itu.

Untuk itu, Pa, terima kasih sudah pulang kepada-Nya.

Saturday, 3 June 2017

Mengulik Perasaan.

Malam ini aku yang mengulik perasaan. Karena kemarin kau yang bilang ada jalan yang panjang di balik rasa yang kita punya. Ada medan yang berat untuk menjalaninya. Ada jurang yang curam yang bisa membunuh kita. Ada hutan yang gelap yang bisa menyesatkan. Ada tanjakan terjal yang mampu membuat kita terjatuh.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.

Wednesday, 10 May 2017

-



Dapur rumahku dingin. Mama juga sudah jarang memintaku untuk membeli gas ke warung seberang. Tugasku jadi berkurang satu—membeli sayuran ke warung Bu Onih. Meja makan tak pernah lagi menjadi tempat bertemu keluarga atau sekadar menyahut satu sama lain untuk makan bersama.
Juga ruang TV-ku. TV tak pernah menjadi alasan lagi untuk kedua adikku berseteru, berebut channel di TV. Atau menjadi alasan kami menggelar karpet agar kami dapat menonton TV bersama-sama. Kemudian bapa yang menentukkan channel apa yang akan kami tonton—tidak ada yang berani menentangnya. Lagipula, pada akhirnya kami selalu menikmati acara apapun yang kami tonton bersama.
Kamarku jadi makin jarang dibersihkan. Tidak ada lagi yang menegur aku untuk merapikan kamar dengan suara yang menggelegar. Tidak ada lagi yang bilang, “mana ada cerita disney yang putrinya pemalas?”. Atau beliau sendiri yang membereskan rumah sehingga semuanya ikut berbenah juga.
Atau berebut bantal ternyaman sedunia dengan kakakku. Siapa yang memeluk bantalnya terlebih dahulu, berarti dia pemilik bantal pada malam itu. Tapi kalau tetap ingin bantalnya, maka aku harus berjuang untuk merebut bantalnya.
Segalanya. Mama yang selalu sabar. Bapa yang suka marah namun terkadang lucu. Teteh yang juga suka marah namun sangat perhatian. Adik laki-lakiku bandel karena selalu pergi ke rental PS dan suka bikin mama pusing juga adik perempuanku yang sangat dimanja oleh bapa.
Semuanya hilang. Sirna. Bapa dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mama semakin keras bekerja demi  keluarga. Kakakku juga semakin fokus pada karier dan pendidikannya. Adik laki-lakiku yang memilih pesantren sebagai tempatnya menimba ilmu serta adik perempuanku yang kini sudah SMP dan sibuk dengan kehidupan remajanya.
Dan aku juga akan segera sibuk. Menjadi seorang mahasiswa tentu akan membuat jadwalku semakin padat. Mengurusi berkas pendaftaran saja sudah membuatku pening, hahaha.
Tapi detik ini, bukan itu yang mengganggu pikiranku. Aku hanya rindu. Rindu akan sore yang kuisi dengan mengiris bawang dalam rangka membantu mama masak untuk makan malam. Rindu pula dengan berebut remote TV agar dapat memilih sesukaku acara mana yang ingin kutonton. Rindu juga dengan berbenah kamar dengan perasaan gondok karena habis dimarahi bapa. Rindu berebut bantal dengan kakakku.
Rindu juga disuruh mama belajar masak. Rindu juga menjadi tempat adik laki-lakiku mengadu ketika dimusuhi kakakku dan adik perempuanku. Rindu juga diajak ke pasar bersama bapa dan membeli ikan. Atau bersama-sama pergi ke mall, lalu kadang dimarahi bapa karena aku, kakakku dan adikku suka membuat keributan di tengah-tengah keramaian. Rindu juga diledek bapa karena aku kadang memasang wajah jutek.
Tapi waktu begitu kejam. Di sini aku ditinggal begitu saja bersama memori yang terus berputar. Sedangkan semuanya tak bisa kuulang lagi dalam dunia nyata.
Kalau sekarang aku sedang di tepi pantai, maka aku ingin menangis sejadi-jadinya. Biar jelas, air mataku bersatu dengan air laut. Kan, bapa juga sudah menjadi bagian dari tanah di bumi. Siapa tahu air mataku bertemu dengan tanah yang dulunya adalah sosok bapa. Biar dia tahu di sini aku terus-terusan kangen sampai tak bisa lagi kutahan air mataku.
Tapi sayangnya kini aku sedang di kamar. Mama di ruang tengah. Kakakku juga belum pulang kerja. Adikku yang laki-laki mungkin sedang belajar membaca kitab di pesantren. Sedangkan adik perempuanku sedang asik bermain gadget.
Dan aku sendirian di kamar. Menulis tentang rindu.

Saturday, 6 May 2017

Takut.



Stasiun kereta. Halte bis. Sinar matahari terik yang membakar tubuhku. Semua itu melekat pada memoriku. Bisa kau rasakan, tidak? Satu lamunan di dalam kereta yang tengah melaju—mencipta jarak. Aku tak ingin membahas, namun rasa yang merambat pada dinding intuisiku membuatku takut.
Ceritakan, tentang apa saja yang bergerak menjadi jauh? Apa yang dapat diciptakannya? Waktu yang merayap. Aku tak ingin cepat-cepat. Biarkan ia melambat sejenak dalam khayalku.
Lalu keretaku bising. Roda-roda yang tak pernah kupahami itu hanya mencipta jarak. Lalu jauh. Lalu menelan detik-detik yang aku punya.
Kemudian terpikirlah aku perihal dirinya yang sedang di rumah. Lalu terciptalah rindu.
Sekarang aku paham apa yang lagu rindu resahkan. Nyatanya, jarak dan waktu dengan mudah mengusiknya. Dan rindu, memang tak pernah paham apa yang penderitanya hadapi—jarak dan waktu tak selalu mudah untuk dijamak. Tapi ia seperti memaksa, meronta untuk segera diobati.
Yang aku takut ialah bagaimana jika rindu itu jadi gila? Bak racun yang membuat otakku malah berpikir yang bukan-bukan. Manusiawi saja, bukan?
Ah, dasar jarak. Bisa kuenyahkan saja, tidak?
Tidak. Ia terlalu nyata untuk dihilangkan.
Namun waktu juga tak memberi izin kepada siapapun untuk berhenti.
Sungguh, yang tersisa kini hanya takut. Aku takut aku rindu.
Aku takut kau rindu.
Dan aku atau kau tak menjadi pelipur rindu bagi rindu kita.

Friday, 21 April 2017

Lagu Cinta.

Mungkin laut sedang pasang, bulan sedang naik. Jadilah emosiku tertarik hingga ubun-ubun. Jadilah kacauku tertumpah ruah hingga hatimu. Jadilah rindu yang biasa kusimpan dalam lemari, terlempar keluar.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi  enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.

Thursday, 13 April 2017

5K Viewers!!

It's been a long time!!!!!! Setelah sekian lama gak aktif menulis, kukira blog ini akan mati dan sepi. Tapi ternyata dugaanku salah, karena hey! Ini 5K viewers!! Rasanya seketika rindu akan menulis spontan menyerang. Aku rasa, terima kasih saja gak cukup. Mungkin ada baiknya aku ceritakan ke mana saja aku selama ini, hehehe.
Belakangan ini aku memang sibuk sekali. Maklum, anak kelas 3 SMA. Ujian ini, itu. Tugas ini, itu. Sampai akhirnya, hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Semuanya terasa cepat, seperti yang orang-orang bilang. Apalagi, pengisi hari-hari akhirku di SMA memang sangat... Hmmm... Spesial. Tapi kita tidak membahas itu kali ini, kan?
Juga, banyak pelajaran baru yang aku dapatkan di masa akhir SMA. Mungkin semua orang juga mengalaminya, tapi aku sangat merasa bersyukur untuk itu semua. Mungkin pada kesempatan selanjutnya akan kutulis dalam tulisan yang lebih menarik.
Pada akhir masa SMA juga, aku tiba-tiba jatuh cinta pada musik indie. Entah ini penting atau tidak, tapi sedikit maupun banyak, lagu-lagu itu membantuku membayangkan suasana tulisanku. Jadi, yang ingin kusampaikan terima kasih ialah pengisi masa SMA, pelajaran yang kudapatkan selama SMA, musik indie, dan tentunya pembaca blog-ku! Salam hangat dan selamat membaca:)

Thursday, 9 February 2017

Gadis.

Wajahnya merah padam. Mulutnya ia kunci rapat-rapat. Lalu matanya enggan berpaling.
Kusut sudah hati ia.
Semakin lama, semakin kuat rahangnya. Menghilangkan jutaan kata yang harusnya bisa ia ungkapkan. Tapi apalah, ia hanya gadis berumur 17. Hanya perempuan yang punya hati berbentuk kubus. Yang bisa penuh oleh perasaan apapun.
Maka apa yang ditangkap oleh indra perasanya, apa yang dilihat matanya, apa yang didengar oleh telinganya, bisa jadi merubah apapun keadaan hatinya. Bisa jadi cerah maupun gundah. Tak suka ia melihat apa-apa yang membuatnya dipenuhi perasaan cemburu, atau apapun yang sejenis dengan rasa itu. Sedangkan ia suka ketika merasa begitu diperhatikan, atau apapun yang setara dengan makna itu. Bukan, bukan artinya ia tak berpikir panjang. Tapi kau tahu bahwa ia hanya gadis berumur 17, yang sudah menjadi kodratnya untuk mudah saja terbawa perasaan pada saat-saat tertentu. Lagipula, bukankah semua manusia begitu?
Pahamilah, ia hanya seorang gadis berumur 17. Yang tidak menuntut apapun. Hanya saja, kau tahu bahwa sannya naluri semua gadis menyukai satu hal: dilambungkan hatinya. Bukan, bukan artinya ia haus pujian atau perhatian. Namun, bukankah bentuk meja tak selalu kotak? Lalu, mengapa pula tak membuat bentuk lain sebagai ungkapan sayang? Yang diucap, yang diungkap. Yang dibuat, yang direncanakan.
Ia menarik nafas dalam-dalam. Mendelik, sesaat memandangi apa yang mengusutkan hatinya.
Bukan, bukan ia ragu. Tapi ia hanya perlu.
Mungkin ia terlalu berharap diberi apa yang ia ingin. Tapi sesungguhnya ia juga paham bahwa kau hanya ingin memberi apa yang kau yakini.
Gundah sudah. Ia pun tak dapat menyalahkan siapa-siapa yang ada di muka bumi. Tak ada yang terucap, tak ada yang terungkap.
Tidak, ia tidak hendak menyalahkan kau. Pun semoga kau mengerti bahwa ia hanya gadis berumur 17, dengan hati berbentuk kubus.

Wednesday, 28 December 2016

Sebelum Desember Berakhir.

Detik-detik merapat, kau tahu. Tidak pernah aku menemukan waktu yang terasa lama saat kau ada. Maka jam-jam pun tahu kerjanya; membuat kita takut jika ia berlari cepat-cepat. Untuk itu, kita harus segera menentukan hendak pergi ke mana, sebelum langit sempat bekerja sama dengan jam untuk membuat kita bertambah khawatir.
Ada yang mengusap wajahku. Katanya, ia hanya ingin membuat kita jadi dingin. Ingin berada di antara kita. Ia ingin mengusik saja. Ia datang atas nama angin malam.
Aku pun menemukan kau di bawah langit gelap. Namun binar matamu tetap terang, dan aku selalu suka. Kau tidak pernah berkata rindu, tapi sebelum Desember berakhir, aku tahu kau begitu.
Aku tahu, sekalipun jika angin malam tadi menjelma menjadi jarak yang menjauhkan aku dengan kau, maka kau akan mencari cara untuk menjamak jarak dan membuat aku dekat.
Aku juga tahu, apabila detik yang ada tinggal sepuluh saja, maka kau akan memintaku menghabiskan detik itu denganmu saja.
Dan kau takkan berkata begitu, tapi aku tahu.
Dan kau akan bilang jika kau egois, tapi aku suka.
Kini, sebelum Desember berakhir, aku ingin bertanya,
mengapa kau tidak pernah berkata begitu?
Tapi tak apa, biar itu jadi tanya yang membangun bintang di langit, hidup untuk ribuan tahun, tanpa jumpa dengan jawab jika kau tidak ingin membuatnya jumpa.

Tuesday, 13 December 2016

Ialah Aku.

Ada yang setiap hari kuharapkan darinya,
yaitu semoga, sebenci apapun ia padaku hari ini, semarah apapun ia padaku hari ini, sejengkel apapun ia padaku hari ini, sesebal apapun ia padaku hari ini, semoga ia tetap sudi untuk merapikan rambutnya di depanku, kemudian meletakkan kacamatanya untuk sejenak mencari apa yang perlu ia cari pada kedua mataku, dan meletakkan telapak tangannya pada tanganku.
Pun ialah aku yang sebenci apapun kepadanya, semarah apapun kepadanya, sejengkel apapun aku kepadanya, sesebal apapun aku kepadanya, ialah yang paling berharap untuk menjadi manusia yang paling dicari olehnya, dimengerti olehnya, diajak bicara olehnya, dibantu olehnya untuk melepas segala yang membuat aku merasa kacau.
Ya, itu memang aku yang berharap.
Ialah aku yang setiap harinya berharap bahwa seburuk apapun hari yang kita lalui, kau tetap di sini, di dekatku.

Friday, 2 December 2016

Saturated.

Memangnya ada yang mampu merubah sejarah?
Aku menarik baju hangatku yang berwarna merah jambu. Ruangan itu seketika mendingin. Jemariku kutenggelamkan pada lengan baju hangatku yang terlalu besar. Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku. Ruangan ini sungguh membuatku bosan.
Atau pikiranku saja yang sedang kacau?
Aku menoleh ke jendela yang menyuguhkan bulir-bulir hujan pada kacanya. Langit menggelap, ini artinya sudah hampir 4 jam aku membumbungkan kecemasan dalam otakku. Mataku sungguh terpaku melihat percakapan itu. Entahlah, segalanya terekam begitu apik dalam memoriku. Gerak mulutnya. Matanya yang membesar. Mulutnya yang terbuka, menyunggingkan sisa-sisa tawa dari percakapannya. Sinar mata yang begitu antusias menanggapi satu sama lain.
Pipiku menghangat. Atau seluruh tubuhku? Aku tidak ingat. Yang aku tahu, aku bisa merasakan aliran darahku sendiri. Pun jantungku yang ikut menderu cepat.
Tidak, tidak ada yang salah dengan isi percakapannya. Karena kenyataannya dunia saat itu terasa melambat, hingga aku tak mendengar apa-apa. Tapi yang ajaib ialah, ketika percakapan itu mampu membuatku merasa ditarik pada masa yang aku tak pernah suka.
Masa di mana aku hanya menjadi bagian dari yang terlewat. Atau seumpama kau membaca buku, maka masa itu ialah ketika kau belum menemukan namaku sebagai kata pada halaman di bukumu. Dan di kala itu, gadis itulah yang memegang tahtaku.
Oh, baiklah, mungkin aku berlebihan. Tapi aku pun tidak bisa dustai. Memangnya ada yang mampu merubah sejarah?
Begini, bagaimana jika dirimu pun sama, mengingat halaman yang sudah kau baca, dan lebih mengingat lagi bahwa nama gadis itu pernah menjadi nama yang kau libatkan dalam masalah perasaan? Lalu, apa yang kau rasakan setelah itu? Kemudian, segala pikiranku membiru.
Ini memenuhi ruang pada dadaku. Kemudian, pikiran itu bak awan jenuh yang siap menjadi hujan.
Semoga kau lekas tahu, hujanku jadi memilu beku.

Tuesday, 15 November 2016

Devin, Tell Me About Losing.

Dia tertawa sedikit. "Nanti juga, kamu hanya akan jadi bahan nostalgianya saja." Kemudian ia berdeham, memperbaiki dirinya sendiri.
Aku memandangi langit kosong. Pukul 2 siang, pada parkiran mobil di lantai teratas pada sebuah gedung di Jakarta. Terlalu cerah. Mataku menyipit. Sementara daguku bertopang pada kedua tanganku yang aku letakan di atas tembok.
Devin belum juga menoleh kepadaku sejak aku ceritakan semuanya. Semuanya, yang berlarian pada otakku belakangan ini. Seolah dia juga sibuk bersama isi otaknya. Kupandangi alisnya yang bertaut juga dahinya yang kerap kali berkerut. Aku tahu dirinya sedang merutuki sesuatu.
Terkaanku mengatakan dia sedang merutuki aku. Ya, sepertinya dia juga jadi kesal melihat segala kebodohanku. Yang seperti kaset rusak, memutarkan cerita yang itu-itu saja.
Menyadari aku yang ikut diam, ia baru menoleh kepadaku.
"Begini, Laras. Semua hal punya kapasitas idealnya masing-masing. Maka logikanya, selalu butuh melepaskan untuk bisa menerima. Jika kamu ingin mempertahankan yang lama namun ingin juga menerima yang baru, artinya kamu serakah."
Kini giliran alisku yang merapat. Aku tak paham makna 'serakah' yang ia lontarkan.
Devin merapikan beberapa helai rambutku yang tertiup angin.
"Ingat pelajaran tentang seleksi alam?" Tanyanya sambil menatap kedua bola mataku.
Aku mengangguk pelan. Kadang, tatapan Devin yang seserius itu membuat aku malah jadi takut. Jadi tegang dan tak keruan sendiri.
"Kita semua belajar seleksi alam, Laras. Dan perpisahan adalah bukti empirisnya. Kehilangan adalah makna dari teori itu." Ucapnya tersekat sedikit. Seolah ia pun tak tahu dari mana kata-kata itu berasal.
"Tapi, mengapa mereka seolah benar-benar hilang, hingga dasar bumi? Maksudku, lagipula sebagian dari temanku tetap ada untukku dan mampu bertahan ketika kami menghadapi permasalahan yang sama. Mengapa yang pergi itu, harus benar-benar pergi? Mengapa yang hilang itu harus benar-benar hilang?"
Devin berpikir sejenak. Tidak lama, hanya dua hingga tiga detik. "Ya itulah fungsinya seleksi alam, Laras. Kita jadi tahu mana yang mampu bertahan dan tidak. Lagipula, hasil dari seleksi alam pasti hasil yang terbaik. Begini saja, bagaimana jika dinosaurus berhasil lolos dari seleksi alam? Pasti manusia tidak akan sebanyak sekarang. Paling hanya satu persen yang mampu bertahan untuk sampai ke abad ini."
Aku mendengus pelan. Analogi Devin tentang seleksi alam sama sekali tak dapat aku sanggah. Ia sepenuhnya benar. Tapi menurutku, teori dinosaurus itu... Entahlah. Itu bukan perbandingan yang setara. Aku sedikit jengkel mendengarnya.
"Sekarang, mengapa kamu tidak memikirkan orang-orang yang tetap ada untukmu? Yang tetap ada walaupun telah menghadapi seleksi alam? Bukankah itu lebih bermakna? Menghargai yang tetap ada dibandingkan meratapi yang telah hilang?" Celoteh Devin sembari, lagi-lagi, menatapku tepat pada bola mataku.
Aku tertunduk. "Entahlah."
Tidak, aku berdusta. Karena faktanya aku sangat tahu.
Yang sangat membuatku tak bisa melepaskan mereka yang tidak lolos dalam analogi "seleksi alam" versi Devin ialah, mereka adalah orang yang aku harapkan bisa bertahan. Mereka adalah orang yang aku pikir akan selalu ada. Sehingga jauh sekali, aku telah menyiapkan tempat khusus untuk mereka. Tapi tempat itu kosong, begitu saja. Bahkan, bagiku, analogi "seleksi alam" pun tak pantas menjadi jawabannya. Padahal tak ada alasan lain selain itu.
Pun aku memang selalu begitu, terjebak pada khayal yang kubangun sendiri. Tersesat karena tindakanku sendiri. Membuat tembok baru pada satu ruang. Dan tembok itu menjamur, berkembang biak hingga menyulitkan ruang gerak.
"Sudah, jangan terus berkutat pada batin yang kusut seperti itu." Pria itu menghela nafas. "Asal kau tahu saja, aku pun tak bisa pastikan apa yang akan terjadi pada esok hari. Aku pun tak tahu apakah aku akan menjadi orang yang lolos seleksi alam dan terus ada untukmu. Percayalah, ketakutan terbesarku adalah ketika aku membuat kesalahan karena terlalu banyak menjelaskan."
Kini giliran aku yang memandanginya. Ia memandangi langit kosong. Sebegitunya, kah?
Maksudku, sebegitu tidak pastinya hari esok itu?
Jika memang benar, maka aku harus bersiap.

Thursday, 27 October 2016

Detik yang Telah Lalu.



Pada setiap detik yang telah lalu,
aku ingin menuliskan bahwa,
aku ingin berlari padamu.
Pada setiap detik yang telah lalu, yang kini menyesakkan dada, mengacaukan segala pertahanan yang aku bangun tanpa pernah kuhitung berapa detik yang kuhabiskan untuk menciptakannya, aku ingin merengkuhmu. Jauh. Dalam sekali, hingga aku tak peduli betapa penuhnya aku akan detik yang telah lalu.
Untuk kemudian membisik pada setiap detik yang telah lalu, hapuskan air matamu. Lupakan rasa bencimu. Lepaskan segala sayang yang membunuhmu. Hapuskan segala rindu yang membuat kau runtuh. Rengkuh aku, tak perlu memeluk takut yang melemahkan kau. Janganlah kau cemaskan yang akan hilang itu. Genggam orang-orang yang menyayangimu, dan lakukan yang terbaik untuknya.
 Karena jika kau tahu, detik yang telah lalu itu tak pernah terputus. Sedetik pun, tidak. Segalanya terpilin menjadi untaian memori yang tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya. Akan terus menjadi seperti itu. Pada detik yang kau gunakan untuk menangis, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menangis. Pada detik yang kau gunakan untuk menyayangi, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menyayangi. Pun pada setiap detik yang kau gunakan untuk membenci, menyakiti, menyesal, bersedih. Tak akan berubah meski satu detik.
Ingin aku lakukan perjalanan bagi setiap detik yang telah lalu, tak peduli seberapa jauh detik itu. Ingin aku menghapuskan apa yang membuat kelopak mataku tak mau terpejam malam ini. Ingin aku menenggelamkannya dalam peluk erat agar luka itu hilang. Agar rindu itu tak perlu lagi berputar ribuan kali dalam sanubari.  Agar dadaku tak lagi terasa penuh. Supaya segalanya terasa baik-baik saja, tak perlu lagi sayu pada pilu yang berjatuhan kala aku memutar film tentang detik yang telah lalu.
Tapi tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya.
Nafasku terbuang. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri, seolah tengah merengkuh detik yang telah lalu.
Atau aku hanya perlu melepaskannya.
Aku terduduk pada detik ini. Memandangi kaca yang terpaku pada dinding kamarku. Menarik nafas pada detik selanjutnya. Memandangi bola mata yang kugunakan sebagai kaleidoskop ketika merekam detik yang telah lalu. Menterjemahkan segala memori yang ada. Dan mataku, masih mata yang sama.
Aku sedang melewatkan detik yang sedang berlangsung. Dan sedetik lagi akan menjadi detik yang telah lalu.
Sedetik berlalu. Detik yang kugunakan untuk berpikir, memikirkan detik yang telah lalu. Ribuan detik yang telah lalu, yang tidak pernah hilang. Detik yang kugunakan dengan perasaan gundah. Dan bertambah terus, detik yang kugunakan dengan perasaan kacau bertambah banyak.
Kurasa cukup. Mungkin aku memang harus melepaskannya. Pada detik yang telah lalu itu, aku hanya perlu memaafkannya. Mungkin segalanya takkan termaafkan dalam waktu sedetik saja. Namun setidaknya, pada detik selanjutnya setelah detik ini, segalanya akan tertulis sebagai detik yang kugunakan untuk memaafkan apa yang telah tertulis pada detik yang telah lalu.
Dan pada detik yang akan datang, aku tak tahu. Benar-benar tak tahu. Kuharap segalanya baik-baik saja.

Friday, 30 September 2016

Ruang Nestapa.

Lalu, adakah aku harus bertanya tentang kapan kau akan benar-benar menghilang?
Atau, adakah aku harus bertanya bahwa sannya kau memang benar takkan pergi?
Aku menghela nafas, jauh sekali. Ingin aku mengecilkan pupilku, tapi tak mampu. Cahayanya terlalu redup. Pupilku membesar.
Bahkan hati pun punya caranya sendiri. Kau itu redup yang hatiku maksud. Membuatnya terus membesarkan pertanyaan yang hanya dapat menyesakkan ruangnya sendiri. Bertanya, apakah kau sama dengan yang lain? Datang,  kemudian membangun sebuah perasaan di dalam, namun kemudian menghilang?
Aku mengusap wajahku. Segala pertanyaanku itu membuatku teringat sesuatu. Sebuah daya pikir yang membuat aku tahu bahwa kau pun berpikir tentang aku yang bisa hilang. Tentang kau yang bisa hilang. Tentang kita yang bisa hilang.
Kau tahu, tidak? Bahwa segala daya pikirmu membuat aku tahu bahwa sesungguhnya kita hanya sedang membangun kenangan. Delusimu membuat aku mengerti bahwa aku akan hanya menjadi bagian dari sejarahmu saja. Menebalkan hati untuk kemudian pada waktu yang tidak ditentukan mendadak hilang. Membuat aku berinisiatif untuk mengukir segalanya pada dinding dalam tempat yang kusebut sebagai ruang nestapa.
Kau tahu apa itu nestapa? Ialah kesedihan. Ialah yang aku terjemahkan sebagai hati yang kelabu.
Lalu, mengapa segala hal yang indah itu kutaruh dalam ruang nestapa? Karena aku semakin tahu bahwa segalanya akan berujung pada kehilangan. Bukankah semakin indah suatu hal akan semakin terasa menyakitkan ketika hilang?
Ruang nestapa itu, berisi detik-detik, beserta momen-momen yang melibatkan kau. Yang suatu hari mungkin membuatku menangis. Atau merindu, kemudian memutar lagu tentang rindu. Atau tersenyum, mengingat hal indah itu.  Hal indah yang telah terjadi pada detik yang takkan terulang, hanya membeku pada ruang nestapa.
Ruang nestapa itu, hanya akan menjadi bagian dari diri kau yang tersisa nantinya. Entah akan jadi apa. Mungkin akan menjadi bagian dari sejarahku saja. Atau memanggilmu kembali. Atau menghilangkan kau jauh-jauh.
Tapi, kau harus tahu bahwa pada suatu hari nanti, ruang nestapa yang penuh dengan ukiran itu akan menjebakku. Akan menyesakkan segala pertahanan dalam dada. Akan mengepungku dari berbagai sisi. Karena ruang nestapa itu mutlak berisi segala hal tentang kau, yang saat ini jadi pelangiku.

Tidak, aku tidak hendak memaksamu untuk memberiku kepastian bahwa kau takkan menghilang. Aku sudah sangat paham bahwa tak pernah ada kepastian dalam hidup. Ini hanya takutku saja. Ini hanya khawatirku saja. Pun bila nanti benar kita akan hilang nantinya, ruang nestapa itu tetap milik kau. Ruang nestapa itu akan tetap menjadi  bagian dari masa yang telah dilewati. Dan ruang nestapa itu akan tetap ada, sekalipun kau menghilang atau tidak.