Stasiun kereta. Halte bis. Sinar matahari terik yang
membakar tubuhku. Semua itu melekat pada memoriku. Bisa kau rasakan, tidak? Satu
lamunan di dalam kereta yang tengah melaju—mencipta jarak. Aku tak ingin
membahas, namun rasa yang merambat pada dinding intuisiku membuatku takut.
Ceritakan, tentang apa saja yang bergerak menjadi jauh? Apa yang
dapat diciptakannya? Waktu yang merayap. Aku tak ingin cepat-cepat. Biarkan ia
melambat sejenak dalam khayalku.
Lalu keretaku bising. Roda-roda yang tak pernah kupahami itu
hanya mencipta jarak. Lalu jauh. Lalu menelan detik-detik yang aku punya.
Kemudian terpikirlah aku perihal dirinya yang sedang di
rumah. Lalu terciptalah rindu.
Sekarang aku paham apa yang lagu rindu resahkan. Nyatanya,
jarak dan waktu dengan mudah mengusiknya. Dan rindu, memang tak pernah paham
apa yang penderitanya hadapi—jarak dan waktu tak selalu mudah untuk dijamak. Tapi
ia seperti memaksa, meronta untuk segera diobati.
Yang aku takut ialah bagaimana jika rindu itu jadi gila? Bak
racun yang membuat otakku malah berpikir yang bukan-bukan. Manusiawi saja,
bukan?
Ah, dasar jarak. Bisa kuenyahkan saja, tidak?
Tidak. Ia terlalu nyata untuk dihilangkan.
Namun waktu juga tak memberi izin kepada siapapun untuk
berhenti.
Sungguh, yang tersisa kini hanya takut. Aku takut aku rindu.
Aku takut kau rindu.
Dan aku atau kau tak menjadi pelipur rindu bagi rindu kita.
No comments:
Post a Comment