Dapur rumahku dingin. Mama juga
sudah jarang memintaku untuk membeli gas ke warung seberang. Tugasku jadi
berkurang satu—membeli sayuran ke warung Bu Onih. Meja makan tak pernah lagi
menjadi tempat bertemu keluarga atau sekadar menyahut satu sama lain untuk makan
bersama.
Juga ruang TV-ku. TV tak pernah
menjadi alasan lagi untuk kedua adikku berseteru, berebut channel di TV. Atau menjadi alasan kami menggelar karpet agar kami
dapat menonton TV bersama-sama. Kemudian bapa yang menentukkan channel apa yang akan kami tonton—tidak ada
yang berani menentangnya. Lagipula, pada akhirnya kami selalu menikmati acara
apapun yang kami tonton bersama.
Kamarku jadi makin jarang
dibersihkan. Tidak ada lagi yang menegur aku untuk merapikan kamar dengan suara
yang menggelegar. Tidak ada lagi yang bilang, “mana ada cerita disney yang putrinya pemalas?”. Atau beliau
sendiri yang membereskan rumah sehingga semuanya ikut berbenah juga.
Atau berebut bantal ternyaman
sedunia dengan kakakku. Siapa yang memeluk bantalnya terlebih dahulu, berarti
dia pemilik bantal pada malam itu. Tapi kalau tetap ingin bantalnya, maka aku
harus berjuang untuk merebut bantalnya.
Segalanya. Mama yang selalu sabar.
Bapa yang suka marah namun terkadang lucu. Teteh yang juga suka marah namun sangat
perhatian. Adik laki-lakiku bandel karena selalu pergi ke rental PS dan suka
bikin mama pusing juga adik perempuanku yang sangat dimanja oleh bapa.
Semuanya hilang. Sirna. Bapa dipanggil
oleh yang Maha Kuasa. Mama semakin keras bekerja demi keluarga. Kakakku juga semakin fokus pada
karier dan pendidikannya. Adik laki-lakiku yang memilih pesantren sebagai
tempatnya menimba ilmu serta adik perempuanku yang kini sudah SMP dan sibuk
dengan kehidupan remajanya.
Dan aku juga akan segera sibuk. Menjadi
seorang mahasiswa tentu akan membuat jadwalku semakin padat. Mengurusi berkas pendaftaran
saja sudah membuatku pening, hahaha.
Tapi detik ini, bukan itu yang
mengganggu pikiranku. Aku hanya rindu. Rindu akan sore yang kuisi dengan
mengiris bawang dalam rangka membantu mama masak untuk makan malam. Rindu pula dengan
berebut remote TV agar dapat memilih
sesukaku acara mana yang ingin kutonton. Rindu juga dengan berbenah kamar
dengan perasaan gondok karena habis dimarahi bapa. Rindu berebut bantal dengan
kakakku.
Rindu juga disuruh mama belajar
masak. Rindu juga menjadi tempat adik laki-lakiku mengadu ketika dimusuhi
kakakku dan adik perempuanku. Rindu juga diajak ke pasar bersama bapa dan
membeli ikan. Atau bersama-sama pergi ke mall,
lalu kadang dimarahi bapa karena aku, kakakku dan adikku suka membuat keributan
di tengah-tengah keramaian. Rindu juga diledek bapa karena aku kadang memasang
wajah jutek.
Tapi waktu begitu kejam. Di sini
aku ditinggal begitu saja bersama memori yang terus berputar. Sedangkan semuanya
tak bisa kuulang lagi dalam dunia nyata.
Kalau sekarang aku sedang di tepi
pantai, maka aku ingin menangis sejadi-jadinya. Biar jelas, air mataku bersatu
dengan air laut. Kan, bapa juga sudah menjadi bagian dari tanah di bumi. Siapa tahu
air mataku bertemu dengan tanah yang dulunya adalah sosok bapa. Biar dia tahu
di sini aku terus-terusan kangen sampai tak bisa lagi kutahan air mataku.
Tapi sayangnya kini aku sedang di
kamar. Mama di ruang tengah. Kakakku juga belum pulang kerja. Adikku yang
laki-laki mungkin sedang belajar membaca kitab di pesantren. Sedangkan adik
perempuanku sedang asik bermain gadget.
Dan aku sendirian di kamar. Menulis
tentang rindu.
No comments:
Post a Comment