Mungkin laut sedang pasang, bulan sedang naik. Jadilah emosiku tertarik hingga ubun-ubun. Jadilah kacauku tertumpah ruah hingga hatimu. Jadilah rindu yang biasa kusimpan dalam lemari, terlempar keluar.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.
No comments:
Post a Comment