Saturday, 14 April 2018

tentang aku dan kau; di balik jendela.

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.....
Sebuah lagu memenuhi ruang telingaku. Hatiku tertohok sedikit, seolah tokoh yang dibicarakan dalam lagu itu adalah aku. Berbicara tentang matahari yang berganti setiap harinya dari langit sebuah kota. Aku tak tahu apakah ini benar atau salah, namun perlukah kita berdebat atas nama sandiwara yang tak lagi sama?
Burung di balik jendela bersautan, berbahasa dengan temannya. Kemudian yang satu pergi ke ruang bebas. Apakah mereka usai bertengkar? Atau selesai mengucap selamat tinggal? Atau sekadar berjanji pergi sebentar dan meneguhkan hati bahwa ia akan kembali lagi.
Kurasa itu memang bukan urusanku. Namun mengapa dua ekor burung memiliki hati yang lebih lapang untuk meninggalkan dan ditinggalkan? Pesan apa yang mampu membuat mereka begitu mudah untuk melepaskan? Aku hanya tak punya alasan maupun jawaban untuk pertanyaan atas aku dan kau yang tak bisa tabah ditampar kenyataan bahwa sandiwara yang kita punya tak lagi sama.
Atau hanya aku? Jungkir-balik memikirkan mengapa kau bisa sebegitu kejamnya berkata bahwa bahasa kita tak lagi sama dan tak mencari jalan keluar—ketika aku tahu memang tak ada jalan keluar. Kemudian, apa yang ada dipikiranmu saat ini, wahai tuan? Aku tak suka dan tak sudi harus dihantui rasa yang tidak pasti. Kotak memori yang aku punya tentang aku dan kau mungkin akan menjadi masalah baru nantinya, namun sebelum menuju langkah itu, aku hanya ingin kau segera membuat warna pada langit kelabu di antara kita. Mau biru haru atau merah merekah, aku tak mempermasalahkannya lagi.
Aku ingin kau dan aku baik-baik saja—terlepas jika memang keadaan itu menghancurkan aku kemudian.


No comments:

Post a Comment