Yang, yang patah tumbuh, yang
hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat
henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang
berganti.....
Sebuah
lagu memenuhi ruang telingaku. Hatiku tertohok sedikit, seolah tokoh yang
dibicarakan dalam lagu itu adalah aku. Berbicara tentang matahari yang berganti
setiap harinya dari langit sebuah kota. Aku tak tahu apakah ini benar atau
salah, namun perlukah kita berdebat atas nama sandiwara yang tak lagi sama?
Burung
di balik jendela bersautan, berbahasa dengan temannya. Kemudian yang satu pergi ke
ruang bebas. Apakah mereka usai bertengkar? Atau selesai mengucap selamat
tinggal? Atau sekadar berjanji pergi sebentar dan meneguhkan hati bahwa ia akan
kembali lagi.
Kurasa
itu memang bukan urusanku. Namun mengapa dua ekor burung memiliki hati yang
lebih lapang untuk meninggalkan dan ditinggalkan? Pesan apa yang mampu membuat
mereka begitu mudah untuk melepaskan? Aku hanya tak punya alasan maupun jawaban
untuk pertanyaan atas aku dan kau yang tak bisa tabah ditampar kenyataan bahwa
sandiwara yang kita punya tak lagi sama.
Atau
hanya aku? Jungkir-balik memikirkan mengapa kau bisa sebegitu kejamnya berkata
bahwa bahasa kita tak lagi sama dan tak mencari jalan keluar—ketika aku tahu
memang tak ada jalan keluar. Kemudian, apa yang ada dipikiranmu saat ini, wahai
tuan? Aku tak suka dan tak sudi harus dihantui rasa yang tidak pasti. Kotak memori
yang aku punya tentang aku dan kau mungkin akan menjadi masalah baru nantinya,
namun sebelum menuju langkah itu, aku hanya ingin kau segera membuat warna pada
langit kelabu di antara kita. Mau biru haru atau merah merekah, aku tak
mempermasalahkannya lagi.
Aku
ingin kau dan aku baik-baik saja—terlepas jika memang keadaan itu menghancurkan
aku kemudian.
No comments:
Post a Comment