A letter to Mustika
From: your beloved self, yourself.
Halo, Mustika. Lama rasanya tak berbincang dengan segelas
teh yang biasanya selalu tertuang dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Maka
malam ini, berterima kasihlah kepada diriku yang telah membuatkannya untukmu.
Oh, ya, maaf terlalu banyak bicara hingga lupa untuk menanyakan kabar. Bagaimana
kabarmu? Kulihat kantung matamu menghitam akibat sukar tidur. Juga bibirmu tak
menyunggingkan senyum sebanyak biasanya. Ada apa, wahai nona? Adakah yang bisa
kubantu?
Oh, perihal masalah itu. Ya, aku paham. Masalah hati dan
perasaan memang memusingkan. Aku juga telah sering meminta untuk dirimu jangan
terlalu merisaukan masalah itu. Biarlah, biar segalanya menguap di udara. Percayakan
sang waktu akan membantu kau untuk tidak banyak merasa sesak seperti hari-hari
kemarin. Percayakan waktu akan segera mempertemukan manusia-manusia unik, yang
mengisi hari-hari dan membuat dirimu merasa jauh lebih baik, lebih dihargai. Hei,
kau layak untuk mendapatkan hal itu: being
loved and appreciated.
Kemudian kudengar, kau juga merasa lelah dengan tuntutan
pekerjaan organisasimu belakangan ini, ya? Maaf jika aku terlalu sok tahu. Tapi
aku sangat merasakannya, Nona. Saban hari dan tengah malam kau banyak
menghabiskan waktu untuk berpikir dan bekerja untuk itu. Aku tahu, sadar atau
tidak, diucapkan atau tidak, diakui nuranimu atau tidak, kau sangat perlu untuk
beristirahat. Kau butuh pergi ke toko buku sendirian, atau sekadar mencari
kedai kopi baru yang belum pernah kau kunjungi. Belum lagi masalah yang
berkaitan dengan, ya, kurasa aku tak perlu menyebutkannya, memang menguras
banyak sekali tekanan mental dan kesabaran. Dan, ya, Tuhan percaya kau akan
sabar menerimanya. Tuhan Maha Tahu, Maha Mengerti. Menangislah jika kau butuh,
tersedulah jika kau ingin. Ada Dia yang Maha Mendengarkan.
Pun, ya, aku paham. Rasa sendiri dan tak punya tempat
mengadu memang perasaan terburuk yang dimiliki oleh manusia. Aku juga paham,
ingin rasanya ada sosok manusia yang benar-benar bisa mengerti, benar-benar
bisa mendengar dengan hati tanpa harus merasa takut untuk dicaci. Juga aku
paham rasa takutmu berbuat salah, juga aku tahu kekhawatiranmu tentang
pandangan orang lain terhadap dirimu, juga aku tahu kau yang selalu merasa
kurang. Aku tahu. Aku tahu.
Tapi, hei, bisakah kau sejenak menyayangi dirimu sendiri? Lelah
yang hadir mungkin sejatinya datang dari dirimu sendiri, Nona. Coba hirup udara
lebih dalam, hingga mengingat aroma teh yang selalu kau seduh bahkan juga
mencintaimu. Bahkan diriku bisa menjadi tempat mengadu paling mengerti, paling
memahami. Paham bahwa manusia pertama yang seharusnya memaafkan sebuah
ketidaksempurnaan adalah dirimu sendiri.
No comments:
Post a Comment