Wednesday, 10 May 2017

-



Dapur rumahku dingin. Mama juga sudah jarang memintaku untuk membeli gas ke warung seberang. Tugasku jadi berkurang satu—membeli sayuran ke warung Bu Onih. Meja makan tak pernah lagi menjadi tempat bertemu keluarga atau sekadar menyahut satu sama lain untuk makan bersama.
Juga ruang TV-ku. TV tak pernah menjadi alasan lagi untuk kedua adikku berseteru, berebut channel di TV. Atau menjadi alasan kami menggelar karpet agar kami dapat menonton TV bersama-sama. Kemudian bapa yang menentukkan channel apa yang akan kami tonton—tidak ada yang berani menentangnya. Lagipula, pada akhirnya kami selalu menikmati acara apapun yang kami tonton bersama.
Kamarku jadi makin jarang dibersihkan. Tidak ada lagi yang menegur aku untuk merapikan kamar dengan suara yang menggelegar. Tidak ada lagi yang bilang, “mana ada cerita disney yang putrinya pemalas?”. Atau beliau sendiri yang membereskan rumah sehingga semuanya ikut berbenah juga.
Atau berebut bantal ternyaman sedunia dengan kakakku. Siapa yang memeluk bantalnya terlebih dahulu, berarti dia pemilik bantal pada malam itu. Tapi kalau tetap ingin bantalnya, maka aku harus berjuang untuk merebut bantalnya.
Segalanya. Mama yang selalu sabar. Bapa yang suka marah namun terkadang lucu. Teteh yang juga suka marah namun sangat perhatian. Adik laki-lakiku bandel karena selalu pergi ke rental PS dan suka bikin mama pusing juga adik perempuanku yang sangat dimanja oleh bapa.
Semuanya hilang. Sirna. Bapa dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mama semakin keras bekerja demi  keluarga. Kakakku juga semakin fokus pada karier dan pendidikannya. Adik laki-lakiku yang memilih pesantren sebagai tempatnya menimba ilmu serta adik perempuanku yang kini sudah SMP dan sibuk dengan kehidupan remajanya.
Dan aku juga akan segera sibuk. Menjadi seorang mahasiswa tentu akan membuat jadwalku semakin padat. Mengurusi berkas pendaftaran saja sudah membuatku pening, hahaha.
Tapi detik ini, bukan itu yang mengganggu pikiranku. Aku hanya rindu. Rindu akan sore yang kuisi dengan mengiris bawang dalam rangka membantu mama masak untuk makan malam. Rindu pula dengan berebut remote TV agar dapat memilih sesukaku acara mana yang ingin kutonton. Rindu juga dengan berbenah kamar dengan perasaan gondok karena habis dimarahi bapa. Rindu berebut bantal dengan kakakku.
Rindu juga disuruh mama belajar masak. Rindu juga menjadi tempat adik laki-lakiku mengadu ketika dimusuhi kakakku dan adik perempuanku. Rindu juga diajak ke pasar bersama bapa dan membeli ikan. Atau bersama-sama pergi ke mall, lalu kadang dimarahi bapa karena aku, kakakku dan adikku suka membuat keributan di tengah-tengah keramaian. Rindu juga diledek bapa karena aku kadang memasang wajah jutek.
Tapi waktu begitu kejam. Di sini aku ditinggal begitu saja bersama memori yang terus berputar. Sedangkan semuanya tak bisa kuulang lagi dalam dunia nyata.
Kalau sekarang aku sedang di tepi pantai, maka aku ingin menangis sejadi-jadinya. Biar jelas, air mataku bersatu dengan air laut. Kan, bapa juga sudah menjadi bagian dari tanah di bumi. Siapa tahu air mataku bertemu dengan tanah yang dulunya adalah sosok bapa. Biar dia tahu di sini aku terus-terusan kangen sampai tak bisa lagi kutahan air mataku.
Tapi sayangnya kini aku sedang di kamar. Mama di ruang tengah. Kakakku juga belum pulang kerja. Adikku yang laki-laki mungkin sedang belajar membaca kitab di pesantren. Sedangkan adik perempuanku sedang asik bermain gadget.
Dan aku sendirian di kamar. Menulis tentang rindu.

Saturday, 6 May 2017

Takut.



Stasiun kereta. Halte bis. Sinar matahari terik yang membakar tubuhku. Semua itu melekat pada memoriku. Bisa kau rasakan, tidak? Satu lamunan di dalam kereta yang tengah melaju—mencipta jarak. Aku tak ingin membahas, namun rasa yang merambat pada dinding intuisiku membuatku takut.
Ceritakan, tentang apa saja yang bergerak menjadi jauh? Apa yang dapat diciptakannya? Waktu yang merayap. Aku tak ingin cepat-cepat. Biarkan ia melambat sejenak dalam khayalku.
Lalu keretaku bising. Roda-roda yang tak pernah kupahami itu hanya mencipta jarak. Lalu jauh. Lalu menelan detik-detik yang aku punya.
Kemudian terpikirlah aku perihal dirinya yang sedang di rumah. Lalu terciptalah rindu.
Sekarang aku paham apa yang lagu rindu resahkan. Nyatanya, jarak dan waktu dengan mudah mengusiknya. Dan rindu, memang tak pernah paham apa yang penderitanya hadapi—jarak dan waktu tak selalu mudah untuk dijamak. Tapi ia seperti memaksa, meronta untuk segera diobati.
Yang aku takut ialah bagaimana jika rindu itu jadi gila? Bak racun yang membuat otakku malah berpikir yang bukan-bukan. Manusiawi saja, bukan?
Ah, dasar jarak. Bisa kuenyahkan saja, tidak?
Tidak. Ia terlalu nyata untuk dihilangkan.
Namun waktu juga tak memberi izin kepada siapapun untuk berhenti.
Sungguh, yang tersisa kini hanya takut. Aku takut aku rindu.
Aku takut kau rindu.
Dan aku atau kau tak menjadi pelipur rindu bagi rindu kita.

Friday, 21 April 2017

Lagu Cinta.

Mungkin laut sedang pasang, bulan sedang naik. Jadilah emosiku tertarik hingga ubun-ubun. Jadilah kacauku tertumpah ruah hingga hatimu. Jadilah rindu yang biasa kusimpan dalam lemari, terlempar keluar.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi  enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.

Thursday, 13 April 2017

5K Viewers!!

It's been a long time!!!!!! Setelah sekian lama gak aktif menulis, kukira blog ini akan mati dan sepi. Tapi ternyata dugaanku salah, karena hey! Ini 5K viewers!! Rasanya seketika rindu akan menulis spontan menyerang. Aku rasa, terima kasih saja gak cukup. Mungkin ada baiknya aku ceritakan ke mana saja aku selama ini, hehehe.
Belakangan ini aku memang sibuk sekali. Maklum, anak kelas 3 SMA. Ujian ini, itu. Tugas ini, itu. Sampai akhirnya, hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Semuanya terasa cepat, seperti yang orang-orang bilang. Apalagi, pengisi hari-hari akhirku di SMA memang sangat... Hmmm... Spesial. Tapi kita tidak membahas itu kali ini, kan?
Juga, banyak pelajaran baru yang aku dapatkan di masa akhir SMA. Mungkin semua orang juga mengalaminya, tapi aku sangat merasa bersyukur untuk itu semua. Mungkin pada kesempatan selanjutnya akan kutulis dalam tulisan yang lebih menarik.
Pada akhir masa SMA juga, aku tiba-tiba jatuh cinta pada musik indie. Entah ini penting atau tidak, tapi sedikit maupun banyak, lagu-lagu itu membantuku membayangkan suasana tulisanku. Jadi, yang ingin kusampaikan terima kasih ialah pengisi masa SMA, pelajaran yang kudapatkan selama SMA, musik indie, dan tentunya pembaca blog-ku! Salam hangat dan selamat membaca:)

Thursday, 9 February 2017

Gadis.

Wajahnya merah padam. Mulutnya ia kunci rapat-rapat. Lalu matanya enggan berpaling.
Kusut sudah hati ia.
Semakin lama, semakin kuat rahangnya. Menghilangkan jutaan kata yang harusnya bisa ia ungkapkan. Tapi apalah, ia hanya gadis berumur 17. Hanya perempuan yang punya hati berbentuk kubus. Yang bisa penuh oleh perasaan apapun.
Maka apa yang ditangkap oleh indra perasanya, apa yang dilihat matanya, apa yang didengar oleh telinganya, bisa jadi merubah apapun keadaan hatinya. Bisa jadi cerah maupun gundah. Tak suka ia melihat apa-apa yang membuatnya dipenuhi perasaan cemburu, atau apapun yang sejenis dengan rasa itu. Sedangkan ia suka ketika merasa begitu diperhatikan, atau apapun yang setara dengan makna itu. Bukan, bukan artinya ia tak berpikir panjang. Tapi kau tahu bahwa ia hanya gadis berumur 17, yang sudah menjadi kodratnya untuk mudah saja terbawa perasaan pada saat-saat tertentu. Lagipula, bukankah semua manusia begitu?
Pahamilah, ia hanya seorang gadis berumur 17. Yang tidak menuntut apapun. Hanya saja, kau tahu bahwa sannya naluri semua gadis menyukai satu hal: dilambungkan hatinya. Bukan, bukan artinya ia haus pujian atau perhatian. Namun, bukankah bentuk meja tak selalu kotak? Lalu, mengapa pula tak membuat bentuk lain sebagai ungkapan sayang? Yang diucap, yang diungkap. Yang dibuat, yang direncanakan.
Ia menarik nafas dalam-dalam. Mendelik, sesaat memandangi apa yang mengusutkan hatinya.
Bukan, bukan ia ragu. Tapi ia hanya perlu.
Mungkin ia terlalu berharap diberi apa yang ia ingin. Tapi sesungguhnya ia juga paham bahwa kau hanya ingin memberi apa yang kau yakini.
Gundah sudah. Ia pun tak dapat menyalahkan siapa-siapa yang ada di muka bumi. Tak ada yang terucap, tak ada yang terungkap.
Tidak, ia tidak hendak menyalahkan kau. Pun semoga kau mengerti bahwa ia hanya gadis berumur 17, dengan hati berbentuk kubus.

Wednesday, 28 December 2016

Sebelum Desember Berakhir.

Detik-detik merapat, kau tahu. Tidak pernah aku menemukan waktu yang terasa lama saat kau ada. Maka jam-jam pun tahu kerjanya; membuat kita takut jika ia berlari cepat-cepat. Untuk itu, kita harus segera menentukan hendak pergi ke mana, sebelum langit sempat bekerja sama dengan jam untuk membuat kita bertambah khawatir.
Ada yang mengusap wajahku. Katanya, ia hanya ingin membuat kita jadi dingin. Ingin berada di antara kita. Ia ingin mengusik saja. Ia datang atas nama angin malam.
Aku pun menemukan kau di bawah langit gelap. Namun binar matamu tetap terang, dan aku selalu suka. Kau tidak pernah berkata rindu, tapi sebelum Desember berakhir, aku tahu kau begitu.
Aku tahu, sekalipun jika angin malam tadi menjelma menjadi jarak yang menjauhkan aku dengan kau, maka kau akan mencari cara untuk menjamak jarak dan membuat aku dekat.
Aku juga tahu, apabila detik yang ada tinggal sepuluh saja, maka kau akan memintaku menghabiskan detik itu denganmu saja.
Dan kau takkan berkata begitu, tapi aku tahu.
Dan kau akan bilang jika kau egois, tapi aku suka.
Kini, sebelum Desember berakhir, aku ingin bertanya,
mengapa kau tidak pernah berkata begitu?
Tapi tak apa, biar itu jadi tanya yang membangun bintang di langit, hidup untuk ribuan tahun, tanpa jumpa dengan jawab jika kau tidak ingin membuatnya jumpa.

Tuesday, 13 December 2016

Ialah Aku.

Ada yang setiap hari kuharapkan darinya,
yaitu semoga, sebenci apapun ia padaku hari ini, semarah apapun ia padaku hari ini, sejengkel apapun ia padaku hari ini, sesebal apapun ia padaku hari ini, semoga ia tetap sudi untuk merapikan rambutnya di depanku, kemudian meletakkan kacamatanya untuk sejenak mencari apa yang perlu ia cari pada kedua mataku, dan meletakkan telapak tangannya pada tanganku.
Pun ialah aku yang sebenci apapun kepadanya, semarah apapun kepadanya, sejengkel apapun aku kepadanya, sesebal apapun aku kepadanya, ialah yang paling berharap untuk menjadi manusia yang paling dicari olehnya, dimengerti olehnya, diajak bicara olehnya, dibantu olehnya untuk melepas segala yang membuat aku merasa kacau.
Ya, itu memang aku yang berharap.
Ialah aku yang setiap harinya berharap bahwa seburuk apapun hari yang kita lalui, kau tetap di sini, di dekatku.