2000 Viewers!!! Hahaha, gue masih gak nyangka ternyata ada aja yang mau baca cerita konyol hidup gue. Gak ada kerjaan, ya? Nganggur, ya? Sama, gue juga yang nulis lebih gak ada kerjaan lagi, hehe. But, most of all, gue sebagai pelaku sejarah mau mengucapkan 2000 terima kasih untuk 2000 viewers ini! Terima kasih telah menjadi penyemangat terbesar gue dalam menulis dan telah menjadi motivasi gue dalam meluruskan sejarah hidup gue secara tertulis. Much love!♥.
Gue juga ingin berterimakasih untuk siapa-siapa saja yang telah menjadi tokoh dalam cerita ini. Tanpa kalian, gak akan ada cerita hidup gue yang macam nano-nano ini. Sekaligus gue ingin menghaturkan maaf apabila dalam cerita ini ada yang tersinggung atau sebagainya, gue sama sekali tidak bermaksud demikian karena tujuan gue hanya ingin meluruskan sejarah, sehingga yang gue tulis harus berdasarkan apa yang sesungguhnya gue lihat dan gue rasakan. Tetapi apabila ada yang ingin membetulkan dalam penulisan sejarah ini, maka silahkan bicarakan kepada saya.
Mungkin emang kurang berguna tulisan gue ini. Ya, gue sendiri gak tau gunanya apa nulis sejarah ini. Tapi anggap sajalah cerita gue ini sebagai dongeng, yang hikmahnya masih simpang siur. Yang ending-nya baru bisa terbaca ketika tinggal nama gue yang terkenang. Ketika gue memang sudah tidak bisa menulis lagi. Atau ketika gue benar-benar sibuk dan menyerah untuk menulis.
Setidaknya gue hanya ingin berbagi lebih luas. Karena gue tahu bahwa manusia punya batas, maka biarkan gue berlari tanpa batas. Anggap saja ini sesuatu yang gue bagikan, yang tak pernah berbatas, yang tak pernah memaksa, dan tidak pernah mengharapkan balasan apapun. Cukup menerimanya, maka kamu telah mendapat satu doa dan a bunch of thanks dari gue.
Semoga kalian, para pembaca, tidak pernah bosan untuk membaca tulisan gue. Teruslah menjadi lentera gue, penerang dalam gelap gue sehingga gue selalu tahu bahwa ada yang bisa gue jadikan sebagai tempat berteduh. Sekali lagi, terima kasih dan selamat membaca!
Monday, 21 December 2015
Lord, It's 2K!!!
Friday, 18 December 2015
Connected.
Lalu sekarang, doa gue hanya untuk diluruskan. Maksud gue, cukuplah bermain dengan pikiran, yang ternyata tak selalu sesuai dengan kenyataan. Sudahlah bertarung dengan teka-teki gila, yang hanya membuat gue pusing dan termenung. Bukannya itu membuang waktu? Berakhir sajalah, gue ingin memutus tali itu, tali yang seolah khayal namun terus menghubungkan gue dengan dia.
Tapi itu masalah terbesarnya. Tidak tahu bagaimana gue bisa merasa seperti ini, hanya saja sosoknya seolah selalu ada, padahal wujudnya tidak ada di sana. Padahal gue tidak melakukan apapun, tidak berusaha menemuinya, tapi ujungnya bertemu juga. Padahal gue sudah berusaha pergi sejauh-jauhnya, tapi ujungnya malah bertambah dekat. Padahal gue sudah menjadi sosok yang munafik, yang selalu berkata tidak, tapi hati malah semakin berkata iya. Sungguh, ini malapetaka yang paling gila yang pernah ada.
Sudah gue kenakan seribu topeng untuk menghadapinya. Seolah benci, sebenci-bencinya. Tapi matanya seolah tahu, seolah bisa menembus seribu topeng itu, dan bisa melihat apa yang sesungguhnya. Sudah gue bangun tembok besar yang mungkin lebih kokoh dari tembok cina, tapi ujungnya runtuh juga. Sudah gue buat jarak yang selalu diusahakan untuk menyaingi jauhnya Eropa dengan kepulauan kecil jajahan Portugis yang letaknya dekat Hawaii itu, tapi ujungnya pesawat jet tempur milik militer Amerika bisa membuatnya seolah lebih dekat dari nadi sekalipun.
Sepertinya semua itu tak cukup. Tak akan pernah cukup. Kamu harus tahu bahwa tali itu khayal, tapi terlalu mengakar. Terlalu mengikat, hingga menyesakkan dan hampir membunuh. Pertama, tali terkuat bagi gue adalah persahabatan gue sendiri. Entahlah, ini terlalu sensitif untuk di bahas sesungguhnya, tapi kamu harus tahu bahwa sahabat gue-lah yang membuat semua ini terjadi. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang telah merusak segala kepercayaan gue terhadap sahabat gue itu, dan salah satu penyebabnya adalah tali khayal ini.
Kemudian ada saja kejadian yang aneh, yang tidak pernah menjadi pertimbangan bagi gue untuk menjadi barisan tali-khayal-terkutuk ini, yang menghubungkan gue dengan dia. Misal, tiba-tiba ada yang membicarakan dia di dekat gue, atau malah membicarakan dia kepada gue. Hal ini masuk ke dalam salah satu faktor karena rata-rata orang yang gue kenal juga mengenal dia. Kan sial. Padahal gue sudah berusaha untuk tidak membicarakan dia lagi.
Dan yang tali yang terakhir adalah jarak nyata kami. Secara geografis, jarak kami di tempat kami menimba ilmu tidak lebih jauh dari dua ruang yang terhubung oleh tembok. Bersebelahan. Erat. Bagaimana cara mendustai itu?
Kini semua terasa seperti gue yang terlalu hedon. Wahai cahaya sebelum fajar, tidakkah kamu melihat bahwa gue telah membanting segala perasaan dan pikiran untuk memutus semua tali itu? Wahai gelap sebelum mentari berpulang, tidakkah kamu mengerti bahwa aku hampir kehabisan nafas karena terus terhubung dengannya?
Atau kah ada takdir lain yang tak terlihat?
Ini semua terlalu tidak rasional. Otak gue sepertinya tidak sanggup untuk memecahkan teka-teki ini. Di tambah lagi, ada sesuatu yang tersembunyi, yang berhubungan dengan dia, yang tidak terlalu tertutup namun memakan waktu yang lama. Apa itu? Gue pun tidak tahu. Kunci itu baru akan diberikan ketika hari kelulusan nanti. Kurang-lebih 500 hari lagi. Gue harap gue sanggup menunggunya dan semoga cerita ini belum berganti tema hingga hari ke-500 itu datang.
Wednesday, 9 December 2015
A Cycle.
And look how I realize that
Life is a circle; I mean cycle.
As the leaves fall down,
The new ones come.
Or just like the sky getting grey,
It isn’t really itself.
So, here’s my wise words for the time I’ve been spent with.
Coba lihat segala kebodohan gue di post-post sebelumnya. Yang mudah sekali menyalahkan. Yang terlalu mudah percaya. Yang terlalu mudah menyayangi. Yang terlalu mudah mengambil kesimpulan sehingga merasa tertipu sendiri. sehingga mudah merasa sakit hati sendiri. sehingga merasa senang sendiri.
Itu gue. Yang payah. Yang tiba-tiba marah padahal belum berkata apa-apa. Kemudian membenci begitu saja, hanya membuat orang yang tidak sengaja bikin gue marah itu jadi merasa berdosa atau kebingungan sendiri. Hahahaha, maafkan gue, ya. Tapi fase itu akan segera berakhir, kok. Karena sekarang gue udah sadar bahwa gak akan ada yang mengerti jika mulut tak berkata. Tak akan ada paham jika tak ada pengertian. Dan gue hanya ingin membuat segalanya menjadi selaras, paham. Karena jika sudah paham, maka segalanya akan termaafkan.
Pertama, untuk orang-orang yang gue benci karena sudah tiba-tiba pergi. Sumpah, hingga saat ini pun gue masih bertanya-tanya. Sebetulnya gue masih bingung dan belum paham sama maksud kalian. Tapi, sudahlah. Lagipula sekarang gue menemukan analogi gue sendiri. Ya, orang berhak untuk pergi kapan saja. Tapi untuk tetap tinggal, adalah pilihan.
Ini salah gue yang terlalu bergantung kepada orang-orang. Ini salah gue yang terlalu menyayangi mereka sehingga kalap sendiri ketika mereka pergi. Jadi sekarang, gue harus lebih mandiri dan tidak boleh telalu memaksa takdir atau gue akan capek sendiri dan menjadi stress sendiri.
Kemudian untuk orang yang gue sayangi with no reason, I just wanna say sorry. Maaf, ya, kalo selama ini gue terlalu banyak menyalahkan. Gue terlalu banyak membingungkan. Gue hanya… dunno. Harusnya gue juga mengerti bahwa anda juga selalu punya hak untuk love me back or nah. Maafkan gue yang tiba-tiba marah atau senang atau sering membicarakan anda tanpa pernah berkata apapun kepada anda. Karena sekarang gue mengerti bahwa orang yang menyayangi gue akan ada buat gue tanpa gue paksa, tanpa gue minta. Dan, ya, silahkan pergi saja. Mungkin gue harus seikhlas api yang membakar kayu, yang tak pernah sempat berkata apapun hingga kayu itu menjadi abu.
Gue juga mau berterimakasih untuk anda karena telah banyak menginspirasi saya tanpa sengaja. Telah membuat daya imajinasi dan daya khayal saya bertambah tinggi. Membuat saya lebih berani mengambil kemungkinan-kemungkinan yang sekarang malah terasa sangat konyol.
Kemudian hidup ini hanya siklus. Ya, perputaran yang tak berujung.
Kini tinggal kuatkan saja imanmu, tentang pengertian bahwa daun yang baru selalu tumbuh setelah daun yang lain gugur. Tentang perkara bahwa dibalik segala ilusi yang telah diberikan oleh bumi ada sisi yang lain, yang mungkin harus menguras hati dan perasaan terlebih dahulu agar mengerti.
Dibalik orang yang pergi, yang lain menunggu gilirannya untuk datang. Memberi warna lain. Membawa pelajaran lain. Makanya, jangan terlalu sayang. Jangan terlalu percaya. Kalau sudah yakin mengenai perputaran ini, maka semuanya tidak akan terlalu sakit.
Begitu pun untuk orang yang telah datang untuk menyayangimu tanpa alasan, maka pahamilah bahwa ia telah mempertaruhkan segala keikhlasannya untukmu. Maka tidak akan pernah salah untuk memberi kesempatan untuknya. Karena kamu harusnya berterimakasih kepada mereka. Jadi sekarang gue mau berterimakasih untuk kamu yang telah berlaku demikian kepada gue. Gue paham betul bagaimana rasanya ada di posisi itu. Bedanya, gue menghargai itu sekarang. Tidak lagi yang hanya mengikuti ego sendiri untuk yang tidak sepatutnya. Ikhlas saja. Jalani saja. Atau mungkin gue telah meninggalkan ego itu? Tidak tahu juga. Karena gue memang tidak begitu paham. Ya… sudahlah. Sepertinya gue sudah mulai pusing karena terlalu banyak berpikir.
Monday, 16 November 2015
The Rain and The Old Woman.
Ini musim hujan dan gw suka itu. Sebenarnya tak ada yang spesial pada musim hujan, namun sejuknya hujan dan suasana yg tercipta saat maupun sesudah hujan selalu bagus. Gw suka wangi basah dari hujan. Walaupun karena hujan langit gak pernah berbintang, tapi di zaman yang penyalahgunaan energinya sudah parah ini bintang memang sudah jarang terlihat. Dan gw adalah salah satu manusia yang sedih sekali untuk melihat keadaan ini.
Well, bukan itu inti ceritanya. Tapi ada sedikit yang berbeda dengan hujan pada musim ini. Bukan lagi cerita sedih atau sebagainya, tapi gw hanya ingin bercerita tentang badai yang kemarin terjadi. Ya, memang, sih, pikiran gw lagi berantakan parah belakangan ini, tapi kita kesampingkan dulu masalah itu. Gw juga ingin melupakan sejenak. Tarik napas yang dalam, kemarin sore, tepat saat mendung kemudian langit berwarna gelap keruh. Seolah menyiapkan segala kekuatannya sebelum akhirnya benar-benar memuntahkan semua amukannya. Saat itu gw sedang berada dalam angkot. Nekat memang, tapi itulah gw. Fearless. Asek. Wkwkw. Apasih. Kala itu angkot yang gw tumpangi kosong, hanya terdapat supir dan satu nenek-nenek yang duduk di kursi 6 orang. Sementara gw duduk di kursi 4 orang dan segera menempatkan diri di pojok angkot. Nenek-nenek tadi melirik gw sejenak dengan muka datar. Judes, malah. Sementara gw yang tadinya sudah menyiapkan senyum jadi urung. Gw pun akhirnya memandang ke luar jendela.
Namun tak lama berselang, nenek yang tadi segera pindah ke pojok kursi dan memposisikan tubuhnya di depan gw. Membuat gw refleks nengok kepada beliau. Dia berkata sesuatu. Tapi gw tak mendengar karena sepasang earphones terpasang di telinga gw. Gw pun melepaskannya sebelah. Sementara nenek itu tiba-tiba menyerahkan sebuah ponsel nokia jadul dengan muka yang dipasang ramah. Gw tambah bingung. Kemudian gw bertanya.
"Ada apa, bu?" Suara gw terpasang seramah mungkin.
Ternyata dia tak mengerti dengan ponsel tersebut karena ponsel itu baru diberikan oleh anaknya kepadanya. Dia bingung dengan sms yang masuk dan tak tahu cara membukanya. Gw pun dengan perlahan mengajarkan nenek itu cara membuka smsnya. Nenek itu sumringah. Karena gw tetap menjada sikap, gw tidak membaca apa isi sms itu. Tapi nenek yang sudah senang tadi malah membacakannya untuk gw.
Isi sms itu pun membuat nenek itu bercerita banyak tentang profesinya. Jadi isi sms itu adalah sebuah permintaan jasa pijit yang nenek itu sediakan. Aku hanya tersenyum mendengarkan cerita itu. Dia bilang sekarang dia harus pergi ke pasar untuk membeli lulur. Gw mengangguk merespon ceritanya. Tak lama kemudian hujan besar turun. Beberapa kilat juga serta hadir.
"Bawa payung, neng?" Tanya nenek itu.
Gw mengiyakan. Tentu saja, nek. Meskipun gw sangat cinta hujan, namun pertahanan tubuh gw yang lemah membuat gw gak bisa bersahabat dengan hujan.
Setelah itu seorang pemuda naik. Gw ingat sekali orang tersebut. Rambutnya gimbal, keriting mekar. Sementara tubuhnya tinggi menjulang, membuat ia harus sedikit membungkuk saat dalam angkot. Ia pun duduk di sebelah nenek yang sedaritadi berbincang dengan gw.
Gw sesekali tertawa mendengar ocehan nenek itu. Sementara pemuda tadi hanya memandangiku dengan tatapan aneh. Entah apa maknanya, tapi awalnya ia seperti bingung dengan percakapanku dengan nenek tadi.
Hujan semakin hebat. Air sampai masuk ke dalam angkot dan membuatku sedikit basah. Dengan cepat nenek tadi membuka payungnya. Ya, di dalam angkot. Gw sedikit terbelalak. Begitu juga dengan pemuda tadi. Namun nenek itu merasa idenya brilian, jadi aku hanya tertawa. Apalagi ekspresi pemuda tadi yang bingung namun tetap tersenyum memaksa, menambah gw untuk tertawa. Akhirnya nenek tadi membuat pemuda tadi terlibat dalam percakapan kami. Namun gw sedikit tak acuh pada pemuda tadi. Karena dari penampilannya, sepertinya ia bukan orang yang baik. Apalagi ia orang asing dan dia laki-laki, tidak mudah bagiku untuk langsung terbuka pada orang seperti itu.
Beruntung gw segera sampai di rumah. Nenek tadi telah tahu bahwa aku akan sampai karena aku berkata tentang hal tersebut sebelumnya. Ia pun segera menutup payungnya. Sementara pemuda tadi langsung mengerti maksud nenek tadi menutup payungnya setelah aku berkata kiri pada supir angkot.
Gw turun dari angkot itu setelah berpamitan pada nenek tadi. Sementara pemuda tadi hanya memandangiku dan gw tak menghiraukan. Jahat memang, namun kembali pada pernyataanku di atas.
Payung yang gw bawa gw buka. Sementara sepatu yang gw kenakan basah seketika. Memakai converse pada musim hujan memang bukan pilihan yang tepat. Akhirnya gw pun melepas sepatu tersebu dan memilih nyeker.
Gw terus melawan arus angin yang berarah berlawanan dengan arah jalan gw. Air menyerang gw tanpa ampun, membuat gw percuma memakai payung. Tapi setidaknya kepala gw tidak basah, jadi masih aman.
Gw pun pulang dengan baju basah berantakan dan sebuah cerita yang gw ceritakan saat ini.