Showing posts with label teen. Show all posts
Showing posts with label teen. Show all posts

Friday, 17 April 2015

HAPPY 1K VIEWERS!

1K VIEWERS‼! I can’t believe it! Uhuy, makin semangat aja nih buat nge-post. Anyway, terimakasih untuk siapapun yang telah mampir di blog ini, terutama yang sering membaca post gue, hehehe. Walaupun sebenarnya, gue penasaran banget siapa aja yang baca blog gue ini. makanya, sekali-kali kasih komentar kalianlah :D.
Setelah ini, gue harap kemampuan gue dalam bercerita dan menulis akan semakin baik. Gue sebenarnya ada rencana untuk bikin blog baru yang berisi cerita bersambung gitu, hehe. Gue juga udah pernah punya blog cerita bersambung itu, tapi tersendat di tengah jalan. Pokoknya, nanti kalo gue beneran bikin blog itu, pasti gue akan kasih tau infonya kok, hehehe.
Blog ini gak akan ada artinya tanpa para pembaca. Iya, karena kalian-lah gue selalu bersemangat untuk bercerita. Gara-gara blog ini juga akhirnya gue jadi ngerasa hidup gue nambah seru. Entahlah. Sepertinya semua momen yang gue alami memang harus dibagikan disini.

Berbicara tentang momen, gue juga dalam waktu dekat ini bakal punya momen baru dalam kehidupan SMA gue. Lo tau? Gue diutus menjadi “mojang” di acara Kartini’s Day yang akan diselanggarakan di SMA gue! Waduh, agak nervous sebenarnya. Makanya, doain gue ya, guys! Kalo nanti gue udah ngalamin itu semua, gue janji akan menceritakan semuanya. Makanya, pantau terus blog gue, ya, hihi. Much love!

Wednesday, 15 April 2015

Gho.....st.

Perkara ini menyangkut kejadian tiga malam yang lalu saat kakak gue sedang asik skype-an. Dia skype-an sampe larut malam, kurang-lebih hingga jam tiga pagi. Saat itu kedua orangtua gue juga masih terjaga. Hanya saja posisi mereka yang berbeda dengan kakak gue. Kakak gue skype di lantai dua sementara orangtua gue di lantai satu.
Sebelum gue masuk ke klimaks dari perkara ini, gue ingin bercerita sedikit tentang rumah gue. Gue tinggal di sebuah rumah berlantai dua yang umurnya sudah bisa dibilang agak tua. Sebenarnya keluarga gue juga bukan penghuni pertama dari rumah ini. Kami merupakan pendatang. Bagian lantai bawah terbilang lebih luas daripada lantai atas. Di sana terdapat satu kamar mandi, ruang makan, dua kamar tidur dan sebuah ruang tamu yang berbentuk memanjang. Di ruang tamu inilah bagian atasnya dibiarkan meninggi, tidak sejajar dengan ruangan lainnya. Sementara dibagian atas dari tembok itu terpasang dua kaca besar untuk jalan masuk cahaya matahari.
Sementara lantai dua tidak begitu luas, karena lantai ini memiliki ruang terbuka. Di sana ada dua kamar tidur dengan labirin di tengahnya. Sementara di luar terdapat sebuah kamar mandi.
Awalnya, gue benar-benar tutup kuping kalau udah dengar tentang sejarah rumah ini yang begitu mistis. Katanya, ada sosok inilah, itulah. Gue bener-bener menutup diri gue tentang cerita-cerita itu, sekalipun yang mengalaminya adalah adek gue sendiri. Sampe tetangga gue juga ikut memperkuat cerita itu, tapi gue tetep gak peduli. Pikir gue, adek gue itukan pendusta, tukang ngarang. Sementara tetangga gue itu mungkin hanya ingin membuat cerita adek gue itu tambah gurih, tambah seru. Kan bisa aja.
Tapi... semenjak tiga hari yang lalu itu, gue benar-benar kayak orang gila yang kehilangan kendali. Ini semua karena mama gue langsung yang mengalami. Saat itu mama gue tiba-tiba bercerita. Matanya seolah memancarkan sinar keseriusan yang mendalam. Volume suaranya begitu terkontrol. Dia bilang, mama semalem liat... hantu bungkus! You know-lah, what i mean. Dan di situ gue tiba-tiba terbelalak. beliau melihat sosok itu di ruang tamu gue, tepatnya dari jendela yang berada di tembok atas. tapi saat itu tingkat kemerindingan gue gak seberapa, sebelum kakak gue akhirnya ikut terkejut saat mendengar cerita mama gue itu.
“Demi apa?!?!” Serunya. Ia pun mengatakan bahwa temannya yang sedang skype bersamanya juga melihat sebuah sosok! Makanya saat sedang asik-asik, tiba-tiba lawan skype-nya mematikan video call itu dan berkata bahwa ia melihat sesuatu. Namun saat itu kakak gue manganggap itu hanya bercanda. Tapi saat ini... kami semua hanya bisa saling diam dan menatap satu sama lain.

Gue yang ketumpangan cerita dari kedua belah pihak itu hanya bisa membisu. Mendadak darah gue menghangat dan denyut jantung gue terasa ke permukaan. Akibat punya daya khayal yang terlalu tinggi, kini pikiran gue kabur kemana-mana. Gue mendadak mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu ada. Atau ada, namun tak terlihat. Gue jadi parno sendirian. Jadi ngerasa ada yang mengawasi dimana-mana. Aduuuuuuhhh, kacau tingkat akut nih gue!

Monday, 16 February 2015

KIRANA!

KIRANA, ekskul jurnalistik SMAN 5 Bogor yang sering dianggap telah punah. Miriiiiis-ris-ris-ris. Pahit. Ya, but don’t judge if u don’t know for sure. Karena sebenarnya, ini ekskul yang asik. Ya, penghuni ekskul ini sejauh yang udah gue temuin friendly semua. Entah kenapa di sini gue bisa tumpahin ide gue dengan leluasa, apapun itu. Karena gue ngerasa kakak kelasnya juga woles-woles aja, gak nyeremin. Atau gue yang terlalu sok akrab? Entahlah. Yang penting i’m happy with ‘em.
Beberapa hari belakangan ini gue emang disibukkan oleh ekskul ini. Ya, kita memang lagi ada projek. Bikin mading, ceritanya. Dan tadi, akhirnya itu mading jadi juga walaupun yang ngerjain cuma dikitan, hm. Yaudahlah ya. Sebenarn ya ada hal yang gue suka dari mading ini. Di sana, kita bisa sampein salam-salam gitu. Ya, gue suka sama hal yang berbau misteri. Tapi bukan pembunuhan atau misteri berat lainnya, bukan. Terus apa hubungannya dengan salam-salam itu? Jadi, salam-salam itu bisa di tempel dengan memampangkan nama, atau anonymous. Ya, anonymous adalah misteri kesukaan gue. Ya tapi bukan anon yang kurang ajar juga sih.
Selain itu, gara-gara projek mading itu juga, gue jadi punya kesibukkan. Gue punya waktu yang akhirnya bisa dimanfaatkan. Daripada dibuang gitu aja, kan mubazir.
Setelah projek ini akhirnya selesai, rencananya mading akan diperbarui selama dua minggu sekali. Kabar baik, semoga bisa terlaksana. Dan projek akbar kami adalah menerbitkan majalah di bulan maret. Huaaa, can’t wait! Semoga gue kebagian tugas yang memang sesuai dengan gue dan kemampuan gue! Aamiin.
Jadi hari ini sudah selesai tugas perdana gue. Bisa dibilang hari ini berjalan dengan asiklah. Walaupun closing-nya, gue harus kepentok pintu angkot dan membuat urat leher gue nyut-nyutan sampe sekarang. But, it’s ok. Yea, ok. I’m ok.

Thursday, 5 February 2015

Me Vs. Flat Shoes.

2015. Bagi gue, hal itu terdengar seperti hal yang baru. Maksudnya, ada hal yang baru yang pengen gue lakukan di tahun ini. Ya... Menjadi lebih baik, pastinya. Dan salah satu koreksi yang gue dapet untuk perubahan tahun ini adalah... Menjadi feminim. Terdengar simpel, tapi justru ini adalah hal tersulit yang harus gue lakuin. Entah apa yang membuat sulit, tapi begitulah adanya.
Seperti kemarin, ada sesuatu yang baru yang gue lakukan untuk mencapai target yang udah gue sebutin di atas. Hal tersebut adalah... GUE PAKE FLAT SHOES! Memang, buat perempuan-perempuan yang lain hal ini terdengar biasa aja, gak ada heboh-hebohnya, gak ada susah-susahnya. Tapi buat cewek gasruk kayak gue... Nyerah. Sulit-lit-lit-liiiiiit!!!! Rasanya... Flat shoes gak bersahabat banget sama gue. Sumpah, gue gak bohong. Lo harus tau penderitaan gue setiap kali melangkah pake flat shoes. Rasanya kayak, semua jari gue susah payah mempertahankan si sepatu tipis itu supaya tetep nempel di kaki gue. Gak tau kenapa gue selalu ngerasa itu sepatu kayak mau lepas dari kaki gue setiap melangkah. Udah mah gue kalo jalan kecepatannya tinggi... Ya kalo pake flat shoes mau-gak-mau gue harus jalan kayak pengantin keraton solo. Feels like, kayaknya enakan nyeker daripada pake flat shoes. Tapi kalo kayak gini terus, gimana mau jadi feminim? Gimana mau pake high heels kalo pake flat shoes aja udah keok? L
Perkara ini akhirnya membuat gue muter otak. Mikir-mikir lagi untuk menjadi feminim. Bukannya gue ingin menggagalkan rencana yang satu ini, karena gue sendiri berpikir bahwa menjadi feminim adalah kewajiban gue sebagai cewek. Tapi kalo sulit kayak gini sih... Kapan bakal tercapai? Gue terus bertanya seperti itu, semalaman. Serius. Sampe gue gak bisa tidur.
Akhirnya gue pun bangun dari posisi tidur gue dan menengok kembali flat shoes yang baru aja gue beli beberapa hari yang lalu dari uang gue sendiri. Entah kenapa gue jadi nyengir sendiri begitu melihat lubang sepatu itu sudah lebih lebar dari sebelumnya. Itu pasti akibat gue jalan gak pake perasaan, deh.
Tiba-tiba mata gue melebar. Itu dia! Perasaan. Hal yang gue harus asah kali ini. Maksud gue, hal-hal yang biasanya gue kerjakan dengan gasruk, harus gue ubah dengan sedikit menambahkan perasaan di dalamnya, supaya gak gasruk-gasruk amat.

Tapi ketika jawaban terpecahkan, masalah baru datang. Masalahnya adalah... Bagaimana menghadirkan “perasaan” itu? Ya secara, gue kan cuek banget. Be-ge-te! Huft, muter otak lagi, deh.

Friday, 19 December 2014

King of Kong.

18 desember 2014.
Malam itu gue kembali mimpi hal yang agak aneh. Gue gak inget awalnya seperti apa, tapi yang gue inget, saat itu gue lagi asik ngobrol sama temen smp gue. Tiba-tiba ada seorang cowok yang nyamperin gue. Sumpah, gue inget jelas mukanya kayak apa dan gue belum pernah liat dia di kehidupan nyata gue sebelumnya. Tapi anehnya juga, gue udah akraaab banget sama cowok itu dalam mimpi. Dia datang untuk jemput gue pulang. Akhirnya gue pun ikut cowok itu pergi.
Dia bonceng gue pake motor matic. Seinget gue, kita banyak banget bicara sampe ketawa-ketawa gak jelas gitu. Tapi gue gak inget ngomongin apa aja. Dan saat itu gue inget banget wajahnya dari samping. Dia mancung banget, xixixi. Pas lagi asik-asiknya, tiba-tiba dia minggir, terus matiin motornya.
Ternyata dia gak langsung nganter gue balik, buktinya dia malah berhenti di depan sebuah kafe bergaya vintage masa kini. Ada banyak quotes yang digemari para remaja zaman sekarang terpajang di tembok. Sementara furniture-nya berwarna seragam dengan warna cat temboknya, yaitu putih pastel. Ditambah beberapa furniture pemanis seperti jam dinding, lukisan-lukisan, dan sebagainya yang juga bergaya vintage, yang merupakan gaya yang “gue banget”. Ah, what a great cafe! Sayangnya cuma mimpi. Setelah itu kami duduk di sebuah meja yang berada di tengah kafe itu.
Kami memesan makanan. Dan makanan itu terasa sangat cepat datang, seperti sudah dipersiapkan sebelum kami memesannya. Sambil makan, dia selalu bercandain gue sampai gue gak bisa nahan ketawa. Ya, emang selera humor gue receh banget. Tapi gue gak suka sih acara lawak di tv yang absurd itu. Intinya, it’s the most amazing dinner i’ve ever had, even it just a dream! Gue bener-bener merasa... Ah, speechless. Tapi sayang, keindahan dinner itu harus berhenti setelah kami selesai makan.
Kami keluar dari kafe. Ternyata di luar sana ada banyak temen gue yang juga dateng ke kafe itu. Akhirnya kami pun berbincang-bincang dulu dengan mereka. Saat sedang asik bicara, tiba-tiba seseorang berteriak.
“ada monyet mabok!!” Cewek itu berteriak dengan suara yang menggelegar.
Akhirnya semua mata langsung mencari monyet yang dimaksud. Benar, kurang-lebih dua puluh meter dari tempat gue berdiri, ada seekor monyet yang besar sedang menggenggam botol minuman keras. Monyet itu tampak kehilangan kendali dan marah. Ia pun memecahkan botol minumannya dan membuat tangannya berdarah hebat.
Saat gue sedang terpana, keadaan sekitar gue langsung ricuh. Semua orang mencari pertolongan dan tempat berlindung. Sementara itu, seseorang menarik tangan gue, mengajak gue untuk mencari tempat berlindung juga. Ya, orang yang sedaritadi bersama gue. Seperti tidak ada pilihan lain, kami pun kembali masuk ke dalam kafe.
Setelah itu, kami bersembunyi di sebuah ruangan di lantai dua. Ternyata beberapa orang juga berlindung di sana. Tapi entah kenapa, gue udah berfirasat bahwa tempat ini bukan tempat yang tepat untuk bersembunyi. Dan benar, monyet besar itu berhasil menyusup masuk lewat jendela yang ada di samping ruangan ini dengan anarkis. Keadaan kembali lepas kendali.
Saat itu gue kehilangan jejak cowok yang biasanya selalu ada di samping gue. Gue benar-benar udah gak mikirin apa-apa. Yang gue tau, gue harus mencari tempat yang gak banyak orang bersembunyi di sana. Akhirnya ketika orang-orang berbelok ke balkon kafe, gue malah belok ke dapur kafe. Gue pun bersembunyi di antara kitchen sets dan tembok untuk kompor listrik yang ada di dapur itu.
Dari dalam dapur, gue bisa mendengar jelas jeritan-jeritan orang-orang yang sepertinya diserang oleh monyet besar itu. Mungkin mereka dicakar, dicabik, atau mungkin dimakan. Entahlah. Pokoknya jantung gue bener-bener ikut terlonjak setiap kali mendengar jeritan di luar sana.
Sepertinya gak ada satupun yang bisa menyelamatkan gue selain allah. Ya, akhirnya gue pun berdoa sebisa gue sambil memejamkan mata. Gue berdoa dengan seluruh hati dan jiwa gue. Ada perasaan tenang bercampur gelisah saat itu. Setelah beberapa saat, tiba-tiba keadaan di sekeliling gue berubah menjadi terang. Terang sekali sampai menyilaukan. Gue pun ngerasa gak kuat dan akhirnya membuka mata.
Gue bangun dari mimpi itu dengan napas yang terputus-putus. Mata gue refleks melihat sekeliling. Huft, cuma mimpi, batin gue. Akhirnya gue pun beranjak dari posisi tidur gue dan mengumpulkan nyawa. Entah bisikan dari mana, gue teringat sesuatu. Lagi-lagi gue kena mini-heart attack. Gue belum ngerjain tugas fisika!! Mampus! Akhirnya gue kelabakan lagi. Bahkan lebih kelabakan! Entah kenapa gue lebih menganggap hukuman soal fisika akan lebih menyeramkan dibanding dikejar kingkong sekalipun!