Friday, 18 December 2015

Connected.

Lalu sekarang, doa gue hanya untuk diluruskan. Maksud gue, cukuplah bermain dengan pikiran, yang ternyata tak selalu sesuai dengan kenyataan. Sudahlah bertarung dengan teka-teki gila, yang hanya membuat gue pusing dan termenung. Bukannya itu membuang waktu? Berakhir sajalah, gue ingin memutus tali itu, tali yang seolah khayal namun terus menghubungkan gue dengan dia.
Tapi itu masalah terbesarnya. Tidak tahu bagaimana gue bisa merasa seperti ini, hanya saja sosoknya seolah selalu ada, padahal wujudnya tidak ada di sana. Padahal gue tidak melakukan apapun, tidak berusaha menemuinya, tapi ujungnya bertemu juga. Padahal gue sudah berusaha pergi sejauh-jauhnya, tapi ujungnya malah bertambah dekat. Padahal gue sudah menjadi sosok yang munafik, yang selalu berkata tidak, tapi hati malah semakin berkata iya. Sungguh, ini malapetaka yang paling gila yang pernah ada.
Sudah gue kenakan seribu topeng untuk menghadapinya. Seolah benci, sebenci-bencinya. Tapi matanya seolah tahu, seolah bisa menembus seribu topeng itu, dan bisa melihat apa yang sesungguhnya. Sudah gue bangun tembok besar yang mungkin lebih kokoh dari tembok cina, tapi ujungnya runtuh juga. Sudah gue buat jarak yang selalu diusahakan untuk menyaingi jauhnya Eropa dengan kepulauan kecil jajahan Portugis yang letaknya dekat Hawaii itu, tapi ujungnya pesawat jet tempur milik militer Amerika bisa membuatnya seolah lebih dekat dari nadi sekalipun.
Sepertinya semua itu tak cukup. Tak akan pernah cukup. Kamu harus tahu bahwa tali itu khayal, tapi terlalu mengakar. Terlalu mengikat, hingga menyesakkan dan hampir membunuh. Pertama, tali terkuat bagi gue adalah persahabatan gue sendiri. Entahlah, ini terlalu sensitif untuk di bahas sesungguhnya, tapi kamu harus tahu bahwa sahabat gue-lah yang membuat semua ini terjadi. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang telah merusak segala kepercayaan gue terhadap sahabat gue itu, dan salah satu penyebabnya adalah tali khayal ini.
Kemudian ada saja kejadian yang aneh, yang tidak pernah menjadi pertimbangan bagi gue untuk menjadi barisan tali-khayal-terkutuk ini, yang menghubungkan gue dengan dia. Misal, tiba-tiba ada yang membicarakan dia di dekat gue, atau malah membicarakan dia kepada gue. Hal ini masuk ke dalam salah satu faktor karena rata-rata orang yang gue kenal juga mengenal dia. Kan sial. Padahal gue sudah berusaha untuk tidak membicarakan dia lagi.
Dan yang tali yang terakhir adalah jarak nyata kami. Secara geografis, jarak kami di tempat kami menimba ilmu tidak lebih jauh dari dua ruang yang terhubung oleh tembok. Bersebelahan. Erat. Bagaimana cara mendustai itu?
Kini semua terasa seperti gue yang terlalu hedon. Wahai cahaya sebelum fajar, tidakkah kamu melihat bahwa gue telah membanting segala perasaan dan pikiran untuk memutus semua tali itu? Wahai gelap sebelum mentari berpulang, tidakkah kamu mengerti bahwa aku hampir kehabisan nafas karena terus terhubung dengannya?
Atau kah ada takdir lain yang tak terlihat?
Ini semua terlalu tidak rasional. Otak gue sepertinya tidak sanggup untuk memecahkan teka-teki ini. Di tambah lagi, ada sesuatu yang tersembunyi, yang berhubungan dengan dia, yang tidak terlalu tertutup namun memakan waktu yang lama. Apa itu? Gue pun tidak tahu. Kunci itu baru akan diberikan ketika hari kelulusan nanti. Kurang-lebih 500 hari lagi. Gue harap gue sanggup menunggunya dan semoga cerita ini belum berganti tema hingga hari ke-500 itu datang.

No comments:

Post a Comment