Hal ini
terjadi lagi, persis seperti saat pertama kali. Aku sempat membeku beberapa
saat, kemudian batinku berkata, “apakah ini hanya dejavu?” Merasa sesuatu
pernah terjadi di suatu masa padahal hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak,
aku yakin hal ini memang pernah terjadi. Ini bukan ilusi. Ini nyata.
Sebelum
aku benar-benar kembali ke alam sadarku, otakku sempat dililiti tanda tanya. “Kenapa
hal ini harus terulang lagi?” Lagi-lagi aku bicara pada diri sendiri. Warna pertanyaanku
sedikit biru. Sedikit monokrom. Hampir tidak membahagiakan.
Dulu,
mengulang hal ini memang sempat menjadi harapan terbesarku. Kala itu aku
menganggap bahwa hal ini hanyalah mimpi jika bisa terulang lagi. Seperti berharap
suatu saat aku bisa mengambil segenggam biru dari langit kemudian kusimpan
dalam pelukkan terdalamku agar tidak hilang. Iya, sedalam itu harapanku
terhadap hal ini. Namun, “Dulu” adalah tempo lalu. Waktu yang sudah lewat. Bukan
sekarang.
Waktu
memang bisa melakukan apa saja. Mengubah tanpa tangan, bertindak tanpa kaki. Ia
tidak terlihat, namun bisa dirasakan. Ia tak mungkin berlalu tanpa meninggalkan
jejak. Jejak yang ia tinggalkan memang istimewa, memancar secara radiasi; tidak
memerlukan perantara. Maka satu-satunya yang bisa merasakan jejak dari waktu
adalah dirimu sendiri, hatimu sendiri.
Lalu
yang kini aku dapatkan dari jejak itu adalah pudar. Dulu hal ini begitu
menggebu, namun kali ini sama sekali tak menggetarkan. Tak tahu apa makna dari
semua ini, hanya aku benar-benar sudah berbeda. Aku bukan lagi manusia yang
bisa merasa berdesir ketika dekat dengan dia. Bukan lagi makhluk yang tiba-tiba
gila ketika melihat batang hidungnya. Bukan lagi orang yang menguras waktu
hanya untuk memikirkan “dia sedang apa”.
Dan
sekarang, hal ini benar-benar ada di depanku. Memamerkan sederet senyum manis
yang menarik. Ya, menarik jika terjadi waktu dulu. Namun hari ini, hambar. Aku tidak
lagi tertarik pada senyum itu. Bagiku, aku sudah benar-benar tutup buku dengannya. Dan sekarang, aku sedang mencari buku baru yang lebih membahagiakan.
No comments:
Post a Comment