Mata ini enggan terpejam lagi. Padahal, ia baru mau beristirahat tiga jam yang lalu. Namun rasanya memang mataku terlalu berat untuk kembali tertutup. Pun matahari yang semakin meninggi membangunkan hasratku untuk membuka jendela kamar.
Sinar matahari menerangi kamarku. Debu-debu tampak berterbangan. Aku semakin sadar mataku menyipit. Sesak itu kembali menyerang.
Malam tadi, suaranya yang parau itu lebih terdengar seperti belati yang menyayat perasaan. Tanpa perintah, takutku yang menggunung sejak beberapa pekan yang lalu tumpah semua. Dadaku terhimpit penuh oleh rasa yang senada dengan apa yang menggontaikannya.
Ia memanggil namaku pelan.
"Apa?" Sahutku dengan usaha penuh agar suaraku terdengar biasa saja.
"Maafkan aku," katanya, lagi, dengan suara parau. Sebuah maaf yang tak perlu kutanya lagi konotasinya.
Aku bisu. Tak kusadari ternyata pipiku telah basah juga.
Aku mendengar ia menelan ludahnya. Aku paham, rasanya pasti pahit. Sangat pahit. Aku terlalu mengenalnya. Meski lewat ujung telepon, aku tetap bisa lihat wajahnya saat ini yang getir tak terjabarkan.
Aku berusaha tertawa. Tapi hasilnya, tawa itu malah bercampur dengan isak yang tak bisa lagi kusembunyikan. Tangisku semakin menjadi-jadi.
Hening. Kami berdua sama-sama sibuk membenahi air mata.
"Iya, gak papa, kok," akhirnya aku yang angkat bicara. "Asalkan kamu baik-baik saja, aku gak papa," dan semua orang tahu ini terlalu klise. Tapi aku rasa, jika kau yang ada di posisiku, kau juga akan mengucapkan kalimat yang sama.
Seketika tanganku mengeratkan pelukannya kepada bantal yang terlanjur kubasahi. Tenggorokanku tercekat.
Semesta memang terlampau ajaib. Sungguh, baru aku tahu bahwa perasaan bisa semengacaukan ini. Atau aku juga pernah kacau, tapi kukira kali ini aku tak akan lagi berjumpa dengan perasaan macam ini. Dia, terlalu baik, terlalu menyayangi untuk mengacaukanku. Hingga sempat aku bertanya, memangnya hal apa yang dapat memisahkan aku dengannya? Ternyata ini; jarak.
Pun aku tanyakan seperti apa sakitnya? Ternyata seperti ini; sakit sekali.
Saturday, 1 July 2017
Jarak.
Monday, 19 June 2017
Pulang.
Tak kutarik
lagi selimutku. Sebab kini aku paham, dingin ini bukan perihal angin malam yang
menyusup ke kamarku, namun rindu yang menggunung hingga tumpah ruah menjadi
laut pada pipiku. Suara serangga bersahutan pada pukul 02.21 pagi ini. Aku
urung menyalakan lagu. Aku rasa aku butuh keheningan untuk menulis kerinduan
atas kepulangannya yang hampir dua tahun berlalu.
Rindu ini
memang tak pernah habis, tak pula padam. Bak air hujan yang punya siklusnya
sendiri—jatuh, menguap, menjadi jenuh, lalu jatuh lagi. Atau bak api yang
membakar rumah yang terus menyalak, tak peduli berapa yang habis akibat egonya
itu.
Namun aku tak
bilang bahwa rindu ini buruk. Karena kenyataannya, rindu ini memaksaku untuk
mengalah. Ia tunjukkan betapa untuk mengusirnya ialah sebuah kemustahilan. Jadi
tak ada daya bagiku untuk menghilangkannya. Ia hidup kekal, sekekal-kekalnya
dalam darahku.
Juga betapa
rindu kala ia berkonspirasi bersama waktu, menegarkanku. Menguatkan sayap-sayap
yang patah. Membisik bahwa rindu tak meminta untuk diratapi, tapi hanya untuk
dimengerti—yang telah pulang itu tak ingin pulang untuk melukai. Rindu bilang,
memori yang berputar itu hanya ingin menyadarkanku bahwa yang telah pulang itu
benar mencintaiku, tulus menyayangiku. Maka tugasku ialah untuk menjadikan
ke-pernah-adaan-nya untuk membangun aku yang kuat menghadapi matahari besok.
Dan betapa
kerinduan ini membuat aku tahu, bahwa kepulangannya tak pernah sia-sia. Betapa
kepulangannya telah membuka mataku lebar-lebar, membuat aku paham bahwa sayang
yang sesungguhnya ialah yang saling menyebut dalam doa. Ialah yang mau
bertindak lebih. Ialah yang selalu merindu. Ialah yang berharap terbaik
untuknya dan selalu mengikhlaskannya.
Sungguh, kepulanganmu
telah menghadirkan rindu yang luar biasa—bukan sekadar rindu yang menuntut
pertemuan. Namun rindu yang mengajarkan aku sebuah ketabahan.
Aku yakin,
masih ada seribu pelajaran yang Allah siapkan untukku atas kepulanganmu dan aku
siap untuk itu.
Untuk itu, Pa,
terima kasih sudah pulang kepada-Nya.
Saturday, 3 June 2017
Mengulik Perasaan.
Malam ini aku yang mengulik perasaan. Karena kemarin kau yang bilang ada jalan yang panjang di balik rasa yang kita punya. Ada medan yang berat untuk menjalaninya. Ada jurang yang curam yang bisa membunuh kita. Ada hutan yang gelap yang bisa menyesatkan. Ada tanjakan terjal yang mampu membuat kita terjatuh.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.
Wednesday, 10 May 2017
-
Dapur rumahku dingin. Mama juga
sudah jarang memintaku untuk membeli gas ke warung seberang. Tugasku jadi
berkurang satu—membeli sayuran ke warung Bu Onih. Meja makan tak pernah lagi
menjadi tempat bertemu keluarga atau sekadar menyahut satu sama lain untuk makan
bersama.
Juga ruang TV-ku. TV tak pernah
menjadi alasan lagi untuk kedua adikku berseteru, berebut channel di TV. Atau menjadi alasan kami menggelar karpet agar kami
dapat menonton TV bersama-sama. Kemudian bapa yang menentukkan channel apa yang akan kami tonton—tidak ada
yang berani menentangnya. Lagipula, pada akhirnya kami selalu menikmati acara
apapun yang kami tonton bersama.
Kamarku jadi makin jarang
dibersihkan. Tidak ada lagi yang menegur aku untuk merapikan kamar dengan suara
yang menggelegar. Tidak ada lagi yang bilang, “mana ada cerita disney yang putrinya pemalas?”. Atau beliau
sendiri yang membereskan rumah sehingga semuanya ikut berbenah juga.
Atau berebut bantal ternyaman
sedunia dengan kakakku. Siapa yang memeluk bantalnya terlebih dahulu, berarti
dia pemilik bantal pada malam itu. Tapi kalau tetap ingin bantalnya, maka aku
harus berjuang untuk merebut bantalnya.
Segalanya. Mama yang selalu sabar.
Bapa yang suka marah namun terkadang lucu. Teteh yang juga suka marah namun sangat
perhatian. Adik laki-lakiku bandel karena selalu pergi ke rental PS dan suka
bikin mama pusing juga adik perempuanku yang sangat dimanja oleh bapa.
Semuanya hilang. Sirna. Bapa dipanggil
oleh yang Maha Kuasa. Mama semakin keras bekerja demi keluarga. Kakakku juga semakin fokus pada
karier dan pendidikannya. Adik laki-lakiku yang memilih pesantren sebagai
tempatnya menimba ilmu serta adik perempuanku yang kini sudah SMP dan sibuk
dengan kehidupan remajanya.
Dan aku juga akan segera sibuk. Menjadi
seorang mahasiswa tentu akan membuat jadwalku semakin padat. Mengurusi berkas pendaftaran
saja sudah membuatku pening, hahaha.
Tapi detik ini, bukan itu yang
mengganggu pikiranku. Aku hanya rindu. Rindu akan sore yang kuisi dengan
mengiris bawang dalam rangka membantu mama masak untuk makan malam. Rindu pula dengan
berebut remote TV agar dapat memilih
sesukaku acara mana yang ingin kutonton. Rindu juga dengan berbenah kamar
dengan perasaan gondok karena habis dimarahi bapa. Rindu berebut bantal dengan
kakakku.
Rindu juga disuruh mama belajar
masak. Rindu juga menjadi tempat adik laki-lakiku mengadu ketika dimusuhi
kakakku dan adik perempuanku. Rindu juga diajak ke pasar bersama bapa dan
membeli ikan. Atau bersama-sama pergi ke mall,
lalu kadang dimarahi bapa karena aku, kakakku dan adikku suka membuat keributan
di tengah-tengah keramaian. Rindu juga diledek bapa karena aku kadang memasang
wajah jutek.
Tapi waktu begitu kejam. Di sini
aku ditinggal begitu saja bersama memori yang terus berputar. Sedangkan semuanya
tak bisa kuulang lagi dalam dunia nyata.
Kalau sekarang aku sedang di tepi
pantai, maka aku ingin menangis sejadi-jadinya. Biar jelas, air mataku bersatu
dengan air laut. Kan, bapa juga sudah menjadi bagian dari tanah di bumi. Siapa tahu
air mataku bertemu dengan tanah yang dulunya adalah sosok bapa. Biar dia tahu
di sini aku terus-terusan kangen sampai tak bisa lagi kutahan air mataku.
Tapi sayangnya kini aku sedang di
kamar. Mama di ruang tengah. Kakakku juga belum pulang kerja. Adikku yang
laki-laki mungkin sedang belajar membaca kitab di pesantren. Sedangkan adik
perempuanku sedang asik bermain gadget.
Dan aku sendirian di kamar. Menulis
tentang rindu.
Saturday, 6 May 2017
Takut.
Stasiun kereta. Halte bis. Sinar matahari terik yang
membakar tubuhku. Semua itu melekat pada memoriku. Bisa kau rasakan, tidak? Satu
lamunan di dalam kereta yang tengah melaju—mencipta jarak. Aku tak ingin
membahas, namun rasa yang merambat pada dinding intuisiku membuatku takut.
Ceritakan, tentang apa saja yang bergerak menjadi jauh? Apa yang
dapat diciptakannya? Waktu yang merayap. Aku tak ingin cepat-cepat. Biarkan ia
melambat sejenak dalam khayalku.
Lalu keretaku bising. Roda-roda yang tak pernah kupahami itu
hanya mencipta jarak. Lalu jauh. Lalu menelan detik-detik yang aku punya.
Kemudian terpikirlah aku perihal dirinya yang sedang di
rumah. Lalu terciptalah rindu.
Sekarang aku paham apa yang lagu rindu resahkan. Nyatanya,
jarak dan waktu dengan mudah mengusiknya. Dan rindu, memang tak pernah paham
apa yang penderitanya hadapi—jarak dan waktu tak selalu mudah untuk dijamak. Tapi
ia seperti memaksa, meronta untuk segera diobati.
Yang aku takut ialah bagaimana jika rindu itu jadi gila? Bak
racun yang membuat otakku malah berpikir yang bukan-bukan. Manusiawi saja,
bukan?
Ah, dasar jarak. Bisa kuenyahkan saja, tidak?
Tidak. Ia terlalu nyata untuk dihilangkan.
Namun waktu juga tak memberi izin kepada siapapun untuk
berhenti.
Sungguh, yang tersisa kini hanya takut. Aku takut aku rindu.
Aku takut kau rindu.
Dan aku atau kau tak menjadi pelipur rindu bagi rindu kita.
Friday, 21 April 2017
Lagu Cinta.
Mungkin laut sedang pasang, bulan sedang naik. Jadilah emosiku tertarik hingga ubun-ubun. Jadilah kacauku tertumpah ruah hingga hatimu. Jadilah rindu yang biasa kusimpan dalam lemari, terlempar keluar.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.
Thursday, 13 April 2017
5K Viewers!!
It's been a long time!!!!!! Setelah sekian lama gak aktif menulis, kukira blog ini akan mati dan sepi. Tapi ternyata dugaanku salah, karena hey! Ini 5K viewers!! Rasanya seketika rindu akan menulis spontan menyerang. Aku rasa, terima kasih saja gak cukup. Mungkin ada baiknya aku ceritakan ke mana saja aku selama ini, hehehe.
Belakangan ini aku memang sibuk sekali. Maklum, anak kelas 3 SMA. Ujian ini, itu. Tugas ini, itu. Sampai akhirnya, hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Semuanya terasa cepat, seperti yang orang-orang bilang. Apalagi, pengisi hari-hari akhirku di SMA memang sangat... Hmmm... Spesial. Tapi kita tidak membahas itu kali ini, kan?
Juga, banyak pelajaran baru yang aku dapatkan di masa akhir SMA. Mungkin semua orang juga mengalaminya, tapi aku sangat merasa bersyukur untuk itu semua. Mungkin pada kesempatan selanjutnya akan kutulis dalam tulisan yang lebih menarik.
Pada akhir masa SMA juga, aku tiba-tiba jatuh cinta pada musik indie. Entah ini penting atau tidak, tapi sedikit maupun banyak, lagu-lagu itu membantuku membayangkan suasana tulisanku. Jadi, yang ingin kusampaikan terima kasih ialah pengisi masa SMA, pelajaran yang kudapatkan selama SMA, musik indie, dan tentunya pembaca blog-ku! Salam hangat dan selamat membaca:)
Belakangan ini aku memang sibuk sekali. Maklum, anak kelas 3 SMA. Ujian ini, itu. Tugas ini, itu. Sampai akhirnya, hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Semuanya terasa cepat, seperti yang orang-orang bilang. Apalagi, pengisi hari-hari akhirku di SMA memang sangat... Hmmm... Spesial. Tapi kita tidak membahas itu kali ini, kan?
Juga, banyak pelajaran baru yang aku dapatkan di masa akhir SMA. Mungkin semua orang juga mengalaminya, tapi aku sangat merasa bersyukur untuk itu semua. Mungkin pada kesempatan selanjutnya akan kutulis dalam tulisan yang lebih menarik.
Pada akhir masa SMA juga, aku tiba-tiba jatuh cinta pada musik indie. Entah ini penting atau tidak, tapi sedikit maupun banyak, lagu-lagu itu membantuku membayangkan suasana tulisanku. Jadi, yang ingin kusampaikan terima kasih ialah pengisi masa SMA, pelajaran yang kudapatkan selama SMA, musik indie, dan tentunya pembaca blog-ku! Salam hangat dan selamat membaca:)
Subscribe to:
Posts (Atom)