Thursday, 9 February 2017
Gadis.
Kusut sudah hati ia.
Semakin lama, semakin kuat rahangnya. Menghilangkan jutaan kata yang harusnya bisa ia ungkapkan. Tapi apalah, ia hanya gadis berumur 17. Hanya perempuan yang punya hati berbentuk kubus. Yang bisa penuh oleh perasaan apapun.
Maka apa yang ditangkap oleh indra perasanya, apa yang dilihat matanya, apa yang didengar oleh telinganya, bisa jadi merubah apapun keadaan hatinya. Bisa jadi cerah maupun gundah. Tak suka ia melihat apa-apa yang membuatnya dipenuhi perasaan cemburu, atau apapun yang sejenis dengan rasa itu. Sedangkan ia suka ketika merasa begitu diperhatikan, atau apapun yang setara dengan makna itu. Bukan, bukan artinya ia tak berpikir panjang. Tapi kau tahu bahwa ia hanya gadis berumur 17, yang sudah menjadi kodratnya untuk mudah saja terbawa perasaan pada saat-saat tertentu. Lagipula, bukankah semua manusia begitu?
Pahamilah, ia hanya seorang gadis berumur 17. Yang tidak menuntut apapun. Hanya saja, kau tahu bahwa sannya naluri semua gadis menyukai satu hal: dilambungkan hatinya. Bukan, bukan artinya ia haus pujian atau perhatian. Namun, bukankah bentuk meja tak selalu kotak? Lalu, mengapa pula tak membuat bentuk lain sebagai ungkapan sayang? Yang diucap, yang diungkap. Yang dibuat, yang direncanakan.
Ia menarik nafas dalam-dalam. Mendelik, sesaat memandangi apa yang mengusutkan hatinya.
Bukan, bukan ia ragu. Tapi ia hanya perlu.
Mungkin ia terlalu berharap diberi apa yang ia ingin. Tapi sesungguhnya ia juga paham bahwa kau hanya ingin memberi apa yang kau yakini.
Gundah sudah. Ia pun tak dapat menyalahkan siapa-siapa yang ada di muka bumi. Tak ada yang terucap, tak ada yang terungkap.
Tidak, ia tidak hendak menyalahkan kau. Pun semoga kau mengerti bahwa ia hanya gadis berumur 17, dengan hati berbentuk kubus.
Wednesday, 28 December 2016
Sebelum Desember Berakhir.
Detik-detik merapat, kau tahu. Tidak pernah aku menemukan waktu yang terasa lama saat kau ada. Maka jam-jam pun tahu kerjanya; membuat kita takut jika ia berlari cepat-cepat. Untuk itu, kita harus segera menentukan hendak pergi ke mana, sebelum langit sempat bekerja sama dengan jam untuk membuat kita bertambah khawatir.
Ada yang mengusap wajahku. Katanya, ia hanya ingin membuat kita jadi dingin. Ingin berada di antara kita. Ia ingin mengusik saja. Ia datang atas nama angin malam.
Aku pun menemukan kau di bawah langit gelap. Namun binar matamu tetap terang, dan aku selalu suka. Kau tidak pernah berkata rindu, tapi sebelum Desember berakhir, aku tahu kau begitu.
Aku tahu, sekalipun jika angin malam tadi menjelma menjadi jarak yang menjauhkan aku dengan kau, maka kau akan mencari cara untuk menjamak jarak dan membuat aku dekat.
Aku juga tahu, apabila detik yang ada tinggal sepuluh saja, maka kau akan memintaku menghabiskan detik itu denganmu saja.
Dan kau takkan berkata begitu, tapi aku tahu.
Dan kau akan bilang jika kau egois, tapi aku suka.
Kini, sebelum Desember berakhir, aku ingin bertanya,
mengapa kau tidak pernah berkata begitu?
Tapi tak apa, biar itu jadi tanya yang membangun bintang di langit, hidup untuk ribuan tahun, tanpa jumpa dengan jawab jika kau tidak ingin membuatnya jumpa.
Tuesday, 13 December 2016
Ialah Aku.
yaitu semoga, sebenci apapun ia padaku hari ini, semarah apapun ia padaku hari ini, sejengkel apapun ia padaku hari ini, sesebal apapun ia padaku hari ini, semoga ia tetap sudi untuk merapikan rambutnya di depanku, kemudian meletakkan kacamatanya untuk sejenak mencari apa yang perlu ia cari pada kedua mataku, dan meletakkan telapak tangannya pada tanganku.
Pun ialah aku yang sebenci apapun kepadanya, semarah apapun kepadanya, sejengkel apapun aku kepadanya, sesebal apapun aku kepadanya, ialah yang paling berharap untuk menjadi manusia yang paling dicari olehnya, dimengerti olehnya, diajak bicara olehnya, dibantu olehnya untuk melepas segala yang membuat aku merasa kacau.
Ya, itu memang aku yang berharap.
Ialah aku yang setiap harinya berharap bahwa seburuk apapun hari yang kita lalui, kau tetap di sini, di dekatku.
Friday, 2 December 2016
Saturated.
Aku menarik baju hangatku yang berwarna merah jambu. Ruangan itu seketika mendingin. Jemariku kutenggelamkan pada lengan baju hangatku yang terlalu besar. Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku. Ruangan ini sungguh membuatku bosan.
Atau pikiranku saja yang sedang kacau?
Aku menoleh ke jendela yang menyuguhkan bulir-bulir hujan pada kacanya. Langit menggelap, ini artinya sudah hampir 4 jam aku membumbungkan kecemasan dalam otakku. Mataku sungguh terpaku melihat percakapan itu. Entahlah, segalanya terekam begitu apik dalam memoriku. Gerak mulutnya. Matanya yang membesar. Mulutnya yang terbuka, menyunggingkan sisa-sisa tawa dari percakapannya. Sinar mata yang begitu antusias menanggapi satu sama lain.
Pipiku menghangat. Atau seluruh tubuhku? Aku tidak ingat. Yang aku tahu, aku bisa merasakan aliran darahku sendiri. Pun jantungku yang ikut menderu cepat.
Tidak, tidak ada yang salah dengan isi percakapannya. Karena kenyataannya dunia saat itu terasa melambat, hingga aku tak mendengar apa-apa. Tapi yang ajaib ialah, ketika percakapan itu mampu membuatku merasa ditarik pada masa yang aku tak pernah suka.
Masa di mana aku hanya menjadi bagian dari yang terlewat. Atau seumpama kau membaca buku, maka masa itu ialah ketika kau belum menemukan namaku sebagai kata pada halaman di bukumu. Dan di kala itu, gadis itulah yang memegang tahtaku.
Oh, baiklah, mungkin aku berlebihan. Tapi aku pun tidak bisa dustai. Memangnya ada yang mampu merubah sejarah?
Begini, bagaimana jika dirimu pun sama, mengingat halaman yang sudah kau baca, dan lebih mengingat lagi bahwa nama gadis itu pernah menjadi nama yang kau libatkan dalam masalah perasaan? Lalu, apa yang kau rasakan setelah itu? Kemudian, segala pikiranku membiru.
Ini memenuhi ruang pada dadaku. Kemudian, pikiran itu bak awan jenuh yang siap menjadi hujan.
Semoga kau lekas tahu, hujanku jadi memilu beku.
Tuesday, 15 November 2016
Devin, Tell Me About Losing.
Aku memandangi langit kosong. Pukul 2 siang, pada parkiran mobil di lantai teratas pada sebuah gedung di Jakarta. Terlalu cerah. Mataku menyipit. Sementara daguku bertopang pada kedua tanganku yang aku letakan di atas tembok.
Devin belum juga menoleh kepadaku sejak aku ceritakan semuanya. Semuanya, yang berlarian pada otakku belakangan ini. Seolah dia juga sibuk bersama isi otaknya. Kupandangi alisnya yang bertaut juga dahinya yang kerap kali berkerut. Aku tahu dirinya sedang merutuki sesuatu.
Terkaanku mengatakan dia sedang merutuki aku. Ya, sepertinya dia juga jadi kesal melihat segala kebodohanku. Yang seperti kaset rusak, memutarkan cerita yang itu-itu saja.
Menyadari aku yang ikut diam, ia baru menoleh kepadaku.
"Begini, Laras. Semua hal punya kapasitas idealnya masing-masing. Maka logikanya, selalu butuh melepaskan untuk bisa menerima. Jika kamu ingin mempertahankan yang lama namun ingin juga menerima yang baru, artinya kamu serakah."
Kini giliran alisku yang merapat. Aku tak paham makna 'serakah' yang ia lontarkan.
Devin merapikan beberapa helai rambutku yang tertiup angin.
"Ingat pelajaran tentang seleksi alam?" Tanyanya sambil menatap kedua bola mataku.
Aku mengangguk pelan. Kadang, tatapan Devin yang seserius itu membuat aku malah jadi takut. Jadi tegang dan tak keruan sendiri.
"Kita semua belajar seleksi alam, Laras. Dan perpisahan adalah bukti empirisnya. Kehilangan adalah makna dari teori itu." Ucapnya tersekat sedikit. Seolah ia pun tak tahu dari mana kata-kata itu berasal.
"Tapi, mengapa mereka seolah benar-benar hilang, hingga dasar bumi? Maksudku, lagipula sebagian dari temanku tetap ada untukku dan mampu bertahan ketika kami menghadapi permasalahan yang sama. Mengapa yang pergi itu, harus benar-benar pergi? Mengapa yang hilang itu harus benar-benar hilang?"
Devin berpikir sejenak. Tidak lama, hanya dua hingga tiga detik. "Ya itulah fungsinya seleksi alam, Laras. Kita jadi tahu mana yang mampu bertahan dan tidak. Lagipula, hasil dari seleksi alam pasti hasil yang terbaik. Begini saja, bagaimana jika dinosaurus berhasil lolos dari seleksi alam? Pasti manusia tidak akan sebanyak sekarang. Paling hanya satu persen yang mampu bertahan untuk sampai ke abad ini."
Aku mendengus pelan. Analogi Devin tentang seleksi alam sama sekali tak dapat aku sanggah. Ia sepenuhnya benar. Tapi menurutku, teori dinosaurus itu... Entahlah. Itu bukan perbandingan yang setara. Aku sedikit jengkel mendengarnya.
"Sekarang, mengapa kamu tidak memikirkan orang-orang yang tetap ada untukmu? Yang tetap ada walaupun telah menghadapi seleksi alam? Bukankah itu lebih bermakna? Menghargai yang tetap ada dibandingkan meratapi yang telah hilang?" Celoteh Devin sembari, lagi-lagi, menatapku tepat pada bola mataku.
Aku tertunduk. "Entahlah."
Tidak, aku berdusta. Karena faktanya aku sangat tahu.
Yang sangat membuatku tak bisa melepaskan mereka yang tidak lolos dalam analogi "seleksi alam" versi Devin ialah, mereka adalah orang yang aku harapkan bisa bertahan. Mereka adalah orang yang aku pikir akan selalu ada. Sehingga jauh sekali, aku telah menyiapkan tempat khusus untuk mereka. Tapi tempat itu kosong, begitu saja. Bahkan, bagiku, analogi "seleksi alam" pun tak pantas menjadi jawabannya. Padahal tak ada alasan lain selain itu.
Pun aku memang selalu begitu, terjebak pada khayal yang kubangun sendiri. Tersesat karena tindakanku sendiri. Membuat tembok baru pada satu ruang. Dan tembok itu menjamur, berkembang biak hingga menyulitkan ruang gerak.
"Sudah, jangan terus berkutat pada batin yang kusut seperti itu." Pria itu menghela nafas. "Asal kau tahu saja, aku pun tak bisa pastikan apa yang akan terjadi pada esok hari. Aku pun tak tahu apakah aku akan menjadi orang yang lolos seleksi alam dan terus ada untukmu. Percayalah, ketakutan terbesarku adalah ketika aku membuat kesalahan karena terlalu banyak menjelaskan."
Kini giliran aku yang memandanginya. Ia memandangi langit kosong. Sebegitunya, kah?
Maksudku, sebegitu tidak pastinya hari esok itu?
Jika memang benar, maka aku harus bersiap.