Tuesday, 1 March 2016

An Entire Galaxy.

When I was hoping a single planet,
You, yes you, came like an entire galaxy to me.
Dan semua ini, membuat gue percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah. Semuanya terbayar, setelah gue mengalami patah jutaan kali karena orang yang sama, setelah segalanya menyerupai badai yang tak kunjung habis, setelah segalanya serumit benang kusut, someone else comes and makes me forget about all the pain. Ini terlalu seperti fairytale buat gue, sungguh. Gue pun gak pernah nyangka kalau gue akan merasakan semua ini. Dia, terlalu seperti tokoh dalam novel teen-romance yang sering gue baca. Yang penuh kejutan dan gak pernah terbaca. Serius. Tapi, sebanyak apapun novel yang sudah gue baca, gak ada surprise yang sama seperti apa yang sudah dia berikan ke gue. Okay, mungkin bentuk fisik dari surprise itu sama seperti apa yang ada dalam novel. Tapi cara dia menyampaikannya, itu gak pernah sama. Tidak pernah ada. Atau mungkin pernah ada, tapi ini yang pertama kalinya bagi gue.
Dan semua itu, semua perasaan elated and euphoria at the same time itu, dia yang mengenalkannya kepada gue. Rasa terkejut dan panik yang baru gue rasakan seperti itu, dia yang mengajarkan. Perasaan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, dia yang berikan.
Gue gak pernah tahu ke depannya akan seperti apa, tapi setidaknya dia akan menjadi tokoh penting dalam sejarah hidup gue. Kan, kemarin-kemarin, gue sudah belajar banyak tentang hal-hal yang tak disangka-sangka. Jadi, gue gak mau terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. We’ll see.
Sementara orang yang telah mengajarkan gue untuk lebih bersabar, alias yang mengenalkan gue bagaimana rasanya patah hati, sekarang menjadi teman gue. Entahlah, semuanya berlalu begitu saja.
Sekali lagi, gue ngerasa sangat beruntung menjalani semua ini. Karena gue yakin, gak semua orang seberuntung gue. Gak semua orang pernah ngerasa nelangsa sedalam gue, juga bahagia sesuper gue. Kalau saja gue punya waktu, maka izinkan gue untuk menceritakan lebih dalam dan lebih jauh. Doakan saja, semoga ceritanya bertambah baik!

Tuesday, 16 February 2016

I Saw You.

When i looked up to the mirror,
I saw you.
I saw a million of questions.
With a deer,
It was deeper than i thought.

It was not only about your eyes
But deeper than that,
I didn't see who you really were.

Who you really are for the next second, next minute, hour, and forever.

I needed to know
Because you were a part of my puzzle
But i said it once more,
You were my unsolved riddle.
And it gonna hunts me every night
Under my closed eyes.

Friday, 12 February 2016

Behind The Window.

And it still the same.
You were standing there
Right between the cold of drizzled
And wiped eyes.
You were a silhouette and a shadow
Behind the window
At the same time.
With a frozen mouth
I knew there were words that left
Unsaid.
But we have always been used to be alike.
You, stand under the ground
While I stand to face the sky
And we didn't wanna give up for each other.
We've been stuck on our own eyes
That blind because of the dark and the light.
We wouldn't be moved
To get closer
Or furthermore.

Saturday, 23 January 2016

It's (Almost) Over.

00.48 dan kantuk belum juga menyerang gue. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya gue benar-benar tak bisa tidur. Otak gue terus berpikir dalam temaram dengan kantung mata yang menghitam. Sementara di luar sana, jangkrik menjadi suara malam yang tertangkap indera pendengar. Tubuh gue sudah melemah, sungguh. Tapi daya pikir gue masih memaksa gue untuk bekerja. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
Sekarang, beberapa perkara dalam hidup gue seolah menemukan titik terangnya secara perlahan. Semuanya kembali berubah, berkembang. Tapi tetap meyisakan tanya bagi gue. Matahari yang akan muncul dan berpulang itu, tiap kalinya melahirkan perkembangan baru. Gue gak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena gue rasa ini masih terlalu mengira-ngira. Namun gue rasa, semuanya akan segera berganti tema.
Gue rasa semuanya akan segera berakhir.
Gue rasa gue telah mengerti kenapa semuanya dibuat serumit ini. Sekiranya memang bisa gue umpamakan, maka jawabannya adalah ketika sore itu. Ketika tawa itu berguguran. Dan gue gak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana, karena gue gak bisa menjelaskannya lebih baik lagi. Kalimat gue masih saja miskin sampai rasa yang ada gak bisa terjamak oleh kata. Dimana kita hanya bertemu dalam perjalanan. Dimana gue hendak pergi dan kamu hendak pulang. Hanya itu. Tidak tertulis sebagai manusia yang harus memberi penjelasan, berbagi kata.
Hanya saja gue dan kamu mungkin sama-sama tak pernah terpikir bahwa kita pernah melintas pada jalan yang sama. Pada pikiran yang sama. Dan—mungkin—pada rasa yang sama. Kita terlalu banyak mengabaikan. Atau hanya menebak-nebak, menganalisa.
Ini kesalahan siapa? Gue pun gak tahu. Gak bisa menyalahkan siapa pun. Hingga akhirnya segalanya perlahan bertambah rumit. Gue mendengar kabar ini, itu. Kemudian membuat kesimpulan sendiri. Kemudian membenci sendiri. Kemudian semuanya bertambah kabur, blur. Kemudian gue berbelok, dengan kompas yang ternyata salah.
Dan kita bertemu lagi. Tapi gue udah terlanjur tersesat. Gue sudah terlanjur melewati hutan berduri dan terkena cakaran hewan buas hingga hampir mati. Mungkin kamu gak tahu itu, gue pun tak tahu apa yang menjadi perjalanan kamu selama gue tersesat itu. Tapi percayalah, segala atmosfer dan cahaya mentari yang kita terima bahkan berbeda. Gue bahkan telah bisu, untuk kamu. Karena diperjalanan itu, gue katakan lagi, gue sudah termakan berita buruk itu. Hingga akhirnya gue sendiri bingung, sebetulnya gue ini masihkah yang dulu atau sudah bukan?
Tapi menyadari bahwa kita bahkan melewati perjalanan yang berbeda, maka ada baiknya gue bersiap-siap untuk berkemas dan pulang ke rumah. Bersiap-siap belajar untuk mengosongkan hati, sebelum terkena duri yang baru lagi. Pintarlah sedikit, wahai anak muda. Bahkan pada pertemuan pertama kita dalam perjalanan, kamu hendak pulang ke rumah. Untuk kemudian memulai perjalanan baru, yang bukan untuk gue, seperti apa yang diberitakan. Ini mungkin kesimpulan yang salah, tapi setidaknya hanya petunjuk ini yang gue punya. Gue harus mengakhiri perjalanan ini, pulang dan bersiap untuk segala kemungkinan yang baru.

Friday, 8 January 2016

Stay.

Jerawat gue semakin menjadi. Itu bikin gue keki setengah mati.
“Lagi banyak pikiran, ya?” pertanyaan seperti itu tiba-tiba bermunculan. Gue hanya bisa mengangkat bahu sebelum akhirnya gue menyadari bahwa memang iya, terlalu banyak pikiran yang menyesaki otak gue hingga mata gue terasa berat.
Tatapan gue sering kosong belakangan ini. Malah, yang nyebelin adalah ketika teman-teman gue mendadak menyanyikan lagu Geisha yang liriknya, “Lumpuhkanlah ingatanku….” Apalah, gue tidak tahu judulnya. Mereka gak akan berhenti bernyanyi sebelum akhirnya gue sadar bahwa gue telah melamun, lagi. Atau yang lebih gila adalah ketika teman sekelas gue tiba-tiba melambai-lambaikan tangan depan muka gue, atau melakukan atraksi lainnya seperti menari atau mengagetkan gue.
Gue juga gak tahu kenapa gue bisa sebegininya. 2016 belum genap sebulan, tapi masalah baru bermunculan terlalu cepat. Seperti perkembangbiakkan amoeba yang tidak dapat terkontrol. Semuanya. Gue gak bisa menceritakan satu per satu karena bisa-bisa kalau gue tulis semuanya, maka rangkaiannya bisa menjadi novel trilogi. Hm, gue nampaknya harus memutar otak untuk memberi tiga judul novel yang hikmahnya masih amat-sangat absurd ini.
Tapi yang jelas adalah, semua terjadi bersamaan. Tanpa jeda. Menyerang gue bertubi-tubi hingga rasanya gue penat sendiri. Gue butuh tameng, sungguh. Atau setidaknya, gue perlu tempat beristirahat. Berteduh, mengambil sedikit napas untuk bisa melanjutkan semuanya.
Malah terkadang, gue jadi ingin pindah negara saja. Tapi, kalau gue pindah negara, nanti gue ketemu manusia baru lagi. New people, new fights, new problems, new stories, tanpa belum tentu menutup hubungan gue dengan old people, old fights yang mungkin masih to be continued, old problems yang juga mungkin masih butuh penjelasan, dan old stories yang mungkin belum menemukan ending-nya.
Kalau begitu, gue pindah planet saja. Serius, gak-papa. Kalau memang itu better and worth it, why not? Asalkan nanti di planet baru gue, gue tetap bisa shalat dan beribadah, makan yang banyak, minum yang enak, tidur nyenyak, dan merasa all fine all good. Terus minimal, gue bisa balik ke bumi seminggu sekali, pake pesawat ruang angkasa rongsokan yang ada di Jakku juga gak-papa. Selanjutnya gue bersekolah di sana. Mungkin di sana juga KKM-nya lebih rendah daripada sekolah gue. Atau setidaknya, gravitasi di sana bisa jadi lebih kecil, bahkan gak ada. Lumayan, nanti pelajaran fisika jadi lebih mudah karena jika gravitasi benar-benar nol, maka sesulit apapun soalnya, jika dikalikan dengan gravitasi yang bernilai nol maka hasilnya akan nol juga. Kemudian di sana nanti gue bisa melihat bintang dengan jelas jika planet yang gue tinggali tidak berkabut. Uh, senangnya. Dan kalau planet itu punya banyak satelit, maka gue akan melihat lebih dari satu satelit dalam waktu bersamaan. Tidak seperti bulan yang hanya satu dan tak selalu hadir.
Sekarang gue malah garuk-garuk kepala. Sepertinya gue sudah mulai error. Karena faktanya, gue akan tetap mencintai bulan. Gue selalu suka bintang. Gue selalu kagum pada langit. Maka ini pertanda bahwa gue harus tetap di sini karena gue harus bertanggungjawab atas apa yang gue sayangi beserta segala resikonya. Ya, sudahlah. Gue menetap di bumi. Lemme' fight.

Monday, 21 December 2015

Lord, It's 2K!!!

2000 Viewers!!! Hahaha, gue masih gak nyangka ternyata ada aja yang mau baca cerita konyol hidup gue. Gak ada kerjaan, ya? Nganggur, ya? Sama, gue juga yang nulis lebih gak ada kerjaan lagi, hehe. But, most of all, gue sebagai pelaku sejarah mau mengucapkan 2000 terima kasih untuk 2000 viewers ini! Terima kasih telah menjadi penyemangat terbesar gue dalam menulis dan telah menjadi motivasi gue dalam meluruskan sejarah hidup gue secara tertulis. Much love!♥.
Gue juga ingin berterimakasih untuk siapa-siapa saja yang telah menjadi tokoh dalam cerita ini. Tanpa kalian, gak akan ada cerita hidup gue yang macam nano-nano ini. Sekaligus gue ingin menghaturkan maaf apabila dalam cerita ini ada yang tersinggung atau sebagainya, gue sama sekali tidak bermaksud demikian karena tujuan gue hanya ingin meluruskan sejarah, sehingga yang gue tulis harus berdasarkan apa yang sesungguhnya gue lihat dan gue rasakan. Tetapi apabila ada yang ingin membetulkan dalam penulisan sejarah ini, maka silahkan bicarakan kepada saya.
Mungkin emang kurang berguna tulisan gue ini. Ya, gue sendiri gak tau gunanya apa nulis sejarah ini. Tapi anggap sajalah cerita gue ini sebagai dongeng, yang hikmahnya masih simpang siur. Yang ending-nya baru bisa terbaca ketika tinggal nama gue yang terkenang. Ketika gue memang sudah tidak bisa menulis lagi. Atau ketika gue benar-benar sibuk dan menyerah untuk menulis.
Setidaknya gue hanya ingin berbagi lebih luas. Karena gue tahu bahwa manusia punya batas, maka biarkan gue berlari tanpa batas. Anggap saja ini sesuatu yang gue bagikan, yang tak pernah berbatas, yang tak pernah memaksa, dan tidak pernah mengharapkan balasan apapun. Cukup menerimanya, maka kamu telah mendapat satu doa dan a bunch of thanks dari gue.
Semoga kalian, para pembaca, tidak pernah bosan untuk membaca tulisan gue. Teruslah menjadi lentera gue, penerang dalam gelap gue sehingga gue selalu tahu bahwa ada yang bisa gue jadikan sebagai tempat berteduh. Sekali lagi, terima kasih dan selamat membaca!

Friday, 18 December 2015

Connected.

Lalu sekarang, doa gue hanya untuk diluruskan. Maksud gue, cukuplah bermain dengan pikiran, yang ternyata tak selalu sesuai dengan kenyataan. Sudahlah bertarung dengan teka-teki gila, yang hanya membuat gue pusing dan termenung. Bukannya itu membuang waktu? Berakhir sajalah, gue ingin memutus tali itu, tali yang seolah khayal namun terus menghubungkan gue dengan dia.
Tapi itu masalah terbesarnya. Tidak tahu bagaimana gue bisa merasa seperti ini, hanya saja sosoknya seolah selalu ada, padahal wujudnya tidak ada di sana. Padahal gue tidak melakukan apapun, tidak berusaha menemuinya, tapi ujungnya bertemu juga. Padahal gue sudah berusaha pergi sejauh-jauhnya, tapi ujungnya malah bertambah dekat. Padahal gue sudah menjadi sosok yang munafik, yang selalu berkata tidak, tapi hati malah semakin berkata iya. Sungguh, ini malapetaka yang paling gila yang pernah ada.
Sudah gue kenakan seribu topeng untuk menghadapinya. Seolah benci, sebenci-bencinya. Tapi matanya seolah tahu, seolah bisa menembus seribu topeng itu, dan bisa melihat apa yang sesungguhnya. Sudah gue bangun tembok besar yang mungkin lebih kokoh dari tembok cina, tapi ujungnya runtuh juga. Sudah gue buat jarak yang selalu diusahakan untuk menyaingi jauhnya Eropa dengan kepulauan kecil jajahan Portugis yang letaknya dekat Hawaii itu, tapi ujungnya pesawat jet tempur milik militer Amerika bisa membuatnya seolah lebih dekat dari nadi sekalipun.
Sepertinya semua itu tak cukup. Tak akan pernah cukup. Kamu harus tahu bahwa tali itu khayal, tapi terlalu mengakar. Terlalu mengikat, hingga menyesakkan dan hampir membunuh. Pertama, tali terkuat bagi gue adalah persahabatan gue sendiri. Entahlah, ini terlalu sensitif untuk di bahas sesungguhnya, tapi kamu harus tahu bahwa sahabat gue-lah yang membuat semua ini terjadi. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang telah merusak segala kepercayaan gue terhadap sahabat gue itu, dan salah satu penyebabnya adalah tali khayal ini.
Kemudian ada saja kejadian yang aneh, yang tidak pernah menjadi pertimbangan bagi gue untuk menjadi barisan tali-khayal-terkutuk ini, yang menghubungkan gue dengan dia. Misal, tiba-tiba ada yang membicarakan dia di dekat gue, atau malah membicarakan dia kepada gue. Hal ini masuk ke dalam salah satu faktor karena rata-rata orang yang gue kenal juga mengenal dia. Kan sial. Padahal gue sudah berusaha untuk tidak membicarakan dia lagi.
Dan yang tali yang terakhir adalah jarak nyata kami. Secara geografis, jarak kami di tempat kami menimba ilmu tidak lebih jauh dari dua ruang yang terhubung oleh tembok. Bersebelahan. Erat. Bagaimana cara mendustai itu?
Kini semua terasa seperti gue yang terlalu hedon. Wahai cahaya sebelum fajar, tidakkah kamu melihat bahwa gue telah membanting segala perasaan dan pikiran untuk memutus semua tali itu? Wahai gelap sebelum mentari berpulang, tidakkah kamu mengerti bahwa aku hampir kehabisan nafas karena terus terhubung dengannya?
Atau kah ada takdir lain yang tak terlihat?
Ini semua terlalu tidak rasional. Otak gue sepertinya tidak sanggup untuk memecahkan teka-teki ini. Di tambah lagi, ada sesuatu yang tersembunyi, yang berhubungan dengan dia, yang tidak terlalu tertutup namun memakan waktu yang lama. Apa itu? Gue pun tidak tahu. Kunci itu baru akan diberikan ketika hari kelulusan nanti. Kurang-lebih 500 hari lagi. Gue harap gue sanggup menunggunya dan semoga cerita ini belum berganti tema hingga hari ke-500 itu datang.