Saturday, 9 September 2017
Di Antara Daun Gugur.
Saturday, 1 July 2017
Jarak.
Mata ini enggan terpejam lagi. Padahal, ia baru mau beristirahat tiga jam yang lalu. Namun rasanya memang mataku terlalu berat untuk kembali tertutup. Pun matahari yang semakin meninggi membangunkan hasratku untuk membuka jendela kamar.
Sinar matahari menerangi kamarku. Debu-debu tampak berterbangan. Aku semakin sadar mataku menyipit. Sesak itu kembali menyerang.
Malam tadi, suaranya yang parau itu lebih terdengar seperti belati yang menyayat perasaan. Tanpa perintah, takutku yang menggunung sejak beberapa pekan yang lalu tumpah semua. Dadaku terhimpit penuh oleh rasa yang senada dengan apa yang menggontaikannya.
Ia memanggil namaku pelan.
"Apa?" Sahutku dengan usaha penuh agar suaraku terdengar biasa saja.
"Maafkan aku," katanya, lagi, dengan suara parau. Sebuah maaf yang tak perlu kutanya lagi konotasinya.
Aku bisu. Tak kusadari ternyata pipiku telah basah juga.
Aku mendengar ia menelan ludahnya. Aku paham, rasanya pasti pahit. Sangat pahit. Aku terlalu mengenalnya. Meski lewat ujung telepon, aku tetap bisa lihat wajahnya saat ini yang getir tak terjabarkan.
Aku berusaha tertawa. Tapi hasilnya, tawa itu malah bercampur dengan isak yang tak bisa lagi kusembunyikan. Tangisku semakin menjadi-jadi.
Hening. Kami berdua sama-sama sibuk membenahi air mata.
"Iya, gak papa, kok," akhirnya aku yang angkat bicara. "Asalkan kamu baik-baik saja, aku gak papa," dan semua orang tahu ini terlalu klise. Tapi aku rasa, jika kau yang ada di posisiku, kau juga akan mengucapkan kalimat yang sama.
Seketika tanganku mengeratkan pelukannya kepada bantal yang terlanjur kubasahi. Tenggorokanku tercekat.
Semesta memang terlampau ajaib. Sungguh, baru aku tahu bahwa perasaan bisa semengacaukan ini. Atau aku juga pernah kacau, tapi kukira kali ini aku tak akan lagi berjumpa dengan perasaan macam ini. Dia, terlalu baik, terlalu menyayangi untuk mengacaukanku. Hingga sempat aku bertanya, memangnya hal apa yang dapat memisahkan aku dengannya? Ternyata ini; jarak.
Pun aku tanyakan seperti apa sakitnya? Ternyata seperti ini; sakit sekali.
Monday, 19 June 2017
Pulang.
Saturday, 3 June 2017
Mengulik Perasaan.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.
Wednesday, 10 May 2017
-
Saturday, 6 May 2017
Takut.
Friday, 21 April 2017
Lagu Cinta.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.
Thursday, 13 April 2017
5K Viewers!!
Belakangan ini aku memang sibuk sekali. Maklum, anak kelas 3 SMA. Ujian ini, itu. Tugas ini, itu. Sampai akhirnya, hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Semuanya terasa cepat, seperti yang orang-orang bilang. Apalagi, pengisi hari-hari akhirku di SMA memang sangat... Hmmm... Spesial. Tapi kita tidak membahas itu kali ini, kan?
Juga, banyak pelajaran baru yang aku dapatkan di masa akhir SMA. Mungkin semua orang juga mengalaminya, tapi aku sangat merasa bersyukur untuk itu semua. Mungkin pada kesempatan selanjutnya akan kutulis dalam tulisan yang lebih menarik.
Pada akhir masa SMA juga, aku tiba-tiba jatuh cinta pada musik indie. Entah ini penting atau tidak, tapi sedikit maupun banyak, lagu-lagu itu membantuku membayangkan suasana tulisanku. Jadi, yang ingin kusampaikan terima kasih ialah pengisi masa SMA, pelajaran yang kudapatkan selama SMA, musik indie, dan tentunya pembaca blog-ku! Salam hangat dan selamat membaca:)
Thursday, 9 February 2017
Gadis.
Kusut sudah hati ia.
Semakin lama, semakin kuat rahangnya. Menghilangkan jutaan kata yang harusnya bisa ia ungkapkan. Tapi apalah, ia hanya gadis berumur 17. Hanya perempuan yang punya hati berbentuk kubus. Yang bisa penuh oleh perasaan apapun.
Maka apa yang ditangkap oleh indra perasanya, apa yang dilihat matanya, apa yang didengar oleh telinganya, bisa jadi merubah apapun keadaan hatinya. Bisa jadi cerah maupun gundah. Tak suka ia melihat apa-apa yang membuatnya dipenuhi perasaan cemburu, atau apapun yang sejenis dengan rasa itu. Sedangkan ia suka ketika merasa begitu diperhatikan, atau apapun yang setara dengan makna itu. Bukan, bukan artinya ia tak berpikir panjang. Tapi kau tahu bahwa ia hanya gadis berumur 17, yang sudah menjadi kodratnya untuk mudah saja terbawa perasaan pada saat-saat tertentu. Lagipula, bukankah semua manusia begitu?
Pahamilah, ia hanya seorang gadis berumur 17. Yang tidak menuntut apapun. Hanya saja, kau tahu bahwa sannya naluri semua gadis menyukai satu hal: dilambungkan hatinya. Bukan, bukan artinya ia haus pujian atau perhatian. Namun, bukankah bentuk meja tak selalu kotak? Lalu, mengapa pula tak membuat bentuk lain sebagai ungkapan sayang? Yang diucap, yang diungkap. Yang dibuat, yang direncanakan.
Ia menarik nafas dalam-dalam. Mendelik, sesaat memandangi apa yang mengusutkan hatinya.
Bukan, bukan ia ragu. Tapi ia hanya perlu.
Mungkin ia terlalu berharap diberi apa yang ia ingin. Tapi sesungguhnya ia juga paham bahwa kau hanya ingin memberi apa yang kau yakini.
Gundah sudah. Ia pun tak dapat menyalahkan siapa-siapa yang ada di muka bumi. Tak ada yang terucap, tak ada yang terungkap.
Tidak, ia tidak hendak menyalahkan kau. Pun semoga kau mengerti bahwa ia hanya gadis berumur 17, dengan hati berbentuk kubus.