Saturday, 9 September 2017

Di Antara Daun Gugur.

Adalah matahari,
Yang memancar sinarnya kepada kaca bis yang kutumpangi. Daun-daun jatuh di luar sana. Para penyapu jalan tampak sibuk dengan sapunya, menggiring daun ke samping jalan. Sedangkan aku di sini, terduduk diam pada hari sabtu di sebuah bis tua. Aku tak lagi ingin bicara dengan orang lain. Memangnya aku duduk dengan siapa?
Senyum pahitku mengembang. Lagu di telepon genggamku terus mengalun. Ada seorang penyanyi dengan gitarnya memenuhi ruang di telingaku.
Aku sendirian.
Aku tak paham mengapa bisa rindu menjadikan aku sebagai konsumen lagu-lagu sendu seperti ini. Pikirku jadi terbawa jauh.  Aku memejam mata sesaat. Ada kau di ujung mataku, tapi hanya sedetik.
Aku membuka mata dan masih duduk di bis tua. Sinar matahari masih menyusup di antara daun-daun yang gugur. Aku juga bisu dengan segala perasaan dengan nama rindu berkecamuk dalam dada. Aku ingin pulang.
Atau bergantian, kau yang datang kemari.

Namun aku tahu bahwa sannya kita manusia dan tak memiliki sayap. Kita manusia yang terkurung dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Lalu dengan alasan itu, kau maupun aku menjelma menjadi sekadar suara di ujung telepon pada sisa waktu sebelum tidur.

Saturday, 1 July 2017

Jarak.

Mata ini enggan terpejam lagi. Padahal, ia baru mau beristirahat tiga jam yang lalu. Namun rasanya memang mataku terlalu berat untuk kembali tertutup. Pun matahari yang semakin meninggi membangunkan hasratku untuk membuka jendela kamar.
Sinar matahari menerangi kamarku. Debu-debu tampak berterbangan. Aku semakin sadar mataku menyipit. Sesak itu kembali menyerang.
Malam tadi, suaranya yang parau itu lebih terdengar seperti belati yang menyayat perasaan. Tanpa perintah, takutku yang menggunung sejak beberapa pekan yang lalu tumpah semua. Dadaku terhimpit penuh oleh rasa yang senada dengan apa yang menggontaikannya.
Ia memanggil namaku pelan.
"Apa?" Sahutku dengan usaha penuh agar suaraku terdengar biasa saja.
"Maafkan aku," katanya, lagi, dengan suara parau. Sebuah maaf yang tak perlu kutanya lagi konotasinya.
Aku bisu. Tak kusadari ternyata pipiku telah basah juga.
Aku mendengar ia menelan ludahnya. Aku paham, rasanya pasti pahit. Sangat pahit. Aku terlalu mengenalnya. Meski lewat ujung telepon, aku tetap bisa lihat wajahnya saat ini yang getir tak terjabarkan.
Aku berusaha tertawa. Tapi hasilnya, tawa itu malah bercampur dengan isak yang tak bisa lagi kusembunyikan. Tangisku semakin menjadi-jadi.
Hening. Kami  berdua sama-sama sibuk membenahi air mata.
"Iya, gak papa, kok," akhirnya aku yang angkat bicara. "Asalkan kamu baik-baik saja, aku gak papa," dan semua orang tahu ini terlalu klise. Tapi aku rasa, jika kau yang ada di posisiku, kau juga akan mengucapkan kalimat yang sama.
Seketika tanganku mengeratkan pelukannya kepada bantal yang terlanjur kubasahi. Tenggorokanku tercekat.
Semesta memang terlampau ajaib. Sungguh, baru aku tahu bahwa perasaan bisa semengacaukan ini. Atau aku juga pernah kacau, tapi kukira kali ini aku tak akan lagi berjumpa dengan perasaan macam ini. Dia, terlalu baik, terlalu menyayangi untuk mengacaukanku. Hingga sempat aku bertanya, memangnya hal apa yang dapat memisahkan aku dengannya? Ternyata ini; jarak.
Pun aku tanyakan   seperti apa sakitnya? Ternyata seperti ini; sakit sekali.

Monday, 19 June 2017

Pulang.

Tak kutarik lagi selimutku. Sebab kini aku paham, dingin ini bukan perihal angin malam yang menyusup ke kamarku, namun rindu yang menggunung hingga tumpah ruah menjadi laut pada pipiku. Suara serangga bersahutan pada pukul 02.21 pagi ini. Aku urung menyalakan lagu. Aku rasa aku butuh keheningan untuk menulis kerinduan atas kepulangannya yang hampir dua tahun berlalu.
Rindu ini memang tak pernah habis, tak pula padam. Bak air hujan yang punya siklusnya sendiri—jatuh, menguap, menjadi jenuh, lalu jatuh lagi. Atau bak api yang membakar rumah yang terus menyalak, tak peduli berapa yang habis akibat egonya itu.
Namun aku tak bilang bahwa rindu ini buruk. Karena kenyataannya, rindu ini memaksaku untuk mengalah. Ia tunjukkan betapa untuk mengusirnya ialah sebuah kemustahilan. Jadi tak ada daya bagiku untuk menghilangkannya. Ia hidup kekal, sekekal-kekalnya dalam darahku.
Juga betapa rindu kala ia berkonspirasi bersama waktu, menegarkanku. Menguatkan sayap-sayap yang patah. Membisik bahwa rindu tak meminta untuk diratapi, tapi hanya untuk dimengerti—yang telah pulang itu tak ingin pulang untuk melukai. Rindu bilang, memori yang berputar itu hanya ingin menyadarkanku bahwa yang telah pulang itu benar mencintaiku, tulus menyayangiku. Maka tugasku ialah untuk menjadikan ke-pernah-adaan-nya untuk membangun aku yang kuat menghadapi matahari besok.
Dan betapa kerinduan ini membuat aku tahu, bahwa kepulangannya tak pernah sia-sia. Betapa kepulangannya telah membuka mataku lebar-lebar, membuat aku paham bahwa sayang yang sesungguhnya ialah yang saling menyebut dalam doa. Ialah yang mau bertindak lebih. Ialah yang selalu merindu. Ialah yang berharap terbaik untuknya dan selalu mengikhlaskannya.
Sungguh, kepulanganmu telah menghadirkan rindu yang luar biasa—bukan sekadar rindu yang menuntut pertemuan. Namun rindu yang mengajarkan aku sebuah ketabahan.
Aku yakin, masih ada seribu pelajaran yang Allah siapkan untukku atas kepulanganmu dan aku siap untuk itu.

Untuk itu, Pa, terima kasih sudah pulang kepada-Nya.

Saturday, 3 June 2017

Mengulik Perasaan.

Malam ini aku yang mengulik perasaan. Karena kemarin kau yang bilang ada jalan yang panjang di balik rasa yang kita punya. Ada medan yang berat untuk menjalaninya. Ada jurang yang curam yang bisa membunuh kita. Ada hutan yang gelap yang bisa menyesatkan. Ada tanjakan terjal yang mampu membuat kita terjatuh.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.

Wednesday, 10 May 2017

-



Dapur rumahku dingin. Mama juga sudah jarang memintaku untuk membeli gas ke warung seberang. Tugasku jadi berkurang satu—membeli sayuran ke warung Bu Onih. Meja makan tak pernah lagi menjadi tempat bertemu keluarga atau sekadar menyahut satu sama lain untuk makan bersama.
Juga ruang TV-ku. TV tak pernah menjadi alasan lagi untuk kedua adikku berseteru, berebut channel di TV. Atau menjadi alasan kami menggelar karpet agar kami dapat menonton TV bersama-sama. Kemudian bapa yang menentukkan channel apa yang akan kami tonton—tidak ada yang berani menentangnya. Lagipula, pada akhirnya kami selalu menikmati acara apapun yang kami tonton bersama.
Kamarku jadi makin jarang dibersihkan. Tidak ada lagi yang menegur aku untuk merapikan kamar dengan suara yang menggelegar. Tidak ada lagi yang bilang, “mana ada cerita disney yang putrinya pemalas?”. Atau beliau sendiri yang membereskan rumah sehingga semuanya ikut berbenah juga.
Atau berebut bantal ternyaman sedunia dengan kakakku. Siapa yang memeluk bantalnya terlebih dahulu, berarti dia pemilik bantal pada malam itu. Tapi kalau tetap ingin bantalnya, maka aku harus berjuang untuk merebut bantalnya.
Segalanya. Mama yang selalu sabar. Bapa yang suka marah namun terkadang lucu. Teteh yang juga suka marah namun sangat perhatian. Adik laki-lakiku bandel karena selalu pergi ke rental PS dan suka bikin mama pusing juga adik perempuanku yang sangat dimanja oleh bapa.
Semuanya hilang. Sirna. Bapa dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mama semakin keras bekerja demi  keluarga. Kakakku juga semakin fokus pada karier dan pendidikannya. Adik laki-lakiku yang memilih pesantren sebagai tempatnya menimba ilmu serta adik perempuanku yang kini sudah SMP dan sibuk dengan kehidupan remajanya.
Dan aku juga akan segera sibuk. Menjadi seorang mahasiswa tentu akan membuat jadwalku semakin padat. Mengurusi berkas pendaftaran saja sudah membuatku pening, hahaha.
Tapi detik ini, bukan itu yang mengganggu pikiranku. Aku hanya rindu. Rindu akan sore yang kuisi dengan mengiris bawang dalam rangka membantu mama masak untuk makan malam. Rindu pula dengan berebut remote TV agar dapat memilih sesukaku acara mana yang ingin kutonton. Rindu juga dengan berbenah kamar dengan perasaan gondok karena habis dimarahi bapa. Rindu berebut bantal dengan kakakku.
Rindu juga disuruh mama belajar masak. Rindu juga menjadi tempat adik laki-lakiku mengadu ketika dimusuhi kakakku dan adik perempuanku. Rindu juga diajak ke pasar bersama bapa dan membeli ikan. Atau bersama-sama pergi ke mall, lalu kadang dimarahi bapa karena aku, kakakku dan adikku suka membuat keributan di tengah-tengah keramaian. Rindu juga diledek bapa karena aku kadang memasang wajah jutek.
Tapi waktu begitu kejam. Di sini aku ditinggal begitu saja bersama memori yang terus berputar. Sedangkan semuanya tak bisa kuulang lagi dalam dunia nyata.
Kalau sekarang aku sedang di tepi pantai, maka aku ingin menangis sejadi-jadinya. Biar jelas, air mataku bersatu dengan air laut. Kan, bapa juga sudah menjadi bagian dari tanah di bumi. Siapa tahu air mataku bertemu dengan tanah yang dulunya adalah sosok bapa. Biar dia tahu di sini aku terus-terusan kangen sampai tak bisa lagi kutahan air mataku.
Tapi sayangnya kini aku sedang di kamar. Mama di ruang tengah. Kakakku juga belum pulang kerja. Adikku yang laki-laki mungkin sedang belajar membaca kitab di pesantren. Sedangkan adik perempuanku sedang asik bermain gadget.
Dan aku sendirian di kamar. Menulis tentang rindu.

Saturday, 6 May 2017

Takut.



Stasiun kereta. Halte bis. Sinar matahari terik yang membakar tubuhku. Semua itu melekat pada memoriku. Bisa kau rasakan, tidak? Satu lamunan di dalam kereta yang tengah melaju—mencipta jarak. Aku tak ingin membahas, namun rasa yang merambat pada dinding intuisiku membuatku takut.
Ceritakan, tentang apa saja yang bergerak menjadi jauh? Apa yang dapat diciptakannya? Waktu yang merayap. Aku tak ingin cepat-cepat. Biarkan ia melambat sejenak dalam khayalku.
Lalu keretaku bising. Roda-roda yang tak pernah kupahami itu hanya mencipta jarak. Lalu jauh. Lalu menelan detik-detik yang aku punya.
Kemudian terpikirlah aku perihal dirinya yang sedang di rumah. Lalu terciptalah rindu.
Sekarang aku paham apa yang lagu rindu resahkan. Nyatanya, jarak dan waktu dengan mudah mengusiknya. Dan rindu, memang tak pernah paham apa yang penderitanya hadapi—jarak dan waktu tak selalu mudah untuk dijamak. Tapi ia seperti memaksa, meronta untuk segera diobati.
Yang aku takut ialah bagaimana jika rindu itu jadi gila? Bak racun yang membuat otakku malah berpikir yang bukan-bukan. Manusiawi saja, bukan?
Ah, dasar jarak. Bisa kuenyahkan saja, tidak?
Tidak. Ia terlalu nyata untuk dihilangkan.
Namun waktu juga tak memberi izin kepada siapapun untuk berhenti.
Sungguh, yang tersisa kini hanya takut. Aku takut aku rindu.
Aku takut kau rindu.
Dan aku atau kau tak menjadi pelipur rindu bagi rindu kita.

Friday, 21 April 2017

Lagu Cinta.

Mungkin laut sedang pasang, bulan sedang naik. Jadilah emosiku tertarik hingga ubun-ubun. Jadilah kacauku tertumpah ruah hingga hatimu. Jadilah rindu yang biasa kusimpan dalam lemari, terlempar keluar.
Aku lebih suka menyalahkan diri sendiri. Ah, lagipula memangnya apa yang dapat kuharapkan darimu? Yang punya bibir tapi hanya dipajang di wajah tampanmu. Yang punya mulut tapi  enggan digerakkan. Yang punya pita suara namun tak mau melagu.
Jadi kutumpahkan saja tintaku kepada lantai yang kupijakkan. Lalu kubentuk kata-kata yang berbunyi, "malam ini kubenci pada kau. Benci atas nama rindu yang tak kau ungkapkan. Benci beralaskan perasaan ingin bertemu. Benci, karena kau tak pernah berkata begitu."
Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku pantas. Bahwa aku cukup untuk menjadi apa yang membuat kau merindu. Kemudian menggerakan kaki kau untuk bertemu denganku.
Tapi kemudian, Bulan berbisik kepadaku. Membisikkan apa-apa yang membuatnya begitu. Katanya, Ia hanya memang tak pandai melagu. Ia memang tak pandai melukis. Ia tak pandai mengungkapkan.
Ia terhalang tembok tinggi dalam benaknya. Tertutup kabut yang membutakannya. Terjebak tanda tanya yang berkutat pada batinnya.
Namun sesaat kemudian, aku ingin menyalahkannya. Mungkin bukan tak pandai, tapi Ia memang tak mau belajar. Lagipula, siapa yang tahu kalau tak diberitahu? Siapa yang sadar bila tak diungkapkan?
"Percayalah, Nak. Lagu cinta tak melulu mengandung kata cinta di dalamnya," Bulan menimpali.

Thursday, 13 April 2017

5K Viewers!!

It's been a long time!!!!!! Setelah sekian lama gak aktif menulis, kukira blog ini akan mati dan sepi. Tapi ternyata dugaanku salah, karena hey! Ini 5K viewers!! Rasanya seketika rindu akan menulis spontan menyerang. Aku rasa, terima kasih saja gak cukup. Mungkin ada baiknya aku ceritakan ke mana saja aku selama ini, hehehe.
Belakangan ini aku memang sibuk sekali. Maklum, anak kelas 3 SMA. Ujian ini, itu. Tugas ini, itu. Sampai akhirnya, hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Semuanya terasa cepat, seperti yang orang-orang bilang. Apalagi, pengisi hari-hari akhirku di SMA memang sangat... Hmmm... Spesial. Tapi kita tidak membahas itu kali ini, kan?
Juga, banyak pelajaran baru yang aku dapatkan di masa akhir SMA. Mungkin semua orang juga mengalaminya, tapi aku sangat merasa bersyukur untuk itu semua. Mungkin pada kesempatan selanjutnya akan kutulis dalam tulisan yang lebih menarik.
Pada akhir masa SMA juga, aku tiba-tiba jatuh cinta pada musik indie. Entah ini penting atau tidak, tapi sedikit maupun banyak, lagu-lagu itu membantuku membayangkan suasana tulisanku. Jadi, yang ingin kusampaikan terima kasih ialah pengisi masa SMA, pelajaran yang kudapatkan selama SMA, musik indie, dan tentunya pembaca blog-ku! Salam hangat dan selamat membaca:)

Thursday, 9 February 2017

Gadis.

Wajahnya merah padam. Mulutnya ia kunci rapat-rapat. Lalu matanya enggan berpaling.
Kusut sudah hati ia.
Semakin lama, semakin kuat rahangnya. Menghilangkan jutaan kata yang harusnya bisa ia ungkapkan. Tapi apalah, ia hanya gadis berumur 17. Hanya perempuan yang punya hati berbentuk kubus. Yang bisa penuh oleh perasaan apapun.
Maka apa yang ditangkap oleh indra perasanya, apa yang dilihat matanya, apa yang didengar oleh telinganya, bisa jadi merubah apapun keadaan hatinya. Bisa jadi cerah maupun gundah. Tak suka ia melihat apa-apa yang membuatnya dipenuhi perasaan cemburu, atau apapun yang sejenis dengan rasa itu. Sedangkan ia suka ketika merasa begitu diperhatikan, atau apapun yang setara dengan makna itu. Bukan, bukan artinya ia tak berpikir panjang. Tapi kau tahu bahwa ia hanya gadis berumur 17, yang sudah menjadi kodratnya untuk mudah saja terbawa perasaan pada saat-saat tertentu. Lagipula, bukankah semua manusia begitu?
Pahamilah, ia hanya seorang gadis berumur 17. Yang tidak menuntut apapun. Hanya saja, kau tahu bahwa sannya naluri semua gadis menyukai satu hal: dilambungkan hatinya. Bukan, bukan artinya ia haus pujian atau perhatian. Namun, bukankah bentuk meja tak selalu kotak? Lalu, mengapa pula tak membuat bentuk lain sebagai ungkapan sayang? Yang diucap, yang diungkap. Yang dibuat, yang direncanakan.
Ia menarik nafas dalam-dalam. Mendelik, sesaat memandangi apa yang mengusutkan hatinya.
Bukan, bukan ia ragu. Tapi ia hanya perlu.
Mungkin ia terlalu berharap diberi apa yang ia ingin. Tapi sesungguhnya ia juga paham bahwa kau hanya ingin memberi apa yang kau yakini.
Gundah sudah. Ia pun tak dapat menyalahkan siapa-siapa yang ada di muka bumi. Tak ada yang terucap, tak ada yang terungkap.
Tidak, ia tidak hendak menyalahkan kau. Pun semoga kau mengerti bahwa ia hanya gadis berumur 17, dengan hati berbentuk kubus.