Wednesday, 12 September 2018
A Letter to Mustika
Thursday, 28 June 2018
Surat untuk Bumi
Saturday, 14 April 2018
tentang aku dan kau; di balik jendela.
Saturday, 9 September 2017
Di Antara Daun Gugur.
Saturday, 1 July 2017
Jarak.
Mata ini enggan terpejam lagi. Padahal, ia baru mau beristirahat tiga jam yang lalu. Namun rasanya memang mataku terlalu berat untuk kembali tertutup. Pun matahari yang semakin meninggi membangunkan hasratku untuk membuka jendela kamar.
Sinar matahari menerangi kamarku. Debu-debu tampak berterbangan. Aku semakin sadar mataku menyipit. Sesak itu kembali menyerang.
Malam tadi, suaranya yang parau itu lebih terdengar seperti belati yang menyayat perasaan. Tanpa perintah, takutku yang menggunung sejak beberapa pekan yang lalu tumpah semua. Dadaku terhimpit penuh oleh rasa yang senada dengan apa yang menggontaikannya.
Ia memanggil namaku pelan.
"Apa?" Sahutku dengan usaha penuh agar suaraku terdengar biasa saja.
"Maafkan aku," katanya, lagi, dengan suara parau. Sebuah maaf yang tak perlu kutanya lagi konotasinya.
Aku bisu. Tak kusadari ternyata pipiku telah basah juga.
Aku mendengar ia menelan ludahnya. Aku paham, rasanya pasti pahit. Sangat pahit. Aku terlalu mengenalnya. Meski lewat ujung telepon, aku tetap bisa lihat wajahnya saat ini yang getir tak terjabarkan.
Aku berusaha tertawa. Tapi hasilnya, tawa itu malah bercampur dengan isak yang tak bisa lagi kusembunyikan. Tangisku semakin menjadi-jadi.
Hening. Kami berdua sama-sama sibuk membenahi air mata.
"Iya, gak papa, kok," akhirnya aku yang angkat bicara. "Asalkan kamu baik-baik saja, aku gak papa," dan semua orang tahu ini terlalu klise. Tapi aku rasa, jika kau yang ada di posisiku, kau juga akan mengucapkan kalimat yang sama.
Seketika tanganku mengeratkan pelukannya kepada bantal yang terlanjur kubasahi. Tenggorokanku tercekat.
Semesta memang terlampau ajaib. Sungguh, baru aku tahu bahwa perasaan bisa semengacaukan ini. Atau aku juga pernah kacau, tapi kukira kali ini aku tak akan lagi berjumpa dengan perasaan macam ini. Dia, terlalu baik, terlalu menyayangi untuk mengacaukanku. Hingga sempat aku bertanya, memangnya hal apa yang dapat memisahkan aku dengannya? Ternyata ini; jarak.
Pun aku tanyakan seperti apa sakitnya? Ternyata seperti ini; sakit sekali.
Monday, 19 June 2017
Pulang.
Saturday, 3 June 2017
Mengulik Perasaan.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.