Sunday, 10 July 2016

Analogi Rindu.

Ternyata, rindu itu punya makna yang mutlak. Artinya, tidak seperti cinta dan sayang yang sebagian orang membedakan maknanya, sementara yang lainnya menyamai maknanya.
Pun rindu, hanya bisa disamai dengan kangen. Tidak ada yang lebih besar atau lebih rendah artinya dari kedua kata itu. Maknanya hanya bisa diperbesar dengan kata sangat dan bisa diperkecil dengan kata sedikit.
Rindu itu hal yang kodrati. Sifat manusiawi yang pasti dimiliki setiap orang. Tak ada hak manusia lain untuk menghalangi rasa itu dan sudah merupakan kewajiban manusia untuk menghargainya.
Juga rindu, tak punya skala pasti. Relatif dan mudah berubah-ubah.
Kadang rindu bisa membawa petaka. Menyebabkan otak lebih banyak berimajinasi, merasa cemas, juga lebih sukar untuk tidur.
Gejala rindu itu ketika diri mulai merasa ada yang hilang. Rasa mencari, terus dan terus. Namun untuk beberapa orang, mereka bisa langsung tahu tujuan rasa itu kepada siapa. Kemudian setelah itu, dalam sela-sela waktu kosong, otaknya otomatis mendireksikan khayal kepada orang yang dirindukan.
Obatnya pun beragam. Tergantung seberapa parah rindu itu. Ada yang cukup dengan menyapa, berbicara melalui telepon, atau harus bertemu. Hanya saja, banyak manusia di luar sana yang mempersulit proses penyembuhannya. Dan 80% penghalangnya ialah mereka kesulitan untuk mengungkapkannya karena gengsi yang melangit.
Penyebab rindu itu terlalu banyak, hingga sulit untuk dijamak. Namun, yang pasti ialah orang yang dirindukan pasti telah memiliki tahta tersendiri. Suatu kehormatan tersendiri. Sudut istimewa yang tak dijumpai pada manusia lain.
Jadi, itu rindu untukku
Dan ini, rindu untukmu.
Kau sudah boleh tidur sekarang.

Saturday, 18 June 2016

Empty Handed.

Mungkin ini saatnya aku kembali menyalakan lampu, setelah cukup lama berbaring pada kasur namun mata enggan tertutup. Mungkin juga ini saatnya aku berhenti mendengarkan semua lagu itu dan mulai berpikir, menemukan sendiri harmoni dari segala pertanyaan ini. Ya, otakku terperangkap pada pertanyaan-pertanyaan gila yang aku ciptakan sendiri. Terlalu banyak kata "mengapa" dengan nada kecewa. Tidak, rasa sesak itu tidak lagi menggebu. Hanya saja, aku masih tak punya akal sehat untuk menjawab segala pertanyaan yang bermunculan ketika mendapati diri tengah memikirkan apa yang telah ia lakukan pada tempo lalu.
Mengapa bisa? Mengapa dalam waktu yang terbilang singkat, ia mampu menjatuhkan aku sebegini dalam?
Terlalu lengah. Aku jadi tahu bahwa berekspektasi baik tak selalu berbuah baik. Aku terlalu menghargai apa yang telah ia berikan. Terlalu berlebihan dalam menilai kebaikannya, sehingga aku telah merasa terbawa jauh. Juga menganggap aku akan selalu terbangun pada pagi yang berbeda, namun mengisi hari itu dengan orang yang sama. Memasukannya pada kepastian hari esok, esok, dan esoknya lagi. Menjadikannya pengisi hari terbaik. Hingga akhirnya aku harus bangun pada sebuah pagi, dan membenci kenyataan bahwa pria yang harusnya aku genggam paling erat, kini berganti menjadi sebuah ruang hampa.
Menggenggamnya berlebihan.
Aku terjebak pada tindakanku sendiri. Menggenggamnya berlebihan. Sehingga ketika hilang, terasa sangat hilang. Sehingga saat pergi, terasa sangat pergi. Sehingga saat tulus, terasa sangat dibodohi. Sehingga saat gusar, terasa sangat mengacaukan.
Kemudian, aku berjalan jauh. Mencari segala bentuk penyembuhan untuk menyeimbangkan diri kembali. Hingga aku menemukan sebuah pintu yang membuka satu jejak masa lalunya.
Aku tak ada ide untuk menceritakannya. Tapi, ini sukar untuk diterima pada awalnya. Membuat aku bergumam bahwa ternyata pada masa yang pernah ia lalui bersama gadis itu, ia pernah sebahagia itu. Pernah menyayangi setulus itu. Pernah menggenggam sedalam itu. Pernah memberikan semua hal manis yang telah ia berikan kepadaku, kepada gadis itu.
Juga, membuat aku terkejut bahwa gadis itu juga pernah sekacau itu. Pria itu juga pernah sepatah itu. Mereka berdua juga pernah sehancur itu.
Pola yang sama. Hanya jalannya yang berbeda.
Aku jadi tak habis pikir. Pertanyaan "mengapa" dalam otakku menjadi berganti makna. Mungkin karena aku telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya, entahlah. Ternyata memang pola itu yang menjadi bayangan di balik punggungnya.
Kini otakku malah berganti cara pandang. Memberi komando untuk melihat ke depan. Mempersiapkan diri untuk melihat kenyataan bahwa entah berapa pagi setelah pagi ini, tak tahu pada malam yang mana setelah malam yang ini, mataku harus bersiap. Dadaku harus melapang. Bahuku tak boleh gontai. Bahwa sannya, aku akan melihat dia melakukan semua hal yang sama, berbagi kebahagiaan yang sama pada gadis lain. Berbagi tawa dengan gadis lain. Membuat gadis itu menggenggamnya erat, seerat yang aku lakukan.
Tapi aku juga tak ingin munafik, tentang melihat apa yang akan terjadi setelahnya. Dan aku, dari sudut jujur yang paling jujur dalam diriku, selalu berharap bahwa ia tak lagi mematahkan hati gadis barunya nanti.
Hey, aku sangat serius. Kini aku tangan kosong, yang tak ingin menggenggam apapun. Yang siap menerima namun siap juga melepaskan. Menggenggam memang sebuah keharusan, namun aku hanya akan menggenggam apa yang akan menggenggam kembali.

Saturday, 4 June 2016

Promise Me Autumn.

Mungkin saja, ini yang dikatakan musim gugur. Bukan hanya perkara daun yang menguning lalu berjatuhan. Memisahkan diri dari apa yang telah membuatnya menjadi tua, kemudian beristirahat tertarik gravitasi. Bukan hanya tentang fajar yang berganti menjadi terang. Menyusup melalui daun-daun. Melukiskan bayangan ranting tak berkawan dengan semut berbaris di atasnya.
Tapi kau selalu tahu, bukan? Bahwa segalanya, apa yang musim gugur lakukan, tak pernah dalam waktu singkat. Daun yang jatuh itu, boleh saja jatuh bersamaan. Tapi yang aku ketahui ialah, daun yang jatuh tak pernah pergi serentak dengan waktu yang cepat. Perlahan, memberikan waktu senggang kepada jati dirinya untuk merenung. Menyiapkan diri untuk menerima daun yang baru.
Jadi, panggil saja aku musim gugur, yang mengistirahatkan segala apa yang sudah tak ingin kugantung. Melepaskan apa yang sudah mati. Menyiratkan sinar mata sendu yang aku sendiri tak bisa dustai.
Tapi, perlakukan aku juga seperti musim gugur. Percayakan bahwa segalanya akan berganti, meski terjadi secara perlahan. Membangun kekuatan untuk apa yang telah dihancurkan. Memberi ruang senggang untuk mengeringkan luka. Hingga aku benar sempurna, terlepas dari segala bayang yang menjadikan aku berguguran.
Juga pahami aku sebagai musim gugur, yang membutuhkan waktu, yang aku pahami sebagai hal yang tak pernah singkat.

Wednesday, 18 May 2016

I Will.

“Bukannya sudah kukatakan sebelumnya? Bukannya semua orang sudah mengatakannya, kepadamu?” Pupilnya yang  tajam terlihat membesar  di bawah sinar lampu yang menggantung di atas kami.
Lidahku masih kelu, belum ingin menjawab. Atau lebih tepatnya, belum sanggup menjawab. Aku masih tertunduk, membisu. Menenggelamkan wajahku yang memerah. Aliran darah pada mukaku mendadak terasa panas. Pun mataku, lebih suka memandangi meja yang memisahkan aku dengannya dibandingkan menatap wajahnya yang begitu menunggu aku menjawab pertanyaannya yang  mendesak.
Lima atau enam detik berlalu. Ia memutarkan bola matanya.
“Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi, masalahnya ialah, kau yang terlalu bodoh. Umpama membeli barang yang rusak, yang kau sudah ketahui barang itu sudah tak berfungsi, tapi kau tetap membelinya.
“Seperti terjun ke tengah laut, yang sudah tahu laut itu dalam, dan kau tak bisa berenang.
“Seperti menyayat pisau pada tanganmu, yang sudah kau tahu itu akan melukaimu, tapi tetap kau lakukan.”
Aku masih belum bisa berkata. Rahangku mengeras.
“Semua orang juga tahu, semuanya akan seperti ini. Semua orang juga sudah mengatakan, bahwa ia memang seperti itu. Kau saja yang terlalu bermimpi untuk bisa merubahnya.” Ia menyeringai, memicingkan satu sudut bibirnya. “Percuma.”
Kesibukan di dalam kafetaria itu mengisi kekosongan perbincangan kami sejenak.  Piring yang beradu dengan garpu. Cangkir yang diletakan di atas pisin. Juga perbincangan pengunjung lain yang menyesaki atmosfer di sekitar kami. Samar-samar, namun terdengar lebih berwarna dibandingkan aku dengannya.
“Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?” Lagi-lagi, ia bertanya kepadaku, begitu mendesak.
Bibirku hendak menjawab, tapi urung. Dadaku terlalu sesak hingga membutuhkan oksigen tambahan. Aku pun malah menarik nafas yang dalam, dan menggeleng—tanda tak tahu.
“Itu buruk.” Ujarnya lagi. “Ayolah, kau pasti bisa melakukan sesuatu. Aku hanya tak ingin melihat kau jadi nelangsa begini. Begitu biru, sayu.
“Aku hanya ingin kau bisa tegas menjawab segala pertanyaan yang berlarian pada benak dan pikiranmu tentang dia. Menjadikannya satu jawaban yang sejalan. Bukan yang masih ragu, setengah melihat ke belakang dan bagian yang lain memaksa melangkah ke depan.
“Aku hanya ingin kau  bisa menjawab dengan tegas semua pertanyaan orang-orang tentang dirimu dengan dia yang sebenarnya. Tidak lagi perlu bingung untuk menjawab apa. Katakan saja yang sesungguhnya, bahwa segalanya memang telah tiada.” Ringan sekali ia mengakatakan semua itu.
Tenggorokanku kini terasa kering. Aku menelan ludah.
Ia menyesap sedikit  minuman yang telah ia pesan sembari memandangi wajahku yang penuh tanda tanya. Bibirku sudah seputih kertas, yang belum menjawab apapun dari segala pertanyaan dan pernyataan yang telah ia lontarkan kepadaku.
Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas meja.
Kemudian mendongak sedikit, perlahan beradu dengan bola mata hitam yang sedari tadi memandangiku.
“Aku tahu. Kau sepenuhnya benar. Sepenuhnya, tidak ada yang dapat aku sanggah. Tapi cobalah lihat pada sisi lain, maksudku, setidaknya pastilah ada itikad baik pada awalnya yang ia niatkan kepadaku, hingga akhirnya aku sempurna memilih dia. Walau pada jalannya, segalanya tak seperti apa yang telah diniatkan.
“Pun aku, yang mungkin gagal untuk memperbaiki dirinya. Berangan ia akan berubah, dari apa yang telah orang-orang ceritakan kepadaku. Pun aku yang pada awalnya memiliki itikad baik, bukan?”
Aku bisa lihat mulutnya menganga sedikit, juga alisnya yang bertaut.
“Mungkin semua yang kau ucapkan benar. Mungkin juga akan aku lakukan. Ini masaku dengannya yang memang telah habis. Juga begitu aku memperbaiki segalanya, aku mebutuhkan masa; waktu. Aku tidak bisa dan tidak mau memaksakan segalanya. Natural saja.
“Walau aku tak lagi tahu apa yang ia bicarakan dan ia lakukan, tapi itu cukup menjadi urusan dia. Akan kucoba untuk tidak peduli—seperti ia yang mungkin tak lagi peduli. Akan kucoba untuk mengurusi segala urusanku saja, agar tidak semakin rumit nantinya. Tapi kukatakan sekali lagi, aku butuh waktu.”
Ia mengulum senyum tipis. “Baiklah jika begitu. Tapi kuharap kau cukup kuat untuk menghadapi segala bentuk kesulitan yang—pasti—akan kau jumpai selama dalam masa itu.”
“Akan kupastikan.”

Friday, 6 May 2016

Tentang Kau.

Mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.
Akan aku ceritakan segalanya, dari awal. Sejak aku dan kau menemukan sebuah puisi dan menjadi awal perbincangan kita. Kala itu tengah malam, aku ingat sekali. Aku sudah mengantuk sebetulnya, tapi kau tampak masih sangat antusias dengan perbincangan itu.  Hingga akhirnya aku tertidur, dan tak membalas pesanmu.
Tapi esok, matahari masih terbit. Kemudian hingga esok, esoknya lagi, setelah malam itu. Perbincangan kita terus berlanjut dan semakin hangat, semakin seru, dan semakin dekat. Aku tak mengerti bagaimana bisa menjadi seperti itu. Hanya yang paling aneh ialah, kerap kali kutemui bibirku tertarik ke atas setelah membaca pesanmu. Beberapa kali pipiku merona setelah melihat balasan pesanmu. Merasa sedikit terkejut ketika mengartikan pesanmu.  Seperti mengaktifkan hormon dopamin dan adrenalin dalam waktu bersamaan.
Lalu, ini bagian terbaiknya. Ketika kau tiba-tiba meninggalkan makanan di depan rumahku dan memberikan pesan pada secarik kertas yang masih ku simpan hingga saat ini. Hal itu, terlalu indah untuk dijamak oleh kata. Perasaan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Kau bisa bayangkan, bukan? Dan itu, bukan yang terakhir. Dia juga pernah meninggalkan sekotak kue pada loker mejaku, juga dengan pesan di dalamnya. Menaruh setangkai bunga pada loker mejaku dan sebuah pesan di dalamnya.  Datang ke depan rumahku, tepat jam 12 malam, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Ku tak lagi punya akal sehat. Segala pikiranku seolah telah didistorsikan oleh bayangannya. Dia menang. Dia mampu menarik segala perhatianku. Dia bisa merebut segala kepercayaanku. Dia, aku tak punya ide lagi, terlalu indah. Terlalu manis. Terlalu menyilaukan, hingga membutakan.
Hingga mungkin membodohi, melukai, kemudian memuakkan. Berawal dari keinginanku, mungkin juga egoku, yang telah berekspektasi berlebih kepadanya. Namun ia menentang, menolak. Aku, dengan segala kesabaranku, ujungnya mengalah. Kemudian dia, yang juga memuntahkan egonya, berekspektasi berlebih kepadaku, namun tampak tak ingin kalah. Jadi, kala itu, aku pula yang mengalah. Entahlah, segalanya membuat dia berinisiatif untuk mengistirahatkan segalanya. Membuka waktu untuk diri masing-masing, yang kukira hal itu keliru.
Maksudku, aku selalu butuh tempat mengadu, kau tahu. Tempat untuk pulang. Tempat untuk berteduh, mencari ketenangan. Tapi dia berfikir lain. Dalam sudut pandangku yang mungkin buruk, ia menghindar. Berlari dari segalanya. Aku tak suka. Tak pernah suka.
Lagipula, ruang yang ia ciptakan itu membuat sakitnya makin terasa. Menelan rindu bulat-bulat, sendirian. Menciptakan ruang senggang yang semakin meluas, melebar, menjadi semakin jauh. Terlarut pada tebak-tebakan sendiri,  tanpa tahu kebenarannya.
Aku lama-lama lelah. Semuanya membuat otak dan dadaku terasa penuh. Ditambah lagi, terlalu banyak hal negatif—yang menurut perspektifku dan orang-orang yang berada disekitarku—tanpa ada pembenaran dari hal itu. Aku capek, benar-benar capek.
Dan dia datang lagi, meletup-letup. Kembali dengan membawa api pada kedua lengannya. Aku lengah, kemudian terbakar. Tidak lagi menggunakan kesabaranku. Hilang, pergi semua. Kini macan tidur dalam diriku, berhasil ia bangunkan. Dan aku bisa dengan kuatnya, atau lebih tepatnya, dipaksa untuk menjadi-mendadak-kuat, memutuskan untuk menghentikan segalanya.
Aku tak tahu apalagi yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu, aku bertambah kacau. Kalut. Kalap, hingga lepas kendali. Kembali pada tengah malam yang berbeda, pada malam yang berbeda, dengan perasaan yang berbeda. Berantakan.
Aku terbangun esok paginya, dengan mata yang berat. Kepala yang pening, dan segumpal perasaan aneh dalam dada.
Ku berkaca pada cermin yang terpaku pada dinding kamarku. Mataku masih sedikit membesar. Ini perjalanan yang paling melelahkan yang pernah ada. Kemudian aku terduduk, memikirkan apa yang terjadi pada sisi yang di sana.
Tapi satu hembusan nafas yang dalam melelehkan sebagian dari hatiku yang mendadak beku. Tak ada luka yang tidak mendewasakan. Tak ada kecewa yang tidak menguatkan. Dan memang kau, yang diutus untuk mengenalkan segala rasa itu, rasa begitu dicintai, juga begitu disia-siakan.
Daripada terus beradu dalam ego? Daripada terus terlarut dalam kelabu? Aku yakin segalanya ditempuh untuk mengokohkan siapapun yang menempuhnya.
Tidak, aku tidak menyesal. Aku siap, menerima segala konsekuensinya. Apalah, segalanya memang harus terjadi. Walaupun setelah ini, setelah pernah merasa dicintai sebegitunya namun ujungnya dikecewakan juga, aku jadi tak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk itu, mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.

Sunday, 1 May 2016

3K viewers, mercy!!

Terlalu hening, lengang. Terlalu banyak yang harus gue pikirkan dan kerjakan. Terlalu memikirkan kesibukan esok hari. Terlalu sesak dengan masalah hati. Gue ingin berlari. Gak peduli besok ulangan 2 pelajaran dan tes membaca hiragana juga pr agama yang menggila banyaknya. Kali ini, semua yang ingin gue lakukan hanyalah diam, dan beradu dengan pikiran.
Juga perasaan.
Ah, sudahlah. Gue sudah tidak ada ide lagi untuk mendeskripsikan segala kekacauan ini. Mungkin kalian pun jenuh membaca cerita tentang sesak, sedih, patah, dan sebagainya. Gue pun bosan, capek. Jadi, kepinggirkan saja dulu perihal itu.
Lebih baik gue merasa senang karena tidak terasa viewers blog ini telah mencapai 3000!! Terima kasih, terima kasih baaaaanyaaaaaak sekali untuk pembaca! Tanpa kalian blog ini sama sekali tidak berarti. Dan kalian juga membuat gue semakin mengerti bahwa segalanya, semuanya, membawa pelajaran. Ya, kalian tahu pasti bahwa cerita gue ini, berasal dari pengamatan hasil berjumpa dengan manusia dan lingkungannya. Jadi, segala apapun yang terjadi, gue yakin hal tersebut merupakan pelajaran berharga. Dan blog ini, semoga cukup untuk membuka sedikit pikiran atau menenangkan sedikit perasaan atau setidaknya, menyalurkan pesan sesungguhnya daripada tulisan itu. Simpelnya, kamu setidaknya mendapatkan "sesuatu" setelah membaca tulisan yang ada di blog ini.
Semoga kalian, para pembaca, tidak pernah bosan untuk membaca blog ini, ya. Karena kalian motivasi terbesar saya untuk menulis. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya dan nantikan tulisan selanjutnya!!

Monday, 18 April 2016

Give Me Summer.

Kamarku yang bersebelahan dengan jendela. Sekarang hampir tengah malam, gemercik hujan terdengar sangat jelas. Ini akan menjadi cerita yang klasik, aku tahu. Tapi ini kali pertama aku menghadapi fase seperti ini. Maka biarkan aku bercerita tentang sakit yang telah dialami sejuta umat manusia.
Tidak, aku tidak dapat menceritakannya utuh. Semua yang kutahu hanyalah sakit. Ini seperti cerita lamaku pada malam kemarin. Yang kukatakan bahwa aku terlalu takut untuk merasa telah benar dipilih padahal tidak. Telah menemukan yang benar berniat menjaga padahal tidak demikian. Ini terdengar seperti cerita lama. Luka kecil jika dibandingkan dengan lumpuh. Tapi ini sakit terbesarku; aku tahu akan menghadapi yang lebih besar nanti. Tapi untuk sekarang, ini luka terbesarku.
Dengar, perasaanku, bukan yang sebercanda itu. Memutuskan untuk menjalani waktu yang diberikan Tuhan bersama siapa, bukan yang semudah itu. Aku, terlalu takut untuk menjadi patah. Aku, terlalu mudah untuk menjadi kacau. Maka jika ingin bermain, bukan aku tempatnya.
Lalu, mungkin ini mereda. Hujan itu mereda. Tapi kau tahu ini musim hujan, bukan? Entah esok, atau pagi nanti, hujan itu akan datang lagi. Mungkin sekarang, bagiku dan kau adalah musim hujan. Aku harus selalu siap untuk badai yang baru. Lembab; sembab.
Ini terdengar seperti elegi. Seperti tersesat pada hutan lebat juga hujan hebat. Aku harus pandai berlari, siap terjatuh dan berdarah. Terjebak pada gelap yang bukan malam. Menyembunyikan isak bersama pasukan air lain. Berteriak, namun terkalahkan oleh suara yang lain.

Maka berikan aku musim kemarau saja. Aku tak mau hujan lagi.