Tuesday, 15 November 2016
Devin, Tell Me About Losing.
Aku memandangi langit kosong. Pukul 2 siang, pada parkiran mobil di lantai teratas pada sebuah gedung di Jakarta. Terlalu cerah. Mataku menyipit. Sementara daguku bertopang pada kedua tanganku yang aku letakan di atas tembok.
Devin belum juga menoleh kepadaku sejak aku ceritakan semuanya. Semuanya, yang berlarian pada otakku belakangan ini. Seolah dia juga sibuk bersama isi otaknya. Kupandangi alisnya yang bertaut juga dahinya yang kerap kali berkerut. Aku tahu dirinya sedang merutuki sesuatu.
Terkaanku mengatakan dia sedang merutuki aku. Ya, sepertinya dia juga jadi kesal melihat segala kebodohanku. Yang seperti kaset rusak, memutarkan cerita yang itu-itu saja.
Menyadari aku yang ikut diam, ia baru menoleh kepadaku.
"Begini, Laras. Semua hal punya kapasitas idealnya masing-masing. Maka logikanya, selalu butuh melepaskan untuk bisa menerima. Jika kamu ingin mempertahankan yang lama namun ingin juga menerima yang baru, artinya kamu serakah."
Kini giliran alisku yang merapat. Aku tak paham makna 'serakah' yang ia lontarkan.
Devin merapikan beberapa helai rambutku yang tertiup angin.
"Ingat pelajaran tentang seleksi alam?" Tanyanya sambil menatap kedua bola mataku.
Aku mengangguk pelan. Kadang, tatapan Devin yang seserius itu membuat aku malah jadi takut. Jadi tegang dan tak keruan sendiri.
"Kita semua belajar seleksi alam, Laras. Dan perpisahan adalah bukti empirisnya. Kehilangan adalah makna dari teori itu." Ucapnya tersekat sedikit. Seolah ia pun tak tahu dari mana kata-kata itu berasal.
"Tapi, mengapa mereka seolah benar-benar hilang, hingga dasar bumi? Maksudku, lagipula sebagian dari temanku tetap ada untukku dan mampu bertahan ketika kami menghadapi permasalahan yang sama. Mengapa yang pergi itu, harus benar-benar pergi? Mengapa yang hilang itu harus benar-benar hilang?"
Devin berpikir sejenak. Tidak lama, hanya dua hingga tiga detik. "Ya itulah fungsinya seleksi alam, Laras. Kita jadi tahu mana yang mampu bertahan dan tidak. Lagipula, hasil dari seleksi alam pasti hasil yang terbaik. Begini saja, bagaimana jika dinosaurus berhasil lolos dari seleksi alam? Pasti manusia tidak akan sebanyak sekarang. Paling hanya satu persen yang mampu bertahan untuk sampai ke abad ini."
Aku mendengus pelan. Analogi Devin tentang seleksi alam sama sekali tak dapat aku sanggah. Ia sepenuhnya benar. Tapi menurutku, teori dinosaurus itu... Entahlah. Itu bukan perbandingan yang setara. Aku sedikit jengkel mendengarnya.
"Sekarang, mengapa kamu tidak memikirkan orang-orang yang tetap ada untukmu? Yang tetap ada walaupun telah menghadapi seleksi alam? Bukankah itu lebih bermakna? Menghargai yang tetap ada dibandingkan meratapi yang telah hilang?" Celoteh Devin sembari, lagi-lagi, menatapku tepat pada bola mataku.
Aku tertunduk. "Entahlah."
Tidak, aku berdusta. Karena faktanya aku sangat tahu.
Yang sangat membuatku tak bisa melepaskan mereka yang tidak lolos dalam analogi "seleksi alam" versi Devin ialah, mereka adalah orang yang aku harapkan bisa bertahan. Mereka adalah orang yang aku pikir akan selalu ada. Sehingga jauh sekali, aku telah menyiapkan tempat khusus untuk mereka. Tapi tempat itu kosong, begitu saja. Bahkan, bagiku, analogi "seleksi alam" pun tak pantas menjadi jawabannya. Padahal tak ada alasan lain selain itu.
Pun aku memang selalu begitu, terjebak pada khayal yang kubangun sendiri. Tersesat karena tindakanku sendiri. Membuat tembok baru pada satu ruang. Dan tembok itu menjamur, berkembang biak hingga menyulitkan ruang gerak.
"Sudah, jangan terus berkutat pada batin yang kusut seperti itu." Pria itu menghela nafas. "Asal kau tahu saja, aku pun tak bisa pastikan apa yang akan terjadi pada esok hari. Aku pun tak tahu apakah aku akan menjadi orang yang lolos seleksi alam dan terus ada untukmu. Percayalah, ketakutan terbesarku adalah ketika aku membuat kesalahan karena terlalu banyak menjelaskan."
Kini giliran aku yang memandanginya. Ia memandangi langit kosong. Sebegitunya, kah?
Maksudku, sebegitu tidak pastinya hari esok itu?
Jika memang benar, maka aku harus bersiap.
Thursday, 27 October 2016
Detik yang Telah Lalu.
Friday, 30 September 2016
Ruang Nestapa.
Sunday, 11 September 2016
Lagu Hujan.
Sunday, 21 August 2016
Terima Kasih, 4K!
Tuesday, 16 August 2016
Pada yang Akan Hilang.
Kemudian aku berharap; jangan hilang.
Maksudku, kau tahu bahwa sannya, aku dan kau adalah patahan yang hilang pada cerita lain. Dia-ku kehilangan aku dan dia-mu kehilangan kau. Untuk selanjutnya, aku menjadi definisi dari yang ditemukan oleh kau, kau menjadi arti dari menemukan aku.
Jalani saja, begitu kata orang-orang. Ya, aku tahu. Sangat tahu. Tapi, tidakkah kau mengkhawatirkan apa yang akan kita temukan pada persimpangan jalan itu? Maksudku, memangnya pernah terpikir olehmu tentang kehilangan yang telah lalu itu? Tidak. Aku tidak pernah punya ide perihal kehilangan apapun. Kehilangan siapapun. Namun hidup ini kesalahan yang berulang, kau tahu. Pola hidup itu, ya, hanya yang itu-itu saja. Dipertemukan untuk kemudian dipisahkan. Menemukan untuk kemudian kehilangan. Kemudian menamai segalanya sebagai pelajaran. Lalu, bagaimana jika kita ditakdirkan untuk itu?
Aku hanya tak bisa bayangkan, memangnya hal semenyakitkan apa sehingga dapat membuat aku harus kehilangan kau? Sedangkan kau tahu, yang hilang itu tak pernah benar-benar hilang; kenangan.
Jika benar kita akan sama-sama kehilangan--aku kehilangan kau, kau kehilangan aku--maka pada masa yang selanjutnya, akan ada orang lain yang memegang peranku. Akan ada orang baru yang memegang tahtamu.
Kehilangan dan menemukan orang baru.
Kehilangan dan digantikan.
Aku tak tahu mengapa aku sangat risau begini. Aku hanya, ah, membayangkannya saja telah menghabiskan kata-kataku.
Untuk itu, pada yang akan hilang,
Kemudian aku berharap; jangan hilang.
Wednesday, 3 August 2016
Infinite.
Saya sangat tahu, jelas. Bahwa sannya, beberapa hal tak bisa disamakan. Beberapa perkara punya batas yang tak kasat mata. Beberapa pasal punya maknanya tersendiri.
Sedikit pupilku terbuka, melebar. Menyadari lebih tajam tentang pada malam ini, bukan lagi menjadi tugas saya untuk sakit-sakit memikirkan apa yang tersembunyi pada hatinya. Atau hati siapapun. Menyadari bahwa diri ini terbatas, tidak bisa menembus apa yang hanya terjebak pada pikir, pun batin. Tidak bisa mengejar apa yang tidak nyata, yang sebatas khayal. Yang tidak terlihat atau terdengar.
Juga, bukan tugasnya, atau tugas siapapun untuk bisa memahami apa yang saya genggam pada pikir dan batin saya. Apa yang berlarian, menusuk, atau membahagiakan. Mereka tak dapat menembus saya, sisi yang tidak saya perlihatkan atau saya bicarakan.
Walau pada kenyataannya, ada seribu peluru yang mereka siapkan, yang mereka siap lontarkan kepada saya untuk mengira-ngira apa dan siapa saya sebenarnya. Baik dan buruk. Bermainlah, bermain terus dengan khayal itu. Menebak-nebak apa yang ada pada batin dan pikir saya. Bisa jadi benar, mungkin juga salah.
Tapi saya, saya berjanji tak akan melakukan hal yang sama. Payah-payah mengira apa yang ada dipikiranmu. Tidak, aku tak ingin peduli. Bukan tak peduli, hanya tak ingin peduli saya disalahgunakan. Lagipula, bukan tugas saya membaca pikiranmu.
Biarkan, lisanmu bergerak jika sudah siap. Jika kau cukup percaya untuk saya mendengarkannya.