Wednesday, 12 September 2018

A Letter to Mustika

A letter to Mustika
From: your beloved self, yourself.
Halo, Mustika. Lama rasanya tak berbincang dengan segelas teh yang biasanya selalu tertuang dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Maka malam ini, berterima kasihlah kepada diriku yang telah membuatkannya untukmu. Oh, ya, maaf terlalu banyak bicara hingga lupa untuk menanyakan kabar. Bagaimana kabarmu? Kulihat kantung matamu menghitam akibat sukar tidur. Juga bibirmu tak menyunggingkan senyum sebanyak biasanya. Ada apa, wahai nona? Adakah yang bisa kubantu?
Oh, perihal masalah itu. Ya, aku paham. Masalah hati dan perasaan memang memusingkan. Aku juga telah sering meminta untuk dirimu jangan terlalu merisaukan masalah itu. Biarlah, biar segalanya menguap di udara. Percayakan sang waktu akan membantu kau untuk tidak banyak merasa sesak seperti hari-hari kemarin. Percayakan waktu akan segera mempertemukan manusia-manusia unik, yang mengisi hari-hari dan membuat dirimu merasa jauh lebih baik, lebih dihargai. Hei, kau layak untuk mendapatkan hal itu: being loved and appreciated.
Kemudian kudengar, kau juga merasa lelah dengan tuntutan pekerjaan organisasimu belakangan ini, ya? Maaf jika aku terlalu sok tahu. Tapi aku sangat merasakannya, Nona. Saban hari dan tengah malam kau banyak menghabiskan waktu untuk berpikir dan bekerja untuk itu. Aku tahu, sadar atau tidak, diucapkan atau tidak, diakui nuranimu atau tidak, kau sangat perlu untuk beristirahat. Kau butuh pergi ke toko buku sendirian, atau sekadar mencari kedai kopi baru yang belum pernah kau kunjungi. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan, ya, kurasa aku tak perlu menyebutkannya, memang menguras banyak sekali tekanan mental dan kesabaran. Dan, ya, Tuhan percaya kau akan sabar menerimanya. Tuhan Maha Tahu, Maha Mengerti. Menangislah jika kau butuh, tersedulah jika kau ingin. Ada Dia yang Maha Mendengarkan.
Pun, ya, aku paham. Rasa sendiri dan tak punya tempat mengadu memang perasaan terburuk yang dimiliki oleh manusia. Aku juga paham, ingin rasanya ada sosok manusia yang benar-benar bisa mengerti, benar-benar bisa mendengar dengan hati tanpa harus merasa takut untuk dicaci. Juga aku paham rasa takutmu berbuat salah, juga aku tahu kekhawatiranmu tentang pandangan orang lain terhadap dirimu, juga aku tahu kau yang selalu merasa kurang. Aku tahu. Aku tahu.
Tapi, hei, bisakah kau sejenak menyayangi dirimu sendiri? Lelah yang hadir mungkin sejatinya datang dari dirimu sendiri, Nona. Coba hirup udara lebih dalam, hingga mengingat aroma teh yang selalu kau seduh bahkan juga mencintaimu. Bahkan diriku bisa menjadi tempat mengadu paling mengerti, paling memahami. Paham bahwa manusia pertama yang seharusnya memaafkan sebuah ketidaksempurnaan adalah dirimu sendiri.



Thursday, 28 June 2018

Surat untuk Bumi

Halo, Bumi.
Kali ini aku menyapamu ramah, tak pakai ego. Sama sekali.
Kali ini aku telah reda, tak lagi hujan badai seperti hari-hari sebelumnya. Aku yakin kau paham apa yang kumaksud. Ini memang belum memasuki musim kemarau. Aku juga tak bilang tak ada hujan sama sekali. Ya, namanya juga kehidupan. Rintik dari gerimis bahkan hujan sedang juga kadang masih menjadi tamu di bawah kelopak mataku.
Ya... mungkin efek cuaca. Suasana di sekitarku masih dipenuhi potongan kenangan dari dirinya. Ada foto kami berdua yang masih menggantung di pojok sana serta kado ulang tahun dari dirinya beberapa tahun ke belakang. Belum lagi petualanganku dengan dirinya dapat dikatakan lumayan banyak, sehingga tak ada sudut kota yang tidak ada kenangan bersama dirinya.
Aku tidak ingin menjadi pembohong, ya. Jujur saja, kadang aku masih suka iseng bertanya, sedang apa dirinya? Apakah dia sehat? Apakah segalanya baik-baik saja? Tapi tentu, pertanyaan itu selalu kugantungkan di antara ribuan pertanyaan lainnya yang tak perlu kutagih jawabannya.
Tapi kemudian aku suka meneguk segelas air putih agar tenggorokanku tak mengering akibat terlalu meradang. Agar otakku juga tak terlalu kering, berpikir hal-hal yang melelahkan tentang dirinya. Mengingat-ingat hal-hal yang membahagiakan hingga memuakkan kadang membutuhkan banyak energi.
Begitulah. Aku hanya bisa berpikir dan menuangkannya di surat ini padamu, Bumi. Dia tak lagi menghubungiku. Tak juga menunjukkan gelagat untuk peduli kepadaku. Tapi, kan, kau lebih tahu. Jadi, mungkin kalau kau mau berbaik hati, barangkali kau tak keberatan untuk memberikan sedikit kabar tentang dirinya.

Tapi, kalau tidak bisa... ya, tak apa. Aku tetap berdoa agar dirinya tetap baik-baik saja. Kami berdua akan baik-baik saja. Melanjutkan kisah, kisah yang baik dan buruk di hari-hari berikutnya, petualangan-petualangan tak terduga lainnya, langkah-langkah kelana bersama manusia ciptaan Tuhan lainnya yang telah digariskan oleh-Nya. 

Saturday, 14 April 2018

tentang aku dan kau; di balik jendela.

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.....
Sebuah lagu memenuhi ruang telingaku. Hatiku tertohok sedikit, seolah tokoh yang dibicarakan dalam lagu itu adalah aku. Berbicara tentang matahari yang berganti setiap harinya dari langit sebuah kota. Aku tak tahu apakah ini benar atau salah, namun perlukah kita berdebat atas nama sandiwara yang tak lagi sama?
Burung di balik jendela bersautan, berbahasa dengan temannya. Kemudian yang satu pergi ke ruang bebas. Apakah mereka usai bertengkar? Atau selesai mengucap selamat tinggal? Atau sekadar berjanji pergi sebentar dan meneguhkan hati bahwa ia akan kembali lagi.
Kurasa itu memang bukan urusanku. Namun mengapa dua ekor burung memiliki hati yang lebih lapang untuk meninggalkan dan ditinggalkan? Pesan apa yang mampu membuat mereka begitu mudah untuk melepaskan? Aku hanya tak punya alasan maupun jawaban untuk pertanyaan atas aku dan kau yang tak bisa tabah ditampar kenyataan bahwa sandiwara yang kita punya tak lagi sama.
Atau hanya aku? Jungkir-balik memikirkan mengapa kau bisa sebegitu kejamnya berkata bahwa bahasa kita tak lagi sama dan tak mencari jalan keluar—ketika aku tahu memang tak ada jalan keluar. Kemudian, apa yang ada dipikiranmu saat ini, wahai tuan? Aku tak suka dan tak sudi harus dihantui rasa yang tidak pasti. Kotak memori yang aku punya tentang aku dan kau mungkin akan menjadi masalah baru nantinya, namun sebelum menuju langkah itu, aku hanya ingin kau segera membuat warna pada langit kelabu di antara kita. Mau biru haru atau merah merekah, aku tak mempermasalahkannya lagi.
Aku ingin kau dan aku baik-baik saja—terlepas jika memang keadaan itu menghancurkan aku kemudian.