Saturday, 23 January 2016

It's (Almost) Over.

00.48 dan kantuk belum juga menyerang gue. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya gue benar-benar tak bisa tidur. Otak gue terus berpikir dalam temaram dengan kantung mata yang menghitam. Sementara di luar sana, jangkrik menjadi suara malam yang tertangkap indera pendengar. Tubuh gue sudah melemah, sungguh. Tapi daya pikir gue masih memaksa gue untuk bekerja. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
Sekarang, beberapa perkara dalam hidup gue seolah menemukan titik terangnya secara perlahan. Semuanya kembali berubah, berkembang. Tapi tetap meyisakan tanya bagi gue. Matahari yang akan muncul dan berpulang itu, tiap kalinya melahirkan perkembangan baru. Gue gak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena gue rasa ini masih terlalu mengira-ngira. Namun gue rasa, semuanya akan segera berganti tema.
Gue rasa semuanya akan segera berakhir.
Gue rasa gue telah mengerti kenapa semuanya dibuat serumit ini. Sekiranya memang bisa gue umpamakan, maka jawabannya adalah ketika sore itu. Ketika tawa itu berguguran. Dan gue gak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana, karena gue gak bisa menjelaskannya lebih baik lagi. Kalimat gue masih saja miskin sampai rasa yang ada gak bisa terjamak oleh kata. Dimana kita hanya bertemu dalam perjalanan. Dimana gue hendak pergi dan kamu hendak pulang. Hanya itu. Tidak tertulis sebagai manusia yang harus memberi penjelasan, berbagi kata.
Hanya saja gue dan kamu mungkin sama-sama tak pernah terpikir bahwa kita pernah melintas pada jalan yang sama. Pada pikiran yang sama. Dan—mungkin—pada rasa yang sama. Kita terlalu banyak mengabaikan. Atau hanya menebak-nebak, menganalisa.
Ini kesalahan siapa? Gue pun gak tahu. Gak bisa menyalahkan siapa pun. Hingga akhirnya segalanya perlahan bertambah rumit. Gue mendengar kabar ini, itu. Kemudian membuat kesimpulan sendiri. Kemudian membenci sendiri. Kemudian semuanya bertambah kabur, blur. Kemudian gue berbelok, dengan kompas yang ternyata salah.
Dan kita bertemu lagi. Tapi gue udah terlanjur tersesat. Gue sudah terlanjur melewati hutan berduri dan terkena cakaran hewan buas hingga hampir mati. Mungkin kamu gak tahu itu, gue pun tak tahu apa yang menjadi perjalanan kamu selama gue tersesat itu. Tapi percayalah, segala atmosfer dan cahaya mentari yang kita terima bahkan berbeda. Gue bahkan telah bisu, untuk kamu. Karena diperjalanan itu, gue katakan lagi, gue sudah termakan berita buruk itu. Hingga akhirnya gue sendiri bingung, sebetulnya gue ini masihkah yang dulu atau sudah bukan?
Tapi menyadari bahwa kita bahkan melewati perjalanan yang berbeda, maka ada baiknya gue bersiap-siap untuk berkemas dan pulang ke rumah. Bersiap-siap belajar untuk mengosongkan hati, sebelum terkena duri yang baru lagi. Pintarlah sedikit, wahai anak muda. Bahkan pada pertemuan pertama kita dalam perjalanan, kamu hendak pulang ke rumah. Untuk kemudian memulai perjalanan baru, yang bukan untuk gue, seperti apa yang diberitakan. Ini mungkin kesimpulan yang salah, tapi setidaknya hanya petunjuk ini yang gue punya. Gue harus mengakhiri perjalanan ini, pulang dan bersiap untuk segala kemungkinan yang baru.

Friday, 8 January 2016

Stay.

Jerawat gue semakin menjadi. Itu bikin gue keki setengah mati.
“Lagi banyak pikiran, ya?” pertanyaan seperti itu tiba-tiba bermunculan. Gue hanya bisa mengangkat bahu sebelum akhirnya gue menyadari bahwa memang iya, terlalu banyak pikiran yang menyesaki otak gue hingga mata gue terasa berat.
Tatapan gue sering kosong belakangan ini. Malah, yang nyebelin adalah ketika teman-teman gue mendadak menyanyikan lagu Geisha yang liriknya, “Lumpuhkanlah ingatanku….” Apalah, gue tidak tahu judulnya. Mereka gak akan berhenti bernyanyi sebelum akhirnya gue sadar bahwa gue telah melamun, lagi. Atau yang lebih gila adalah ketika teman sekelas gue tiba-tiba melambai-lambaikan tangan depan muka gue, atau melakukan atraksi lainnya seperti menari atau mengagetkan gue.
Gue juga gak tahu kenapa gue bisa sebegininya. 2016 belum genap sebulan, tapi masalah baru bermunculan terlalu cepat. Seperti perkembangbiakkan amoeba yang tidak dapat terkontrol. Semuanya. Gue gak bisa menceritakan satu per satu karena bisa-bisa kalau gue tulis semuanya, maka rangkaiannya bisa menjadi novel trilogi. Hm, gue nampaknya harus memutar otak untuk memberi tiga judul novel yang hikmahnya masih amat-sangat absurd ini.
Tapi yang jelas adalah, semua terjadi bersamaan. Tanpa jeda. Menyerang gue bertubi-tubi hingga rasanya gue penat sendiri. Gue butuh tameng, sungguh. Atau setidaknya, gue perlu tempat beristirahat. Berteduh, mengambil sedikit napas untuk bisa melanjutkan semuanya.
Malah terkadang, gue jadi ingin pindah negara saja. Tapi, kalau gue pindah negara, nanti gue ketemu manusia baru lagi. New people, new fights, new problems, new stories, tanpa belum tentu menutup hubungan gue dengan old people, old fights yang mungkin masih to be continued, old problems yang juga mungkin masih butuh penjelasan, dan old stories yang mungkin belum menemukan ending-nya.
Kalau begitu, gue pindah planet saja. Serius, gak-papa. Kalau memang itu better and worth it, why not? Asalkan nanti di planet baru gue, gue tetap bisa shalat dan beribadah, makan yang banyak, minum yang enak, tidur nyenyak, dan merasa all fine all good. Terus minimal, gue bisa balik ke bumi seminggu sekali, pake pesawat ruang angkasa rongsokan yang ada di Jakku juga gak-papa. Selanjutnya gue bersekolah di sana. Mungkin di sana juga KKM-nya lebih rendah daripada sekolah gue. Atau setidaknya, gravitasi di sana bisa jadi lebih kecil, bahkan gak ada. Lumayan, nanti pelajaran fisika jadi lebih mudah karena jika gravitasi benar-benar nol, maka sesulit apapun soalnya, jika dikalikan dengan gravitasi yang bernilai nol maka hasilnya akan nol juga. Kemudian di sana nanti gue bisa melihat bintang dengan jelas jika planet yang gue tinggali tidak berkabut. Uh, senangnya. Dan kalau planet itu punya banyak satelit, maka gue akan melihat lebih dari satu satelit dalam waktu bersamaan. Tidak seperti bulan yang hanya satu dan tak selalu hadir.
Sekarang gue malah garuk-garuk kepala. Sepertinya gue sudah mulai error. Karena faktanya, gue akan tetap mencintai bulan. Gue selalu suka bintang. Gue selalu kagum pada langit. Maka ini pertanda bahwa gue harus tetap di sini karena gue harus bertanggungjawab atas apa yang gue sayangi beserta segala resikonya. Ya, sudahlah. Gue menetap di bumi. Lemme' fight.