Friday, 30 September 2016
Ruang Nestapa.
Sunday, 11 September 2016
Lagu Hujan.
Sunday, 21 August 2016
Terima Kasih, 4K!
Tuesday, 16 August 2016
Pada yang Akan Hilang.
Kemudian aku berharap; jangan hilang.
Maksudku, kau tahu bahwa sannya, aku dan kau adalah patahan yang hilang pada cerita lain. Dia-ku kehilangan aku dan dia-mu kehilangan kau. Untuk selanjutnya, aku menjadi definisi dari yang ditemukan oleh kau, kau menjadi arti dari menemukan aku.
Jalani saja, begitu kata orang-orang. Ya, aku tahu. Sangat tahu. Tapi, tidakkah kau mengkhawatirkan apa yang akan kita temukan pada persimpangan jalan itu? Maksudku, memangnya pernah terpikir olehmu tentang kehilangan yang telah lalu itu? Tidak. Aku tidak pernah punya ide perihal kehilangan apapun. Kehilangan siapapun. Namun hidup ini kesalahan yang berulang, kau tahu. Pola hidup itu, ya, hanya yang itu-itu saja. Dipertemukan untuk kemudian dipisahkan. Menemukan untuk kemudian kehilangan. Kemudian menamai segalanya sebagai pelajaran. Lalu, bagaimana jika kita ditakdirkan untuk itu?
Aku hanya tak bisa bayangkan, memangnya hal semenyakitkan apa sehingga dapat membuat aku harus kehilangan kau? Sedangkan kau tahu, yang hilang itu tak pernah benar-benar hilang; kenangan.
Jika benar kita akan sama-sama kehilangan--aku kehilangan kau, kau kehilangan aku--maka pada masa yang selanjutnya, akan ada orang lain yang memegang peranku. Akan ada orang baru yang memegang tahtamu.
Kehilangan dan menemukan orang baru.
Kehilangan dan digantikan.
Aku tak tahu mengapa aku sangat risau begini. Aku hanya, ah, membayangkannya saja telah menghabiskan kata-kataku.
Untuk itu, pada yang akan hilang,
Kemudian aku berharap; jangan hilang.
Wednesday, 3 August 2016
Infinite.
Saya sangat tahu, jelas. Bahwa sannya, beberapa hal tak bisa disamakan. Beberapa perkara punya batas yang tak kasat mata. Beberapa pasal punya maknanya tersendiri.
Sedikit pupilku terbuka, melebar. Menyadari lebih tajam tentang pada malam ini, bukan lagi menjadi tugas saya untuk sakit-sakit memikirkan apa yang tersembunyi pada hatinya. Atau hati siapapun. Menyadari bahwa diri ini terbatas, tidak bisa menembus apa yang hanya terjebak pada pikir, pun batin. Tidak bisa mengejar apa yang tidak nyata, yang sebatas khayal. Yang tidak terlihat atau terdengar.
Juga, bukan tugasnya, atau tugas siapapun untuk bisa memahami apa yang saya genggam pada pikir dan batin saya. Apa yang berlarian, menusuk, atau membahagiakan. Mereka tak dapat menembus saya, sisi yang tidak saya perlihatkan atau saya bicarakan.
Walau pada kenyataannya, ada seribu peluru yang mereka siapkan, yang mereka siap lontarkan kepada saya untuk mengira-ngira apa dan siapa saya sebenarnya. Baik dan buruk. Bermainlah, bermain terus dengan khayal itu. Menebak-nebak apa yang ada pada batin dan pikir saya. Bisa jadi benar, mungkin juga salah.
Tapi saya, saya berjanji tak akan melakukan hal yang sama. Payah-payah mengira apa yang ada dipikiranmu. Tidak, aku tak ingin peduli. Bukan tak peduli, hanya tak ingin peduli saya disalahgunakan. Lagipula, bukan tugas saya membaca pikiranmu.
Biarkan, lisanmu bergerak jika sudah siap. Jika kau cukup percaya untuk saya mendengarkannya.
Sunday, 10 July 2016
Analogi Rindu.
Pun rindu, hanya bisa disamai dengan kangen. Tidak ada yang lebih besar atau lebih rendah artinya dari kedua kata itu. Maknanya hanya bisa diperbesar dengan kata sangat dan bisa diperkecil dengan kata sedikit.
Rindu itu hal yang kodrati. Sifat manusiawi yang pasti dimiliki setiap orang. Tak ada hak manusia lain untuk menghalangi rasa itu dan sudah merupakan kewajiban manusia untuk menghargainya.
Juga rindu, tak punya skala pasti. Relatif dan mudah berubah-ubah.
Kadang rindu bisa membawa petaka. Menyebabkan otak lebih banyak berimajinasi, merasa cemas, juga lebih sukar untuk tidur.
Gejala rindu itu ketika diri mulai merasa ada yang hilang. Rasa mencari, terus dan terus. Namun untuk beberapa orang, mereka bisa langsung tahu tujuan rasa itu kepada siapa. Kemudian setelah itu, dalam sela-sela waktu kosong, otaknya otomatis mendireksikan khayal kepada orang yang dirindukan.
Obatnya pun beragam. Tergantung seberapa parah rindu itu. Ada yang cukup dengan menyapa, berbicara melalui telepon, atau harus bertemu. Hanya saja, banyak manusia di luar sana yang mempersulit proses penyembuhannya. Dan 80% penghalangnya ialah mereka kesulitan untuk mengungkapkannya karena gengsi yang melangit.
Penyebab rindu itu terlalu banyak, hingga sulit untuk dijamak. Namun, yang pasti ialah orang yang dirindukan pasti telah memiliki tahta tersendiri. Suatu kehormatan tersendiri. Sudut istimewa yang tak dijumpai pada manusia lain.
Jadi, itu rindu untukku
Dan ini, rindu untukmu.
Kau sudah boleh tidur sekarang.
Saturday, 18 June 2016
Empty Handed.
Mengapa bisa? Mengapa dalam waktu yang terbilang singkat, ia mampu menjatuhkan aku sebegini dalam?
Terlalu lengah. Aku jadi tahu bahwa berekspektasi baik tak selalu berbuah baik. Aku terlalu menghargai apa yang telah ia berikan. Terlalu berlebihan dalam menilai kebaikannya, sehingga aku telah merasa terbawa jauh. Juga menganggap aku akan selalu terbangun pada pagi yang berbeda, namun mengisi hari itu dengan orang yang sama. Memasukannya pada kepastian hari esok, esok, dan esoknya lagi. Menjadikannya pengisi hari terbaik. Hingga akhirnya aku harus bangun pada sebuah pagi, dan membenci kenyataan bahwa pria yang harusnya aku genggam paling erat, kini berganti menjadi sebuah ruang hampa.
Menggenggamnya berlebihan.
Aku terjebak pada tindakanku sendiri. Menggenggamnya berlebihan. Sehingga ketika hilang, terasa sangat hilang. Sehingga saat pergi, terasa sangat pergi. Sehingga saat tulus, terasa sangat dibodohi. Sehingga saat gusar, terasa sangat mengacaukan.
Kemudian, aku berjalan jauh. Mencari segala bentuk penyembuhan untuk menyeimbangkan diri kembali. Hingga aku menemukan sebuah pintu yang membuka satu jejak masa lalunya.
Aku tak ada ide untuk menceritakannya. Tapi, ini sukar untuk diterima pada awalnya. Membuat aku bergumam bahwa ternyata pada masa yang pernah ia lalui bersama gadis itu, ia pernah sebahagia itu. Pernah menyayangi setulus itu. Pernah menggenggam sedalam itu. Pernah memberikan semua hal manis yang telah ia berikan kepadaku, kepada gadis itu.
Juga, membuat aku terkejut bahwa gadis itu juga pernah sekacau itu. Pria itu juga pernah sepatah itu. Mereka berdua juga pernah sehancur itu.
Pola yang sama. Hanya jalannya yang berbeda.
Aku jadi tak habis pikir. Pertanyaan "mengapa" dalam otakku menjadi berganti makna. Mungkin karena aku telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya, entahlah. Ternyata memang pola itu yang menjadi bayangan di balik punggungnya.
Kini otakku malah berganti cara pandang. Memberi komando untuk melihat ke depan. Mempersiapkan diri untuk melihat kenyataan bahwa entah berapa pagi setelah pagi ini, tak tahu pada malam yang mana setelah malam yang ini, mataku harus bersiap. Dadaku harus melapang. Bahuku tak boleh gontai. Bahwa sannya, aku akan melihat dia melakukan semua hal yang sama, berbagi kebahagiaan yang sama pada gadis lain. Berbagi tawa dengan gadis lain. Membuat gadis itu menggenggamnya erat, seerat yang aku lakukan.
Tapi aku juga tak ingin munafik, tentang melihat apa yang akan terjadi setelahnya. Dan aku, dari sudut jujur yang paling jujur dalam diriku, selalu berharap bahwa ia tak lagi mematahkan hati gadis barunya nanti.
Hey, aku sangat serius. Kini aku tangan kosong, yang tak ingin menggenggam apapun. Yang siap menerima namun siap juga melepaskan. Menggenggam memang sebuah keharusan, namun aku hanya akan menggenggam apa yang akan menggenggam kembali.