Thursday, 27 October 2016

Detik yang Telah Lalu.



Pada setiap detik yang telah lalu,
aku ingin menuliskan bahwa,
aku ingin berlari padamu.
Pada setiap detik yang telah lalu, yang kini menyesakkan dada, mengacaukan segala pertahanan yang aku bangun tanpa pernah kuhitung berapa detik yang kuhabiskan untuk menciptakannya, aku ingin merengkuhmu. Jauh. Dalam sekali, hingga aku tak peduli betapa penuhnya aku akan detik yang telah lalu.
Untuk kemudian membisik pada setiap detik yang telah lalu, hapuskan air matamu. Lupakan rasa bencimu. Lepaskan segala sayang yang membunuhmu. Hapuskan segala rindu yang membuat kau runtuh. Rengkuh aku, tak perlu memeluk takut yang melemahkan kau. Janganlah kau cemaskan yang akan hilang itu. Genggam orang-orang yang menyayangimu, dan lakukan yang terbaik untuknya.
 Karena jika kau tahu, detik yang telah lalu itu tak pernah terputus. Sedetik pun, tidak. Segalanya terpilin menjadi untaian memori yang tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya. Akan terus menjadi seperti itu. Pada detik yang kau gunakan untuk menangis, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menangis. Pada detik yang kau gunakan untuk menyayangi, maka akan tertulis sebagai detik yang kau gunakan untuk menyayangi. Pun pada setiap detik yang kau gunakan untuk membenci, menyakiti, menyesal, bersedih. Tak akan berubah meski satu detik.
Ingin aku lakukan perjalanan bagi setiap detik yang telah lalu, tak peduli seberapa jauh detik itu. Ingin aku menghapuskan apa yang membuat kelopak mataku tak mau terpejam malam ini. Ingin aku menenggelamkannya dalam peluk erat agar luka itu hilang. Agar rindu itu tak perlu lagi berputar ribuan kali dalam sanubari.  Agar dadaku tak lagi terasa penuh. Supaya segalanya terasa baik-baik saja, tak perlu lagi sayu pada pilu yang berjatuhan kala aku memutar film tentang detik yang telah lalu.
Tapi tak ada kuasa apapun yang dapat merubahnya.
Nafasku terbuang. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri, seolah tengah merengkuh detik yang telah lalu.
Atau aku hanya perlu melepaskannya.
Aku terduduk pada detik ini. Memandangi kaca yang terpaku pada dinding kamarku. Menarik nafas pada detik selanjutnya. Memandangi bola mata yang kugunakan sebagai kaleidoskop ketika merekam detik yang telah lalu. Menterjemahkan segala memori yang ada. Dan mataku, masih mata yang sama.
Aku sedang melewatkan detik yang sedang berlangsung. Dan sedetik lagi akan menjadi detik yang telah lalu.
Sedetik berlalu. Detik yang kugunakan untuk berpikir, memikirkan detik yang telah lalu. Ribuan detik yang telah lalu, yang tidak pernah hilang. Detik yang kugunakan dengan perasaan gundah. Dan bertambah terus, detik yang kugunakan dengan perasaan kacau bertambah banyak.
Kurasa cukup. Mungkin aku memang harus melepaskannya. Pada detik yang telah lalu itu, aku hanya perlu memaafkannya. Mungkin segalanya takkan termaafkan dalam waktu sedetik saja. Namun setidaknya, pada detik selanjutnya setelah detik ini, segalanya akan tertulis sebagai detik yang kugunakan untuk memaafkan apa yang telah tertulis pada detik yang telah lalu.
Dan pada detik yang akan datang, aku tak tahu. Benar-benar tak tahu. Kuharap segalanya baik-baik saja.