Friday, 30 September 2016

Ruang Nestapa.

Lalu, adakah aku harus bertanya tentang kapan kau akan benar-benar menghilang?
Atau, adakah aku harus bertanya bahwa sannya kau memang benar takkan pergi?
Aku menghela nafas, jauh sekali. Ingin aku mengecilkan pupilku, tapi tak mampu. Cahayanya terlalu redup. Pupilku membesar.
Bahkan hati pun punya caranya sendiri. Kau itu redup yang hatiku maksud. Membuatnya terus membesarkan pertanyaan yang hanya dapat menyesakkan ruangnya sendiri. Bertanya, apakah kau sama dengan yang lain? Datang,  kemudian membangun sebuah perasaan di dalam, namun kemudian menghilang?
Aku mengusap wajahku. Segala pertanyaanku itu membuatku teringat sesuatu. Sebuah daya pikir yang membuat aku tahu bahwa kau pun berpikir tentang aku yang bisa hilang. Tentang kau yang bisa hilang. Tentang kita yang bisa hilang.
Kau tahu, tidak? Bahwa segala daya pikirmu membuat aku tahu bahwa sesungguhnya kita hanya sedang membangun kenangan. Delusimu membuat aku mengerti bahwa aku akan hanya menjadi bagian dari sejarahmu saja. Menebalkan hati untuk kemudian pada waktu yang tidak ditentukan mendadak hilang. Membuat aku berinisiatif untuk mengukir segalanya pada dinding dalam tempat yang kusebut sebagai ruang nestapa.
Kau tahu apa itu nestapa? Ialah kesedihan. Ialah yang aku terjemahkan sebagai hati yang kelabu.
Lalu, mengapa segala hal yang indah itu kutaruh dalam ruang nestapa? Karena aku semakin tahu bahwa segalanya akan berujung pada kehilangan. Bukankah semakin indah suatu hal akan semakin terasa menyakitkan ketika hilang?
Ruang nestapa itu, berisi detik-detik, beserta momen-momen yang melibatkan kau. Yang suatu hari mungkin membuatku menangis. Atau merindu, kemudian memutar lagu tentang rindu. Atau tersenyum, mengingat hal indah itu.  Hal indah yang telah terjadi pada detik yang takkan terulang, hanya membeku pada ruang nestapa.
Ruang nestapa itu, hanya akan menjadi bagian dari diri kau yang tersisa nantinya. Entah akan jadi apa. Mungkin akan menjadi bagian dari sejarahku saja. Atau memanggilmu kembali. Atau menghilangkan kau jauh-jauh.
Tapi, kau harus tahu bahwa pada suatu hari nanti, ruang nestapa yang penuh dengan ukiran itu akan menjebakku. Akan menyesakkan segala pertahanan dalam dada. Akan mengepungku dari berbagai sisi. Karena ruang nestapa itu mutlak berisi segala hal tentang kau, yang saat ini jadi pelangiku.

Tidak, aku tidak hendak memaksamu untuk memberiku kepastian bahwa kau takkan menghilang. Aku sudah sangat paham bahwa tak pernah ada kepastian dalam hidup. Ini hanya takutku saja. Ini hanya khawatirku saja. Pun bila nanti benar kita akan hilang nantinya, ruang nestapa itu tetap milik kau. Ruang nestapa itu akan tetap menjadi  bagian dari masa yang telah dilewati. Dan ruang nestapa itu akan tetap ada, sekalipun kau menghilang atau tidak.

Sunday, 11 September 2016

Lagu Hujan.

Sebuah meja kayu dengan teh panas di atasnya. Ragaku terjebak pada sebuah kafe kecil dekat perpustakaan kota. Sedangkan pikirku dibawa kabur oleh ritme hujan deras. Mataku terpaku pada jendela kaca yang menyuguhkan bulir-bulir hujan. Sesaat kemudian, aku kembali utuh bersama pikirku di dalam kafe yang tiba-tiba memutarkan lagu akustik yang membuat suasana bertambah hangat. Lampu-lampu gantung mulai dinyalakan, aku memasuki waktu dimana hari akan segera digantikan dengan malam—senja.
Semua orang tampak menyukai lagu akustik itu. Beberapa dari mereka menikmati ketukannya terlihat menggerak-gerakan kakinya sesuai dengan ketukan lagu itu atau hanya mengangguk-angguk pelan. Sedangkan yang lainnya tampak hafal dengan lirik yang ada pada lagu itu sehingga menggerakkan bibirnya kecil. Aku tersenyum melihat semua itu.
Lagu memang mampu melengkapi hingga memperkuat sebuah perasaan. Kau pastilah pernah menemukan lagu yang seolah-olah memang diciptakan untuk kau. Seolah perasaan senang yang kau punya tiba-tiba dituangkan dalam sebuah lagu dan kau makin merasa bahwa perasaan senang kau itu memang nyata. Atau ketika kau sedih dan menemukan lagu yang menggambarkan kesedihan kau, maka mutlaklah kesedihan kau makin terasa.
Aku menyesap secangkir tehku. Kemudian memandangi kursi di seberang. Kursi yang berhadapan denganku. Kursi yang lain pada mejaku. Lengang.
Aku merasa heran sendiri.  Ada ribuan lagu yang telah aku dengar. Tapi kursi itu tetap kosong. Tidak ada lagu yang aku rasa dapat mengisi kursi itu, yang mampu menghadirkan bayang dari orang yang aku harapkan dapat duduk di sana. Belum kutemukan lagu yang benar-benar dapat mewakili dirinya.
Sesaat hujan menderas. Aku menoleh ke luar, pasukan air jatuh begitu saja. Aku memisahkan diri dan keluar dari lagu akustik di kafe itu. Ini bukan pertama kalinya aku menghadapi hari hujan. Aku juga punya milyaran cerita bersama hujan. Namun, entah apa yang membuat aku merasa begini, pada detik hujan saat ini, otakku hanya mengingat cerita hujan yang melibatkan dirinya.
Hujan, saat aku tiba-tiba bertemu dengan dirinya. Hujan, ketika dirinya mengajakku bercerita pada sebuah sore. Hujan, ketika dirinya mengantarku pulang dan membelah jalanan kota. Hujan, yang membuat aku dan dirinya memberikan kabar satu sama lain. Hujan, dan dirinya.
Bibirku tertarik ke atas mengulum senyum kecil. Lagu akustik yang memenuhi kafe itu telah habis, digantikan oleh lagu lainnya. Pengunjung yang ada dalam kafe itu segera menyesuaikan dirinya dengan lagu yang baru.

Aku kembali memalingkan wajah ke jendela dan menyadari sesuatu. Mungkin aku tidak perlu payah-payah mencari lagu yang menggambarkan dirinya. Tak usah jauh-jauh mencari nada dan lirik yang sesuai dengan dirinya. Karena hari ini aku telah menemukan lagu hujan, yang tidak bernada pun tak berlirik namun mampu sepenuhnya mengingatkan aku tentang dirinya.