Lalu, adakah aku harus bertanya tentang kapan kau akan
benar-benar menghilang?
Atau, adakah aku harus bertanya bahwa sannya kau memang
benar takkan pergi?
Aku menghela nafas, jauh sekali. Ingin aku mengecilkan
pupilku, tapi tak mampu. Cahayanya terlalu redup. Pupilku membesar.
Bahkan hati pun punya caranya sendiri. Kau itu redup yang
hatiku maksud. Membuatnya terus membesarkan pertanyaan yang hanya dapat
menyesakkan ruangnya sendiri. Bertanya, apakah kau sama dengan yang lain? Datang, kemudian membangun sebuah perasaan di dalam,
namun kemudian menghilang?
Aku mengusap wajahku. Segala pertanyaanku itu membuatku
teringat sesuatu. Sebuah daya pikir yang membuat aku tahu bahwa kau pun
berpikir tentang aku yang bisa hilang. Tentang kau yang bisa hilang. Tentang kita
yang bisa hilang.
Kau tahu, tidak? Bahwa segala daya pikirmu membuat aku tahu
bahwa sesungguhnya kita hanya sedang membangun kenangan. Delusimu membuat aku
mengerti bahwa aku akan hanya menjadi bagian dari sejarahmu saja. Menebalkan
hati untuk kemudian pada waktu yang tidak ditentukan mendadak hilang. Membuat
aku berinisiatif untuk mengukir segalanya pada dinding dalam tempat yang
kusebut sebagai ruang nestapa.
Kau tahu apa itu nestapa? Ialah kesedihan. Ialah yang aku
terjemahkan sebagai hati yang kelabu.
Lalu, mengapa segala hal yang indah itu kutaruh dalam ruang
nestapa? Karena aku semakin tahu bahwa segalanya akan berujung pada kehilangan.
Bukankah semakin indah suatu hal akan semakin terasa menyakitkan ketika hilang?
Ruang nestapa itu, berisi detik-detik, beserta momen-momen
yang melibatkan kau. Yang suatu hari mungkin membuatku menangis. Atau merindu,
kemudian memutar lagu tentang rindu. Atau tersenyum, mengingat hal indah itu. Hal indah yang telah terjadi pada detik yang
takkan terulang, hanya membeku pada ruang nestapa.
Ruang nestapa itu, hanya akan menjadi bagian dari diri kau
yang tersisa nantinya. Entah akan jadi apa. Mungkin akan menjadi bagian dari
sejarahku saja. Atau memanggilmu kembali. Atau menghilangkan kau jauh-jauh.
Tapi, kau harus tahu bahwa pada suatu hari nanti, ruang
nestapa yang penuh dengan ukiran itu akan menjebakku. Akan menyesakkan segala
pertahanan dalam dada. Akan mengepungku dari berbagai sisi. Karena ruang
nestapa itu mutlak berisi segala hal tentang kau, yang saat ini jadi pelangiku.
Tidak, aku tidak hendak memaksamu untuk memberiku kepastian
bahwa kau takkan menghilang. Aku sudah sangat paham bahwa tak pernah ada
kepastian dalam hidup. Ini hanya takutku saja. Ini hanya khawatirku saja. Pun bila
nanti benar kita akan hilang nantinya, ruang nestapa itu tetap milik kau. Ruang
nestapa itu akan tetap menjadi bagian
dari masa yang telah dilewati. Dan ruang nestapa itu akan tetap ada, sekalipun
kau menghilang atau tidak.