Saturday, 18 June 2016

Empty Handed.

Mungkin ini saatnya aku kembali menyalakan lampu, setelah cukup lama berbaring pada kasur namun mata enggan tertutup. Mungkin juga ini saatnya aku berhenti mendengarkan semua lagu itu dan mulai berpikir, menemukan sendiri harmoni dari segala pertanyaan ini. Ya, otakku terperangkap pada pertanyaan-pertanyaan gila yang aku ciptakan sendiri. Terlalu banyak kata "mengapa" dengan nada kecewa. Tidak, rasa sesak itu tidak lagi menggebu. Hanya saja, aku masih tak punya akal sehat untuk menjawab segala pertanyaan yang bermunculan ketika mendapati diri tengah memikirkan apa yang telah ia lakukan pada tempo lalu.
Mengapa bisa? Mengapa dalam waktu yang terbilang singkat, ia mampu menjatuhkan aku sebegini dalam?
Terlalu lengah. Aku jadi tahu bahwa berekspektasi baik tak selalu berbuah baik. Aku terlalu menghargai apa yang telah ia berikan. Terlalu berlebihan dalam menilai kebaikannya, sehingga aku telah merasa terbawa jauh. Juga menganggap aku akan selalu terbangun pada pagi yang berbeda, namun mengisi hari itu dengan orang yang sama. Memasukannya pada kepastian hari esok, esok, dan esoknya lagi. Menjadikannya pengisi hari terbaik. Hingga akhirnya aku harus bangun pada sebuah pagi, dan membenci kenyataan bahwa pria yang harusnya aku genggam paling erat, kini berganti menjadi sebuah ruang hampa.
Menggenggamnya berlebihan.
Aku terjebak pada tindakanku sendiri. Menggenggamnya berlebihan. Sehingga ketika hilang, terasa sangat hilang. Sehingga saat pergi, terasa sangat pergi. Sehingga saat tulus, terasa sangat dibodohi. Sehingga saat gusar, terasa sangat mengacaukan.
Kemudian, aku berjalan jauh. Mencari segala bentuk penyembuhan untuk menyeimbangkan diri kembali. Hingga aku menemukan sebuah pintu yang membuka satu jejak masa lalunya.
Aku tak ada ide untuk menceritakannya. Tapi, ini sukar untuk diterima pada awalnya. Membuat aku bergumam bahwa ternyata pada masa yang pernah ia lalui bersama gadis itu, ia pernah sebahagia itu. Pernah menyayangi setulus itu. Pernah menggenggam sedalam itu. Pernah memberikan semua hal manis yang telah ia berikan kepadaku, kepada gadis itu.
Juga, membuat aku terkejut bahwa gadis itu juga pernah sekacau itu. Pria itu juga pernah sepatah itu. Mereka berdua juga pernah sehancur itu.
Pola yang sama. Hanya jalannya yang berbeda.
Aku jadi tak habis pikir. Pertanyaan "mengapa" dalam otakku menjadi berganti makna. Mungkin karena aku telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya, entahlah. Ternyata memang pola itu yang menjadi bayangan di balik punggungnya.
Kini otakku malah berganti cara pandang. Memberi komando untuk melihat ke depan. Mempersiapkan diri untuk melihat kenyataan bahwa entah berapa pagi setelah pagi ini, tak tahu pada malam yang mana setelah malam yang ini, mataku harus bersiap. Dadaku harus melapang. Bahuku tak boleh gontai. Bahwa sannya, aku akan melihat dia melakukan semua hal yang sama, berbagi kebahagiaan yang sama pada gadis lain. Berbagi tawa dengan gadis lain. Membuat gadis itu menggenggamnya erat, seerat yang aku lakukan.
Tapi aku juga tak ingin munafik, tentang melihat apa yang akan terjadi setelahnya. Dan aku, dari sudut jujur yang paling jujur dalam diriku, selalu berharap bahwa ia tak lagi mematahkan hati gadis barunya nanti.
Hey, aku sangat serius. Kini aku tangan kosong, yang tak ingin menggenggam apapun. Yang siap menerima namun siap juga melepaskan. Menggenggam memang sebuah keharusan, namun aku hanya akan menggenggam apa yang akan menggenggam kembali.

Saturday, 4 June 2016

Promise Me Autumn.

Mungkin saja, ini yang dikatakan musim gugur. Bukan hanya perkara daun yang menguning lalu berjatuhan. Memisahkan diri dari apa yang telah membuatnya menjadi tua, kemudian beristirahat tertarik gravitasi. Bukan hanya tentang fajar yang berganti menjadi terang. Menyusup melalui daun-daun. Melukiskan bayangan ranting tak berkawan dengan semut berbaris di atasnya.
Tapi kau selalu tahu, bukan? Bahwa segalanya, apa yang musim gugur lakukan, tak pernah dalam waktu singkat. Daun yang jatuh itu, boleh saja jatuh bersamaan. Tapi yang aku ketahui ialah, daun yang jatuh tak pernah pergi serentak dengan waktu yang cepat. Perlahan, memberikan waktu senggang kepada jati dirinya untuk merenung. Menyiapkan diri untuk menerima daun yang baru.
Jadi, panggil saja aku musim gugur, yang mengistirahatkan segala apa yang sudah tak ingin kugantung. Melepaskan apa yang sudah mati. Menyiratkan sinar mata sendu yang aku sendiri tak bisa dustai.
Tapi, perlakukan aku juga seperti musim gugur. Percayakan bahwa segalanya akan berganti, meski terjadi secara perlahan. Membangun kekuatan untuk apa yang telah dihancurkan. Memberi ruang senggang untuk mengeringkan luka. Hingga aku benar sempurna, terlepas dari segala bayang yang menjadikan aku berguguran.
Juga pahami aku sebagai musim gugur, yang membutuhkan waktu, yang aku pahami sebagai hal yang tak pernah singkat.