Mungkin suatu hari nanti, akan aku
ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau
boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan
sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku
akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.
Akan aku ceritakan segalanya, dari
awal. Sejak aku dan kau menemukan sebuah puisi dan menjadi awal perbincangan
kita. Kala itu tengah malam, aku ingat sekali. Aku sudah mengantuk sebetulnya,
tapi kau tampak masih sangat antusias dengan perbincangan itu. Hingga akhirnya aku tertidur, dan tak
membalas pesanmu.
Tapi esok, matahari masih terbit.
Kemudian hingga esok, esoknya lagi, setelah malam itu. Perbincangan kita terus
berlanjut dan semakin hangat, semakin seru, dan semakin dekat. Aku tak mengerti
bagaimana bisa menjadi seperti itu. Hanya yang paling aneh ialah, kerap kali
kutemui bibirku tertarik ke atas setelah membaca pesanmu. Beberapa kali pipiku
merona setelah melihat balasan pesanmu. Merasa sedikit terkejut ketika
mengartikan pesanmu. Seperti
mengaktifkan hormon dopamin dan adrenalin dalam waktu bersamaan.
Lalu, ini bagian terbaiknya.
Ketika kau tiba-tiba meninggalkan makanan di depan rumahku dan memberikan pesan
pada secarik kertas yang masih ku simpan hingga saat ini. Hal itu, terlalu
indah untuk dijamak oleh kata. Perasaan yang tak pernah kujumpai sebelumnya.
Kau bisa bayangkan, bukan? Dan itu, bukan yang terakhir. Dia juga pernah
meninggalkan sekotak kue pada loker mejaku, juga dengan pesan di dalamnya.
Menaruh setangkai bunga pada loker mejaku dan sebuah pesan di dalamnya. Datang ke depan rumahku, tepat jam 12 malam,
hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Ku tak lagi punya akal sehat.
Segala pikiranku seolah telah didistorsikan oleh bayangannya. Dia menang. Dia
mampu menarik segala perhatianku. Dia bisa merebut segala kepercayaanku. Dia,
aku tak punya ide lagi, terlalu indah. Terlalu manis. Terlalu menyilaukan,
hingga membutakan.
Hingga mungkin membodohi, melukai,
kemudian memuakkan. Berawal dari keinginanku, mungkin juga egoku, yang telah
berekspektasi berlebih kepadanya. Namun ia menentang, menolak. Aku, dengan
segala kesabaranku, ujungnya mengalah. Kemudian dia, yang juga memuntahkan
egonya, berekspektasi berlebih kepadaku, namun tampak tak ingin kalah. Jadi,
kala itu, aku pula yang mengalah. Entahlah, segalanya membuat dia berinisiatif
untuk mengistirahatkan segalanya. Membuka waktu untuk diri masing-masing, yang
kukira hal itu keliru.
Maksudku, aku selalu butuh tempat
mengadu, kau tahu. Tempat untuk pulang. Tempat untuk berteduh, mencari
ketenangan. Tapi dia berfikir lain. Dalam sudut pandangku yang mungkin buruk,
ia menghindar. Berlari dari segalanya. Aku tak suka. Tak pernah suka.
Lagipula, ruang yang ia ciptakan
itu membuat sakitnya makin terasa. Menelan rindu bulat-bulat, sendirian.
Menciptakan ruang senggang yang semakin meluas, melebar, menjadi semakin jauh. Terlarut
pada tebak-tebakan sendiri, tanpa tahu
kebenarannya.
Aku lama-lama lelah. Semuanya
membuat otak dan dadaku terasa penuh. Ditambah lagi, terlalu banyak hal
negatif—yang menurut perspektifku dan orang-orang yang berada disekitarku—tanpa
ada pembenaran dari hal itu. Aku capek, benar-benar capek.
Dan dia datang lagi,
meletup-letup. Kembali dengan membawa api pada kedua lengannya. Aku lengah,
kemudian terbakar. Tidak lagi menggunakan kesabaranku. Hilang, pergi semua.
Kini macan tidur dalam diriku, berhasil ia bangunkan. Dan aku bisa dengan
kuatnya, atau lebih tepatnya, dipaksa untuk menjadi-mendadak-kuat, memutuskan
untuk menghentikan segalanya.
Aku tak tahu apalagi yang terjadi
setelah itu. Yang aku tahu, aku bertambah kacau. Kalut. Kalap, hingga lepas
kendali. Kembali pada tengah malam yang berbeda, pada malam yang berbeda,
dengan perasaan yang berbeda. Berantakan.
Aku terbangun esok paginya, dengan
mata yang berat. Kepala yang pening, dan segumpal perasaan aneh dalam dada.
Ku berkaca pada cermin yang
terpaku pada dinding kamarku. Mataku masih sedikit membesar. Ini perjalanan
yang paling melelahkan yang pernah ada. Kemudian aku terduduk, memikirkan apa
yang terjadi pada sisi yang di sana.
Tapi satu hembusan nafas yang
dalam melelehkan sebagian dari hatiku yang mendadak beku. Tak ada luka yang
tidak mendewasakan. Tak ada kecewa yang tidak menguatkan. Dan memang kau, yang
diutus untuk mengenalkan segala rasa itu, rasa begitu dicintai, juga begitu
disia-siakan.
Daripada terus beradu dalam ego?
Daripada terus terlarut dalam kelabu? Aku yakin segalanya ditempuh untuk
mengokohkan siapapun yang menempuhnya.
Tidak, aku tidak menyesal. Aku
siap, menerima segala konsekuensinya. Apalah, segalanya memang harus terjadi.
Walaupun setelah ini, setelah pernah merasa dicintai sebegitunya namun ujungnya
dikecewakan juga, aku jadi tak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang
salah.
Untuk itu, mungkin suatu hari
nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat
dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti
kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang.
Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita
tentang kau.
Semua cewe kyknya pernah kaya gini
ReplyDeleteaw jadi malu wkwkwk
Delete