Friday, 19 December 2014

King of Kong.

18 desember 2014.
Malam itu gue kembali mimpi hal yang agak aneh. Gue gak inget awalnya seperti apa, tapi yang gue inget, saat itu gue lagi asik ngobrol sama temen smp gue. Tiba-tiba ada seorang cowok yang nyamperin gue. Sumpah, gue inget jelas mukanya kayak apa dan gue belum pernah liat dia di kehidupan nyata gue sebelumnya. Tapi anehnya juga, gue udah akraaab banget sama cowok itu dalam mimpi. Dia datang untuk jemput gue pulang. Akhirnya gue pun ikut cowok itu pergi.
Dia bonceng gue pake motor matic. Seinget gue, kita banyak banget bicara sampe ketawa-ketawa gak jelas gitu. Tapi gue gak inget ngomongin apa aja. Dan saat itu gue inget banget wajahnya dari samping. Dia mancung banget, xixixi. Pas lagi asik-asiknya, tiba-tiba dia minggir, terus matiin motornya.
Ternyata dia gak langsung nganter gue balik, buktinya dia malah berhenti di depan sebuah kafe bergaya vintage masa kini. Ada banyak quotes yang digemari para remaja zaman sekarang terpajang di tembok. Sementara furniture-nya berwarna seragam dengan warna cat temboknya, yaitu putih pastel. Ditambah beberapa furniture pemanis seperti jam dinding, lukisan-lukisan, dan sebagainya yang juga bergaya vintage, yang merupakan gaya yang “gue banget”. Ah, what a great cafe! Sayangnya cuma mimpi. Setelah itu kami duduk di sebuah meja yang berada di tengah kafe itu.
Kami memesan makanan. Dan makanan itu terasa sangat cepat datang, seperti sudah dipersiapkan sebelum kami memesannya. Sambil makan, dia selalu bercandain gue sampai gue gak bisa nahan ketawa. Ya, emang selera humor gue receh banget. Tapi gue gak suka sih acara lawak di tv yang absurd itu. Intinya, it’s the most amazing dinner i’ve ever had, even it just a dream! Gue bener-bener merasa... Ah, speechless. Tapi sayang, keindahan dinner itu harus berhenti setelah kami selesai makan.
Kami keluar dari kafe. Ternyata di luar sana ada banyak temen gue yang juga dateng ke kafe itu. Akhirnya kami pun berbincang-bincang dulu dengan mereka. Saat sedang asik bicara, tiba-tiba seseorang berteriak.
“ada monyet mabok!!” Cewek itu berteriak dengan suara yang menggelegar.
Akhirnya semua mata langsung mencari monyet yang dimaksud. Benar, kurang-lebih dua puluh meter dari tempat gue berdiri, ada seekor monyet yang besar sedang menggenggam botol minuman keras. Monyet itu tampak kehilangan kendali dan marah. Ia pun memecahkan botol minumannya dan membuat tangannya berdarah hebat.
Saat gue sedang terpana, keadaan sekitar gue langsung ricuh. Semua orang mencari pertolongan dan tempat berlindung. Sementara itu, seseorang menarik tangan gue, mengajak gue untuk mencari tempat berlindung juga. Ya, orang yang sedaritadi bersama gue. Seperti tidak ada pilihan lain, kami pun kembali masuk ke dalam kafe.
Setelah itu, kami bersembunyi di sebuah ruangan di lantai dua. Ternyata beberapa orang juga berlindung di sana. Tapi entah kenapa, gue udah berfirasat bahwa tempat ini bukan tempat yang tepat untuk bersembunyi. Dan benar, monyet besar itu berhasil menyusup masuk lewat jendela yang ada di samping ruangan ini dengan anarkis. Keadaan kembali lepas kendali.
Saat itu gue kehilangan jejak cowok yang biasanya selalu ada di samping gue. Gue benar-benar udah gak mikirin apa-apa. Yang gue tau, gue harus mencari tempat yang gak banyak orang bersembunyi di sana. Akhirnya ketika orang-orang berbelok ke balkon kafe, gue malah belok ke dapur kafe. Gue pun bersembunyi di antara kitchen sets dan tembok untuk kompor listrik yang ada di dapur itu.
Dari dalam dapur, gue bisa mendengar jelas jeritan-jeritan orang-orang yang sepertinya diserang oleh monyet besar itu. Mungkin mereka dicakar, dicabik, atau mungkin dimakan. Entahlah. Pokoknya jantung gue bener-bener ikut terlonjak setiap kali mendengar jeritan di luar sana.
Sepertinya gak ada satupun yang bisa menyelamatkan gue selain allah. Ya, akhirnya gue pun berdoa sebisa gue sambil memejamkan mata. Gue berdoa dengan seluruh hati dan jiwa gue. Ada perasaan tenang bercampur gelisah saat itu. Setelah beberapa saat, tiba-tiba keadaan di sekeliling gue berubah menjadi terang. Terang sekali sampai menyilaukan. Gue pun ngerasa gak kuat dan akhirnya membuka mata.
Gue bangun dari mimpi itu dengan napas yang terputus-putus. Mata gue refleks melihat sekeliling. Huft, cuma mimpi, batin gue. Akhirnya gue pun beranjak dari posisi tidur gue dan mengumpulkan nyawa. Entah bisikan dari mana, gue teringat sesuatu. Lagi-lagi gue kena mini-heart attack. Gue belum ngerjain tugas fisika!! Mampus! Akhirnya gue kelabakan lagi. Bahkan lebih kelabakan! Entah kenapa gue lebih menganggap hukuman soal fisika akan lebih menyeramkan dibanding dikejar kingkong sekalipun!