18 desember
2014.
Malam
itu gue kembali mimpi hal yang agak aneh. Gue gak inget awalnya seperti apa,
tapi yang gue inget, saat itu gue lagi asik ngobrol sama temen smp gue.
Tiba-tiba ada seorang cowok yang nyamperin gue. Sumpah, gue inget jelas mukanya
kayak apa dan gue belum pernah liat dia di kehidupan nyata gue sebelumnya. Tapi
anehnya juga, gue udah akraaab banget sama cowok itu dalam mimpi. Dia datang
untuk jemput gue pulang. Akhirnya gue pun ikut cowok itu pergi.
Dia
bonceng gue pake motor matic. Seinget gue, kita banyak banget bicara sampe
ketawa-ketawa gak jelas gitu. Tapi gue gak inget ngomongin apa aja. Dan saat
itu gue inget banget wajahnya dari samping. Dia mancung banget, xixixi. Pas
lagi asik-asiknya, tiba-tiba dia minggir, terus matiin motornya.
Ternyata
dia gak langsung nganter gue balik, buktinya dia malah berhenti di depan sebuah
kafe bergaya vintage masa kini. Ada banyak quotes yang digemari para remaja
zaman sekarang terpajang di tembok. Sementara furniture-nya berwarna seragam
dengan warna cat temboknya, yaitu putih pastel. Ditambah beberapa furniture
pemanis seperti jam dinding, lukisan-lukisan, dan sebagainya yang juga bergaya
vintage, yang merupakan gaya yang “gue banget”. Ah, what a great cafe! Sayangnya
cuma mimpi. Setelah itu kami duduk di sebuah meja yang berada di tengah kafe
itu.
Kami
memesan makanan. Dan makanan itu terasa sangat cepat datang, seperti sudah
dipersiapkan sebelum kami memesannya. Sambil makan, dia selalu bercandain gue
sampai gue gak bisa nahan ketawa. Ya, emang selera humor gue receh banget. Tapi
gue gak suka sih acara lawak di tv yang absurd itu. Intinya, it’s the most
amazing dinner i’ve ever had, even it just a dream! Gue bener-bener merasa...
Ah, speechless. Tapi sayang, keindahan dinner itu harus berhenti setelah kami
selesai makan.
Kami
keluar dari kafe. Ternyata di luar sana ada banyak temen gue yang juga dateng
ke kafe itu. Akhirnya kami pun berbincang-bincang dulu dengan mereka. Saat
sedang asik bicara, tiba-tiba seseorang berteriak.
“ada
monyet mabok!!” Cewek itu berteriak dengan suara yang menggelegar.
Akhirnya
semua mata langsung mencari monyet yang dimaksud. Benar, kurang-lebih dua puluh
meter dari tempat gue berdiri, ada seekor monyet yang besar sedang menggenggam
botol minuman keras. Monyet itu tampak kehilangan kendali dan marah. Ia pun
memecahkan botol minumannya dan membuat tangannya berdarah hebat.
Saat
gue sedang terpana, keadaan sekitar gue langsung ricuh. Semua orang mencari
pertolongan dan tempat berlindung. Sementara itu, seseorang menarik tangan gue,
mengajak gue untuk mencari tempat berlindung juga. Ya, orang yang sedaritadi
bersama gue. Seperti tidak ada pilihan lain, kami pun kembali masuk ke dalam
kafe.
Setelah
itu, kami bersembunyi di sebuah ruangan di lantai dua. Ternyata beberapa orang
juga berlindung di sana. Tapi entah kenapa, gue udah berfirasat bahwa tempat
ini bukan tempat yang tepat untuk bersembunyi. Dan benar, monyet besar itu berhasil
menyusup masuk lewat jendela yang ada di samping ruangan ini dengan anarkis.
Keadaan kembali lepas kendali.
Saat
itu gue kehilangan jejak cowok yang biasanya selalu ada di samping gue. Gue
benar-benar udah gak mikirin apa-apa. Yang gue tau, gue harus mencari tempat
yang gak banyak orang bersembunyi di sana. Akhirnya ketika orang-orang berbelok
ke balkon kafe, gue malah belok ke dapur kafe. Gue pun bersembunyi di antara
kitchen sets dan tembok untuk kompor listrik yang ada di dapur itu.
Dari
dalam dapur, gue bisa mendengar jelas jeritan-jeritan orang-orang yang
sepertinya diserang oleh monyet besar itu. Mungkin mereka dicakar, dicabik,
atau mungkin dimakan. Entahlah. Pokoknya jantung gue bener-bener ikut terlonjak
setiap kali mendengar jeritan di luar sana.
Sepertinya
gak ada satupun yang bisa menyelamatkan gue selain allah. Ya, akhirnya gue pun
berdoa sebisa gue sambil memejamkan mata. Gue berdoa dengan seluruh hati dan
jiwa gue. Ada perasaan tenang bercampur gelisah saat itu. Setelah beberapa
saat, tiba-tiba keadaan di sekeliling gue berubah menjadi terang. Terang sekali
sampai menyilaukan. Gue pun ngerasa gak kuat dan akhirnya membuka mata.
Gue
bangun dari mimpi itu dengan napas yang terputus-putus. Mata gue refleks
melihat sekeliling. Huft, cuma mimpi,
batin gue. Akhirnya gue pun beranjak dari posisi tidur gue dan mengumpulkan
nyawa. Entah bisikan dari mana, gue teringat sesuatu. Lagi-lagi gue kena
mini-heart attack. Gue belum ngerjain tugas fisika!! Mampus! Akhirnya gue
kelabakan lagi. Bahkan lebih kelabakan! Entah kenapa gue lebih menganggap
hukuman soal fisika akan lebih menyeramkan dibanding dikejar kingkong
sekalipun!