Entah berlari ke mana, gak tau berlari untuk siapa, gak ngerti berlari untuk apa, tapi yang jelas, gue harus lari. Di tengah ruangan tinggi yang dipenuhi cahaya, begitu banyak anak tangga yang meronta minta dinaiki. Dan, baiklah. Dengan semangat, gue dan Amel—temen gue—berlari menaiki satu persatu anak tangga.
Setelah ngos-ngosan akibat menaiki beratus-ratus anak tangga, kita malah disuguhi tembok-tembok tinggi yang gak mungkin bisa kita lewati begitu aja. Awalnya gue sempet ragu sama ajakan Amel, tapi akhirnya gue nyerah juga. Kami pun memutuskan untuk memanjat tembok-tembok itu. Setelah kurang-lebih memanjat tiga tembok, spontan gue senyum sumringah. Ternyata gak sesulit apa yang gue pikirin, hehehe.
Saat memanjat tembok selanjutnya, tiba-tiba hp gue berdering. Ada panggilan masuk. Gue pun mengangkat panggilan itu.
“halo?” Sapa gue.
Orang yang diseberang membisu. Hanya terdengar isak tangis di sana.
“halo, ada apa?” Lagi-lagi gue bicara. Namun kali ini dengan nada sedikit cemas.
“aku… kangen, mus.” Ucapnya dengan suara bergetar.
Spontan gue mengernyit. Tapi setelah itu, panggilan terputus. Sumpah, gue heran dan bingung banget maksud panggilan itu apa. Gue sempet membeku beberapa detik sebelum sesuatu menyadarkan gue.
Ternyata selama gue lari sama Amel, ada yang merekam kami berdua! Dan di sana ada keterangan yang menyebutkan bahwa yang lari di gedung itu bukan hanya gue sama Amel, tapi banyak orang yang juga lari di sana dalam waktu yang sama!
Lagi-lagi gue dipenuhi dengan tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Keesokan harinya, gue pergi ke sekolah. Saat di gerbang gue melihat isna yang merupakan temen sekelas gue dan seseorang yang gue gak begitu jelas melihatnya. Saat di tengah lapangan, gue melihat kakak kelas yang menurut gue ganteng banget. Iya, serius deh. Kegantengannya itu hampir menyaingi zayn malik bagi gue, wkwk. Dia lagi nongkrong di depan lab. Kimia sambi asik berbincang dengan sobatnya.
Saat gue udah mau jalan menuju lab. Kimia itu, tiba-tiba isna minta gue untuk muter lewat koridor anak kelas 12. Gak tau deh maksudnya apa. Tapi, yaudahlah gue ikut aja. Setelah beres mengelilingi koridor tersebut, gue pun berencana untuk kembali lewat lab. Kimia itu.
Tapi pas di tengah jalan, tiba-tiba aja hujan turun dengan sangat deras. Terpaksa gue pun berlari. Dan saat sampai di depan lab. Kimia… kakak kelas itu udah gak ada. Pfffttt. Akhirnya gue memutuskan untuk langsung pergi ke kelas.
Mampus, kelas gue udah mulai pelajaran! Pintu udah di tutup. Akhirnya dengan sedikit rasa takut, gue membuka pintu. Dan muka garang guru fisika gue menyambut kedatangan gue saat itu.
Ternyata pelajaran udah berjalan setengah jam dan temen-temen gue udah membuat kelompok yang terdiri dari enam orang. Saat gue minta chika dan denna untuk gabung di kelompok mereka gue malah diusir, huhu. Katanya kelompok mereka udah penuh… akhirnya gue berjalan ke kelompok yang lain. Dan… tada! Gue dapet kelompok juga akhirnya, xixi.
Gue pun duduk manis di samping temen gue, regita. Tadinya gue udah enjoy banget duduk di sana, sampai akhirnya gue nengok ke samping dan….
“ha?!” Spontan gue menarik napas dengan mulut menganga lebar.
Dengan begitu, mata gue juga ikut terbuka. Ternyata… semua itu hanya mimpi. Iya, mimpi yang menegangkan yang pernah gue alami! Apalagi, baru kali ini gue mimpiin orang itu. Kakak cogan? Bukan! Tapi orang yang ceritanya duduk di sebelah gue barusan!
Gue gak ngerti apa maksud orang itu mampir ke mimpi gue. Sumpah gue shock abis. Jadi, sebenarnya apa maksud dia mampir ke mimpi gue dan memamerkan senyum sengaknya ke depan gue? Gue gak ngerti. Benar-benar gak ngerti!
Apa jangan-jangan… dia juga yang ngaku bilang kangen ke gue saat di telepon itu dalam mimpi itu?! Entahlah. Sekarang mimpi gue lebih cocok dibilang sebagai misteri dibanding sebuah mimpi!
Tuesday, 18 November 2014
Wonderful Night
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment