Sunday, 5 October 2014

The Time's Up.

Langit masih berwarna biru dan mentari masih terbit dari ufuk timur. Namun waktu yang telah berbeda. Dan semua telah berbeda, berubah. Ya, walaupun perubahan adalah suatu proses kehidupan, namun tak semua perubahan bisa mudah diterima. Apalagi perubahan mengenai batin, pasti sangat sulit untuk bisa diterima begitu saja. Ditambah hati ini yang masih ingin bersama hati yang lama…
Gak papa kalau emang kita harus berpisah, tapi yang gak boleh adalah kalau kalian berubah, memandang aku dan memperlakukan aku. Gak papa kalau kita jarang ketemu, asalkan sekalinya bertemu kamu masih sama, tanpa harus canggung, seperti biasa. Gak papa kalau kamu punya teman baru, asalkan kita tetap menjadi kita.
Tapi nyatanya, sulit untuk menjadi biasa ketika ada sesuatu yang memisahkan dua insan atau lebih untuk tetap menjadi sama. Terlebih jika sesuatu itu mulai mengisi ruang yang biasanya hanya untuk kita. Ya, aku tau itu sangat sulit. Tapi tidakkah ada usaha untuk memperjuangkan semuanya agar tetap sama?
Sepertinya tidak. Walaupun mulut membantah sampai berbusa, tapi kenyataan tak bisa dipungkiri. Sesuatu yang nyata akan selalu tertangkap rasa.

Dari sini, aku simpulkan bahwa segala sesuatu punya batas waktunya masing-masing. Mengapa setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Karena waktu mereka sudah habis. Mengapa hidup akan selalu ada perubahan? Karena waktu terus berjalan, dan kamu gak mungkin diam terus di sana. Setiap fase hidup punya waktunya masing-masing. Dan semua itu akan ada akhirnya. Even when u wanna stay longer, but the time not willing u to stay there much longer. Bc the time’s up.

No comments:

Post a Comment