Thursday, 30 October 2014

LaSastra Punya Cerita.

LaSastra!!!!!! Yuhuuuu, bener-bener gak mungkin terlupakan hahaha. Acaranya seru parah! Apalagi gue adalah satu dari orang yang berpartisipasi di sana (ehem, MC), hehehehe. Memang perjuangan keras itu gak ada yang sia-sia. Pokoknya bener-bener gak sabar untuk LaSastra selanjutnya!!!!
Oke, mulai dari hari pertama. Kalo di hari pertama sih sebenernya gue gak ribet-ribet amat soalnya tugas gue cuma dikit. Tapi yang bikin heboh adalah gue double job pada hari dan waktu yang sama!!! Gue harus nyanyi buat ngewakilin kelas gitu. Dan saat gue lagi asik-asik nge-MC tiba-tiba….
“Mus, sekarang tampil!” Bisik Yudha dari jauh yang dibarengi oleh muka paniknya. Spontan mata gue melebar. Tapi detik selanjutnya gue langsung ngasih kode biar santai, jangan panik, asek. Alhasil, begitu beres gue langsung loncat dari panggung. Sumpah, kalo dipikir-pikir sih konyol banget. Untung guru bahasa indonesia gue gak ada, coba kalo liat? Beuh, matilah gue.
Setelah itu gue langsung lari ke kantin, tempat gue nyanyi. Muka temen-temen gue langsung pada sedikit merenggang dari kepanikan mereka. Ya wajar sih, habis kita udah latihan di studio berulang kali pula, masa akhirnya gak jadi? Kan miris. Ya setidaknya kami akhirnya tampil walaupun seadanya…. Semoga ke depannya kita tetep bersama dan bisa lebih baik lagi ya, guys!
Abis itu LaSastra juga ngedatengin bintang tamu pada hari pertama, yaitu JMM dan Adham T Fusama. Dan Kak Adham tuh bener-bener membuat keinginan gue menjadi seorang penulis semakin menggila! Hahahaha, motivasi bangetlah. Mungkin di LaSastra ke depannya gue yang bakal jadi bintang tamu sebagai penulis yang merupakan murid atau—mentok-mentok—alumni SMA Negeri 5 Bogor. Hihi, aamiin. Doakan, ya!
Terus di hari kedua, gue juga double job lagi. Tapi kalau yang ini gak ribet karena gue tampil untuk LVC dan partner gue yang lain juga emang baik dan bisa ngertiin banget (luv u kak wina, kak diani sama kak rima!). Jadi ya… bisa diaturlah. And well done, not bad xixi. Setelah itu gue jadi MC lagi. Terus blablabla, banyak banget acara yang kece-kece pada hari ini. Mulai dari Nasyid, Virtu, Biola dan keyboard yang berkolaborasi, dan juga tari bali yang penarinya cantiiiiikkk banget!
Setelah itu tibalah waktu yang ditunggu-tunggu semua orang. Ya, bintang tamu lagi. Pada hari kedua ini LaSastra menghadirkan Donny Dhirgantoro!! Lagi-lagi penulis novel telah menginspirasi gue. Pokoknya gue harus bisa jadi penulis, yeah! Haha. Dilanjut lagi sama penampilan Tangga! Ini juga gak kalah kece, malah bisa dibilang paling pecahhh diantara yang lain. Penontonnya antusias banget, sampe-sampe yang di seberang sana aja ikut nyanyi, eh wkwkwk. Pokoknya keren banget!!! Personilnya baik dan ramah-ramah, yippyyyy. Semoga bisa ketemu lagi, ya!
Habis itu, pengumuman pemenang lomba. Keliatan banget muka-muka sumringah para juara saat namanya terpanggil. Malah ada yang teriak-teriak histeris dengan suara beroktaf tinggi wkwkwk. Walaupun wajah mendung juga mewarnai sore itu, yaa… jangan patah semangat. Coba lagi di LaSastra selanjutnya!
Dan acara itu ditutup dengan kerusuhan panitia-panitia yang seru abisss!! Yaa, mereka kompak banget, sih....
Pokoknya LaSastra ini even yang membahagiakan buat gue hehe, semoga tahun depan bisa lebih keren lagi dan gue bisa ikut berpartisipasi lagi, aamiin!


Sunday, 5 October 2014

The Time's Up.

Langit masih berwarna biru dan mentari masih terbit dari ufuk timur. Namun waktu yang telah berbeda. Dan semua telah berbeda, berubah. Ya, walaupun perubahan adalah suatu proses kehidupan, namun tak semua perubahan bisa mudah diterima. Apalagi perubahan mengenai batin, pasti sangat sulit untuk bisa diterima begitu saja. Ditambah hati ini yang masih ingin bersama hati yang lama…
Gak papa kalau emang kita harus berpisah, tapi yang gak boleh adalah kalau kalian berubah, memandang aku dan memperlakukan aku. Gak papa kalau kita jarang ketemu, asalkan sekalinya bertemu kamu masih sama, tanpa harus canggung, seperti biasa. Gak papa kalau kamu punya teman baru, asalkan kita tetap menjadi kita.
Tapi nyatanya, sulit untuk menjadi biasa ketika ada sesuatu yang memisahkan dua insan atau lebih untuk tetap menjadi sama. Terlebih jika sesuatu itu mulai mengisi ruang yang biasanya hanya untuk kita. Ya, aku tau itu sangat sulit. Tapi tidakkah ada usaha untuk memperjuangkan semuanya agar tetap sama?
Sepertinya tidak. Walaupun mulut membantah sampai berbusa, tapi kenyataan tak bisa dipungkiri. Sesuatu yang nyata akan selalu tertangkap rasa.

Dari sini, aku simpulkan bahwa segala sesuatu punya batas waktunya masing-masing. Mengapa setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Karena waktu mereka sudah habis. Mengapa hidup akan selalu ada perubahan? Karena waktu terus berjalan, dan kamu gak mungkin diam terus di sana. Setiap fase hidup punya waktunya masing-masing. Dan semua itu akan ada akhirnya. Even when u wanna stay longer, but the time not willing u to stay there much longer. Bc the time’s up.