Halo, Bumi.
Kali ini aku menyapamu
ramah, tak pakai ego. Sama sekali.
Kali ini aku telah
reda, tak lagi hujan badai seperti hari-hari sebelumnya. Aku yakin kau paham
apa yang kumaksud. Ini memang belum memasuki musim kemarau. Aku juga tak bilang
tak ada hujan sama sekali. Ya, namanya juga kehidupan. Rintik dari gerimis
bahkan hujan sedang juga kadang masih menjadi tamu di bawah kelopak mataku.
Ya... mungkin efek
cuaca. Suasana di sekitarku masih dipenuhi potongan kenangan dari dirinya. Ada foto
kami berdua yang masih menggantung di pojok sana serta kado ulang tahun dari
dirinya beberapa tahun ke belakang. Belum lagi petualanganku dengan dirinya
dapat dikatakan lumayan banyak, sehingga tak ada sudut kota yang tidak ada
kenangan bersama dirinya.
Aku tidak ingin menjadi
pembohong, ya. Jujur saja, kadang aku masih suka iseng bertanya, sedang apa
dirinya? Apakah dia sehat? Apakah segalanya baik-baik saja? Tapi tentu,
pertanyaan itu selalu kugantungkan di antara ribuan pertanyaan lainnya yang tak
perlu kutagih jawabannya.
Tapi kemudian aku suka
meneguk segelas air putih agar tenggorokanku tak mengering akibat terlalu
meradang. Agar otakku juga tak terlalu kering, berpikir hal-hal yang melelahkan
tentang dirinya. Mengingat-ingat hal-hal yang membahagiakan hingga memuakkan
kadang membutuhkan banyak energi.
Begitulah. Aku hanya
bisa berpikir dan menuangkannya di surat ini padamu, Bumi. Dia tak lagi
menghubungiku. Tak juga menunjukkan gelagat untuk peduli kepadaku. Tapi, kan,
kau lebih tahu. Jadi, mungkin kalau kau mau berbaik hati, barangkali kau tak
keberatan untuk memberikan sedikit kabar tentang dirinya.
Tapi, kalau tidak
bisa... ya, tak apa. Aku tetap berdoa agar dirinya tetap baik-baik saja. Kami berdua
akan baik-baik saja. Melanjutkan kisah, kisah yang baik dan buruk di hari-hari
berikutnya, petualangan-petualangan tak terduga lainnya, langkah-langkah kelana
bersama manusia ciptaan Tuhan lainnya yang telah digariskan oleh-Nya.