Thursday, 28 June 2018

Surat untuk Bumi

Halo, Bumi.
Kali ini aku menyapamu ramah, tak pakai ego. Sama sekali.
Kali ini aku telah reda, tak lagi hujan badai seperti hari-hari sebelumnya. Aku yakin kau paham apa yang kumaksud. Ini memang belum memasuki musim kemarau. Aku juga tak bilang tak ada hujan sama sekali. Ya, namanya juga kehidupan. Rintik dari gerimis bahkan hujan sedang juga kadang masih menjadi tamu di bawah kelopak mataku.
Ya... mungkin efek cuaca. Suasana di sekitarku masih dipenuhi potongan kenangan dari dirinya. Ada foto kami berdua yang masih menggantung di pojok sana serta kado ulang tahun dari dirinya beberapa tahun ke belakang. Belum lagi petualanganku dengan dirinya dapat dikatakan lumayan banyak, sehingga tak ada sudut kota yang tidak ada kenangan bersama dirinya.
Aku tidak ingin menjadi pembohong, ya. Jujur saja, kadang aku masih suka iseng bertanya, sedang apa dirinya? Apakah dia sehat? Apakah segalanya baik-baik saja? Tapi tentu, pertanyaan itu selalu kugantungkan di antara ribuan pertanyaan lainnya yang tak perlu kutagih jawabannya.
Tapi kemudian aku suka meneguk segelas air putih agar tenggorokanku tak mengering akibat terlalu meradang. Agar otakku juga tak terlalu kering, berpikir hal-hal yang melelahkan tentang dirinya. Mengingat-ingat hal-hal yang membahagiakan hingga memuakkan kadang membutuhkan banyak energi.
Begitulah. Aku hanya bisa berpikir dan menuangkannya di surat ini padamu, Bumi. Dia tak lagi menghubungiku. Tak juga menunjukkan gelagat untuk peduli kepadaku. Tapi, kan, kau lebih tahu. Jadi, mungkin kalau kau mau berbaik hati, barangkali kau tak keberatan untuk memberikan sedikit kabar tentang dirinya.

Tapi, kalau tidak bisa... ya, tak apa. Aku tetap berdoa agar dirinya tetap baik-baik saja. Kami berdua akan baik-baik saja. Melanjutkan kisah, kisah yang baik dan buruk di hari-hari berikutnya, petualangan-petualangan tak terduga lainnya, langkah-langkah kelana bersama manusia ciptaan Tuhan lainnya yang telah digariskan oleh-Nya.