Adalah matahari,
Yang memancar
sinarnya kepada kaca bis yang kutumpangi. Daun-daun jatuh di luar sana. Para penyapu
jalan tampak sibuk dengan sapunya, menggiring daun ke samping jalan. Sedangkan aku
di sini, terduduk diam pada hari sabtu di sebuah bis tua. Aku tak lagi ingin bicara
dengan orang lain. Memangnya aku duduk dengan siapa?
Senyum pahitku
mengembang. Lagu di telepon genggamku terus mengalun. Ada seorang penyanyi
dengan gitarnya memenuhi ruang di telingaku.
Aku sendirian.
Aku tak paham
mengapa bisa rindu menjadikan aku sebagai konsumen lagu-lagu sendu seperti ini.
Pikirku jadi terbawa jauh. Aku memejam
mata sesaat. Ada kau di ujung mataku, tapi hanya sedetik.
Aku membuka
mata dan masih duduk di bis tua. Sinar matahari masih menyusup di antara
daun-daun yang gugur. Aku juga bisu dengan segala perasaan dengan nama rindu
berkecamuk dalam dada. Aku ingin pulang.
Atau bergantian,
kau yang datang kemari.
Namun aku tahu
bahwa sannya kita manusia dan tak memiliki sayap. Kita manusia yang terkurung
dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Lalu dengan alasan itu, kau
maupun aku menjelma menjadi sekadar suara di ujung telepon pada sisa waktu
sebelum tidur.