Saturday, 9 September 2017

Di Antara Daun Gugur.

Adalah matahari,
Yang memancar sinarnya kepada kaca bis yang kutumpangi. Daun-daun jatuh di luar sana. Para penyapu jalan tampak sibuk dengan sapunya, menggiring daun ke samping jalan. Sedangkan aku di sini, terduduk diam pada hari sabtu di sebuah bis tua. Aku tak lagi ingin bicara dengan orang lain. Memangnya aku duduk dengan siapa?
Senyum pahitku mengembang. Lagu di telepon genggamku terus mengalun. Ada seorang penyanyi dengan gitarnya memenuhi ruang di telingaku.
Aku sendirian.
Aku tak paham mengapa bisa rindu menjadikan aku sebagai konsumen lagu-lagu sendu seperti ini. Pikirku jadi terbawa jauh.  Aku memejam mata sesaat. Ada kau di ujung mataku, tapi hanya sedetik.
Aku membuka mata dan masih duduk di bis tua. Sinar matahari masih menyusup di antara daun-daun yang gugur. Aku juga bisu dengan segala perasaan dengan nama rindu berkecamuk dalam dada. Aku ingin pulang.
Atau bergantian, kau yang datang kemari.

Namun aku tahu bahwa sannya kita manusia dan tak memiliki sayap. Kita manusia yang terkurung dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Lalu dengan alasan itu, kau maupun aku menjelma menjadi sekadar suara di ujung telepon pada sisa waktu sebelum tidur.