Tak kutarik
lagi selimutku. Sebab kini aku paham, dingin ini bukan perihal angin malam yang
menyusup ke kamarku, namun rindu yang menggunung hingga tumpah ruah menjadi
laut pada pipiku. Suara serangga bersahutan pada pukul 02.21 pagi ini. Aku
urung menyalakan lagu. Aku rasa aku butuh keheningan untuk menulis kerinduan
atas kepulangannya yang hampir dua tahun berlalu.
Rindu ini
memang tak pernah habis, tak pula padam. Bak air hujan yang punya siklusnya
sendiri—jatuh, menguap, menjadi jenuh, lalu jatuh lagi. Atau bak api yang
membakar rumah yang terus menyalak, tak peduli berapa yang habis akibat egonya
itu.
Namun aku tak
bilang bahwa rindu ini buruk. Karena kenyataannya, rindu ini memaksaku untuk
mengalah. Ia tunjukkan betapa untuk mengusirnya ialah sebuah kemustahilan. Jadi
tak ada daya bagiku untuk menghilangkannya. Ia hidup kekal, sekekal-kekalnya
dalam darahku.
Juga betapa
rindu kala ia berkonspirasi bersama waktu, menegarkanku. Menguatkan sayap-sayap
yang patah. Membisik bahwa rindu tak meminta untuk diratapi, tapi hanya untuk
dimengerti—yang telah pulang itu tak ingin pulang untuk melukai. Rindu bilang,
memori yang berputar itu hanya ingin menyadarkanku bahwa yang telah pulang itu
benar mencintaiku, tulus menyayangiku. Maka tugasku ialah untuk menjadikan
ke-pernah-adaan-nya untuk membangun aku yang kuat menghadapi matahari besok.
Dan betapa
kerinduan ini membuat aku tahu, bahwa kepulangannya tak pernah sia-sia. Betapa
kepulangannya telah membuka mataku lebar-lebar, membuat aku paham bahwa sayang
yang sesungguhnya ialah yang saling menyebut dalam doa. Ialah yang mau
bertindak lebih. Ialah yang selalu merindu. Ialah yang berharap terbaik
untuknya dan selalu mengikhlaskannya.
Sungguh, kepulanganmu
telah menghadirkan rindu yang luar biasa—bukan sekadar rindu yang menuntut
pertemuan. Namun rindu yang mengajarkan aku sebuah ketabahan.
Aku yakin,
masih ada seribu pelajaran yang Allah siapkan untukku atas kepulanganmu dan aku
siap untuk itu.
Untuk itu, Pa,
terima kasih sudah pulang kepada-Nya.