Monday, 19 June 2017

Pulang.

Tak kutarik lagi selimutku. Sebab kini aku paham, dingin ini bukan perihal angin malam yang menyusup ke kamarku, namun rindu yang menggunung hingga tumpah ruah menjadi laut pada pipiku. Suara serangga bersahutan pada pukul 02.21 pagi ini. Aku urung menyalakan lagu. Aku rasa aku butuh keheningan untuk menulis kerinduan atas kepulangannya yang hampir dua tahun berlalu.
Rindu ini memang tak pernah habis, tak pula padam. Bak air hujan yang punya siklusnya sendiri—jatuh, menguap, menjadi jenuh, lalu jatuh lagi. Atau bak api yang membakar rumah yang terus menyalak, tak peduli berapa yang habis akibat egonya itu.
Namun aku tak bilang bahwa rindu ini buruk. Karena kenyataannya, rindu ini memaksaku untuk mengalah. Ia tunjukkan betapa untuk mengusirnya ialah sebuah kemustahilan. Jadi tak ada daya bagiku untuk menghilangkannya. Ia hidup kekal, sekekal-kekalnya dalam darahku.
Juga betapa rindu kala ia berkonspirasi bersama waktu, menegarkanku. Menguatkan sayap-sayap yang patah. Membisik bahwa rindu tak meminta untuk diratapi, tapi hanya untuk dimengerti—yang telah pulang itu tak ingin pulang untuk melukai. Rindu bilang, memori yang berputar itu hanya ingin menyadarkanku bahwa yang telah pulang itu benar mencintaiku, tulus menyayangiku. Maka tugasku ialah untuk menjadikan ke-pernah-adaan-nya untuk membangun aku yang kuat menghadapi matahari besok.
Dan betapa kerinduan ini membuat aku tahu, bahwa kepulangannya tak pernah sia-sia. Betapa kepulangannya telah membuka mataku lebar-lebar, membuat aku paham bahwa sayang yang sesungguhnya ialah yang saling menyebut dalam doa. Ialah yang mau bertindak lebih. Ialah yang selalu merindu. Ialah yang berharap terbaik untuknya dan selalu mengikhlaskannya.
Sungguh, kepulanganmu telah menghadirkan rindu yang luar biasa—bukan sekadar rindu yang menuntut pertemuan. Namun rindu yang mengajarkan aku sebuah ketabahan.
Aku yakin, masih ada seribu pelajaran yang Allah siapkan untukku atas kepulanganmu dan aku siap untuk itu.

Untuk itu, Pa, terima kasih sudah pulang kepada-Nya.

Saturday, 3 June 2017

Mengulik Perasaan.

Malam ini aku yang mengulik perasaan. Karena kemarin kau yang bilang ada jalan yang panjang di balik rasa yang kita punya. Ada medan yang berat untuk menjalaninya. Ada jurang yang curam yang bisa membunuh kita. Ada hutan yang gelap yang bisa menyesatkan. Ada tanjakan terjal yang mampu membuat kita terjatuh.
Tapi pada hari yang lain, kau juga yang tunjukan bahwa rasa yang kita tempuh adalah rasa yang mampu melambungkan hati. Ialah perasaan yang mampu mencipta rona pada pipiku. Sebuah perasaan yang ajaib; mengantarkan aku untuk menyayangimu lebih dari hari ke hari.
Maka segala cerita dan kenyataan yang kau beri kujadikan peta untuk mengulik rasa pada malam ini. Banyak yang aku pikirkan. Aku tak tahu apakah kau ini benar bisa membaca tentang jalan di depan yang kita punya. Maksudku, memangnya ada yang dapat menembus apa yang belum kita lalui dan menjadikannya sebagai sebuah ketetapan? Bukankah yang terbentuk hanyalah sebuah delusi? Atau jika memang benar nyata, maka itu hanya jadi cerita pada jalan yang pernah kau lalui dengan gadis yang lalu.
Baik, aku memang tak pernah suka untuk berusaha mengulik perasaan. Mempertanyakan apa alasan kita bersama. Membuat praduga hal-hal yang dapat memisahkan. Membangunkan cerita pilu pada masa lalu. Kemudian membuat luka karena rasa takut yang berlebihan.
Mengapa tak kita jalani saja apa yang ada. Membuatnya menjadi perjalanan terbaik yang pernah ada.
Petaku selesai. Kugambar kabut tebal pada jalan yang akan kita lalui ke depan. Aku hanya ingin jadi buta dan tak berusaha menebak apa yang kita punya di balik kabut tebal itu. Dan pintaku hanya satu, ialah berjuang untuk menyibak kabut tebal itu dan membuka jalannya bersamaku.
Namun jika tidak, maka malam ini aku yang haru.
Mungkin kau lain hari.
Kita hanya tak pernah bercerita kala hujan deras di pelupuk mata.