Sunday, 21 August 2016

Terima Kasih, 4K!

Makin semangat buat selalu nulis! Terima kasih buat siapapun yang sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi blog ini dan membacanya. Semoga bermanfaat, bisa membuka pikiran, atau setidaknya mengisi kekosongan waktu.
Seperti kehabisan kata-kata, jadi bingung mau bicara apalagi. Mungkin karena terlalu senang, jadi begini. But, the most important thing is, my life kinda getting harder by time. Semakin banyak hal yang ingin aku tulis di sini. Tapi aku gak bisa, karena aku menulis bukan buat curhat, hehehe. Jadi, minta doanya aja biar aku kuat menghadapi semua rintangan yang ada. Mungkin aku sedang belajar untuk lebih paham, atau apalah, ini semua masih menjadi misteri.
Semoga kalian gak pernah bosan untuk baca tulisanku yang sebetulnya masih sangat sederhana. Doain aja semoga kemampuanku menulis bisa meningkat sehinga bisa menulis hal yang lebih baik dan bermakna. Dan yang terpenting, aku selalu minta doanya, semoga di kemudian hari aku bisa beneran jadi penulis yang profesional dan menerbitkan buku! Aamiiin. Sekali lagi, terima kasih banyaaak sekali dan selamat membaca!

Tuesday, 16 August 2016

Pada yang Akan Hilang.

Pada yang akan hilang,
Kemudian aku berharap; jangan hilang.
Maksudku, kau tahu bahwa sannya, aku dan kau adalah patahan yang hilang pada cerita lain. Dia-ku kehilangan aku dan dia-mu kehilangan kau. Untuk selanjutnya, aku menjadi definisi dari yang ditemukan oleh kau, kau menjadi arti dari menemukan aku.
Jalani saja, begitu kata orang-orang. Ya, aku tahu. Sangat tahu. Tapi, tidakkah kau mengkhawatirkan apa yang akan kita temukan pada persimpangan jalan itu? Maksudku, memangnya pernah terpikir olehmu tentang kehilangan yang telah lalu itu? Tidak. Aku tidak pernah punya ide perihal kehilangan apapun. Kehilangan siapapun. Namun hidup ini kesalahan yang berulang, kau tahu. Pola hidup itu, ya, hanya yang itu-itu saja. Dipertemukan untuk kemudian dipisahkan. Menemukan untuk kemudian kehilangan. Kemudian menamai segalanya sebagai pelajaran. Lalu, bagaimana jika kita ditakdirkan untuk itu?
Aku hanya tak bisa bayangkan, memangnya hal semenyakitkan apa sehingga dapat membuat aku harus kehilangan kau? Sedangkan kau tahu, yang hilang itu tak pernah benar-benar hilang; kenangan.
Jika benar kita akan sama-sama kehilangan--aku kehilangan kau, kau kehilangan aku--maka pada masa yang selanjutnya, akan ada orang lain yang memegang peranku. Akan ada orang baru yang memegang tahtamu.
Kehilangan dan menemukan orang baru.
Kehilangan dan digantikan.
Aku tak tahu mengapa aku sangat risau begini. Aku hanya, ah, membayangkannya saja telah menghabiskan kata-kataku.
Untuk itu,  pada yang akan hilang,
Kemudian aku berharap; jangan hilang.

Wednesday, 3 August 2016

Infinite.

Saya sangat tahu, jelas. Bahwa sannya, beberapa hal tak bisa disamakan. Beberapa perkara punya batas yang tak kasat mata. Beberapa pasal punya maknanya tersendiri.
Sedikit pupilku terbuka, melebar. Menyadari lebih tajam tentang pada malam ini, bukan lagi menjadi tugas saya untuk sakit-sakit memikirkan apa yang tersembunyi pada hatinya. Atau hati siapapun. Menyadari bahwa diri ini terbatas, tidak bisa menembus apa yang hanya terjebak pada pikir, pun batin. Tidak bisa mengejar apa yang tidak nyata, yang sebatas khayal. Yang tidak terlihat atau terdengar.
Juga, bukan tugasnya, atau tugas siapapun untuk bisa memahami apa yang saya genggam pada pikir dan batin saya. Apa yang berlarian, menusuk, atau membahagiakan. Mereka tak dapat menembus saya, sisi yang tidak saya perlihatkan atau saya bicarakan.
Walau pada kenyataannya, ada seribu peluru yang mereka siapkan, yang mereka siap lontarkan kepada saya untuk mengira-ngira apa dan siapa saya sebenarnya. Baik dan buruk. Bermainlah, bermain terus dengan khayal itu. Menebak-nebak apa yang ada pada batin dan pikir saya. Bisa jadi benar, mungkin juga salah.
Tapi saya, saya berjanji tak akan melakukan hal yang sama. Payah-payah mengira apa yang ada dipikiranmu. Tidak, aku tak ingin peduli. Bukan tak peduli, hanya tak ingin peduli saya disalahgunakan. Lagipula, bukan tugas saya membaca pikiranmu.
Biarkan, lisanmu bergerak jika sudah siap. Jika kau cukup percaya untuk saya mendengarkannya.