“Bukannya sudah kukatakan sebelumnya? Bukannya semua orang sudah mengatakannya, kepadamu?” Pupilnya yang tajam terlihat membesar di bawah sinar lampu yang menggantung di atas kami.
Lidahku masih kelu, belum ingin menjawab. Atau lebih tepatnya, belum sanggup menjawab. Aku masih tertunduk, membisu. Menenggelamkan wajahku yang memerah. Aliran darah pada mukaku mendadak terasa panas. Pun mataku, lebih suka memandangi meja yang memisahkan aku dengannya dibandingkan menatap wajahnya yang begitu menunggu aku menjawab pertanyaannya yang mendesak.
Lima atau enam detik berlalu. Ia memutarkan bola matanya.
“Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi, masalahnya ialah, kau yang terlalu bodoh. Umpama membeli barang yang rusak, yang kau sudah ketahui barang itu sudah tak berfungsi, tapi kau tetap membelinya.
“Seperti terjun ke tengah laut, yang sudah tahu laut itu dalam, dan kau tak bisa berenang.
“Seperti menyayat pisau pada tanganmu, yang sudah kau tahu itu akan melukaimu, tapi tetap kau lakukan.”
Aku masih belum bisa berkata. Rahangku mengeras.
“Semua orang juga tahu, semuanya akan seperti ini. Semua orang juga sudah mengatakan, bahwa ia memang seperti itu. Kau saja yang terlalu bermimpi untuk bisa merubahnya.” Ia menyeringai, memicingkan satu sudut bibirnya. “Percuma.”
Kesibukan di dalam kafetaria itu mengisi kekosongan perbincangan kami sejenak. Piring yang beradu dengan garpu. Cangkir yang diletakan di atas pisin. Juga perbincangan pengunjung lain yang menyesaki atmosfer di sekitar kami. Samar-samar, namun terdengar lebih berwarna dibandingkan aku dengannya.
“Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?” Lagi-lagi, ia bertanya kepadaku, begitu mendesak.
Bibirku hendak menjawab, tapi urung. Dadaku terlalu sesak hingga membutuhkan oksigen tambahan. Aku pun malah menarik nafas yang dalam, dan menggeleng—tanda tak tahu.
“Itu buruk.” Ujarnya lagi. “Ayolah, kau pasti bisa melakukan sesuatu. Aku hanya tak ingin melihat kau jadi nelangsa begini. Begitu biru, sayu.
“Aku hanya ingin kau bisa tegas menjawab segala pertanyaan yang berlarian pada benak dan pikiranmu tentang dia. Menjadikannya satu jawaban yang sejalan. Bukan yang masih ragu, setengah melihat ke belakang dan bagian yang lain memaksa melangkah ke depan.
“Aku hanya ingin kau bisa menjawab dengan tegas semua pertanyaan orang-orang tentang dirimu dengan dia yang sebenarnya. Tidak lagi perlu bingung untuk menjawab apa. Katakan saja yang sesungguhnya, bahwa segalanya memang telah tiada.” Ringan sekali ia mengakatakan semua itu.
Tenggorokanku kini terasa kering. Aku menelan ludah.
Ia menyesap sedikit minuman yang telah ia pesan sembari memandangi wajahku yang penuh tanda tanya. Bibirku sudah seputih kertas, yang belum menjawab apapun dari segala pertanyaan dan pernyataan yang telah ia lontarkan kepadaku.
Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas meja.
Kemudian mendongak sedikit, perlahan beradu dengan bola mata hitam yang sedari tadi memandangiku.
“Aku tahu. Kau sepenuhnya benar. Sepenuhnya, tidak ada yang dapat aku sanggah. Tapi cobalah lihat pada sisi lain, maksudku, setidaknya pastilah ada itikad baik pada awalnya yang ia niatkan kepadaku, hingga akhirnya aku sempurna memilih dia. Walau pada jalannya, segalanya tak seperti apa yang telah diniatkan.
“Pun aku, yang mungkin gagal untuk memperbaiki dirinya. Berangan ia akan berubah, dari apa yang telah orang-orang ceritakan kepadaku. Pun aku yang pada awalnya memiliki itikad baik, bukan?”
Aku bisa lihat mulutnya menganga sedikit, juga alisnya yang bertaut.
“Mungkin semua yang kau ucapkan benar. Mungkin juga akan aku lakukan. Ini masaku dengannya yang memang telah habis. Juga begitu aku memperbaiki segalanya, aku mebutuhkan masa; waktu. Aku tidak bisa dan tidak mau memaksakan segalanya. Natural saja.
“Walau aku tak lagi tahu apa yang ia bicarakan dan ia lakukan, tapi itu cukup menjadi urusan dia. Akan kucoba untuk tidak peduli—seperti ia yang mungkin tak lagi peduli. Akan kucoba untuk mengurusi segala urusanku saja, agar tidak semakin rumit nantinya. Tapi kukatakan sekali lagi, aku butuh waktu.”
Ia mengulum senyum tipis. “Baiklah jika begitu. Tapi kuharap kau cukup kuat untuk menghadapi segala bentuk kesulitan yang—pasti—akan kau jumpai selama dalam masa itu.”
“Akan kupastikan.”
Wednesday, 18 May 2016
I Will.
Friday, 6 May 2016
Tentang Kau.
Sunday, 1 May 2016
3K viewers, mercy!!
Terlalu hening, lengang. Terlalu banyak yang harus gue pikirkan dan kerjakan. Terlalu memikirkan kesibukan esok hari. Terlalu sesak dengan masalah hati. Gue ingin berlari. Gak peduli besok ulangan 2 pelajaran dan tes membaca hiragana juga pr agama yang menggila banyaknya. Kali ini, semua yang ingin gue lakukan hanyalah diam, dan beradu dengan pikiran.
Juga perasaan.
Ah, sudahlah. Gue sudah tidak ada ide lagi untuk mendeskripsikan segala kekacauan ini. Mungkin kalian pun jenuh membaca cerita tentang sesak, sedih, patah, dan sebagainya. Gue pun bosan, capek. Jadi, kepinggirkan saja dulu perihal itu.
Lebih baik gue merasa senang karena tidak terasa viewers blog ini telah mencapai 3000!! Terima kasih, terima kasih baaaaanyaaaaaak sekali untuk pembaca! Tanpa kalian blog ini sama sekali tidak berarti. Dan kalian juga membuat gue semakin mengerti bahwa segalanya, semuanya, membawa pelajaran. Ya, kalian tahu pasti bahwa cerita gue ini, berasal dari pengamatan hasil berjumpa dengan manusia dan lingkungannya. Jadi, segala apapun yang terjadi, gue yakin hal tersebut merupakan pelajaran berharga. Dan blog ini, semoga cukup untuk membuka sedikit pikiran atau menenangkan sedikit perasaan atau setidaknya, menyalurkan pesan sesungguhnya daripada tulisan itu. Simpelnya, kamu setidaknya mendapatkan "sesuatu" setelah membaca tulisan yang ada di blog ini.
Semoga kalian, para pembaca, tidak pernah bosan untuk membaca blog ini, ya. Karena kalian motivasi terbesar saya untuk menulis. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya dan nantikan tulisan selanjutnya!!