Wednesday, 18 May 2016

I Will.

“Bukannya sudah kukatakan sebelumnya? Bukannya semua orang sudah mengatakannya, kepadamu?” Pupilnya yang  tajam terlihat membesar  di bawah sinar lampu yang menggantung di atas kami.
Lidahku masih kelu, belum ingin menjawab. Atau lebih tepatnya, belum sanggup menjawab. Aku masih tertunduk, membisu. Menenggelamkan wajahku yang memerah. Aliran darah pada mukaku mendadak terasa panas. Pun mataku, lebih suka memandangi meja yang memisahkan aku dengannya dibandingkan menatap wajahnya yang begitu menunggu aku menjawab pertanyaannya yang  mendesak.
Lima atau enam detik berlalu. Ia memutarkan bola matanya.
“Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi, masalahnya ialah, kau yang terlalu bodoh. Umpama membeli barang yang rusak, yang kau sudah ketahui barang itu sudah tak berfungsi, tapi kau tetap membelinya.
“Seperti terjun ke tengah laut, yang sudah tahu laut itu dalam, dan kau tak bisa berenang.
“Seperti menyayat pisau pada tanganmu, yang sudah kau tahu itu akan melukaimu, tapi tetap kau lakukan.”
Aku masih belum bisa berkata. Rahangku mengeras.
“Semua orang juga tahu, semuanya akan seperti ini. Semua orang juga sudah mengatakan, bahwa ia memang seperti itu. Kau saja yang terlalu bermimpi untuk bisa merubahnya.” Ia menyeringai, memicingkan satu sudut bibirnya. “Percuma.”
Kesibukan di dalam kafetaria itu mengisi kekosongan perbincangan kami sejenak.  Piring yang beradu dengan garpu. Cangkir yang diletakan di atas pisin. Juga perbincangan pengunjung lain yang menyesaki atmosfer di sekitar kami. Samar-samar, namun terdengar lebih berwarna dibandingkan aku dengannya.
“Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?” Lagi-lagi, ia bertanya kepadaku, begitu mendesak.
Bibirku hendak menjawab, tapi urung. Dadaku terlalu sesak hingga membutuhkan oksigen tambahan. Aku pun malah menarik nafas yang dalam, dan menggeleng—tanda tak tahu.
“Itu buruk.” Ujarnya lagi. “Ayolah, kau pasti bisa melakukan sesuatu. Aku hanya tak ingin melihat kau jadi nelangsa begini. Begitu biru, sayu.
“Aku hanya ingin kau bisa tegas menjawab segala pertanyaan yang berlarian pada benak dan pikiranmu tentang dia. Menjadikannya satu jawaban yang sejalan. Bukan yang masih ragu, setengah melihat ke belakang dan bagian yang lain memaksa melangkah ke depan.
“Aku hanya ingin kau  bisa menjawab dengan tegas semua pertanyaan orang-orang tentang dirimu dengan dia yang sebenarnya. Tidak lagi perlu bingung untuk menjawab apa. Katakan saja yang sesungguhnya, bahwa segalanya memang telah tiada.” Ringan sekali ia mengakatakan semua itu.
Tenggorokanku kini terasa kering. Aku menelan ludah.
Ia menyesap sedikit  minuman yang telah ia pesan sembari memandangi wajahku yang penuh tanda tanya. Bibirku sudah seputih kertas, yang belum menjawab apapun dari segala pertanyaan dan pernyataan yang telah ia lontarkan kepadaku.
Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas meja.
Kemudian mendongak sedikit, perlahan beradu dengan bola mata hitam yang sedari tadi memandangiku.
“Aku tahu. Kau sepenuhnya benar. Sepenuhnya, tidak ada yang dapat aku sanggah. Tapi cobalah lihat pada sisi lain, maksudku, setidaknya pastilah ada itikad baik pada awalnya yang ia niatkan kepadaku, hingga akhirnya aku sempurna memilih dia. Walau pada jalannya, segalanya tak seperti apa yang telah diniatkan.
“Pun aku, yang mungkin gagal untuk memperbaiki dirinya. Berangan ia akan berubah, dari apa yang telah orang-orang ceritakan kepadaku. Pun aku yang pada awalnya memiliki itikad baik, bukan?”
Aku bisa lihat mulutnya menganga sedikit, juga alisnya yang bertaut.
“Mungkin semua yang kau ucapkan benar. Mungkin juga akan aku lakukan. Ini masaku dengannya yang memang telah habis. Juga begitu aku memperbaiki segalanya, aku mebutuhkan masa; waktu. Aku tidak bisa dan tidak mau memaksakan segalanya. Natural saja.
“Walau aku tak lagi tahu apa yang ia bicarakan dan ia lakukan, tapi itu cukup menjadi urusan dia. Akan kucoba untuk tidak peduli—seperti ia yang mungkin tak lagi peduli. Akan kucoba untuk mengurusi segala urusanku saja, agar tidak semakin rumit nantinya. Tapi kukatakan sekali lagi, aku butuh waktu.”
Ia mengulum senyum tipis. “Baiklah jika begitu. Tapi kuharap kau cukup kuat untuk menghadapi segala bentuk kesulitan yang—pasti—akan kau jumpai selama dalam masa itu.”
“Akan kupastikan.”

Friday, 6 May 2016

Tentang Kau.

Mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.
Akan aku ceritakan segalanya, dari awal. Sejak aku dan kau menemukan sebuah puisi dan menjadi awal perbincangan kita. Kala itu tengah malam, aku ingat sekali. Aku sudah mengantuk sebetulnya, tapi kau tampak masih sangat antusias dengan perbincangan itu.  Hingga akhirnya aku tertidur, dan tak membalas pesanmu.
Tapi esok, matahari masih terbit. Kemudian hingga esok, esoknya lagi, setelah malam itu. Perbincangan kita terus berlanjut dan semakin hangat, semakin seru, dan semakin dekat. Aku tak mengerti bagaimana bisa menjadi seperti itu. Hanya yang paling aneh ialah, kerap kali kutemui bibirku tertarik ke atas setelah membaca pesanmu. Beberapa kali pipiku merona setelah melihat balasan pesanmu. Merasa sedikit terkejut ketika mengartikan pesanmu.  Seperti mengaktifkan hormon dopamin dan adrenalin dalam waktu bersamaan.
Lalu, ini bagian terbaiknya. Ketika kau tiba-tiba meninggalkan makanan di depan rumahku dan memberikan pesan pada secarik kertas yang masih ku simpan hingga saat ini. Hal itu, terlalu indah untuk dijamak oleh kata. Perasaan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Kau bisa bayangkan, bukan? Dan itu, bukan yang terakhir. Dia juga pernah meninggalkan sekotak kue pada loker mejaku, juga dengan pesan di dalamnya. Menaruh setangkai bunga pada loker mejaku dan sebuah pesan di dalamnya.  Datang ke depan rumahku, tepat jam 12 malam, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Ku tak lagi punya akal sehat. Segala pikiranku seolah telah didistorsikan oleh bayangannya. Dia menang. Dia mampu menarik segala perhatianku. Dia bisa merebut segala kepercayaanku. Dia, aku tak punya ide lagi, terlalu indah. Terlalu manis. Terlalu menyilaukan, hingga membutakan.
Hingga mungkin membodohi, melukai, kemudian memuakkan. Berawal dari keinginanku, mungkin juga egoku, yang telah berekspektasi berlebih kepadanya. Namun ia menentang, menolak. Aku, dengan segala kesabaranku, ujungnya mengalah. Kemudian dia, yang juga memuntahkan egonya, berekspektasi berlebih kepadaku, namun tampak tak ingin kalah. Jadi, kala itu, aku pula yang mengalah. Entahlah, segalanya membuat dia berinisiatif untuk mengistirahatkan segalanya. Membuka waktu untuk diri masing-masing, yang kukira hal itu keliru.
Maksudku, aku selalu butuh tempat mengadu, kau tahu. Tempat untuk pulang. Tempat untuk berteduh, mencari ketenangan. Tapi dia berfikir lain. Dalam sudut pandangku yang mungkin buruk, ia menghindar. Berlari dari segalanya. Aku tak suka. Tak pernah suka.
Lagipula, ruang yang ia ciptakan itu membuat sakitnya makin terasa. Menelan rindu bulat-bulat, sendirian. Menciptakan ruang senggang yang semakin meluas, melebar, menjadi semakin jauh. Terlarut pada tebak-tebakan sendiri,  tanpa tahu kebenarannya.
Aku lama-lama lelah. Semuanya membuat otak dan dadaku terasa penuh. Ditambah lagi, terlalu banyak hal negatif—yang menurut perspektifku dan orang-orang yang berada disekitarku—tanpa ada pembenaran dari hal itu. Aku capek, benar-benar capek.
Dan dia datang lagi, meletup-letup. Kembali dengan membawa api pada kedua lengannya. Aku lengah, kemudian terbakar. Tidak lagi menggunakan kesabaranku. Hilang, pergi semua. Kini macan tidur dalam diriku, berhasil ia bangunkan. Dan aku bisa dengan kuatnya, atau lebih tepatnya, dipaksa untuk menjadi-mendadak-kuat, memutuskan untuk menghentikan segalanya.
Aku tak tahu apalagi yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu, aku bertambah kacau. Kalut. Kalap, hingga lepas kendali. Kembali pada tengah malam yang berbeda, pada malam yang berbeda, dengan perasaan yang berbeda. Berantakan.
Aku terbangun esok paginya, dengan mata yang berat. Kepala yang pening, dan segumpal perasaan aneh dalam dada.
Ku berkaca pada cermin yang terpaku pada dinding kamarku. Mataku masih sedikit membesar. Ini perjalanan yang paling melelahkan yang pernah ada. Kemudian aku terduduk, memikirkan apa yang terjadi pada sisi yang di sana.
Tapi satu hembusan nafas yang dalam melelehkan sebagian dari hatiku yang mendadak beku. Tak ada luka yang tidak mendewasakan. Tak ada kecewa yang tidak menguatkan. Dan memang kau, yang diutus untuk mengenalkan segala rasa itu, rasa begitu dicintai, juga begitu disia-siakan.
Daripada terus beradu dalam ego? Daripada terus terlarut dalam kelabu? Aku yakin segalanya ditempuh untuk mengokohkan siapapun yang menempuhnya.
Tidak, aku tidak menyesal. Aku siap, menerima segala konsekuensinya. Apalah, segalanya memang harus terjadi. Walaupun setelah ini, setelah pernah merasa dicintai sebegitunya namun ujungnya dikecewakan juga, aku jadi tak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk itu, mungkin suatu hari nanti, akan aku ceritakan tentang kau. Tentang kau, kepada sahabatku, kerabat dekatku, atau boleh jadi, kepada keturunanku. Kepada putriku yang mungkin nanti kutemukan sedang bersedih. Kepada putraku yang mungkin nanti tengah bimbang. Kemudian aku akan duduk disampingnya, mengelus punggungnya, dan bercerita tentang kau.

Sunday, 1 May 2016

3K viewers, mercy!!

Terlalu hening, lengang. Terlalu banyak yang harus gue pikirkan dan kerjakan. Terlalu memikirkan kesibukan esok hari. Terlalu sesak dengan masalah hati. Gue ingin berlari. Gak peduli besok ulangan 2 pelajaran dan tes membaca hiragana juga pr agama yang menggila banyaknya. Kali ini, semua yang ingin gue lakukan hanyalah diam, dan beradu dengan pikiran.
Juga perasaan.
Ah, sudahlah. Gue sudah tidak ada ide lagi untuk mendeskripsikan segala kekacauan ini. Mungkin kalian pun jenuh membaca cerita tentang sesak, sedih, patah, dan sebagainya. Gue pun bosan, capek. Jadi, kepinggirkan saja dulu perihal itu.
Lebih baik gue merasa senang karena tidak terasa viewers blog ini telah mencapai 3000!! Terima kasih, terima kasih baaaaanyaaaaaak sekali untuk pembaca! Tanpa kalian blog ini sama sekali tidak berarti. Dan kalian juga membuat gue semakin mengerti bahwa segalanya, semuanya, membawa pelajaran. Ya, kalian tahu pasti bahwa cerita gue ini, berasal dari pengamatan hasil berjumpa dengan manusia dan lingkungannya. Jadi, segala apapun yang terjadi, gue yakin hal tersebut merupakan pelajaran berharga. Dan blog ini, semoga cukup untuk membuka sedikit pikiran atau menenangkan sedikit perasaan atau setidaknya, menyalurkan pesan sesungguhnya daripada tulisan itu. Simpelnya, kamu setidaknya mendapatkan "sesuatu" setelah membaca tulisan yang ada di blog ini.
Semoga kalian, para pembaca, tidak pernah bosan untuk membaca blog ini, ya. Karena kalian motivasi terbesar saya untuk menulis. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya dan nantikan tulisan selanjutnya!!