Monday, 14 March 2016

Cliché.

Semoga esok akan baik-baik saja. Aku berdoa malam ini dan akan menyusup lewat mimpi yang mungkin saja kau akan lupa setelah bangun. Tapi jika nanti kau masih ingat, maka dengarkan aku baik-baik.
Sejatinya, aku ini terlalu mudah pecah. Sebenarnya aku ini wanita, yang tak bisa berkata banyak. Bukan pula manusia yang pandai menampakkan apa yang ia rasa. Bukan. Aku bodoh total untuk hal seperti itu. Tapi yang aku yakini ialah, kau bisa melihatnya. Kau pastilah bisa merasakannya. Dengarkan, aku bukan pintu yang terbuka lebar, tapi bukan pula pintu yang tertutup rapat. Mengerti? Jika tidak, maka akan kujelaskan lebih rinci.
Klisenya, aku bukan, bukan yang mudah dilalui banyak orang. Tapi bukan pula yang sukar untuk menerima. Tapi pintu itu terbuka, sedikit. Hanya orang yang berusaha untuk membuka pintu itu lebih lebar yang akan berhasil masuk. Tapi ingat, selama pintu itu belum terkunci maka orang lain juga berhak untuk masuk, bukan?
Aku hanya ingin tahu, sejauh apa kau akan berusaha untuk mengunci pintu itu, agar tiada yang lain yang dapat masuk. Walau nyatanya, ruang yang ada hanya dapat dimasuki oleh seorang saja. Tapi, siapa pula yang tahu jikalau ternyata kau tidaklah sanggup bertahan pada ruang itu, kemudian memilih pergi. Aku, tidak ingin menguncinya sendiri. Takut-takut suatu hari kau benar-benar muak, kemudian memilih mendobrak pintunya, melukai ruang itu. Percayalah, aku terlalu takut untuk menjadi kacau hanya karena aku merasa telah dipilih padahal tidak. Merasa telah benar menemukan yang baik untuk menjaga padahal ia sama sekali tak berniat demikian. Aku takut, besar rasa sendiri. Aku takut, terbawa perasaan dan tebak-tebakan sendiri. Dan lebih takut lagi, jika kau sudah tahu bahwa nyatanya aku telah merasa diperlakukan dengan baik, maka kau akan merasa aman dan tak lagi berusaha untuk mengunci ruang itu, seenaknya tinggal tanpa memberi kepastian bahwa kau memang benar takkan pergi.
Aku tidak, tidak akan menetapkan apapun. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal hanya karena kau sudah berhasil masuk pada ruang itu. Walau nyatanya, aku pun takut jika kau tiba-tiba pergi. Tapi aku tak ingin egois. Jika memang kau tidak berusaha mengunci ruang itu, maka artinya kau selalu punya hak untuk meninggalkan. Itu akan selalu menjadi hakmu, dan kewajiban bagiku untuk melepaskan. Maka aku mohon, temukanlah kunci itu dan kuncilah sendiri olehmu. Agar aku percaya, kau memanglah benar berniat untuk tinggal dan menjaga ruang itu. Percayalah, aku di sini, hanya ruang yang lengang, jika tak ada yang menempati.

Tuesday, 1 March 2016

An Entire Galaxy.

When I was hoping a single planet,
You, yes you, came like an entire galaxy to me.
Dan semua ini, membuat gue percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah. Semuanya terbayar, setelah gue mengalami patah jutaan kali karena orang yang sama, setelah segalanya menyerupai badai yang tak kunjung habis, setelah segalanya serumit benang kusut, someone else comes and makes me forget about all the pain. Ini terlalu seperti fairytale buat gue, sungguh. Gue pun gak pernah nyangka kalau gue akan merasakan semua ini. Dia, terlalu seperti tokoh dalam novel teen-romance yang sering gue baca. Yang penuh kejutan dan gak pernah terbaca. Serius. Tapi, sebanyak apapun novel yang sudah gue baca, gak ada surprise yang sama seperti apa yang sudah dia berikan ke gue. Okay, mungkin bentuk fisik dari surprise itu sama seperti apa yang ada dalam novel. Tapi cara dia menyampaikannya, itu gak pernah sama. Tidak pernah ada. Atau mungkin pernah ada, tapi ini yang pertama kalinya bagi gue.
Dan semua itu, semua perasaan elated and euphoria at the same time itu, dia yang mengenalkannya kepada gue. Rasa terkejut dan panik yang baru gue rasakan seperti itu, dia yang mengajarkan. Perasaan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, dia yang berikan.
Gue gak pernah tahu ke depannya akan seperti apa, tapi setidaknya dia akan menjadi tokoh penting dalam sejarah hidup gue. Kan, kemarin-kemarin, gue sudah belajar banyak tentang hal-hal yang tak disangka-sangka. Jadi, gue gak mau terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. We’ll see.
Sementara orang yang telah mengajarkan gue untuk lebih bersabar, alias yang mengenalkan gue bagaimana rasanya patah hati, sekarang menjadi teman gue. Entahlah, semuanya berlalu begitu saja.
Sekali lagi, gue ngerasa sangat beruntung menjalani semua ini. Karena gue yakin, gak semua orang seberuntung gue. Gak semua orang pernah ngerasa nelangsa sedalam gue, juga bahagia sesuper gue. Kalau saja gue punya waktu, maka izinkan gue untuk menceritakan lebih dalam dan lebih jauh. Doakan saja, semoga ceritanya bertambah baik!