Monday, 16 November 2015

The Rain and The Old Woman.

Ini musim hujan dan gw suka itu. Sebenarnya tak ada yang spesial pada musim hujan, namun sejuknya hujan dan suasana yg tercipta saat maupun sesudah hujan selalu bagus. Gw suka wangi basah dari hujan. Walaupun karena hujan langit gak pernah berbintang, tapi di zaman yang penyalahgunaan energinya sudah parah ini bintang memang sudah jarang terlihat. Dan gw adalah salah satu manusia yang sedih sekali untuk melihat keadaan ini.
Well, bukan itu inti ceritanya. Tapi ada sedikit yang berbeda dengan hujan pada musim ini. Bukan lagi cerita sedih atau sebagainya, tapi gw hanya ingin bercerita tentang badai yang kemarin terjadi. Ya, memang, sih, pikiran gw lagi berantakan parah belakangan ini, tapi kita kesampingkan dulu masalah itu. Gw juga ingin melupakan sejenak. Tarik napas yang dalam, kemarin sore, tepat saat mendung kemudian langit berwarna gelap keruh. Seolah menyiapkan segala kekuatannya sebelum akhirnya benar-benar memuntahkan semua amukannya. Saat itu gw sedang berada dalam angkot. Nekat memang, tapi itulah gw. Fearless. Asek. Wkwkw. Apasih. Kala itu angkot yang gw tumpangi kosong, hanya terdapat supir dan satu nenek-nenek yang duduk di kursi 6 orang. Sementara gw duduk di kursi 4 orang dan segera menempatkan diri di pojok angkot. Nenek-nenek tadi melirik gw sejenak dengan muka datar. Judes, malah. Sementara gw yang tadinya sudah menyiapkan senyum jadi urung. Gw pun akhirnya memandang ke luar jendela.
Namun tak lama berselang, nenek yang tadi segera pindah ke pojok kursi dan memposisikan tubuhnya di depan gw. Membuat gw refleks nengok kepada beliau. Dia berkata sesuatu. Tapi gw tak mendengar karena sepasang earphones terpasang di telinga gw. Gw pun melepaskannya sebelah. Sementara nenek itu tiba-tiba menyerahkan sebuah ponsel nokia jadul dengan muka yang dipasang ramah. Gw tambah bingung. Kemudian gw bertanya.
"Ada apa, bu?" Suara gw terpasang seramah mungkin.
Ternyata dia tak mengerti dengan ponsel tersebut karena ponsel itu baru diberikan oleh anaknya kepadanya. Dia bingung dengan sms yang masuk dan tak tahu cara membukanya. Gw pun dengan perlahan mengajarkan nenek itu cara membuka smsnya. Nenek itu sumringah. Karena gw tetap menjada sikap, gw tidak membaca apa isi sms itu. Tapi nenek yang sudah senang tadi malah membacakannya untuk gw.
Isi sms itu pun membuat nenek itu bercerita banyak tentang profesinya. Jadi isi sms itu adalah sebuah permintaan jasa pijit yang nenek itu sediakan. Aku hanya tersenyum mendengarkan cerita itu. Dia bilang sekarang dia harus pergi ke pasar untuk membeli lulur. Gw mengangguk merespon ceritanya. Tak lama kemudian hujan besar turun. Beberapa kilat juga serta hadir.
"Bawa payung, neng?" Tanya nenek itu.
Gw mengiyakan. Tentu saja, nek. Meskipun gw sangat cinta hujan, namun pertahanan tubuh gw yang lemah membuat gw gak bisa bersahabat dengan hujan.
Setelah itu seorang pemuda naik. Gw ingat sekali orang tersebut. Rambutnya gimbal, keriting mekar. Sementara tubuhnya tinggi menjulang, membuat ia harus sedikit membungkuk saat dalam angkot. Ia pun duduk di sebelah nenek yang sedaritadi berbincang dengan gw.
Gw sesekali tertawa mendengar ocehan nenek itu. Sementara pemuda tadi hanya memandangiku dengan tatapan aneh. Entah apa maknanya, tapi awalnya ia seperti bingung dengan percakapanku dengan nenek tadi.
Hujan semakin hebat. Air sampai masuk ke dalam angkot dan membuatku sedikit basah. Dengan cepat nenek tadi membuka payungnya. Ya, di dalam angkot. Gw sedikit terbelalak. Begitu juga dengan pemuda tadi. Namun nenek itu merasa idenya brilian, jadi aku hanya tertawa. Apalagi ekspresi pemuda tadi yang bingung namun tetap tersenyum memaksa, menambah gw untuk tertawa. Akhirnya nenek tadi membuat pemuda tadi terlibat dalam percakapan kami. Namun gw sedikit tak acuh pada pemuda tadi. Karena dari penampilannya, sepertinya ia bukan orang yang baik. Apalagi ia orang asing dan dia laki-laki, tidak mudah bagiku untuk langsung terbuka pada orang seperti itu.
Beruntung gw segera sampai di rumah. Nenek tadi telah tahu bahwa aku akan sampai karena aku berkata tentang hal tersebut sebelumnya. Ia pun segera menutup payungnya. Sementara pemuda tadi langsung mengerti maksud nenek tadi menutup payungnya setelah aku berkata kiri pada supir angkot.
Gw turun dari angkot itu setelah berpamitan pada nenek tadi. Sementara pemuda tadi hanya memandangiku dan gw tak menghiraukan. Jahat memang, namun kembali pada pernyataanku di atas.
Payung yang gw bawa gw buka. Sementara sepatu yang gw kenakan basah seketika. Memakai converse pada musim hujan memang bukan pilihan yang tepat. Akhirnya gw pun melepas sepatu tersebu dan memilih nyeker.
Gw terus melawan arus angin yang berarah berlawanan dengan arah jalan gw. Air menyerang gw tanpa ampun, membuat gw percuma memakai payung. Tapi setidaknya kepala gw tidak basah, jadi masih aman.
Gw pun pulang dengan baju basah berantakan dan sebuah cerita yang gw ceritakan saat ini.