Saturday, 26 September 2015

Kangen.

Aku kangen. Aku hanya kangen saat tengah malam ada yang mengetuk pintu dan membawa makanan. Aku kangen saat ia bercerita tentang ‘kue dugdug’  sampai hari ini aku tak pernah tahu wujud dari kue itu. Aku kangen saat ia mengajakku jalan-jalan dan menggendongku tepat di pundaknya. Aku kangen saat ia membelikanku mainan yang ujungnya selalu kurusak dan ia tak pernah marah. Aku kangen saat ia mendandaniku seperti boneka dengan titik merah dijidatku, seperti orang india. Aku kangen saat ia membelikanku baju yang sama dengan kakakku dan membuat kami terlihat seperti anak kembar.
Aku teringat saat masa sulit keluargaku ia sempat terpuruk. Ia menjauh, seperti kehilangan cahayanya. Tertidur, seolah berlari dari kerasnya dunia. Marah, menutupi kelemahannya. Diam, berpikir tentang beban yang sedang dipikulnya. Saat itu, semuanya terasa kelabu. Jauh, sulit untuk menggapai angan.
Namun ia perlahan berubah. Dengan susah, ia mencoba seperti biasa. Dengan payah, ia mencoba membuat tanggungannya bahagia. Dengan rupiah yang segitu adanya, ia tetap mengajakku jalan-jalan. Memberikan sebaik yang ia bisa,semampu yang ia dapat.
Tapi aku, yang egois itu, aku yang bodoh itu, aku yang keras kepala itu, tetap tak mau mengerti. Perubahan itu tetap saja aku rasakan. Ini bukan seperti masa kecilku yang serba ada. Ini bukan duniaku yang serba mudah. Ini dunia yang baru, masa kelam dalam hidupku.
Ia sempat naik pitam. Namun ia bukan orang bodoh sepertiku. Perlahan, ia mencoba memberiku pengertian. Ia yang memaksaku untuk bersabar. Ia yang membentuk diriku untuk menjadi kuat. Ia yang mendidik diriku untuk menjadi mandiri. Ia  yang merubah aku menjadi orang yang mempunyai tekad yang tinggi untuk sukses. Ia yang mengubah cara pandang aku untuk melihat dunia ini.
Hingga akhirnya kita harus terpisah, aku tak pernah menyangka waktu kita sesingkat ini. Namanya, kecerdasannya, ilmunya, jasanya, wibawanya dan perjuangannya selalu didamba oleh orang yang sempat mengenal ia. Dia, ayahku, itu orang hebat, yang punya seribu sakit dan menahannya dalam satu jiwa. Yang punya satu raga dan mampu memikul dunia di pundaknya.
Memori kita, bukan aku yang minta. Tapi aku yang masih disini, bagaimana bisa lupa?
Walaupun aku tak tahu kau ada di langit bagian mana, di lapisan bumi yang ke berapa, di dimensi yang mana, tapi adakah kita sama merindu? Adakah kita sama ingin bertemu?
Jika ada kesempatan bagiku bertemu lagi denganmu, aku ingin memelukmu erat, untuk menunjukkan betapa aku merindukanmu. Akan kuletakkan mulutku dekat dengan telingamu, untuk berkata aku sangat menyayangimu.

Sungguh, aku kangen. Kangen dengan cara bodoh. Kangen yang tak tahu diri. Kangen yang meminta jumpa, yang sudah tahu bahwa itu tak bisa.