Thursday, 25 June 2015

A Long Way.

Bukan lagi tentang menjaga perasaan orang lain, namun kini aku lebih egois. Sekarang tentang perasaan saya yang semakin rumit. Kenapa semua makin tidak terbaca, sulit dipahami hingga aku sendiri tidak bisa menentukan kemana arah rasa ini. Aku bimbang dan gelisah. Mengkhawatirkan yang belum tentu ada. Memikirkan hal yang semu. Merasakan sesuatu yang tidak ada.
Dadaku semakin penuh. Otakku bekerja terlalu banyak dan jantungku mendukungnya dengan debaran yang ia hasilkan. Dibalik mata yang terpejam, berlangsung sebuah film panjang yang tidak pernah diketahui kapan berakhir. Film yang cukup membuatku muak, merasa takut sendiri. Aku terlalu lelah membuat hipotesis atas apa yang selanjutnya akan terjadi.
Cerita itu membawaku kepada perjalanan jauh. Naskah itu menunjukkan bahwa aku punya sisi yang perlu kuperjuangkan. Ada kehidupan, pertemanan dan perasaan yang ditayangkan dalam satu waktu. Ini pelajaran tentang jatuh sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya.
Mungkin jika aku belum pernah mengenal dunia sebelum film ini ada, aku akan baik-baik saja. Masalah muncul ketika aku ingat akan suatu hal; masa lalu. Aku telah belajar banyak dari sana. Aku tahu rasa sakitnya jatuh. Aku kenal rasa bahagianya terbang. Mereka yang menjadi pertimbangan berat untuk membuat film ini indah, aku tak mau jatuh lagi.
Aku berfikir keras untuk film ini.
Haruskah begini? Atau begitu?
Akankah seperti ini? Atau seperti itu?
Aku harus pergi kesini? Atau kesana?
Kalau aku jatuh, siapa yang akan menjamin bahwa rasanya tidak akan sakit, seperti dulu? Kalau aku terbang, siapa yang pantas aku ajak terbang bersama? Ini adalah cerita baru. Kehidupan baru. Pertemanan baru. Perasaan baru. Dan aku tidak mau gagal untuk itu. Tapi jika aku terus memikirkan mereka, kapan aku berfikir tentang “aku”? Kehidupan, hubungan dan perasaan diriku kepada diriku sendiri? Bukankah kalau aku jatuh yang pertama merasakan pedihnya adalah aku? Bukankah kalau aku bahagia yang pertama merasa bahagia adalah aku?
Sekarang aku berdiri didepan cermin yang memantulkan empat bayangan. Keempatnya memandangiku serius. Tak ada yang menjamin apapun, baik suka maupun duka. Siapa yang tahu kalau dibalik muka datarnya itu terdapat selapis topeng? Atau berlapis-lapis topeng? Hidup ini terlalu sesak dengan hal yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Dan itu yang membuatku lelah. Aku capek dengan ilusi yang ada.