Bukan
lagi tentang menjaga perasaan orang lain, namun kini aku lebih egois. Sekarang tentang
perasaan saya yang semakin rumit. Kenapa semua makin tidak terbaca, sulit
dipahami hingga aku sendiri tidak bisa menentukan kemana arah rasa ini. Aku bimbang
dan gelisah. Mengkhawatirkan yang belum tentu ada. Memikirkan hal yang semu. Merasakan
sesuatu yang tidak ada.
Dadaku
semakin penuh. Otakku bekerja terlalu banyak dan jantungku mendukungnya dengan
debaran yang ia hasilkan. Dibalik mata yang terpejam, berlangsung sebuah film
panjang yang tidak pernah diketahui kapan berakhir. Film yang cukup membuatku
muak, merasa takut sendiri. Aku terlalu lelah membuat hipotesis atas apa yang
selanjutnya akan terjadi.
Cerita
itu membawaku kepada perjalanan jauh. Naskah itu menunjukkan bahwa aku punya
sisi yang perlu kuperjuangkan. Ada kehidupan, pertemanan dan perasaan yang
ditayangkan dalam satu waktu. Ini pelajaran tentang jatuh sedalam-dalamnya dan
terbang setinggi-tingginya.
Mungkin
jika aku belum pernah mengenal dunia sebelum film ini ada, aku akan baik-baik
saja. Masalah muncul ketika aku ingat akan suatu hal; masa lalu. Aku telah
belajar banyak dari sana. Aku tahu rasa sakitnya jatuh. Aku kenal rasa
bahagianya terbang. Mereka yang menjadi pertimbangan berat untuk membuat film
ini indah, aku tak mau jatuh lagi.
Aku berfikir
keras untuk film ini.
Haruskah
begini? Atau begitu?
Akankah
seperti ini? Atau seperti itu?
Aku harus
pergi kesini? Atau kesana?
Kalau
aku jatuh, siapa yang akan menjamin bahwa rasanya tidak akan sakit, seperti
dulu? Kalau aku terbang, siapa yang pantas aku ajak terbang bersama? Ini adalah
cerita baru. Kehidupan baru. Pertemanan baru. Perasaan baru. Dan aku tidak mau
gagal untuk itu. Tapi jika aku terus memikirkan mereka, kapan aku berfikir
tentang “aku”? Kehidupan, hubungan dan perasaan diriku kepada diriku sendiri? Bukankah
kalau aku jatuh yang pertama merasakan pedihnya adalah aku? Bukankah kalau aku
bahagia yang pertama merasa bahagia adalah aku?
Sekarang
aku berdiri didepan cermin yang memantulkan empat bayangan. Keempatnya memandangiku
serius. Tak ada yang menjamin apapun, baik suka maupun duka. Siapa yang tahu
kalau dibalik muka datarnya itu terdapat selapis topeng? Atau berlapis-lapis
topeng? Hidup ini terlalu sesak dengan hal yang tidak bisa dilihat dengan kasat
mata. Dan itu yang membuatku lelah. Aku capek dengan ilusi yang ada.